You can’t be Asian (Malawi)

“In my country, people will not consider you as Asian!”, Begitu kata rekan saya dari Eropa dan Kanada. Penampakan saya “kurang” Asia bagi mereka, terlalu gelap dan matanya kurang sipit. Bagi mereka Asian itu adalah orang-orang China, Jepang, Korea, Thailand. “So, what will people consider me then?” saya bertanya kepada mereka. “Hmm I don’t know, maybe Indian? Well, you don’t look Indian as well though. I guess they will just think that you are half black and half white”.

Susah punya penampakan dan warna kulit tanggung seperti saya. Thanks to my parent though, perpaduan Jawa dan Sangir Talaud dari mereka membuat saya cukup “International face” lebih tepatnya mungkin “3rd world country face”.

Waktu di Thailand, sering disangka orang Thailand, sama orang Burma disangka orang Burma, di Cambodia disangka orang Cambodia, di Filipina disangka orang Filipina… tapi itu semua masih mendingan, karena masih South East Asia  region semua. Sekarang saya di Benua Africa.. apa masih berlaku?

Pas sampai di Nairobi, saya di”tuduh” orang Madagascar oleh petugas bandara, lalu disangka orang India oleh petugas bea cukai. Sesampainya di Malawi, beberapa orang yang saya temui secara random mengira saya orang Kenya. Saya bahkan harus bertanya kepada teman-teman yang benar-benar orang Kenya, apakah memang saya kelihatan seperti orang Kenya? seorang berkata ” That’s impossible Freddy, you don’t look like Kenyan at all!” Tetapi ada 2 orang yang berkata “Well, you can be a Kenyan from Mombasa, my friend.”  satu rekan lagi berkata ” I think it’s from the way you talk and yes, you can be a Kenyan with some middle east background.” Menarik.

Yang lebih menarik lagi adalah saat saya sedang berjalan-jalan di tepi pantai Danau Malawi, seorang lelaki paruh baya datang dan menghampiri saya, kami bersalaman (orang disini sangat suka berjabat tangan), setelah berbasa-basi (mereka juga suka sekali berbasa-basi), dengan tetap tangan saya masih digenggamannya dia berkata “is your mother white?” Saya tertawa dan berkata bahwa saya orang Asia, kedua orang tua saya orang Asia. “Oh, I thought you are half Malawian from your father and half white  from your mother. You have a very nice color, my friend.” katanya sambil mengelus ngelus lengan saya. Saya hanya bisa tertawa panjang dan berkata terima kasih. WOW.. seumur-umur belum pernah ada yang memuji-muji warna kulit saya.

Masih kurang menarik?

Ada 2 cerita lucu. Kenapa lucu karena kejadiannya justru malah waktu saya berada di Indonesia.

Kejadian pertama di Bandung. Couchsurfing (CS) gathering, acaranya buka puasa bersama. Tema kostum-nya middle east, jadi saya dan beberapa teman berpakaian ala middle east man, pake sorban dan baju panjang. Ada sekitar 50 orang hadir di acara tersebut, karena ini acara couchsurfing ya tentu saja banyak juga warga asing yang datang dan hadir di acara ini. Tentu saja saya harus menggunakan bahasa inggris ketika berbicara dengan mereka. Di tengah-tengah percakapan saya dengan beberapa rekan CS Indonesia dan rekan CS dari America, seorang Bapak anggota baru CS datang dan ikutan nimbrung, dan kamipun berbicara dalam bahasa inggris. Tiba-tiba sang bapak “menuduh” saya dengan kalimat random ” Excuse me, sir. Are you from Ghana?”. Ia mengira dengan pakaian dan warna kulit gelap saya dan logat inggris jawa medhok saya, saya pasti adalah orang Afrika dan Ghana adalah negara Afrika beragama Muslim yang paling mudah ia sebutkan. Saya dan rekan rekan semua tertawa terbahak-bahak, dan sejak saat itu saya selalu diejek oleh rekan-rekan CS Bandung sebagai orang Ghana. Thanks to you, Sir!

Kejadian kedua adalah di Bali. Masih dengan kegiatan Couchsurfing (CS) kali ini adalah saat Hitchhike race (lomba sampai pada satu tujuan dengan cara menumpang di kendaraan orang lain). Saya dan  rekan CS dari Bali Nadia, Frieder dari German dan Rangie dari Thailand berkelompok bersama mencoba mendapatkan tumpangan untuk sampai ke Pura Ulandatu. Kami sudah berhasil menumpang di beberapa mobil secara estafet. Di suatu jalan raya yang panas di tengah terik matahari Bali yang mencekik.. kami mencoba mendapatkan tumpangan. Beberapa kali kami gagal, tetapi tiba tiba sebuah mobil berhenti… seorang bapak mempersilahkan kami semua masuk ke dalam mobilnya, dan saya langsung menggambil posisi bangku depan di samping sang Bapak. Pak Gede, begitu beliau memperkenalkan dirinya. Kamipun memperkenalkan diri kami masing-masing. Lalu saya bertanya, kenapa Pak Gede bersedia berhenti dan mengangkut kami semua. Mengejutkan jawaban sang Bapak. Dia dengan jujur berkata bahwa ia sangat terkejut melihat reinkarnasi Idi Amin (ditaktor dari Uganda) berdiri di tengah jalan di Bali. Dan tentu saja yang ia maksud adalah Saya!

Black is a new white. :)

Black is a new white. :)

Tagged , , , , ,

Kenyan Iseng-iseng pt.1: Yang Aus, Yang Ausss, Yang Auuuussssssss…(Kenya)

Sedikit intermezzo dari saya supaya para pembaca dan hadirin terhormat bisa merasakan angin segar dari Nairobi.

Perkenalkan merk air minum yang sering dikonsumsi masyarakat Kenya: Keringet!

Yup, ga bo’ong, sodara-sodara. Merk air minum ini namanya benar-benar Keringet!
Air keringet sapa ya saya ngga tau juga sih…

20130416_194551

Anyways, merk air minum inilah yang benar-benar caught my attention and turned on my randomness radar di hari-hari pertama saya di Kenya.

Mungkinkah merk Keringet ini adalah saingannya minuman Pocari Sweat yang menurut gosip anyar ketika saya SMP dulu, terbuat dari keringet orang-orang Jepang? Berarti Keringet di Kenya terbuat dari air keringet orang-orang sini donk? Huahhahahaha…Piss!

20130417_232648

Ya sodara-sodara hanya dengan harga 40 Kenyan shillings alias Rp. 4.600 saja, Anda bisa memuaskan dahaga dengan air Keringeeeet! (memang agak sedikit mahal yak cuma mau minum doank, airnya air keringet (orang) lagi…).

Dan ternyata, Keringet juga merupakan nama salah satu tempat di propinsi Rift Valley di Kenya. Waaah, boleh tuh saya jadikan next destination saya supaya bisa Keringet-an. Hehehe. Itung-itung keluar kota dengan tujuan, jek!

Sawa, Asante kuakusoma na lala salama (Okay, terima kasih telah membaca dan selamat malam) ☺

Tagged , ,

Terdampar di Dubai – Bagian 2 (Ghana)

Setengah perjalanan saya menuju Indonesia, saya serasa sedang melalui proses aklimatisasi di Dubai. Betapa tidak…saya yang setahun belakangan menjadi obruni alias salah satu orang paling ‘terang’ kulitnya di Asamankese (dan juga terkenal di pasar! Hehehe) tiba-tiba menjadi tidak terlihat di Dubai. Warna kulit seperti saya buanyaaaak bertebaran. Saya yang sering dipanggil ‘small girl’ di Ghana (gara-gara terlalu kecil, dibandingkan rata-rata orang Ghana) menjadi terlihat bukan seperti gadis kecil lagi. Lalu, saat masuk ke dalam toilet, saya sempat tertegun memandang selang air yang dipakai untuk membersihkan diri setelah buang air, karena selama ini saya sudah ‘terbiasa’ hidup hanya dengan tisu tanpa air. Oh ya, saya juga norak setelah menemukan tisu yang sungguh halus dibanding tisu di Ghana yang rata-rata buatan Cina yang kasarnya seperti kertas buram. Ya ampun…selama ini hidup saya ternyata luar biasa berbeda dan sekarang saya tergagap-gagap, kembali ke ‘peradaban’ saya yang dulu saya jalani.

Setelah menunggu berjam-jam akhirnya, muncul juga gerbang untuk penerbangan saya ke Jakarta: A 23, dan itu berarti saya pindah terminal dan memakai acara naik kereta. Jauh juga, tapi tidak perlu jalan bermenit-menit, hanya sekitar 10 menit plus dua kali naik lift. Saya tiba di gerbang keberangkatan cukup awal dan memilih duduk menghadap landasan pacu. Setengah jalan…hampir tidak percaya bahwa saya sudah setengah jalan meninggalkan Afrika.

Tiba-tiba bangku di kiri kanan saya dipenuhi orang-orang Indonesia yang bisa dipastikan bahwa mereka adalah para pahlawan devisa :) Lucu juga mendengar para perempuan dan laki-laki yang ngobrol dengan lepas dengan logat sunda dan aksen pantura yang cukup kental. Setelah hampir setahun bicara dengan bahasa Inggris, saya merasa gugup mendengar mulut saya sendiri berbicara bahasa Indonesia hahaha.

Ok. Kegugupan lainnya, tiba-tiba orang-orang di sekeliling saya sudah menyemut untuk segera naik pesawat padahal masih satu jam lagi. Ahahaha. Anyway, mungkin lebih baik saya mulai mengikuti arus, seperti orang Indonesia lainnya :)

Tagged , , , ,

Terdampar di Dubai (Ghana)

Saya sempat lupa hari ini hari apa. Rasanya lama sekali duduk di dalam pesawat padahal cuma 8 jam 20 menit. Eh?! :)

Saat draft ini ditulis, saya sedang duduk di salah satu restoran seafood di Dubai airport, dan masih jam 7.30 pagi waktu setempat. Saya lapar! Hahahaha. Anehnya, otak saya dan perut sangat kompak saat pesawat hampir landing tadi pagi. Mereka menjerit LAPAAAAR! Memalukan.

Menurut jadwal, pesawat EK 788 yang saya tumpangi dari Kotoka International Airport, Accra akan mendarat sekitar pukul 5.50 waktu UAE. Ternyata, pak pilotnya ngebut waktu bawa pesawat, jadilah pesawat ini sudah mendarat pukul 4.45 waktu UAE. Ya ampun, saya akan terdampar lama sekali. Menurut tiket pesawat yang saya pegang, penerbangan saya selanjutnya ke Jakarta dengan EK 358 akan berangkat pukul 11.10 waktu UAE. Tapi saat saya tiba di sini tadi pagi, jadwalnya saja belum muncul di papan informasi. Iseng, saya tanya petugas darat Emirates, dan dia bilang, “Aduh, masih terlalu pagi sekarang untuk koneksi ke Jakarta. Silakan ke lantai atas saja dulu, nanti lihat di sana jika sudah ada.” Hahaha sungguh kepagian! Bagusnya, masih sempat sholat subuh dengan posisi normal, bukan sambil duduk di pesawat :)

Tapi karena perut yang meronta-ronta tidak bisa diajak kompromi. Aneh sekali., padahal selama perjalanan dari Accra ke Dubai, saya makan dan minum segalanya. Jadilah saya menukarkan 150ribu rupiah untuk membeli sarapan… jam 6 pagi! Secangkir kopi hitam Americano dan sewajan fish and chips (iya, disajikan langsung dengan wajannya!) sudah berhasil menenangkan perut saya yang norak sejak subuh tadi. Dan asyiknya lagi, koneksi telepon langsung bagus, jadi sudah bisa sms-an dengan bapak sejak tadi.

Saya masih berpikir untuk beranjak dari tempat duduk nyaman restoran ini atau tidak. Takutnya jadwal pesawat dan gate-nya belum muncul, jadilah saya akan terlunta-lunta dengan gembolan ala tempurung kura-kura raksasa di punggung saya. Mungkin dengan sedikit senyum manis bisa merayu sang waiter untuk menumpang duduk barang sejenak. Hehehehe.

Yang agak menyebalkan, saya belum mendapat koneksi wifi gratis, padahal sinyalnya penuh tapi koneksinya entah hilang ke mana. Sudah coba-coba pindah posisi, tetap tidak nyangkut juga. Jadi saat tulisan ini berhasil tayang, waktunya sudah tidak real-time :)

Ok. Time check, sekarang sudah pukul 8 pagi, perut sudah kenyang, dan semoga nomor gerbang keberangkatan selanjutnya sudah muncul di papan informasi. Saatnya bergerak mengarungi Dubai Airport!

Tagged , , , , ,

(Segera) Pulang! (Ghana)

Ah, rasanya campur aduk perasaan di hati. Tetapi yang dominan adalah rasa senang dan bersemangat untuk segera bertemu keluarga di Bogor. *sial, baru menulis kalimat itu saja mata sudah berkaca-kaca*

Saya sedang duduk di meja kayu di taman luar Hotel Byblos di Accra. Hotel ini selalu menjadi persinggahan awal dan akhir para volunteer yang ditempatkan di seluruh Ghana. Saya sedang menunggu sarapan yang tak kunjung datang. Semuanya belum berubah dalam waktu hampir setahun; tetap segalanya serba lambaaaaat. Hahaha. Bisa perlu waktu sampai 60 menit untuk menyiapkan dua lembar toast, sepotong omelet dan secangkir teh. “That’s Ghana for you” kalimat yang akan selalu terngiang di benak, yang sering diucapkan oleh Owiredu, officemate-ku, setiap kali saya mengeluhkan tentang kelambatan segalanya di sini, lebih dari ‘jam karetnya’ orang Indonesia.

Asyiknya hotel ini adalah fasilitas wifi gratis yang super cepat dan letaknya yang sangat strategis di persimpangan daerah Osu, tempat gaulnya Accra, membuat tempat ini menjadi tempat tujuan nongkrong para expat di Accra. Dari tempat ini cukup mudah untuk mencapai supermarket besar yang super mahal dan berjalan kaki menuju program office. Saya sendiri sudah beberapa kali menginap di sini, setiap kali ada meeting di kantor VSO atau saat akan menuju Takoradi tahun lalu. Selain itu, beberapa kali juga sempat hangout di cafe yang menjadi bagian dari hotel ini, Venus, baik untuk lunch maupun dinner, kadang sendirian seringnya bersama teman-teman volunteer di Accra.

—Sarapan datang! 30 menit kali ini, lumayan :) Ok. Saya makan dulu ya!—

Sarapan selesai dalam 20 menit, itu karena disambi membaca berita online tentang pesawat LionAir yang mendarat di laut bandara Ngurah Rai. Oh my God!

Sepanjang saya makan tadi, di meja seberang, sang pemilik tempat ini sibuk menyuruh ini itu ke para pegawainya dengan nada marah-marah. Dan itu pemandangan yang biasa, selalu terjadi seperti itu. Lelaki Lebanon berusia lebih dari separuh baya ini selalu dalam ‘business mode on’ yang keterlaluan, bahkan hampir kejam menurut saya. Tapi begitulah bisnis di Accra yang mayoritas dipegang oleh etnis Lebanon, China, dan India. Tapi yang paling banyak memang dikuasai pebisnis asal timur tengah, khususnya untuk tempat-tempat yang sifatnya ‘hiburan’. Entah kenapa.

—***—

Hari-hari terakhir saya di Ghana seminggu terakhir dilalui dengan cukup baik. Saya sangat bersemangat untuk pulang dan makan makanan Indonesia! Hahahaha. Karena itulah, hal menyebalkan apapun seminggu terakhir tidak bisa merusak mood saya. Anehnya, saya justru lebih banyak mondar-mandir berada di jalan, duduk di dalam trotro bepergian kesana kemari. Minggu pertama April, hari Senin saya baru kembali dari Easter Break di Accra. Lucunya, pada hari Rabunya saya pergi ke Accra lagi untuk mengambil hasil Police Clearance di markas besar polisi di Accra dan kembali ke Asamankese hari Kamis pagi untuk menulis laporan akhir di kantor. Lalu, Jumat, saya masih membuat training terakhir untuk para national volunteers di Cocoa Life partnership, tentang “Community Action Plans monitoring tool and tracking system”. Oalah, ternyata saya masih sibuk! :)

Hari Sabtu paginya, saya pergi ke Koforidua untuk mengunjungi sahabat lama, eks volunteer yang kembali ke Ghana dan akan menetap di sini. Saya menginap di rumahnya selama semalam dan sibuk berbagi cerita, nonton film, dan makan sepanjang hari, hahaha. Hari Selasa minggu lalu, kembali saya harus pergi ke Koforidua untuk menghadiri Eastern Region volunteers meeting yang terakhir (buat saya). Biasanya saya akan ngomel panjang pendek jika harus pulang pergi 4 jam di atas jalanan buruk yang mirip sungai kering, di dalam angkutan umum yang jauh dari nyaman. Tapi minggu lalu, saya tidak mengeluh karena saya tahu, saya tidak akan lagi melewati jalanan itu dalam jangka waktu yang sangat lama :)

Hari Kamis siang adalah meeting terakhir saya dengan VSO project officer and para partners. Seharusnya meeting dimulai jam 10 pagi, tapi yang terjadi adalah meeting baru dimulai jam 3 sore! Memalukan. Project officer VSO seringkali melakukan hal ini, dengan alasan ada sesuatu hal lain yang mendesak (melibatkan perwakilan donor) yang harus dihadirinya. Padahal meeting ini sudah diatur sejak seminggu sebelumnya. Saya sampai harus minta maaf dengan para partners. Bahkan sampai saat terakhir VSO Ghana sepertinya tidak pernah serius dengan para volunteer dan partnernya.

Anyway, saya bertekad tidak akan manyun saat itu. Jadi, jika ada yang mengharapkan saya kesal, itu tidak terjadi. Saya sih, asyik-asyik saja. Jalani apa yang ada di depan mata, di hari-hari terakhir saya ada di Ghana. EGP. Hahaha.

Sayangnya, karena Frank sakit, driver yang biasa membantu VSO dan volunteers untuk Cocoa Life partnership, saya tidak bisa dijemput dan dibawa ke Accra oleh Frank. Saya mencoba menelepon VSO Programme Support Officer untuk meminta bantuan dan kemungkinan untuk memakai taksi untuk pergi ke Accra dengan 2 koper bawaan saya. Responnya sungguh mengejutkan, saya malah disuruh memakai trotro! Saya bingung, bagaimana cara saya membawa 2 koper besar ke dalam trotro? Walalupun saya bisa membayar 3 tempat duduk, tetap saja, proses menaikkan dan menurunkan barangnya akan sangat rumit dan saya sendirian! Membayangkan saya dengan koper-koper di pinggir jalan stasiun di Accra saja sudah mual rasanya. Dia membandingkan situasi saya dengan volunteer lain yang menggunakan transportasi umum dari bagian utara Ghana dan menempuh jarak berjam-jam. Dia lupa bahwa mereka punya BUS BESAR dan umumnya selalu bepergian dalam kelompok. Saya tidak boleh pakai taksi (tidak akan diganti ongkosnya) kecuali keadaan darurat atau sakit. Saya geleng-geleng kepala mendengar dinginnya nada suara orang ini yang bertitel SUPPORT OFFICER! Sangat tidak supportif, tidak berempati sedikitpun, dan tidak peduli bahwa volunteer sudah berkontribusi untuk organisasi ini dan masyarakat di sini. Saya sempat kesal, bagaimana mungkin VSO Ghana merekrut orang-orang tanpa hati untuk mengurus volunteer? Mereka ada karena volunteer adalah ‘bisnis utama’ organisasi ini. Tanpa volunteer, mereka tidak akan ada! Huh.

Jadilah saya memohon kepada Project Officer untuk menumpang mobilnya hari Kamis sore ke Accra. Untungnya dia bersedia, walaupun saya harus membayar ‘harga’ dengan berputar-putar ke segala tempat selama 4.5 jam sebelum diantar ke flat Kathy dan tiba tepat pukul 8 malam. Tetapi karena lega sudah berhasil ‘pindah’ ke Accra, saya langsung bergabung dengan Kathy dan teman-teman lainnya untuk mengikuti acara ‘quiz night’ yang berlangsung di sebuah club dekat flat Kathy. Dan grup kami menang! Itu berarti makan dan minum gratis! Hahahaha.

Hari Jumat pagi saya mengirim semua laporan dan handover kepada VSO Programme Manager. Agak siang, saya muncul di VSO Programme Office untuk ngobrol terakhir dengan PM dan mendapat reimbursement beberapa pengeluaran dari finance. Saya tidak bernapsu untuk ‘say goodbye’ dengan semua orang di kantor itu, setelah apa yang mereka lakukan selama ini kepada saya di saat krisis. Saya hanya menemui orang-orang yang selalu supportif dan menghargai volunteer. Alasannya, saya malas berbasa-basi di hari terakhir saya. Saya ingin meninggalkan VSO Ghana dengan senang hati.

Setelah itu, Jumat siang rasanya benar-benar bebas! Saya makan siang di Venus dengan Amado, volunteer Filipina yang juga berada di project yang sama, lalu pulang ke flat Kathy untuk tidur siang hahaha, pindah ke Byblos untuk tinggal semalam di sini (Kathy memaksa menjadi porter yang sibuk mengangkut koper-koperku!), makan malam di Venus dengan Kathy, pindah ke Republic -sebuah bar & grill yang penuh dengan expat yang hangout di Jumat malam –tentunya saya cuma menyeruput jus semangka dan mengamati pemandangan yang tidak pernah ada di Asamankese– dan terakhir pindah ke sebuah kafe di dalam toko buku, yang menggelar acara karaoke! Hahahaha. Sibuk sekali acara hangout terakhir kemarin, sampai tidak sadar bahwa saya kembali ke hotel diantar teman-teman dengan berjalan kaki di sekitar Osu dan sudah jam 12 malam! Psst, mereka masih lanjut lagi ke club dekat Byblos sampai entah jam berapa.

Jadi, sekarang pukul 10.45 pagi, saya akan finishing (lagi) barang-barang saya di lantai atas, dan menuju airport setelah makan siang hari ini. Beberapa sms dan telepon dari teman-teman bermunculan sejak pagi, hampir membuat saya menangis. Untungnya tidak ada yang melambaikan tangan nanti di airport, jadi hampir pasti saya tidak punya alasan untuk menangis.

Terakhir, tentunya berdoa semoga saya selamat tiba di rumah hari Senin pagi -akan tiba hampir tengah malam di Jakarta, jadi harus menginap di hotel bandara. Perjalanan saya kali ini akan memakan waktu 16 jam 40 menit di udara dan transit selama 5 jam 20 menit di Dubai. Total 22 jam saja. Laa hawla wala quwwata illa billah…

Sampai jumpa di Indonesia! Insha Allah.

Tagged , , , ,

Karonga, oh kota kecilku (Malawi)

“Mwatandala uli?”
Lidah ku seakan pasih sekali mengucapkan prase bahasa tumbuka yang berarti “how is your day?”. Selama dua hari tiba di Karonga, secara teknis aku mengucapkan hampir kesemua orang yang aku temui dijalan. Bukan karena sok ramah, tapi begini lah tradisi di kota kecil yang berjarak 500an km dari Lilongwe, ibu kota Malawi. Secara jasmani dan rohani, aku memilih kota kecil ku ini dari pada Lilongwe. Meski pun katanya jauh dari peradapan, jauh dari teman teman baru yang sudah seperti keluarga, jauh dari Sunday jazz night, dan salsa party yang dijanjikan salah seorang teman volunteerku,  tetapi, “the warm heart of afrika” yang menjadi nasional symbol malawi yang sebenarnya ada disini. Perbedaan antara “you are most welcome”  yang sering aku dengar pada sepuluh hari pertama ku di Lilongwe jauh berbeda dengan “you are most welcome” selama dua hari aku disini. Disini, ketika mereka mengatakan “welcome and you are home now” mereka benar benar mengatakan itu bukan hanya basa basi semata. Aku merasa jauh lebih berharga disini. Mereka mengharapkan kehadiranku dan tidak memperlakukanku sebagai volunteer yang tidak independent dan yang tidak punya pekerjaan di Indonesia. Well, setidaknya itu kesan yang aku dapatkan di kantor vso Malawi. Serius, VSO Malawi benar benar perlu belajar lebih banyak lagi untuk menghargai dan memperlakukan volunteer mereka. Untungnya aku bekerja bukan untuk VSO Malawi, tetapi untuk komunitas di Karonga. Disini, aku punya banyak Adada dan Amama, karena practically, orang orang tua disini memanggil ku “Daughter”.  Memang sih, tetap saja ada beberapa yang iseng dengan memanggil ku “china china…” atau “Japan Japan”, lalu aku akan menjawab “No China, No Japan”. Aku cukup terganggu. Tapi ketika aku menyadari ketidak tahuan mereka akan negara asia yang lain selain china, kemarahan ku pun berlalu.

Kegerahan yang aku rasa selama 10 hari di kantor vso Malawi di Lilongwe perlahan lahan berganti menjadi rasa ingin tahu dan excitement terhadap kota kecil ini dan proyek iklim dan lingkungan yang akan aku jalankan. Kantor Perencanaan Daerah karonga, yang akan menjadi kantor ku selama setahun ini cukup sederhana. Gedung Sekolah Dasar Negri 1 di desa ku di Tigarunggu, lebih modern dari pada perkantoran ini. Tetapi, tetap saja orang orang nya datang dengan pakaian rapi serta memakai dasi. Aku berbagi ruangan dengan distrik internal auditor, seorang bapak tua yang membaca alkitab dengan jarak 5 cm dari wajahnya, dan cukup mengesankan meski setua itu, dia meminta untuk dicarikan informasi beasiswa buatnya. Dengan semangat seperti itu, selama setahun ini kami akan jadi office mate yang baik. Episode bau bauan di mini bus, usai sudah. Saat ini aku bertarung untuk mengalahkan bau bauan dari atap kantorku. Banyak sekali kelelawar yang bersarang di atap itu, mereka suka sekali melakukan berbagai aktifitas diatas sana, dan tentu saja, mengeluarkan kotoran adalah salah satunya.  Bos ku, yang menjabat sebagai Kepala Perencanaan Daerah berulang kali minta maaf atas ketidaknyamanku dan berjanji akan mengganti atap itu. didalam hati aku berharap supaya dia juga mengusir kelelawar kelelawar itu dengan memasang sign “PROHIBITED FOR BATS”, supaya mereka  tidak lagi  bertempat tinggal di atap ku.

Khawatir aku terkena astma karena belum terbiasa dengan bau itu, aku memutuskan melangkahkan kaki ku ke kota (karena itu episode bau bauan di minibus selesai, tidak perlu minibus di Karonga). Usia shampoo travel size yang aku bawa dari Indonesia sudah tiba. Aku harus membeli beberapa toiletries termasuk shampoo. Sejak tiba disini, aku harus berdamai dengan rambutku. Tidak ada lagi shampoo loreal dan conditionernya karena mahalnya aujubilahiminjalik, boro boro pakai hair tonic dan vitamin rambut. Mau tidak mau, rambut ku harus terbiasa dengan produk local. Aku menyusuri lorong demi lorong di super market sederhana (baca: WARUNG) mencari sesuatu dengan kata kunci “SHAMPOO”. Aku tidak menemukannya di market pertama. Dengan santai aku melangkah keluar menuju market kedua, tentu saja aku tidak menemukannya. Tanpa pupus harapan, aku melangkah kemarket ke tiga, kali ini dengan sangat hati-hati aku membaca satu persatu produk untuk rambut, tetap saja tidak terdapat kata kunci “Shampoo”. Jantungku mulai berdebar, aku sangat berharap aku akan menemukannya di market keempat (baca: Market terakhir), kalau tidak, rambutku akan berakhir dengan sabun batangan. Oh TIDAK. Karena aku tahu, dia akan kompain dengan wujudnya yang seperti ijuk menusuk nusuk kepalaku. Tetap saja, tidak ada shampoo. Aku mengutuki kebodohanku kenapa aku tidak membawa stock dari LILONGWE atau MZUZU. Aku benar benar lupa kalau sebagian besar wanita di africa mencukur habis rambut mereka. bagi yang punya banyak uang, mereka cukup meng-implant rambut dengan berbagai macam model, atau cukup memakai rambut palsu. mereka hanya perlu mencucinya sesekali. Tentu saja, shampoo bukanlah produk yang populer untuk diperjual belikan, khususnya di Karonga, dimana sebagian besar wanitanya hampir hampir tidak memiliki rambut.

Dengan muka memelas, aku bercerita kepada Shanon, Peace Corps Volunteer yang bekerja di kantor yang sama dengan ku. Dia tertawa sejadi jadinya, karena ternyata dia juga mengalami hal yang sama dua bulan yang lalu. Dia berjanji akan memberikan sebotol shampoo yang dikirimkan orang tuanya dari Amerika sebelum aku belanja kebutukanku di Mzuzu yang berjarak tempuh 4 jam dari Karonga, setidaknya, untuk sekarang aku selamat J Ini kisah pertama ku di kota ini. Aku yakin akan banyak kisah lain yang membuat ku tertawa, tersenyum, menggeram bahkan marah. Tapi aku siap. Ini rumahku, untuk setahun kedepan. Dan rumah adalah tempat tertawa, tersenyum, menggeramd dan marah J.

Tagged ,

Post Perdana, Akhirnya (Malawi)

Akhirnya, aku berhasil menuliskan post pertama di blog ini. Selama dua tahun ini aku selalu mengikuti cerita carita seru yang inspirative dari teman teman volunteer vso disini. Setiap kali ada post baru, dengan semangat 45 aku membacanya, berhayal seandainya aku ada disana, belajar tentang hidup dibagian dunia yang lain,  berharap suatu saat aku juga bisa seperti mereka yang berjalan mengikuti kata hati dan kaki yang melangkah jauh. Meninggalkan semua kenyamanan di rumah, keluarga, orang tercinta, teman-teman dan kemudahan kemudahan yang mungkin tidak akan ditemukan di tempat itu.

Selama dua tahun ini aku hanya berhayal bahwa aku juga akan menuliskan sesuatu diblog ini. Berbagi dan menginspirasi teman-teman seperti ku diluar sana. Namun kehidupan di Bali mengikatku. Aku hidup terlalu nyaman. Dengan posisi yang bagus, salary yang terbilang banyak untuk hidup enak, teman teman yang mencintaiku, akses yang mudah ke “living a teenage dream” dengan clubbing, salsa dan pool partying, akses ke kelas yoga bergengsi di yoga barn yang hampir hampir gratis setiap minggu, dan pantai pantai yang cantik itu, sungguh aku tidak ingin meninggalkannya.

Hingga suatu hari aku tersadar bahwa kenyamanan itu bisa menjadi boomerang yang menjatuhkanku. Budha sendiri berkata tidak ada yang permanen. Jadi sebelum aku kecewa dan bosan aku memutuskan untuk mengiyakan tawaran vso untuk placement sebagai district climate change coordinator di Karonga, Malawi. Meskipun itu berarti, aku harus memutuskan kontrak dengan Caritas Switzerland tempat aku belajar dan bertumbuh, harus puas dengan danau malawi dengan harapan akan melihat laut baliku yang berwarna biru tarquise dan pantai keemasan sepulangku nanti, harus mencari teman dan keluarga baru sambil berharap teman dan keluarga ku di Indonesia tetap berdoa buatku, harus rela kehilangan moment moment pertumbuhan keponakan ku Michelle, Ramos dan Syamarel, oh betapa aku merindukan mereka saat ini, meskipun hari ini hanya hari keempat aku ada di Malawi.

Malawi sendiri adalah sesuatu yang sangat berbeda dengan Indonesia, maksudku SANGAT BERBEDA. Kota Siantar di Sumatera Utara jauh jauh lebih modern dari Lilongwe, ibukota Malawi. Saat ini kalau aku berkata “I am going to the mall” berarti aku pergi kesuatu kompleks pertokoan dimana ada tiga atau lebih toko yang menjual berbagai macam perlengkapan.  Saat ini aku harus berjalan beberapa kilometer menuju halte dan menaiki minibus dimana berbagai macam bau badan bersatu menusuk nusuk hidung sensitive ku, hingga pada akhir perjalanan aku harus menelan satu pil aspirin karena migraine akibat bau bauan itu. Saat ini orang orang memanggilku mzungu girl karena warna kulitku yang berbeda dengan mereka, entah apa yang ada dalam pikiran mereka saat mereka menatapku tanpa expresi namun tajam. Semua ini adalah pilihanku. Berada di tempat ini saat ini adalah pilihan yang aku ambil dari sekian banyak pilihan yang ditawarkan kepadaku. Jadi aku tidak akan complain. Yang terbaik yang bisa aku lakukan adalah memakai waktu setahun di Malawi dengan sangat baik untuk belajar, bertumbuh, berterima kasih, dan menghargai hidup ku terlepas dari apa yang akan aku hadapi di Karonga nanti. Aku selalu percaya ketika aku datang dengan niat baik, hal-hal baik juga yang akan terjadi.

Tagged , , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 41 other followers