Kalau ditanya apa yang mesti dibawa volunteer ke negara penempatannya? Jawaban saya adalah Comfort food ! Awalnya saya tidak begitu merasa membawa makanan Indonesia adalah hal yang penting, tapi setelah lama di Tajikistan, saya merasa ini SANGAT penting.
Kita tidak butuh makanan mewah, lobster atau udang galah (beberapa penempatan makanan ini malah mudah didapat), tapi makanan yang bisa ‘mengkoneksikan’ kita dengan akar rumput kita.
Ketika saya datang ke Tajikistan pertama kali, saya membawa selimut duvet tebal, dan jadi bahan tertawaan Anne, country director VSO Indonesia saat itu. “Don’t you think Tajikistan have duvet too?”. Saat itu saya mengganti duvet tebal itu dengan tambahan bahan makanan.
Bumbu pecel, terasi, cabe kering/botol, bumbu instan, rempah2 Indonesia (biji pala, kayumanis, lengkuas bubuk, sereh kering –yang ini saya special minta teman keringin!), dan santan bubuk. Makanan yang sepele bagi orang Indonesia, tapi bagi volunteer, itu menjadi makanan yang berharga.
Ada saat nya, kita ‘bosan’ makan makanan negara setempat, atau seringkali malah tidak cocok (kecuali yang dapat penempatan di negara2 Asia spt Thailand-surga makanan enak!), comfort food jadi juru penyelamat kita !
Hari ini, saya dikirimi ½ kg toge, daun bawang, peterseli dan jamur dari ibukota Dushanbe. Teman saya, ‘pejabat’ lembaga Jepang datang ke Khorog dengan helicopter, dan toge itu pun naik helicopter. Di Khorog, Cuma ada 4 jenis sayuran : wortel, kentang, lobak hijau dan kol. Hari ini kol sudah tidak ada di pasaran, jadi Cuma ada 3 jenis sayuran ! Kota Khorog beraada di atas gunung, perlu 2 hari untuk mencapai nya dari Ibukota Dushanbe, sehingga sayuran yang cepat layu, pasti tidak tersedia disini. Penduduk local juga tidak bisa menamam, karena suhu terlalu dingin untuk sayuran jenis tersebut. Oh ya.. toge itu pun cuma ada di Dushabe, dijual oleh 1 orang saja. Saat ini, bagi saya Toge adalah makanan paling berharga.
Punya ’keahlian’ masak masakan Indonesia juga bisa menjadi jurus ampuh meluluhkan kebekuan dengan masyarakat setempat. Saya seringkali mengundang teman teman local, untuk menikmati makanan Indonesia. Setiap orang senang makan, dan senang mencoba makanan ‘baru’. Bumbu instant Indofood/Bamboo akan jadi penolong setia.
Saat saya bertugas di Khujand tahun lalu, ada ke’tegangan’ antara staff local dan volunteer. Saat itu ada 2 volunteer, saya dan Ashleigh, yang bertugas 1 bulan saja disana. Saat itu saya berinisiatif mengundang mereka semua ‘makan siang’ bersama. Saya masak soto ayam di kantor. Thank you to Indofood. Semua menikmati, dan saat makan, keakraban terjalin.
Hobi memasak saya, membuat saya dikenal sebagai chef di VSO Tajikistan, dan saya berinisiatif membuat FaceBook group “Cooking with Limitation, recipes from VSO volunteers”. Group ini sudah mencapat 240 anggota sekarang, sebagian besar adalan VSO volunteer dari segala penjuru dunia. Saling menukar resep di negara penempatannya menjadi hal yang seru dan mengasyikan, terutama berbagi tips memasak dengan keterbatasan. Bagaimana membuat roti tanpa oven, membuat pasta tanpa alat pembuat pasta, atau menbuat kecap manis sendiri !
VSO headquarter pun melirik group ini, dan menjadikannya sebuah buku ! Buku tersebut sekarang di jual 5 pondsterling untuk penggalangan dana “taste of the world”. Dua resep saya masuk dalam buku tersebut
Memasak bagi saya adalah penghilang stress sekaligus mengusir kebosanan. Makanan juga bisa mengenalkan budaya setempat. Makanya, setiap bepergian saya paling senang masuk pasar tradisional dan supermarket, disana, kita bisa melihat budaya asli penduduk setempat, makanan yang mereka makan, bumbu yang mereka pakai, semua adalah budaya yang tersaji dalam masakan.
Memasak makanan Indonesia untuk teman teman Tajik, dan volunteer dari negara lain, secara tidak langsung saya memperkenalkan “Indonesia”, tanpa bermaksud menjadi ‘duta negara’ . Banyak teman teman volunteer yang merencanakan datang ke Indonesia tahun depan untuk menikmati masakan Indonesia lagi. Kalau saya ke Dushanbe, volunter2 sudah menanti saya memasak untuk mereka. They miss Indonesian food !
Ketika saya pulang ke Indonesia Desember lalu, saya juga memperkenalkan masakan Tajikistan ke teman teman di Indonesia. “Tajik Food Festival” saya adakan 1 malam di Warung Warung Restaurant, Mal Bali Galeria, saya dan tim dapur memasak sekitar 12 masakan Tajikistan. Tanpa disangka, makanan yang melimpah itu habis dalam waktu kurang dari 1 jam !
Sebelum saya ke Tajikistan, saya tidak tahu dimana itu Tajikistan, begitu juga teman teman saya di Indonesia, sekarang setidaknya mereka tahu, ada negara Tajikistan, ada 1200 teman facebook saya yang tahu negara ini. Sekarang teman teman Indonesia lebih mengenal Tajikistan lebih dekat lewat makanan yang saya buat.
Makanan memang menjadi hal penting dimanapun. Disini, sangat tidak sopan untuk menolak makanan yang disediakan tuan rumah, kadang saya merasa kekenyangan karena terus menerus di tawari makanan “Jeff, eat ! eat !” kata mereka setengah memaksa. Dan mereka tersenyum lebar ketika saya mencoba dan bilang “Hm.. Bomaza ! Bisior bomaza!” Enak! Enak banget !
Untuk volunteer baru, perlu juga membawa makanan siap santap, karena kadang di hari hari pertama sangat sulit untuk menyesuaikan diri. Saya ingat, saya tiba di Tajikistan jam 4 pagi, dan langsung di drop di volunteer’s house, dan saya sangat kelaparan. VSO Tajikistan saat itu tidak mempersiapkan makanan atau minuman untuk menyambut volunteer yang baru tiba (ini menjadi kritik saya ke VSO, dan sekarang mereka selalu memberi welcome drink & biscuit kepada volunteer yang baru tiba). Saat itu saya berfikir, coba saya bawa Indomie, saya bisa masak Indomie setidaknya untuk malam itu.
Saya susun daftar barang yang perlu dibawa oleh volunteer
1. Makanan siap saji (Indomie, abon, dendeng, dsb)
2. Bumbu masakan instant (Indofood dan bamboo favorit merek saya, Munik utk ayam goreng)
3. Bumbu dapur (bumbu pecel, terasi, cabe kering/botol, kecap manis, lengkuas bubuk, gula merah, asam jawa, kayumanis, bji pala, kemiri, udang kering/ebi) – tergantung kebiasaan masak kalian. Cek resep masakan setempat di internet, mungkin bumbu yang kita pakai juga biasa dipakai disana.
4. Saos botolan. Ini penyelamat masakan saya. Saya bawa Saos Tiram dan Saos teriyaki. Dengan pake saos botolan, masak jadi gampang dan rasa pasti enak.
5. Pembuka kaleng (di beberapa Negara, spt tajikitan, tidak ada yang menjual pembuka kaleng, jadi harus buka dengan pisau!)
6. Bibit sayuran (bibit kangkung, bayam, cabe, tomat), bila mujur, bisa menanam dan memanen sendiri ! seperti yang Rini lakukan di Guyana !
7. Pakaian tidak perlu bawa terlalu banyak, kita datang bukan untuk fashion show. Cukup 3 celana panjang, 3 kemeja, 3 kaos, kaos kaki dan pakaian dalam. Bila ke Negara dingin, jangan lupa bawa longjoan (baju dalam hangat) dan mantel
8. Sepatu boot yg durable, selain sepatu formal untuk kerja.
9. Senter (head torch lebih baik), beberapa negara masih punya masalah dengan listrik.
10. Obat2an, bawa yang standar saja (obat panas, sakit kepala, diare, minyak kayu putih, Antangin, obat merah, vicks/balsem, antibiotic, obat sakit gigi). Kalau sakit yang lebih parah, VSO akan merujuk ke rumah sakit setempat.
11. DVD ! Kalau bisa simpan saja di laptop/external hard disc !
12. 2-3 judul buku Indonesia, jangan bawa terlalu banyak, berat ! Cari informasi tentang Book Club di kota penempatan, seringkali orang orang asing suka berbagi buku2 mereka.
13. Alat mandi khusus, saya membawa Biore untuk cuci muka, karena harganya sangat mahal disini.. Cek dengan negara setempat. Protect & gamble sudah menyebar di seluruh dunia, hampir semua negara sudah ada sabun dan shampoo. Biasanya di Ibukota, ketika sampai di Ibukota, segera cari di supermarket setempat.
14. Bawa foto keluarga, foto tentang Indonesia (printed, jangan disimpan di laptop- belum tentu ada listrik), peta dunia kecil, bawa pecahan kecil rupiah. Masyarakat setempat akan senang mendengar dongeng anda tentang Indonesia. Bagi koin /pecahan uang kecil, bisa jadi souvenir yang berharga untuk mereka. Permen khas Indonesia bisa dibawa kemana mana, dan dibagikan.. gula asam atau tenteng jahe.
15. Bring something from home. Sebelumnya saya merasa bodoh membawa bantal kecil dengan kain batik, tapi sekarang saya tidak menyesalinya.. Saya merasa ‘terhubung’ dengan Indonesia ketika tidur di bantal batik saya. Kalau punya boneka masa kecil, kenapa tidak dibawa?
VSO hanya memperbolehkan kita membawa 20 kg +5 kg (kelebihan 5kg akan diganti oleh VSO), biasanya kita bisa negosiasi dengan armada penerbangan kita. 3-4 kg biasanya dimaklumi. Kalau mau, usahakan keringanan jauh hari sebelum berangkat. Kirim email ke armada penerbangan bahwa kita pergi untuk volunteering dan misi kemanusiaan, biasanya ada keringanan sampai 20 kg !
Happy volunteering !