“In my country, people will not consider you as Asian!”, Begitu kata rekan saya dari Eropa dan Kanada. Penampakan saya “kurang” Asia bagi mereka, terlalu gelap dan matanya kurang sipit. Bagi mereka Asian itu adalah orang-orang China, Jepang, Korea, Thailand. “So, what will people consider me then?” saya bertanya kepada mereka. “Hmm I don’t know, maybe Indian? Well, you don’t look Indian as well though. I guess they will just think that you are half black and half white”.
Susah punya penampakan dan warna kulit tanggung seperti saya. Thanks to my parent though, perpaduan Jawa dan Sangir Talaud dari mereka membuat saya cukup “International face” lebih tepatnya mungkin “3rd world country face”.
Waktu di Thailand, sering disangka orang Thailand, sama orang Burma disangka orang Burma, di Cambodia disangka orang Cambodia, di Filipina disangka orang Filipina… tapi itu semua masih mendingan, karena masih South East Asia region semua. Sekarang saya di Benua Africa.. apa masih berlaku?
Pas sampai di Nairobi, saya di”tuduh” orang Madagascar oleh petugas bandara, lalu disangka orang India oleh petugas bea cukai. Sesampainya di Malawi, beberapa orang yang saya temui secara random mengira saya orang Kenya. Saya bahkan harus bertanya kepada teman-teman yang benar-benar orang Kenya, apakah memang saya kelihatan seperti orang Kenya? seorang berkata ” That’s impossible Freddy, you don’t look like Kenyan at all!” Tetapi ada 2 orang yang berkata “Well, you can be a Kenyan from Mombasa, my friend.” satu rekan lagi berkata ” I think it’s from the way you talk and yes, you can be a Kenyan with some middle east background.” Menarik.
Yang lebih menarik lagi adalah saat saya sedang berjalan-jalan di tepi pantai Danau Malawi, seorang lelaki paruh baya datang dan menghampiri saya, kami bersalaman (orang disini sangat suka berjabat tangan), setelah berbasa-basi (mereka juga suka sekali berbasa-basi), dengan tetap tangan saya masih digenggamannya dia berkata “is your mother white?” Saya tertawa dan berkata bahwa saya orang Asia, kedua orang tua saya orang Asia. “Oh, I thought you are half Malawian from your father and half white from your mother. You have a very nice color, my friend.” katanya sambil mengelus ngelus lengan saya. Saya hanya bisa tertawa panjang dan berkata terima kasih. WOW.. seumur-umur belum pernah ada yang memuji-muji warna kulit saya.
Masih kurang menarik?
Ada 2 cerita lucu. Kenapa lucu karena kejadiannya justru malah waktu saya berada di Indonesia.
Kejadian pertama di Bandung. Couchsurfing (CS) gathering, acaranya buka puasa bersama. Tema kostum-nya middle east, jadi saya dan beberapa teman berpakaian ala middle east man, pake sorban dan baju panjang. Ada sekitar 50 orang hadir di acara tersebut, karena ini acara couchsurfing ya tentu saja banyak juga warga asing yang datang dan hadir di acara ini. Tentu saja saya harus menggunakan bahasa inggris ketika berbicara dengan mereka. Di tengah-tengah percakapan saya dengan beberapa rekan CS Indonesia dan rekan CS dari America, seorang Bapak anggota baru CS datang dan ikutan nimbrung, dan kamipun berbicara dalam bahasa inggris. Tiba-tiba sang bapak “menuduh” saya dengan kalimat random ” Excuse me, sir. Are you from Ghana?”. Ia mengira dengan pakaian dan warna kulit gelap saya dan logat inggris jawa medhok saya, saya pasti adalah orang Afrika dan Ghana adalah negara Afrika beragama Muslim yang paling mudah ia sebutkan. Saya dan rekan rekan semua tertawa terbahak-bahak, dan sejak saat itu saya selalu diejek oleh rekan-rekan CS Bandung sebagai orang Ghana. Thanks to you, Sir!
Kejadian kedua adalah di Bali. Masih dengan kegiatan Couchsurfing (CS) kali ini adalah saat Hitchhike race (lomba sampai pada satu tujuan dengan cara menumpang di kendaraan orang lain). Saya dan rekan CS dari Bali Nadia, Frieder dari German dan Rangie dari Thailand berkelompok bersama mencoba mendapatkan tumpangan untuk sampai ke Pura Ulandatu. Kami sudah berhasil menumpang di beberapa mobil secara estafet. Di suatu jalan raya yang panas di tengah terik matahari Bali yang mencekik.. kami mencoba mendapatkan tumpangan. Beberapa kali kami gagal, tetapi tiba tiba sebuah mobil berhenti… seorang bapak mempersilahkan kami semua masuk ke dalam mobilnya, dan saya langsung menggambil posisi bangku depan di samping sang Bapak. Pak Gede, begitu beliau memperkenalkan dirinya. Kamipun memperkenalkan diri kami masing-masing. Lalu saya bertanya, kenapa Pak Gede bersedia berhenti dan mengangkut kami semua. Mengejutkan jawaban sang Bapak. Dia dengan jujur berkata bahwa ia sangat terkejut melihat reinkarnasi Idi Amin (ditaktor dari Uganda) berdiri di tengah jalan di Bali. Dan tentu saja yang ia maksud adalah Saya!


