Dunia 365 Hari

Sudah dua minggu ini aku kembali ke tanah air. benar kata rekan-rekan volunteer lainnya kalau minggu minggu pertama akan terasa sulit. Yang ada aku malah gamang. kebingungan melihat banyaknya sepeda motor yang berseliweran di Jakarta, gak bisa nyebrang jalan dan harus nyari nyari jembatan penyebrangan yang tangganya banyak, kesulitan milih sepatu baju dan tas karena pilihan yang beraneka macam. ah..aku merindukan kesederhanaan di Malawi.

 

Seminggu yang lalu, kami (aku Ragyl dan Glory) bertemu mbak Tata dari penerbit rak buku dan berjanji akan terus menulis di blog ini. Mudah -mudahan banyak teman teman yang terinspirasi untuk melakukan hal yang sama dengan kami. kedengaran aneh memang. banyak yang bertanya, kenapa sih jauh jauh kerja gak di bayar? emang disini gak ada kerjaan lagi? atau gak pengen nabung punya rumah atau mobil? dan banyak pertanyaan lain yang hanya bisa kami jawab dengan senyum manis. ini adalah pilihan kawan, terlepas dari apa yang kami hadapi disana.

 

Teman-teman tunggu saja cerita lengkapnya di Dunia 365 Hari, buku yang akan diterbitkan oleh rak buku yang mudah-mudahan akan di launcing Juni nanti. Stay tune ya

Drama di pagi hari…(MALAWI)

Baru kusadari kalau aku memulis post terakhir di blog tersayang ini lima bulan yang lalu. Kejadian pagi ini sungguh membuat tanganku gatal untuk menuliskan sesuatu dan berbagi dengan teman-teman di kampung halaman.
Pagi ini sama seperti pagi biasanya. Setelah melakukan yoga, aku bermalas-malasan dengan secangkir teh dan selembar roti tawar diteras rumah. Wini dan Oliver seperti biasa melambaikan tangan ketika mereka hendak pergi kesekolah. Induk semangku seperti biasa menyapu semua halaman dan berbincang-bindang dengan tetangga depan rumah. Aku hanya duduk disana, sampai saat aku harus berbenah dan siap-siap mengenjot sepeda menuju kantor.
Namun ternyata pagi ini tidak seperti pagi biasanya. Sesaat setelah aku memarkirkan sepedaku, seorang anak muda dengan umur berkisar 20-an entah datang dari mana menyalamiku dan 2 orang volunteer lainnya yang kebetulan bekerja di kantor yang sama denganku. Dengan gemetaran dan wajah penuh keringat dia berkata kalau dia perlu bantuan karena banyak orang yang ingin membunuhnya. “Ini hanya gurauan” Pikirku. Namun keadaannya yang memelas sungguh membuat kami tidak tega.
Kami membawanya kesatu ruangan, memberikan sebotol air dan selembar roti. Suatu kesalahan. Dia mulai berakting aneh. Dia berkata kalau dia seorang prophet dan Tuhan berbisik kalau dia akan mati ditangan orang-orang yang sangat kejam dan hanya kami bertiga yang bisa menolongnya. Saat itu kami sadar kalau dia perlu pertolongan dokter jiwa. Aku meminta seorang kolega ku untuk berbicara dengannya dan membawanya ketempat yang bisa menolongnya. Namun keadaan semakin kacau. Dia semakin berteriak dan menolak beranjak dari tempat kami mendudukannya. Beberapa kolega yang lain mulai berdatangan. Semakin kuat mereka menariknya, semakin kuat dia bertahan di pintu seraya berkata dan memandang kami “Help me” hati ku hancur. Aku berlalu dan percaya kalau kolega ku akan membawanya pergi.
Masih dengan suasana kacau di luar, aku mulai mengeluarkan laptop dan perlengkapan lainnya untuk mulai bekerja. Tetapi aku terkejut dan mulai panik ketika dia berhasil menerobos dan melepaskan diri dari kolega ku dan duduk di kursi persis didepan mejaku. Entah maunya apa. Dengan gemetaran dia menatapku tajam. Aku bergidik dan tanpa sadar aku mulai menjerit dan berlari menjauhinya. Kolega ku yang lain menariknya dan tentu saja dia bertahan di kursi itu menolak untuk pergi sambil berteriak-teriak. Keadaan semakin diluar kendali, untuk kedua kalinya dia berhasil melepaskan diri dan berlari menuju ruangan yang lain dimana aku dan seorang volunteer berada. Dengan sigap, kami menutup pintu dan mengunci. Dia tidak bisa masuk dan tetap berteriak-teriak mereka menangkapnya lagi, kali ini salah seorang memukulnya dan mengucapkan sesuatu dalam bahasa lokal dan akhirnya dia menyerah dan berlalu.
Tadinya kami pikir kalau dia sakit jiwa dan merasa prihatin karena tidak ada dokter jiwa di karonga. Namun kolega ku berkata kalau perbuatan itu biasa pada seorang perokok ganja belum lagi pengaruh alcohol yang membuat keadaan semakin buruk.
Di Malawi, kebiasaan merokok ganja dan minum minuman beralkohol cukup memprihatinkan. Dengan uang 50 Malawi Kwacha (setara Rp. 1700), mereka sudah bisa membeli satu sachet (25 ml) alcohol dengan persentase 40 %, entah berapa yang harus mereka bayar untuk membeli ganja. Tak heran kalau banyak anak-anak muda yang bertemperamen tinggi, aggressive, kasar dan liar. Salah satu alasan yang membuatku tidak mengiyakan perpanjangan kontrak untuk setahun mendatang. Lingkungan yang sangat tidak sehat, tidak buat ku.
Bayangkan saja, beberapa staff di kantor bekerja dengan pengaruh sachet itu. Sering aku bertemu anak-anak muda yang berjalan sempoyang ketika aku melakukan lari pagi ku yang membuat aku memutuskan untuk tidak melakukannya lagi mengingat keadaan masih sangat sepi. Di pasar, di jalan, di ruang meeting, selalu saja ada yang sedang berada dibawah pengaruh sachet atau pun ganja itu. memprihatinkan bukan.
Saat ini aku hanya berkata dalam hati;” I am glad that I am doing this only for one year”. Meskipun aku menyukai apa yang aku lakukan disini, namun sungguh aku tidak punya energy lagi untuk merasa takut. Pulang, adalah kata terindah saat ini. 83 hari lagi. Aku harus menyelesaikan tugas ini.

Tagged , , ,

3 Pacar Dalam 3 Bulan (Malawi)

“How old are you now? Are you married?”

“No. I am single”

“Why?”

“I don’t find the right person yet.”

“Do you want to get married?”

“Yes… hmm maybe… I don’t know..”

“Why not? why Maybe? OK I have a sister….” Dan percakapanpun dilanjutkan dengan rencana “perjodohan”.

Percakapan seperti ini sangat biasa terjadi, hampir dimana-mana, bahkan saat pertama kali berkenalan. Di dalam mini bus, di pasar,   di pom bensin, saat ngantri di depan kasir pasar swalayan dan lain lain.

Nggak di Indonesia, nggak di Africa  pernikahan ternyata masih dianggap suatu keharusan. Sebenarnya aku sudah kebal dengan pertanyaan beginian… jadi  moment yang begini lebih membuatku tersenyum dan tertawa daripada sebal atau tersinggung. I know there’s a “good” intention behind the questions.

“When are you going to get married, Freddy?”

“2007.”

Jawaban tenang dan seriusku membuat 3 orang teman Malawi-ku melongo dan dua detik kemudian tawapun meledak diantara kami.

Tetapi agaknya teman-teman lain yang juga masih single, tidak terlalu suka dengan jenis pertanyaan yang satu ini, terutama rekan-rekan wanita atau rekan dari negara Barat.  Aku bisa mengerti kenapa hal ini mengganggu mereka, terutama pada rekan wanita. Karena perhatian orang-orang disini terlalu berlebihan terhadap mereka. Di Malawi, dan aku pikir di hampir sebagian negara-negara di Afrika, wanita di”wajib”kan untuk menikah secepat mungkin setelah mereka mencapai masa pubernya. Aneh bagi mereka bila kita masih single di usia dewasa.

Alhasil,  saat baru pertama kali datang, aku sudah “dilamar” oleh beberapa teman. Untuk membuat orang tidak banyak bertanya, dan menghindari pelecehan seksual (terutama rekan-rekan wanita dari Asia- karena stigma pria Afrika yang menganggap wanita Asia lemah tetapi ramah), saat aku bepergian bersama rekan wanita, di pasar tradisional, pasar swalayan, di dalam mini bus atau saat pesta. Aku akan diperkenalkan sebagai pacar mereka.. dan aku setuju setuju saja, itung-itung membantu teman. Alhasil baru 3 bulan di Malawi aku sudah punya 3 “pacar”. Sedihnya tak satupun dari mereka menjadi pacar beneran!

Saat ini, sudah hampir sembilan bulan di Malawi, aku sudah punya 5 “pacar”  wanita, 2 “pacar” pria dan 1 orang “istri”!  Bagaimana bisa? Tunggu cerita lanjutannya saja.

banyak pacar

Tagged , , , ,

Sepatuku Hartaku (Malawi)

Setiap hari, pagi-pagi saat mengayuh sepeda menuju kantor, selalu aku berpapasan dengan orang-orang yang berjalan kaki,  mulai dari bapak-bapak penjaga malam yang pulang dari tugasnya sampai anak-anak yang mulai berangkat ke sekolah, atau Ibu-ibu dengan bayi di gendongan dan bawaan di kepala mereka. Kuperhatikan, sebagian besar berjalan tanpa alas kaki.

Sedih dan tak habis pikir, sebab di sepanjang jalan, sangat sering aku harus menghindar dari pecahan beling dari botol-botol (alkohol) yang dibuang orang-orang tak berotak. Beberapa kali aku harus turun dari sepeda dan menendang botol dan pecahan botol ke got. Aku yakin, botol-botol itu dibuang orang malam sebelumnya saat mereka pulang dari pusat klub malam yang tak jauh dari jalan utama menuju kantorku. Kecelakaan akibat pengemudi mabuk sangat biasa disini. Dan tampaknya orang-orang juga sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Tidak ada yang peduli.

Image

Pagi ini aku berpapasan dengan seorang pemuda, dari jauh kulihat dia berpakaian rapih dengan dasi dan setelan jas, tetapi ada yang aneh darinya. Ia berjalan tanpa alas kaki. Di tangan kanannya kulihat ia menenteng sepatu kulit yang warna putihnya mulai memudar, yang aku tebak mungkin baru dia beli dari pasar loak di kota tua Lilongwe, kemarin.

Dengan rasa ingin tahu kusapa ia dan bertanya kenapa sepatunya tidak dipakai? Dia menjawab dengan tersenyum “I don’t want it to get dirty.” Kubalas dengan anggukan kepala dan tertawa, lalu kulambaikan tangan dan kembali menganyuh sepedaku.

Dalam hati aku berpikir, dengan pakaiannya yang rapih, mungkin hari ini ia akan pergi memenuhi panggilan interview suatu pekerjaan. Imajinasiku mulai melayang-layang.. Ah semoga ia tidak menginjak pecahan beling di jalan, pikirku lagi dan semoga ketika ia sampai di depan gedung kantor tujuannya, lalu memakai sepatu putihnya, rasa percaya dirinya tumbuh. dan iapun mendapatkan pekerjaan.  Andai semua cerita hidup selalu diakhiri dengan happy ending.. oh betapa bahagianya aku. But anyway, whatever it is I wish you a Very good luck young man!

Tagged , , , ,

BAPAK, kemana perginya uang itu? (MALAWI)

“Maaf kawan, tidak banyak yang bisa kulakukan”

Aku memelas, karena memang tidak banyak yang bisa kulakukan selain hanya bisa mendengarkan kisah Mbowe. Aku ikut merasakan tulang-tulang ku menggeram marah mendapati gaji sebahagian besar staff pemerintah di Karonga belum terbayar.

Hilang, bagaimana mungkin uang sebesar 30 juta kwacha (750 juta rupiah) untuk dana bulan juni hilang dari rekening pemerintah?. Tak seorang pun tahu kemana uang itu pergi, tidak district commissioner nya, tidak juga pihak bank nya. Anehnya, perdiem untuk pertemuan-pertemuan yang dilakukan pada bulan Juni sangat tidak masuk akal. Pernah sekali aku mendengar, mereka membayar perdiem 30.000 kwacha (750.000 rupiah) per orang. Oh My God, uang sebanyak itu sangat cukup untuk memberi makan satu keluarga dalam satu bulan. Aku sangat marah mendengarkannya. Terang saja mereka tidak suka menghadiri undangan workshop yang aku lakukan karena aku hanya diberi otoritas untuk membagikan uang makan siang sebesar 1000 Kwacha (25.000 rupiah). Frustasi…ya..aku benar benar frustasi.

Dan sekarang ketika hal itu mempengaruhi teman temanku, aku semakin geram. Cleaning lady yang tadinya manis, sekarang suka teriak teriak gak jelas dalam bahasa chitumbuka, ketika aku bertanya ada apa, dia akan berkata “ I am hungry my friend, I am poor my friend, I have nothing my friend” dan sewaktu waktu dia akan datang ke meja ku minta di belikan pisang atau singkong. Mbowe, sahabatku yang tadinya ceria, kudapati termagu sendiri, kebingungan harus melakukan apa untuk memberi makan keponakan-keponakan yang di tinggal  mati bapak ibunya dua minggu lalu. Aku menawarkan diri untuk  member dia pinjaman uang, tetapi dia sungguh mengerti situasiku sebagai volunteer, dia menolaknya. Pegawai-pegawai lain sekarang suka berkumpul di ruangan ku, berbagi kebingungan dengan yang lain. Ada yang butuh untuk membayar kontrakan rumah, biaya sekolah anak, bahkan buat membeli makanan. Gila, sungguh suasana yang gila.

Internet diputus, kendaraan tidak lagi berjalan karena tidak ada dana untuk membeli bahan bakar yang mahal. Pernah sekali, seseorang meminta bantuan kepadaku untuk membeli bahan bakar dan oli mobil. Tentu saja aku menolaknya. Lebih baik aku membantu pegawai lain yang kelaparan daripada membeli bahan bakar supaya mereka bisa berkendara kesana kemari. Toh, petinggi-petinggi di kantor sudah menerima gaji mereka dari pemerintah pusat. Mengapa tidak membeli bahan bakar dengan uang sendiri? ANEH.

Entahlah, entah sampai kapan teman-temanku harus menghadapi situasi ini. Tidak adil. Memang. Aku hanya berharap Tuhan menjaga mereka dan mencukupkan apa yang ada pada mereka saat ini.

Tagged , , , ,

Drama Pepesan Kosong (Malawi)

Saatnya berbagi lagi.

Setelah bulan lalu sempat stress dengan kondisi rumah dan kerjaan yang tidak menentu, bulan ini semuanya berubah, ternyata sumber air itu mulai memancar dan hati kembali hijau.

Semuanya diawali dengan peristiwa drama pepesan kosong  oleh teman serumah, yang parno tak beralasan, berpikir bahwa tamu tetangga sebelah rumah akan membunuhnya. Drama berakhir dengan dipindahkannya aktor pemeran utama drama pepesan kosong ini ke rumah terpisah, jadi saat ini aku kembali menempati rumah sendirian. Yeaah!

Dan… Abrakadabra… situasi berangsur angsur kembali membaik. Benar kata petuah orang tua “tidak ada masalah yang tidak terselesaikan”.

Data Bootcamp

Hari-hari di bulan Juni dan Juli ini sungguh menyenangkan, dimulai dengan bootcamp training “Data Literacy ” oleh World Bank Institute, AMI dan Google selama satu minggu sampai kedatangan Chris, teman dari Jerman yang berkunjung ke Malawi. Kami bersama teman-teman VSO volunteer lainnya melakukan  road trip ke Zomba mengunjungi salah satu VSO volunteer yang bertugas disana. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Chikwawa, tinggal dan merasakan kehidupan pedesaan di Malawi dan berkunjung ke beberapa safari games.

photo2

Lesson learned : Segala sesuatu ada hikmahnya, bahkan semua drama pepesan kosong yang kita anggap kurang pentingpun  dapat membawa hikmah. So NEVER GIVE UP!

Tagged , , ,

Indonesia Vs Malawi, perbedaan yang membuatku jatuh cinta (MALAWI)

Tidak, tentu saja aku tidak bermaksud untuk membading-bandingkan Indonesia dan Malawi. Keduanya memiliki pesona sendiri sendiri yang aku suka dan aku beruntung bisa melihatnya. Meskipun, sejujurnya hidup selama beberapa waktu di Malawi menambah kecintaanku terhadap negeri ku Indonesia.  Bersyukur terlahir di tanah beribu pulau, merindukan ratusan bahasa dan budaya yang membentuk masyarakatnya, bangga akan banyaknya orang orang pintar yang berjuang keras memperbaiki tanah itu. Untuk pertama kali didalam hidupku aku tidak berpikir akan oknum oknum yang korup, aku tidak marah atas invasi orang kaya dari negeri-negeri seberang yang mengekploitasi pulau-pulau eksotik di tanah ku. aku memaafkan pemerintahku yang egois dan memikirkan diri mereka sendiri.  Saat ini aku hanya bisa berpikir satu hal ketika aku memikirkan negeri ku “ untuk pertama kali, aku jatuh cinta”

“Beri satu alasan…” mungkin teman teman ingin tahu.

“Bukan satu, aku akan beri beberapa…” aku cukup yakin bisa memberikan alasan setelah memasuki bulan ke-4 hidup di Malawi. Well, tentunya bukan alasan berdasarkan penelitian selama bertahun tahun oleh peneliti peneliti yang menggunakan pendekatan dan alat teliti tertetu, namun alasan ketika hatiku digetarkan oleh pengalaman dan penglihatan tertentu ketika aku berinteraksi dengan masyarakat disini. Dan getaran itu di Malawi, cukup membuatku jatuh cinta terhadap negeriku.

Alasan pertama, tadinya aku berpikir Indonesia adalah negara miskin. Setidaknya itu yang selalu terdengar ditelingaku selama bertahun-tahun aku melanglang buana di area development. Namun, ketika menginjakkan kaki ku disini, aku menyadari miskin itu apa. Ketika aku berinteraksi di masyarakat korban konflik, gempa dan tsunami di Aceh, aku tidak pernah mendapati satu keluarga pun yang membuat hati ku miris karena aku yakin mereka masih sanggup mencukupi kebutuhan sandang dan pangan mereka. Setidaknya tanah masih subur, tumbuhan masih tumbuh dengan sempurna, dan kita cukup kreatif untuk mengolah sesuatu menjadi bahan makanan. Disini, masyarakat pedesaan cukup makan dengan Nsima (jagung pengganti nasi yang ditumbuk menjadi tepung)  dengan satu jenis sayur yang sering mereka sebut sayur chiness yang dimasak hanya dengan hanya dibubuhi garam. Lupakan saja tentang herbs dan spices lainnya. Itu hanya milik orang orang kaya. Mereka tidak memakan daun singkong, daun papaya, sayur nangka dan tumbuhan lain yang sering kita makan di Indonesia, simply karena mereka tidak tahu kalau tumbuhan itu bisa dimakan, bergizi tinggi lagi. Dan lagi, tanah mereka tidak sesubur tanah kita. Sewaktu waktu mereka bisa mengalami kekeringan panjang, dan sewaktu waktu juga mereka bisa terkena bencana banjir. Sungguh suatu kombinasi yang tidak biasa.

Alasan kedua, aku bersyukur orang tua kita memasak ketela sebelum kita makan. Ya, KETELA atau dikampung ku kenal sebagai singkong, dan jujur saja aku sangat menyukainya. Disini, di Malawi, cukup di kupas seperti mengupas mangga dan, “hup” lalu dimakan layaknya afternoon snack yang lezat. Beberapa teman sekantorku mengejekku “bodoh” ketika aku menolak memakan mentah singkong itu dan memandang heran betapa mereka sangat menyukainya. Namun biarlah, itu perbedaan yang menarik.

Alasan ketiga, aku bisa dibilang jarang sekali berinteraksi dengan orang dengan virus HIV. Meskipun aku tahu ada banyak kasus HIV yang terjadi khususnya dikalangan orang orang muda di tanah beribu pulau itu.  Tetapi aku masih tetap yakin kalau keadaan kita masih jauh lebih baik dari keadaan orang orang disini. Dibulan ke empatku saja, aku sudah bertemu banyak orang yang menderita karena virus ini. Menariknya, mereka terbuka akan hal itu. Dengan gampangnya mereka berkata kalau mereka penderita HIV/AIDS.  Statistik sendiri berkata 11 dari 100 adalah pembawa HIV/AIDS.

Alasan keempat, karena aku suka menari, hal pertama yang ingin aku pelajari sejak aku tiba adalah tarian Malawi. Tetapi, setelah aku melihat bagaimana mereka menari, aku tidak yakin kalau aku akan mempelajarinya. Satu satunya bagian tubuh yang bergoyang adalah pinggul. Sungguh suatu tarian yang sensual.  Bisa bisa aku terkena undang-undang pornography dan pornoaksi kalau aku menari seperti itu di Indonesia. Aku tidak mengatakan kalau tarian itu jelek, tidak sama sekali. Tarian itu menarik, dan energy bahagia yang di transfer ketika mereka semua menari sangat besar. Aku beruntung bisa  melihat tarian indah serta sakral di Indonesia dan tarian penuh energy di Malawi.

Alasan kelima, Di Malawi, sejauh mata ku memandang, aku dimanjakan oleh dataran  yang luas, pengunungan dan bukit bukit yang menonjol disana sini, kalau beruntung aku bisa melihat sekelompok Heyna yang kesasar. Sangat indah. Sayangnya di Indonesia, seringnya pandanganku terhalang oleh gedung dan pemukiman. Mungkin di beberapa daerah eksotis lainnya masih banyak pemandangan seperti ini, yang membuatku ingin berjalan lebih jauh lagi di negeriku sepulang ku nanti. Aku berjanji.

Tidak peduli apakah alasan itu cukup atau tidak, tapi sekali lagi “untuk pertama kali, aku jatuh cinta”. Namun, bukankah tidak perlu ada alasan untuk mencintai?. Aku akan pulang, tidak lama. Mungkin besok, lusa, bulan depan, atau tahun depan. Dan aku akan melihat Indonesia ku kembali.

Tagged , , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 56 other followers