Prepare For Change (Ghana)

Bersiaplah untuk (menghadapi) perubahan! Dan itu benar adanya, bukan sekedar slogan atau kata-kata mutiara yang harus diingat oleh setiap volunteer, karena saat kita berada di lokasi penempatan, segala sesuatu mungkin saja terjadi…

Training pertama yang saya lalui (demikian juga setiap VSO volunteer) setelah terpilih sebagai volunteer adalah Prepare for Change Training (PfC). Sepertinya sudah lama sekali buat saya, padahal baru bulan Desember lalu di kantor program VSO Indonesia di Bali. Pada intinya, kami diperkenalkan pada segala hal yang tidak pernah kami pikirkan sebelumnya, yang mungkin akan kami hadapi dan harus kami hadapi saat di lokasi penempatan. Apapun itu, mulai dari budaya masyarakat, budaya kerja, bahasa, makanan, situasi politik, dan bahkan kebiasaan volunteer lain yang tinggal serumah dengan kita. Oh ya, ada satu ‘mantra’ yang saya dengungkan sejak saya mengikuti PfC: “Lower your expectation”. Alias, jangan berharap yang muluk-muluk deh! :)

Tentunya, setelah melewati training tersebut, tempaan ‘pengalaman’ di belakang selama lebih dari 10 tahun, dan training lainnya yang diberikan oleh VSO sebelum berangkat, saya pikir saya siap menghadapi apapun di depan saya. Insha Allah. Saya siap, dengan bantuan yang Maha Kuasa tentunya. Jujur, saya banyak sekali berdoa. Cuma dengan itu saya tenang, hehehe.

Lalu, apakah sungguh perubahan yang diantisipasi terjadi? Tidak dalam konteks yang ‘diharapkan’, tapi justru terjadi di bagian lain dari penempatan saya –>Ha! Lower your expectation! :) . Strategi program di VSO Ghana berubah! Hanya beberapa minggu sebelum saya tiba di sini. Tadinya, masing-masing volunteer bekerja untuk satu partner, tapi sekarang VSO Ghana mengubah strategi menjadi sistem cluster. Setiap volunteer yang berada di satu region (provinsi) tidak hanya didedikasikan pada partnernya saja tetapi juga akan saling bekerja sama untuk memenuhi tujuan di organisasi/project di region tersebut. Sweet, ha! :)

Menurut Country Director VSO Ghana, perubahan strategi itu tidak akan berpengaruh banyak pada tugas saya ke depan, karena toh, saya baru datang di negara ini (2 minggu sekarang!). Di satu sisi, itu benar adanya, tapi di sisi lain, saya harus mengantisipasi ‘tugas-tugas’ lain yang harus dilakukan dalam skala regional. Sementara, hal seperti itu sama sekali tidak disinggung dalam Placement Outline. Surprise? Tidak terlalu sih, tapi jujur saja, masih agak bingung bagaimana akan menyinergikan kebutuhan dukungan di distrik dan regional karena kendala komunikasi yang cukup signifikan. Tidak semua ‘orang penting’ (baca: pejabat terkait) dan kantor pemerintah punya komputer apalagi akses ke internet di daerah ini. Nah, jadi urusan koordinasi bagaimana ya? Ah, pasti ada jalannya, saya malas nambahin pusing kepala sekarang hehehe. Mantra kedua saya, setelah tiba di tempat ini: “Let’s just deal with it!” :)

Faktanya, saat meeting regional volunteer untuk project yang kami tangani Cadbury (Kraft) Cocoa Partnership (CCP) hari Rabu lalu, tidak mudah menentukan ‘job desc’ tambahan bagi kami di regional level dan sempat bikin manyun saat mulai ada sesi ‘voluntold’ alias jadi volunteer untuk job tertentu karena dipaksa, hehehe. Di Eastern Region tempat saya berada, ada 3 volunteer lain yang juga bekerja di CCP project. Semuanya posisinya berbeda namun mereka bertiga tinggal di satu kota, Koforidua, ibukota provinsi Eastern Region, sementara hanya saya sendiri yang tinggal di Asamankese, ibukota kabupaten West Akim. Kesimpulannya, saya tetap menjadi District Project Support Officer yang ‘tugas utamanya’ membantu semua proses capacity building untuk partner dan masyarakat target project CCP di distrik ini. Tetapi karena saya ditempatkan di Ministry of Food and Agriculture, West Akim, tugas regional saya adalah menjadi fasilitator untuk forum petani dari tingkat lokal hingga nasional. Hahaha, terdengar penting ya, walaupun sesungguhnya masih gelap! Let’s just deal with it! :)

Tagged , , , , ,

Mother Tongue (Ghana)

Saya orang Indonesia asli. Walaupun saya beruntung bisa belajar Bahasa Inggris selama bertahun-tahun, dan menggunakannya hampir setiap hari di sepanjang kehidupan profesional saya, tetap saja, kemampuan saya untuk mendengar bahasa Inggris diucapkan dalam aksen yang lain menjadi tantangan sendiri. Lha, iya lah, kan mother tongue alias bahasa ibunya Jawa/Indonesia, hehehe. Kalau dengar aksen mereka yang aslinya British atau American atau bahkan Australian, masih paham lah…tapi belakangan ini saya selalu memiringkan kepala ke satu sisi (separuh konsentrasi, separuh putus asa) saat mendengarkan the Ghanaians berbicara Bahasa Inggris. Padahal ya, menurut teman-teman lokal, mereka sudah diajari bahasa Inggris sejak mulai sekolah. Jadi bahkan di pasar pun hampir setiap orang pasti bisa berbahasa Inggris. Tapi ya itu, aksennya entah datang dari mana. It’s totally a different thing!

Jangankan untuk saya yang baru seminggu di sini, ternyata bagi Diana, VSO Volunteer asal Sri Lanka yang berada di region yang sama tapi di kota lain, aksen penduduk lokal juga menjadi masalah baginya. Dan ia sudah di tempat ini selama  3 bulan. Akibat accent-gaps ini, saya sering berada pada suatu situasi di mana, saya saling pandang dengan lawan bicara dengan tatapan bingung. Lalu, seringnya saya nyengir dan bilang, “excuse, me?” Sulitnya, kalau berhadapan dengan para stakeholders dan partner lain, yang umumnya pejabat. Aduuuuh, nggak bisa cengar-cengir kan. Jadi, biasanya pasang muka sangat serius tapi tidak berkata apapun (kalau tidak mengerti), seolah sedang berpikir. Biasanya, mereka akan ulangi lagi apa yang baru saja mereka sampaikan. Hehehe.

Ada beberapa kata yang sering saya dengar di hari-hari pertama dan baru saya mengerti ‘arti’ sesungguhnya dari apa yang saya dengar itu beberapa hari kemudian. Hadeuh…

“Further” diucapkan seperti “fed up” –sempat bingung, mosok nih orang fed up melulu? :p

“Six” diucapkan seperti “sift” –whatever it means! :p

“Thursday” diucapkan seperti “Taze” –eh, tempat apa itu? :p

“Work” diucapkan “werk” seperti ‘e’ pada kata ‘leg’ :D

Pada intinya, hampir di setiap pembicaraan, saya harus ekstra alert, kalau tidak, kepala bakal langsung miring ke satu sisi :) Padahal kalau di rumah, bisa ngobrol sampai ngakak-ngakak dengan housemate yang orang Inggris itu. Ah, mother tongue what did you do to these people? :p

Tagged , , ,

Ke ‘Rumah’ Baru (Ghana)

Saya ditempatkan di Asamankese, satu kota kecil berbukit-bukit di Eastern Region. Sebenarnya nggak jauh dari Accra, hanya sekitar 2.5 jam, tapi jalan menuju ke sana agak seru. Kadang ada semi off-roadnya. Saya berangkat jam 7 pagi tadi. Karena harus bertemu beberapa orang dan volunteer lain di cluster saya, jadilah perjalanannya memutari hampir seluruh Eastern Region. Total, 8 jam perjalanan. Sampai lapar sekali karena jam 2 siang baru bisa berhenti makan –dan sudah agak hilang nafsu makan. Tapi, akhirnya sih, makan juga :p

Teman seperjalanan saya, Carmel, juga berangkat ke rumah barunya di Wa, lebih jauh lagi di Upper West Region, sekitar 12-15 jam perjalanan dari Accra. Jadi tadi pagi sehabis sholat subuh, ada acara sedikit haru biru. Ah, pertama kalinya saya menangis karena harus berpisah dengan Carmel.

Kami hanya berdua saat ini sebagai volunteer baru. Agak tidak menguntungkan karena kami datang bukan di ‘musim’ penerimaan volunteer yang biasanya cukup besar dan banyak, seperti di bulan September -untuk VSO Ghana. Jadi in-country training kami tidak berminggu-minggu, melainkan hanya dua hari dan kami juga tidak dapat language training. Jadi, kami harus pintar-pintar cari tutor di tempat kami masing-masing.

Sebenarnya saya agak kepanasan dan hampir meleleh di rumah baru ini. Tapi susah untuk mandi lagi, karena air mati sejak jam 7 malam tadi. By the way, sekarang baru jam 11.08 di sini :) Untungnya, teman serumah saya sangat baik hati. Dia orang Inggris, beberapa tahun lebih muda dari bapak saya di rumah. Dia membantu saya memasang kelambu. Maklum malaria kan ngetren banget di sini :p Dan karena saya harus mencuci ember untuk menampung air, dia memasak makan malam untuk kami. Dan saya cuci piring, lalu dia membuang sampah. Lumayan ya, baru beberapa jam di rumah baru ini, acara bagi tugas sudah berjalan dengan baik.

Rumah saya besaaaaaar tapi belum sempat ambil foto. Capek. Hehehehe. Semoga besok sempat. Eh, sepertinya tidak, besok ada meeting. Mungkin weekend ya! Selamat pagi, Indonesia, saya tidur dulu yaaa :)

Tagged , ,

18 Hours 20 Minutes (Ghana)

Itulah yang tertera di tiket pesawat Emirates yang saya pegang malam ini. Sekitar 8 jam perjalanan ke Dubai, lalu 8 jam lagi menuju Accra, ibukota Ghana, dengan waktu transit 2 jam di Dubai. Yang menyenangkan, seharusnya saya bertemu fellow VSO Volunteer dari Filipina yang juga akan menuju Accra. Kami akan berada di satu pesawat dari Dubai menuju Accra.

Yup. Saya memulai perjalanan saya sebagai volunteer menuju Ghana. Sebuah negara republik di wilayah Afrika Barat. Enam bulan yang lalu saya baru dinyatakan terpilih sebagai salah satu VSO Volunteer dari Indonesia pada batch kedua. Rasanya campur aduk waktu itu, mungkin seperti memenangkan kontes ratu sejagad :p

Seperti para ‘pendahulu’ saya yang ceritanya lebih dahulu bisa saya baca juga via blog ini, prosesnya cukup panjang dan berliku. Kadang bikin manyun dan sakit kepala, tapi juga banyak pelajaran, hikmah, dan tawa terbahak-bahak. Dan sebelum lupa, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk para pendahulu saya ini yang telah mengijinkan kami untuk ikut meramaikan blog ini, membawa nama Indonesian Volunteer.

Saya ingat, saat pertama saya repot cari tahu soal pengurusan Police Clearance alias SKCK dari kantor polisi, Freddy lah yang menjadi narasumber terpercaya, karena memang kita bertempat tinggal di provinsi yang sama, Jawa Barat. Ternyata sangat mudah mengurus surat tersebut di Polda Bandung… hanya perlu waktu 3 menit. Tapi sayangnya, saya menempuh Bogor-Bandung hingga 10 jam pp untuk mengurus surat itu karena harus naik bis dan aneka angkot! :)

Tapi itu sudah beberapa bulan yang lalu. Sekarang perjalanan yang lebih panjang sudah di depan mata. Bukan soal bagaimana nanti saya di Ghana yang saya pikirkan. Tapi betapa teposnya saya duduk selama itu di pesawat… :p

Tagged ,

SIM (Thailand/Burma)

Setelah membaca cerita rekan Rini di Guyana tentang SIM internationalnya, saya terinspirasi untuk berbagi cerita tentang pengalaman saya dan SIM Indonesia saya di Thailand.

Salah satu keuntungan mendapatkan placement di negara-negara anggota ASEAN adalah pengakuan atas Surat Ijin Mengemudi (SIM) kita. Hal ini berdasarkan persetujuan negara-negara anggota ASEAN pada tahun 1985 -baca selengkapnya disini : Agreement on the Recognation of Domestic Driving Licences Issued By ASEAN Countries -  Sebenarnya tidak terlalu istimewa juga, karena toh kalaupun SIM Indonesia saya tidak diakui disini, VSO akan membantu mengurus mendapatkan SIM Thailand, seperti volunteer-volunteer dari negara lain. Tetapi, bagi saya, tetap menunjukan SIM Indonesia setiap kali ada pemeriksaan surat di jalan adalah suatu kebanggaan tersendiri. Entah mengapa, mungkin ada yang aneh dari rasa nasionalisme diri saya. [smile]

Tetapi setidaknya saya punya beberapa cerita ketika saya menunjukan SIM saya pada polisi-polisi di Thailand. Berikut 3 cerita yang menarik tentang kejadian saya dan SIM Indonesia saya di Thailand.

Kejadian pertama adalah waktu di Chiang Mai. Malam hari. Ada pemeriksaan surat-surat tepat di belokan menuju apartemen saya. Deg-degan. Takut mereka akan menilang saya dan tidak mengakui SIM saya. Berpikir dalam hati jangan-jangan agreement ASEAN itu sudah dibatalkan.

Thai Police (TP) : -speaking in thai- 

Saya (F) : mai khon Thai khrab, khon Indonesia, khrab (saya bukan orang Thai, tetapi orang Indonesia) sambil menunjukan SIM saya.

TP : -speaking in Thai- (yang kira kira artinya : Ngapain di Thailand?)

F : Tam ngan asa samak ti Chiang Mai khrab (Saya kerja sebagai volunteer di Chiang Mai)

Polisi Thai itupun mengembalikan SIM saya dan menyilahkan saya pergi.

That’s it?? Sayapun menstarter motor saya sambil tak lupa berkata Khop khun mak khrab (terima kasih banyak) kepada Pak Polisi baik hati tersebut dan berlalu dengan senyuman terlebar yang pernah saya buat pada hari itu.

Kejadian kedua di Mae Sot.

F : Sawadee khrab (salam) dan sayapun menyerahkan SIM saya

TP : Indonesia! Sea Games geng makmak (Indonesia! -Pesta pembukaan- Sea Gamesnya  bagus sekali) iapun menyerahkan kembali SIM saya disertai dengan senyuman ramahnya.

Saat itu memang sedang berlangsung Sea Games di Palembang dan memang pesta upacara pembukaan Sea Games menjadi bahan pembicaraan hangat. Bangga rasanya bila hasil kreasi bangsa dihargai oleh bangsa lain.

F : Khrab, Khrab, Phom khon Indonesia Khrab (ya, ya benar saya orang Indonesia) Sayapun kembali tersenyum puas. I love my Indonesian SIM!

Kejadian ketiga juga terjadi di Mae Sot.

TP : Sawadee khrab – speaking in Thai and he totally lost me-

F : Mai khon Thai khrab, puud paa saa Thai nidnoi (saya bukan orang Thailand dan saya hanya bisa berbicara Thai sedikit saja) Sambil, tentu saja menunjukan SIM saya.

TP : Mai chai. bla-bla-bla …International licence, khrab. (Tidak bisa ini. kamu harus punya International licence).

F : Mai chai khrab. Indonesian driving licence is OK for Thailand, as we are ASEAN member country. saya mencoba menjelaskannya.

Tetapi Polisi yang satu ini agaknya kesulitan dengan bahasa inggris dan belum mau menyerah dan mengajak saya minggir sambil membawa SIM saya. Saya berkata dalam hati : OK, agaknya ia ingin bermain-main dengan pengetahuan dan pengalaman saya menggunakan SIM Indonesia saya, pasti ia tak tahu kalau kejadian pemeriksaan SIM  ini bukan yang pertama bagi saya.

Setelah mempersilahkan saya duduk di kursi kayu di bawah pohon rindang di pinggir jalan. Polisi yang tadi membawa SIM saya menunjukkan SIM saya ke beberapa polisi lainnya, dan sekarang 3 polisi Thai mengerubuti saya. Salah satunya ternyata bisa berbahasa Inggris.

TP : Do you have international driving licence?

F : Well, I don’t have to, as base on the agreement among ASEAN countries, our driving licence is valid.

TP : But this license is in Indonesian, we don’t understand the languange.

F : Yes but there’s a tittle there written as Driving License. Sambil saya menunjukkan kata-kata Driving Silence di SIM Indonesia saya.

Dan merekapun saling berbicara  dalam bahasa Thai sambil bergantian melihat-lihat SIM saya.

TP : OK na khrab, you can go.

F : khop khun mak khrab, Sawadee khrab (terima kasih banyak dan salam)

Sayapun pergi dengan hati lega!

Ada satu lagi cerita lucu tentang SIM dan polisi Thailand. Kali ini bukan kisah saya, tetapi dari seorang teman couchsurfing yang berasal dari Inggris.  Suatu saat Polisi Thai memberhentikan motornya di jalan dan meminta ia untuk menunjukan SIM (internationalnya). Teman saya tidak memiliki SIM, bahkan sebenarnya ia baru pertama kali belajar mengendarai sepeda motor saat ia berada di Thailand. Tetapi akal bulusnya bekerja, Ia tahu kalau orang-orang Thailand memiliki kesulitan dengan bahasa inggris. Alih alih berkata ia tidak memiliki international driving license dan membayar denda tilang, Iapun menunjukan kartu menyelamnya kepada Polisi. Dan ajaibnya, ia lolos dari surat atau denda tilang. Ya, agaknya Polisi Thailand punya kesulitan dalam  membedakan kata-kata “Driving” dan “Diving”".

Tagged , ,

All Way Down

Saya baru kembali dari sebuah kunjungan di desa Maruranau, desa terpencil yang tidak ada listrik, tidak ada sinyal telfon, dan tidak ada Internet. Saya meninggalkan Maruranau pukul 5 pagi, menyebrang Sungai Rupununi dengan sampan kecil dengan sepeda motor Honda off-road milik Morton didalamnya. Morton adalah teman yang mengantarkan saya kembali ke Ibu Kota provinsi. Duduk di bonceng oleh Morton, merasakan hembusan angin pagi, padang rumput terhampar luas sejauh mata memandang, bukit, gunung, sunrise.

Sekarang sudah memasuki musim penghujan. Jalanan becek, berlumpur, licin, dan pasir yang tebal. Morton, pemuda yang lahir dan besar di Rupununi, sudah mengenal jalanan dengan baik dan dengan mudah bisa mengatasi kesulitan mengendarai motor di jalanan Savanna. Melelahkan memang, tetapi duduk 5 jam dengan hentakan dan guncangan, tidak akan membuat saya menyerah. Banyak orang bersedia membayar untuk bisa merasakan petualangan yang saya alami.

Mengendarai sepeda motor adalah pengalaman yang jauh lebih hebat dari pada duduk di belakang sepeda motor. Saya sudah sering mengendarai motor dari Desa saya tinggal, Moco Moco ke Ibu Kota provinsi, Lethem. Jatuh dari sepeda motor sudah tidak terhitung. Biru dan lebam sudah menjadi makanan sehari-hari. Namun rasa sakit akan terobati ketika bisa bangun kembali dan mengendarai sepeda motor di jalanan lengang negri tak bertuan, pemandangan spektakuler, dan ada sensasi tersendiri yang tidak bisa dilukiskan.

Bagi anda calon professional Indonesian Volunteer, jikalau penempatan anda nantinya di daerah terpencil dan mengharuskan anda mengendarai motor maka baiknya tanyakan kembali kepada diri anda apakah anda memiliki cukup jiwa petualang? Karena seringkali mengendarai sepeda motor menjadi sebuah keseharian dengan medan yang sulit. Tak jarang rasa ‘fun’ berganti dengan ‘tangisan’, dan ketika motor anda masuk lubang, tidak ada yang lewat membantu anda, anda akan mulai berteriak, “For god sake, apa yang saya lakukan disini?”

Beberapa bulan yang lalu teman saya, Sonja bilang kalau dia memiliki serial bagus untuk di tonton. Dengan baik hati dia mengkopi-kan serial tersebut ke komputer saya. Saya yakin banyak diantara anda juga sudah pernah menontonnya, All Way Down- Ewan McGregor. Setelah menonton serial tersebut, motor yang sempat juga saya kutuk jadi saya rindukan kembali. Jika penempatan anda nantinya akan menggunakan motor besar, maka ada baiknya anda menonton serial TV ini dulu sebelum pergi. Karena, diatas segalanya, semangat dan hasrat adalah modal utama yang harus anda miliki.

Hal lain yang juga penting dilakukan adalah untuk membentuk support group, khususnya bagi perempuan. Mengendarai sepeda motor besar di jalanan yang sulit tidak mudah. Tangan anda harus memegang setir dengan kuat. Tangan anda harus menggemgam setir dan tidak boleh kendor, karena satu kerikil atau pasir tebal bisa membuat anda terjatuh.

Saya memiliki teman Volunteer yang tinggal di Georgetown, Samantha. Dia mengendarai sepeda motor dari Georgetown ke Lethem bersama dengan Daniel. Perjalanan yang membutuhkan waktu lebih dari 10 jam. Menurut Samantha, dia sudah terbiasa mengendarai sepeda motor di Skotlandia. Seperti halnya saya, banyak orang yang sulit percaya. Jikalau anda melihat Samantha anda akan melihat gadis santun, manis, dan jauh dari kesan ‘tangguh’. Dia juga yang menginisiasi terbentunya WOW “witches on wheel”. Sam adalah ketua gang dan Sonja serta saya adalah anggotanya. WOW beranggotakan cewek dan ya, kita mengendarai sepeda motor besar.

Pentingnya memiliki support group adalah untuk memotivasi kita kembali ketika semangat kita kendor atau membuat kita kembali tersenyum ketika rasanya ingin menangis dan meringis menahan sakit. Support group akan memompa semangat dan akan mendorong kita untuk melakukan yang tidak mungkin kita lakukan. Sonja mencintai motornya. Dia terlihat sebagai seorang petualang sejati jika dibandingkan dengan Sam. Tetapi saya dikagetkan ketika saya mengetahui kalau hobi Sonja lainnya adalah menari Tango. Ketika saya melihat video ketika Sonja memperagakan satu tarian Tango di depan banyak penonton ketika dia di Belanda, saya baru percaya. Sulit ditebak, Tango dan Motor Besar, perpaduan karakter yang unik.

Jika anda tidak pernah mengendarai sepeda motor off road sebelumnya, sebaiknya anda meminta VSO Bali untuk membekali anda dengan pelatihan singkat. Pedoman resminya, VSO di negara penempatan anda yang akan memberikan pelatihan. Tetapi manajemen dan kesiapan VSO di negara penempatan berbeda-beda. Di dalam kasus saya, bisa di bilang VSO tidak pernah memberikan pelatihan mengendarai sepeda motor secara resmi. Staff VSO hanya meminta kepala desa dimana saya ditempatkan untuk mengajarkan saya mengendarai motor off-road. Dan kepala desa tersebut bukan guru yang baik. Alhasil, saya belajar sendiri seiring dengan berjalannya waktu. Baru setelah beberapa bulan, Eddie, VSO Volunteer datang ke desa saya dan mengajarkan saya beberapa tekhnik dan juga perawatan sepeda motor.

Hal lain yang tak kalah penting adalah jikalau Anda memiliki SIM C, baiknya SIM tersebut di konversi ke SIM Internasional. Saya memiliki SIM sepeda motor, tetapi SIM sepeda motor saya tidak diakui oleh Polres Guyana, karena bahasa yang mereka tidak mengerti. VSO meminta bantuan kedutaan Indonesia di Suriname untuk menterjemahkan, namun tetap SIM saya tidak diterima oleh Polres Guyana. Jikalau saya memiliki SIM berbahasa Inggris maka segala sesuatunya akan mudah, seperti halnya teman Filipina yang SIM-nya berbahasa Inggris. Mereka akan mengkonversi SIM tersebut dengan SIM Guyana. Di Dalam kasus saya, saya harus mengajukan aplikasi SIM. Untuk apply SIM saya harus menjalani tes tertulis dan juga praktek. Berada di daerah terisolir, prosesnya menjadi ribet. Karena untuk apply, harus melalui Polres di Georgetown. Akhirnya saya menggunakan SIM provisional, yaitu SIM percobaan. SIM yang membolehkan saya mengendarai sepeda motor secara resmi, hanya saja saya tidak boleh membawa penumpang. So, calon professional Indonesian Volunteer, ngga ada ruginya mencoba mengurus SIM Internasional, meski setiap negara memiliki peraturan tersendiri, namun anda akan tetap lebih diuntungkan jikalau memiliki SIM Internasional.

Lethem, 17 April 2012

Tagged , , , ,

All is Well

3 hari ini saya berada di Lethem. Saya menghadiri rapat 3 bulanan KMCRG. Kali ini suasana rapat terasa berbeda.  Persiapannya juga jauh lebih matang dari pada rapat sebelumnya.  Dalam kurun waktu satu tahun KMCRG sudah berkembang pesat.

Satu hari menjelang rapat Toshao Gosh, pimpinan KMCRG menelfon saya dan bilang kalau dia akan mengirimkan kendaraan untuk menjemput saya beserta dua community volunteer, Nicolas dan Verna.  Dia juga bilang kalau Sean, supir kendaraan tersebut akan membawa saya ke hotel.  Saya surprised dengan arrangement ini.  Setelah bekerja 10 bulan lebih dengan organisasi ini, saya tidak pernah mendapatkan layanan serta kemudahan fasilitas.  Beberapa meeting sebelumnya, saya harus cerdas mencari tumpangan gratis dan harus membooking kamar di rumah singgah VSO di Lethem.  Rumah yang hanya terdiri dari dua kamar yang jikalau saya telat maka saya harus bersedia menginap di hammock.  Sudah dua event dimana saya harus menginap dengan hammock, karena saya tidak kedapatan kamar di Lethem.

Ketika saya tiba di Lethem, Gosh sudah menunggu.  Dia mangantarkan kita ke hotel.  Awalnya saya berfikir kalau saya akan berbagi kamar dengan peserta lain. Anoek, volunteer dari Belanda sempat bilang ketika saya menginap di rumahnya tiga hari lalu, agar saya berbagi kamar dengannya.  Saya setuju.  Saya membayangkan kamar yang sempit, dua tempat tidur kecil, dengan fasilitas jauh dari standar.  Ternyata kali ini saya beruntung.  Saya mendapatkan kamar yang luas yang hanya saya tempati sendiri.  Kamar yang dilengkapi dengan AC, TV kabel, AC, dan shower.  Kamar hotel yang tidak akan pernah diberikan oleh VSO karena jauh dari standar-nya.  Hotel kita juga menyediakan sarapan.

Semenjak menjadi volunteer, saya jauh dari “kemudahan”.  Jauh dari fasilitas, dan segala sesuatunya adalah perjuangan.  Saya sangat bersyukur dengan kemudahan yang diberikan kali ini, saya berterimakasih kepada pimpinan KMCRG. Beberapa minggu sebelumnya, saya melakukan perjalanan ke desa-desa dengan traktor dan sepeda motor.  Saya harus duduk 6 jam pulang pergi di sepeda motor, jalanan berpasir, berlumpur, terjatuh beberapa kali, basah kuyup, dan lain sebagainya.  Semua saya jalani memenuhi komitmen, berbagi ilmu dan keahlian dengan masyarakat Indigenous, Amerindian.

I feel good.  Saya menikmati rapat. Saya juga memberikan presentasi mengenai hal yang sudah saya kerjakan selama ini. Seusai rapat, beberapa teman menyelemati dan bilang kalau mereka menyukai presentasi saya. I feel good again.

Kim, direktur VSO, yang turut hadir di rapat tersebut juga meluangkan waktu dengan saya dan volunteer lain. Kim, meminta masukan kita untuk rencana membuka sub office di Lethem.  Anoek (4 bulan), Andrea (2 bulan), Joey (4 bulan), dan saya? Tak terasa waktu cepat berjalan, saya sudah 10 bulan lebih disini.  Diantara 4 volunteer tersebut, saya adalah volunteer yang paling senior.  Hahaha… percaya atau tidak, ada rasa bangga, dan juga “arogansi” positif menjadi volunteer “tua”. Volunteer yang lebih “baru” akan datang ke saya berkonsultasi dan meminta masukan.  Lucunya, apa yang mereka alami sekarang, kurang lebih hal yang sama dengan apa yang saya alami dahulu.

Kim lebih mendengarkan masukan saya. Dia sempat memotong omongan Anoek dengan bilang kalau Anoek disini masih baru, dan dia juga bilang kalau Andrea juga masih brand new. Lagi-lagi lamanya pengalaman berbicara.  Perasaan yang sama yang saya alami dulu, ketika, Behi, volunteer yang lebih “lama” lebih di dengar.  Semuanya adalah pengulangan.

Anoek bilang kalau bulan ini dia akan mendapatkan Solar Panel, dan menurut Anoek, VSO bilang kalau solar panel yang akan dia dapatkan tersebut adalah masukan dari saya.  Masukan ketika saya tinggal selama dua minggu di Nappi. Saya tersenyum, saya senang hal yang buruk yang terjadi dengan saya tidak terjadi pada volunteer lainnya. Saya juga senang karena VSO juga menepati janjinya jikalau mereka akan memperbaiki placement di hinterland (daerah pedalaman) berdasarkan input yang diberikan.

Joey, volunteer dari Kenya juga mengundang saya dan Kim untuk makan malam.  Kim tidak sibuk seperti biasanya.  Dia lebih rileks.  Kita mengobrol banyak hal.  Dia menjelaskan bahwa situasi dia dengan aturan VSO internasional dan juga keterbatasan dana membuat VSO tidak bisa serta merta merespons masukan dari volunteer.  Semua butuh waktu.  Dia bilang kalau untuk tahun depan, dengan menjadi CUSO Canada, segala sesuatunya akan lebih baik.  CUSO bekerja di lebih sedikit negara, tidak seperti VSO Internasional, ruang perbaikan lebih memungkinkan.

Lethem, 30 March 2012

 

Comfort Food (Tajikistan)

Kalau ditanya apa yang mesti dibawa volunteer ke negara penempatannya? Jawaban saya adalah Comfort food ! Awalnya saya tidak begitu merasa membawa makanan Indonesia adalah hal yang penting, tapi setelah lama di Tajikistan, saya merasa ini SANGAT penting.
Kita tidak butuh makanan mewah, lobster atau udang galah (beberapa penempatan makanan ini malah mudah didapat), tapi makanan yang bisa ‘mengkoneksikan’ kita dengan akar rumput kita.

Ketika saya datang ke Tajikistan pertama kali, saya membawa selimut duvet tebal, dan jadi bahan tertawaan Anne, country director VSO Indonesia saat itu. “Don’t you think Tajikistan have duvet too?”. Saat itu saya mengganti duvet tebal itu dengan tambahan bahan makanan.

Bumbu pecel, terasi, cabe kering/botol, bumbu instan, rempah2 Indonesia (biji pala, kayumanis, lengkuas bubuk, sereh kering –yang ini saya special minta teman keringin!), dan santan bubuk. Makanan yang sepele bagi orang Indonesia, tapi bagi volunteer, itu menjadi makanan yang berharga.

Ada saat nya, kita ‘bosan’ makan makanan negara setempat, atau seringkali malah tidak cocok (kecuali yang dapat penempatan di negara2 Asia spt Thailand-surga makanan enak!), comfort food jadi juru penyelamat kita !

Hari ini, saya dikirimi ½ kg toge, daun bawang, peterseli dan jamur dari ibukota Dushanbe. Teman saya, ‘pejabat’ lembaga Jepang datang ke Khorog dengan helicopter, dan toge itu pun naik helicopter. Di Khorog, Cuma ada 4 jenis sayuran : wortel, kentang, lobak hijau dan kol. Hari ini kol sudah tidak ada di pasaran, jadi Cuma ada 3 jenis sayuran ! Kota Khorog beraada di atas gunung, perlu 2 hari untuk mencapai nya dari Ibukota Dushanbe, sehingga sayuran yang cepat layu, pasti tidak tersedia disini. Penduduk local juga tidak bisa menamam, karena suhu terlalu dingin untuk sayuran jenis tersebut. Oh ya.. toge itu pun cuma ada di Dushabe, dijual oleh 1 orang saja. Saat ini, bagi saya Toge adalah makanan paling berharga. 

Punya ’keahlian’ masak masakan Indonesia juga bisa menjadi jurus ampuh meluluhkan kebekuan dengan masyarakat setempat. Saya seringkali mengundang teman teman local, untuk menikmati makanan Indonesia. Setiap orang senang makan, dan senang mencoba makanan ‘baru’. Bumbu instant Indofood/Bamboo akan jadi penolong setia. 
Saat saya bertugas di Khujand tahun lalu, ada ke’tegangan’ antara staff local dan volunteer. Saat itu ada 2 volunteer, saya dan Ashleigh, yang bertugas 1 bulan saja disana. Saat itu saya berinisiatif mengundang mereka semua ‘makan siang’ bersama. Saya masak soto ayam di kantor. Thank you to Indofood.  Semua menikmati, dan saat makan, keakraban terjalin.

Hobi memasak saya, membuat saya dikenal sebagai chef di VSO Tajikistan, dan saya berinisiatif membuat FaceBook group “Cooking with Limitation, recipes from VSO volunteers”. Group ini sudah mencapat 240 anggota sekarang, sebagian besar adalan VSO volunteer dari segala penjuru dunia. Saling menukar resep di negara penempatannya menjadi hal yang seru dan mengasyikan, terutama berbagi tips memasak dengan keterbatasan. Bagaimana membuat roti tanpa oven, membuat pasta tanpa alat pembuat pasta, atau menbuat kecap manis sendiri !

VSO headquarter pun melirik group ini, dan menjadikannya sebuah buku ! Buku tersebut sekarang di jual 5 pondsterling untuk penggalangan dana “taste of the world”. Dua resep saya masuk dalam buku tersebut 
Memasak bagi saya adalah penghilang stress sekaligus mengusir kebosanan. Makanan juga bisa mengenalkan budaya setempat. Makanya, setiap bepergian saya paling senang masuk pasar tradisional dan supermarket, disana, kita bisa melihat budaya asli penduduk setempat, makanan yang mereka makan, bumbu yang mereka pakai, semua adalah budaya yang tersaji dalam masakan.

Memasak makanan Indonesia untuk teman teman Tajik, dan volunteer dari negara lain, secara tidak langsung saya memperkenalkan “Indonesia”, tanpa bermaksud menjadi ‘duta negara’ . Banyak teman teman volunteer yang merencanakan datang ke Indonesia tahun depan untuk menikmati masakan Indonesia lagi. Kalau saya ke Dushanbe, volunter2 sudah menanti saya memasak untuk mereka. They miss Indonesian food ! 

Ketika saya pulang ke Indonesia Desember lalu, saya juga memperkenalkan masakan Tajikistan ke teman teman di Indonesia. “Tajik Food Festival” saya adakan 1 malam di Warung Warung Restaurant, Mal Bali Galeria, saya dan tim dapur memasak sekitar 12 masakan Tajikistan. Tanpa disangka, makanan yang melimpah itu habis dalam waktu kurang dari 1 jam !
Sebelum saya ke Tajikistan, saya tidak tahu dimana itu Tajikistan, begitu juga teman teman saya di Indonesia, sekarang setidaknya mereka tahu, ada negara Tajikistan, ada 1200 teman facebook saya yang tahu negara ini. Sekarang teman teman Indonesia lebih mengenal Tajikistan lebih dekat lewat makanan yang saya buat.

Makanan memang menjadi hal penting dimanapun. Disini, sangat tidak sopan untuk menolak makanan yang disediakan tuan rumah, kadang saya merasa kekenyangan karena terus menerus di tawari makanan “Jeff, eat ! eat !” kata mereka setengah memaksa. Dan mereka tersenyum lebar ketika saya mencoba dan bilang “Hm.. Bomaza ! Bisior bomaza!” Enak! Enak banget !

Untuk volunteer baru, perlu juga membawa makanan siap santap, karena kadang di hari hari pertama sangat sulit untuk menyesuaikan diri. Saya ingat, saya tiba di Tajikistan jam 4 pagi, dan langsung di drop di volunteer’s house, dan saya sangat kelaparan. VSO Tajikistan saat itu tidak mempersiapkan makanan atau minuman untuk menyambut volunteer yang baru tiba (ini menjadi kritik saya ke VSO, dan sekarang mereka selalu memberi welcome drink & biscuit kepada volunteer yang baru tiba). Saat itu saya berfikir, coba saya bawa Indomie, saya bisa masak Indomie setidaknya untuk malam itu. 

Saya susun daftar barang yang perlu dibawa oleh volunteer
1. Makanan siap saji (Indomie, abon, dendeng, dsb)
2. Bumbu masakan instant (Indofood dan bamboo favorit merek saya, Munik utk ayam goreng)
3. Bumbu dapur (bumbu pecel, terasi, cabe kering/botol, kecap manis, lengkuas bubuk, gula merah, asam jawa, kayumanis, bji pala, kemiri, udang kering/ebi) – tergantung kebiasaan masak kalian. Cek resep masakan setempat di internet, mungkin bumbu yang kita pakai juga biasa dipakai disana.
4. Saos botolan. Ini penyelamat masakan saya. Saya bawa Saos Tiram dan Saos teriyaki. Dengan pake saos botolan, masak jadi gampang dan rasa pasti enak.
5. Pembuka kaleng (di beberapa Negara, spt tajikitan, tidak ada yang menjual pembuka kaleng, jadi harus buka dengan pisau!)
6. Bibit sayuran (bibit kangkung, bayam, cabe, tomat), bila mujur, bisa menanam dan memanen sendiri ! seperti yang Rini lakukan di Guyana !
7. Pakaian tidak perlu bawa terlalu banyak, kita datang bukan untuk fashion show.  Cukup 3 celana panjang, 3 kemeja, 3 kaos, kaos kaki dan pakaian dalam. Bila ke Negara dingin, jangan lupa bawa longjoan (baju dalam hangat) dan mantel
8. Sepatu boot yg durable, selain sepatu formal untuk kerja.
9. Senter (head torch lebih baik), beberapa negara masih punya masalah dengan listrik.
10. Obat2an, bawa yang standar saja (obat panas, sakit kepala, diare, minyak kayu putih, Antangin, obat merah, vicks/balsem, antibiotic, obat sakit gigi). Kalau sakit yang lebih parah, VSO akan merujuk ke rumah sakit setempat.
11. DVD ! Kalau bisa simpan saja di laptop/external hard disc !
12. 2-3 judul buku Indonesia, jangan bawa terlalu banyak, berat ! Cari informasi tentang Book Club di kota penempatan, seringkali orang orang asing suka berbagi buku2 mereka.
13. Alat mandi khusus, saya membawa Biore untuk cuci muka, karena harganya sangat mahal disini.. Cek dengan negara setempat. Protect & gamble sudah menyebar di seluruh dunia, hampir semua negara sudah ada sabun dan shampoo. Biasanya di Ibukota, ketika sampai di Ibukota, segera cari di supermarket setempat.
14. Bawa foto keluarga, foto tentang Indonesia (printed, jangan disimpan di laptop- belum tentu ada listrik), peta dunia kecil, bawa pecahan kecil rupiah. Masyarakat setempat akan senang mendengar dongeng anda tentang Indonesia. Bagi koin /pecahan uang kecil, bisa jadi souvenir yang berharga untuk mereka. Permen khas Indonesia bisa dibawa kemana mana, dan dibagikan.. gula asam atau tenteng jahe. 
15. Bring something from home. Sebelumnya saya merasa bodoh membawa bantal kecil dengan kain batik, tapi sekarang saya tidak menyesalinya.. Saya merasa ‘terhubung’ dengan Indonesia ketika tidur di bantal batik saya.  Kalau punya boneka masa kecil, kenapa tidak dibawa?

VSO hanya memperbolehkan kita membawa 20 kg +5 kg (kelebihan 5kg akan diganti oleh VSO), biasanya kita bisa negosiasi dengan armada penerbangan kita. 3-4 kg biasanya dimaklumi. Kalau mau, usahakan keringanan jauh hari sebelum berangkat. Kirim email ke armada penerbangan bahwa kita pergi untuk volunteering dan misi kemanusiaan, biasanya ada keringanan sampai 20 kg !

Happy volunteering !

Tagged , , , , , , ,

Is my life better than yours ? (Tajikistan)

Image

“ So, you are here because you want to see other people lifes worse than yours, to make you feel better?” jadi, kamu disini karena ingin melihat orang lain lebih sulit hidupnya dari kamu, dan kamu merasa hidup kamu jadi lebih baik ?

Tamparan itu datang dari teman volunteer baru, James, masih muda, campuran Inggris dan Chinese Malaysia, gaya bicaranya memang blak blakan dan punya humor hitam yang membuat kita tertawa dan meringis.

Saat itu saya langsung tertawa, tapi pikiran saya bertanya “is that true, jeff?”

Hampir semua relawan yang saya tahu, punya kehidupan yang ‘lebih baik’ dibanding negara penempatannya. Tapi betulkah kita disini karena secara tidak sadar, kita sedang ‘tidak puas’ dengan kehidupan kita sendiri dan mencari pembandingan agar kita tidak merasa ‘susah susah amat’.

Sewaktu saya tiba di Tajikistan, saya merasa Dushanbe is very basic, dibanding Jakarta, ibukota Dushanbe tidak punya apa apa. Ketika saya ke Khujand, saya merasa apartemen saya di Khujand sangat sederhana dan kota Khujand tidak ada apa apanya dibanding Bali.

Tahun ini saya ada di Khorog, kota di atas gunung Pamirs. Kotanya jauh lebih kecil dibanding Khujand, dan saya mulai membanding bandingkan Khujand dengan Khorog. Khujand jauh lebih nyaman… setidaknya saya bisa makan enak setiap hari, di Khorog Cuma ada 1 rumah makan international, itupun makanan India. :)

Disini saya harus mengambil air dengan ember setiap hari dari pancuran air 100 meter dari rumah, karena pipa air masih membeku. Toilet pun rusak, karena saluran pembuangan membeku, hingga air tidak bisa mengalir. Dengan kondisi begini, saya haru menggunakan toilet umum yang bau nya minta ampun. Toilet paper pun tidak ada yang lembut, seperti yang kita biasa gunakan (tersedia di Khujand), disini toilet paper nya lebih seperti karton amplas, keras dan tebal, bisa buat lecet di bagian bawah sana. :) Tapi saya memang tidak punya pilihan, ketika saya ke Dushabe, saya selalu membeli toilet paper untuk dibawa kesini.

Persediaan sayur juga sangat terbatas, karena Khorog kota yang terisolasi, cuma ada sayur2an yang tahan lama, seperti wortel, kentang, lobak dan kubis. Harus memutar otak memasak dengan 4 macam bahan makanan saja. Ayam? Sama seperti kota lain di Tajikistan, hanya ada ayam beku. Daging sapi hampir tidak pernah saya beli, karena saya tidak yakin dengan kebersihannya. Cara penyimpanan daging memang bikin merinding, Cuma digeletakan saja di atas tanah beralas plastik.

Kata kata James, yang gayanya mirip Simon, teman karib saya yang meninggal 6 tahun lalu, mengingatkan saya pada tulisan- tulisan saya sebelumnya, saya sering sekali menulis tentang hal hal ‘baru dan payah’ yang saya jumpai disini. Ketika saya menulis itu, mungkin ada perasaan ‘gagah’ bahwa saya bisa menjalani ini semua. Saya tidak selemah yang orang lain piker. Saya sedang menggali simpati dan rasa hormat dari pembaca saya. Sungguhkan kita seperti itu ?

Kalau saya baca semua buku perjalanan, atau travel blog, hampir semua menulis kesedihan pada ‘hidup orang yang dikunjungi’ lalu diselipi kisah kisah kebahagiaan dalam keterbatasan, dan membuat pembacanya terharu. Atau kemudian membandingkan dengan hidup penulis sendiri dan menulis “I appreciate my life better now”

“So , I’m here to appreciate my life, by seeing other people’s suffer?”, tanya pikiran saya semalam. Saya memakai kata kata VSO, kita disini untuk berbagi keahlian dan mengubah hidup. Hidup orang lain dan hidup kita sendiri. Sharing skill, changing live.

Keahlian, berarti hanya orang orang yang punya keahlian yang bisa menjadi relawan.

Seorang teman relawan lain berkata, “’I'm always good in everything that I do” katanya penuh percaya diri, dan James langsung menyambar “But do you know that you’re here, just because you’re cheap, not because you are good!” katanya becanda, dan langsung menjadi tawa yang panjang.

Candaan bahwa volunteer yang punya keahlian seperti kami seperti buruh murah, cheap labor, sehingga partner organisasi kita tidak perlu bayar konsultan yang harga fee nya selangit. Cukup dikasih rumah ala kadarnya, dan VSO yang membayar keperluan lainnya. Becandaan ini kadang ada benarnya. Ada beberapa partner local yang tidak menghargai keahlian volunteernya. Karena ‘gratis’, sehingga tidak merasa ‘sayang’ kalo ngak menggunakannya dengan maksimal. Coba kalau mereka harus membayar ratusan juta untuk jasa konsultasi kita, mungkin 1 detik pun mereka pergunaakan dengan maksimal.

Freddy, volunteer Indonesia di Burma/Thailand menulis di Facebook nya, “kadang susah membedakan orang yang membutuhkan keahliannnya, dengan yang menyalahgunakan keahliannya”.

Tapi saya yakin, semua VSO volunteer adalah professional yang hebat, tidak hanya hebat dalam keahlian masing masing, tapi hebat dalam hati nya. Kita ada disini, karena kita mampu dan kita mau.

Sebentar lagi, musim semi akan datang, tapi salju masih turun dengan sangat derasnya di Khorog. Pagi ini halaman rumah saya tertimbun salju sampai 60 cm, sehingga saya tidak bisa keluar rumah sebelum menyekop timbunan salju tersebut. Nanti sore, saya harus menggotong 2 ember air di tengah hujan salju yang deras dan jalan yang licin, dan mandi ‘koboi’ dengan handuk kecil dan sebaskom air hangat.

Apa saya menikmati hal hal ini? Apa ini membuat saya merasa hidup saya di Bali jauh lebih baik? Yang pasti, hal hal ini akan menjadi catatan penting dan menarik dalam hidup saya

Tagged , , ,

Indonesia di Guyana

“Apa Kebangsaan anda?”

“Indonesia”

“Untuk Indonesia, anda diharuskan untuk menyertakan letter of invitation dari kontak anda di Suriname. Apakah kamu memiliki kenalan di Suriname? Jikalau tidak ada letter of invitation dari teman atau kontak anda di Suriname, maka mohon maaf kami tidak bisa mengabulkan visa turis anda”. Persyaratan lainnya standar. Anda harus menyertakan tiket pulang pergi. Tetapi ingat, tanpa letter of invitation anda tidak bisa mendapatkan visa”.

Sayapun menutup telfon. Persyaratan yang gampang gampang susah. Sebelumnya saya sudah mau membeli tiket dan membooking hotel atau hostel di Paramaribo, Ibu Kota Suriname. Saya akan berangkat dari Georgetown ke Paramaribo dan akan kembali ke Georgetown, Ibu Kota Guyana. Harga estimasi tiket pesawat pulang pergi adalah sekitar 2,5 juta. Harga yang masih terjangkau. Harga tiket tersebut sama dengan harga tiket penerbangan lokal dari Georgetown ke Lethem pulang pergi. Misalkan saya harus membayar penginapan 500 ribu per malam, saya bisa tinggal selama 3 malam dengan total biaya sekitar 1,5 juta. Biaya makan selama 3 hari anggap saja sebesar 200 ribu, maka total estimasi biaya selama 3 hari di Suriname adalah 4,6 juta rupiah.

Tetapi meskipun saya memiliki cukup uang untuk tinggal 3 hari di Suriname, akses saya sudah tertutup. Saya tidak memiliki teman atau saudara di Suriname. Kenapa warga negara lain boleh berkunjung sebagai turis ke Suriname tanpa letter of invitation, kenapa untuk warga Indonesia diwajibkan. Teman-teman di Indonesia, termasuk saya, membayangkan kalau Suriname adalah little Indonesia di benua Amerika Selatan. Kita membayangkan kalau Suriname akan dengan senang hati menyambut teman setanah airnya.

Mungkin agak sedikit berlebihan kalau menyebut Suriname adalah little Indonesia. Warga jawa di Suriname hanya sekitar 20% dari total populasi. Warga Jawa tersebut banyak sudah tercampur dengan ras lain, identitas mereka bukan lagi jawa. Mereka adalah Surinamese. Mungkin turunan kedua dan ketiga masih bisa berbahasa jawa atau berbahasa Indonesia, tetapi generasi baru mungkin sudah lupa dengan hubungan masa lalu mereka dengan Indonesia.

Karena belum mendapatkan Visa Suriname, saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Skelton atau Corriverton setelah sebelumnya singgah sebentar di New Amsterdam. Corriverton berbatasan dengan Suriname, mereka dipisahkan oleh sungai yang bernama Correntyn. Dengan boat kecil, menyebrang hanya membutuhkan waktu selama 10-15 menit. Di Corriverton ini terdapat petugas imigrasi resmi yang bisa menstempel passpor untuk pergi ke Suriname. Namun petugas tersebut tidak bisa mengeluarkan Visa. Ferry akan membawa penumpang menyebrang ke Suriname, dan setibanya disana Bis menuju Paramaribo sudah menunggu. Lama waktu menyebrang dengan Ferry kurang lebih 30 menit, dan lama waktu setelah menyebrang menuju Paramaribo kurang lebih 6 jam.

Hampir semua teman volunteer Filipina sudah pernah menyebrang ke Suriname. Miles, teman dari Filipina bilang kalau dia tidak membutuhkan Visa ke Suriname. Seperti yang saya tulis di artikel sebelumnya, warga Filipina, hampir bisa masuk ke seluruh negara Amerika Selatan tanpa membutuhkan visa.

Saya berpuas diri berada di daerah perbatasan. Tidak terlalu buruk, saya menemukan satu warung jawa. Warung yang menjual pisang goreng yang mereka sebut baka bana, sate ayam, nasi goreng, lumpia, dan lain-lain. Pegawai yang bekerja disana adalah Guyanese turunan East Indian. Menurut cerita Anita, teman saya, konon pemiliknya memiliki orang tua yang berasal dari Suriname. Tetapi pemilik tersebut sudah tinggal lama di Guyana. Pemilik tersebut mungkin memiliki hubungan dengan jawa-Indonesia. Sayang saya tidak bertemu dengannya.

Anita adalah adek dari teman saya, Eleanor. Anita adalah pensiunan guru. Dia adalah Guyana turunan East India. Anita memiliki pribadi dominan. Dia mengatur segalanya. Saya mempercayai keahlian manajemen dia, dan membiarkan dia mengatur liburan saya di Corriverton.

Hari pertama, dia membawa saya ke sungai, yang lebih menyerupai pantai dengan pasir putih. Hari kedua, dia mendaftarkan saya kepada kelas memasak, mengunjungi teman-nya East Indian (East Indian adalah sebutan yang membedakan Indian-Amerika dengan Indian-India). Hari ketiga kita mengunjungi pelabuhan tua, bekas pelabuhan resmi untuk menyebrang ke Suriname. Daerah ini juga dikenal sebagai daerah “jalan belakang” untuk menyebrang ke Suriname. Anita bilang, hampir setiap jam ada boat kecil yang akan membawa penumpang menyebrang hanya dengan ongkos sekitar 95 ribu rupiah. Banyak warga lokal yang menggunakan jalan backtrack ini. Menurut Anita, petugas imigrasi mengetahuinya, mereka membiarkan.

Alasan kenapa warga lokal menggunakan jalur backtrack adalah karena lebih cepat, dan juga ngga ribet. Untuk warga Guyana, karena tergabung di dalam Caricom, dimana Suriname juga anggota Carricom, maka bepergian ke Suriname tidak membutuhkan Visa.

Bepergian ke Suriname dengan jalur darat sebenarnya mudah dan juga lebih murah. Anita juga mau menemani saya bepergian ke Suriname. Namun apa dikata, saya tidak memiliki visa, dan belum menemukan cara bagaimana untuk memperolehnya. Saya menuliskan surat ke kedutaan Indonesia di Suriname untuk memperoleh solusi, semoga saja saya mendapat balasan.

Bagaimanapun juga, saya cukup berpuas menyipi sate, lumpia, dan pisang goreng di daerah perbatasan ini. Rasanya? Mantap.

27 feb 2012

Tagged , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.