Category Archives: Frederick Gaghauna

3 Pacar Dalam 3 Bulan (Malawi)

“How old are you now? Are you married?”

“No. I am single”

“Why?”

“I don’t find the right person yet.”

“Do you want to get married?”

“Yes… hmm maybe… I don’t know..”

“Why not? why Maybe? OK I have a sister….” Dan percakapanpun dilanjutkan dengan rencana “perjodohan”.

Percakapan seperti ini sangat biasa terjadi, hampir dimana-mana, bahkan saat pertama kali berkenalan. Di dalam mini bus, di pasar,   di pom bensin, saat ngantri di depan kasir pasar swalayan dan lain lain.

Nggak di Indonesia, nggak di Africa  pernikahan ternyata masih dianggap suatu keharusan. Sebenarnya aku sudah kebal dengan pertanyaan beginian… jadi  moment yang begini lebih membuatku tersenyum dan tertawa daripada sebal atau tersinggung. I know there’s a “good” intention behind the questions.

“When are you going to get married, Freddy?”

“2007.”

Jawaban tenang dan seriusku membuat 3 orang teman Malawi-ku melongo dan dua detik kemudian tawapun meledak diantara kami.

Tetapi agaknya teman-teman lain yang juga masih single, tidak terlalu suka dengan jenis pertanyaan yang satu ini, terutama rekan-rekan wanita atau rekan dari negara Barat.  Aku bisa mengerti kenapa hal ini mengganggu mereka, terutama pada rekan wanita. Karena perhatian orang-orang disini terlalu berlebihan terhadap mereka. Di Malawi, dan aku pikir di hampir sebagian negara-negara di Afrika, wanita di”wajib”kan untuk menikah secepat mungkin setelah mereka mencapai masa pubernya. Aneh bagi mereka bila kita masih single di usia dewasa.

Alhasil,  saat baru pertama kali datang, aku sudah “dilamar” oleh beberapa teman. Untuk membuat orang tidak banyak bertanya, dan menghindari pelecehan seksual (terutama rekan-rekan wanita dari Asia- karena stigma pria Afrika yang menganggap wanita Asia lemah tetapi ramah), saat aku bepergian bersama rekan wanita, di pasar tradisional, pasar swalayan, di dalam mini bus atau saat pesta. Aku akan diperkenalkan sebagai pacar mereka.. dan aku setuju setuju saja, itung-itung membantu teman. Alhasil baru 3 bulan di Malawi aku sudah punya 3 “pacar”. Sedihnya tak satupun dari mereka menjadi pacar beneran!

Saat ini, sudah hampir sembilan bulan di Malawi, aku sudah punya 5 “pacar”  wanita, 2 “pacar” pria dan 1 orang “istri”!  Bagaimana bisa? Tunggu cerita lanjutannya saja.

banyak pacar

Advertisements
Tagged , , , ,

Sepatuku Hartaku (Malawi)

Setiap hari, pagi-pagi saat mengayuh sepeda menuju kantor, selalu aku berpapasan dengan orang-orang yang berjalan kaki,  mulai dari bapak-bapak penjaga malam yang pulang dari tugasnya sampai anak-anak yang mulai berangkat ke sekolah, atau Ibu-ibu dengan bayi di gendongan dan bawaan di kepala mereka. Kuperhatikan, sebagian besar berjalan tanpa alas kaki.

Sedih dan tak habis pikir, sebab di sepanjang jalan, sangat sering aku harus menghindar dari pecahan beling dari botol-botol (alkohol) yang dibuang orang-orang tak berotak. Beberapa kali aku harus turun dari sepeda dan menendang botol dan pecahan botol ke got. Aku yakin, botol-botol itu dibuang orang malam sebelumnya saat mereka pulang dari pusat klub malam yang tak jauh dari jalan utama menuju kantorku. Kecelakaan akibat pengemudi mabuk sangat biasa disini. Dan tampaknya orang-orang juga sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Tidak ada yang peduli.

Image

Pagi ini aku berpapasan dengan seorang pemuda, dari jauh kulihat dia berpakaian rapih dengan dasi dan setelan jas, tetapi ada yang aneh darinya. Ia berjalan tanpa alas kaki. Di tangan kanannya kulihat ia menenteng sepatu kulit yang warna putihnya mulai memudar, yang aku tebak mungkin baru dia beli dari pasar loak di kota tua Lilongwe, kemarin.

Dengan rasa ingin tahu kusapa ia dan bertanya kenapa sepatunya tidak dipakai? Dia menjawab dengan tersenyum “I don’t want it to get dirty.” Kubalas dengan anggukan kepala dan tertawa, lalu kulambaikan tangan dan kembali menganyuh sepedaku.

Dalam hati aku berpikir, dengan pakaiannya yang rapih, mungkin hari ini ia akan pergi memenuhi panggilan interview suatu pekerjaan. Imajinasiku mulai melayang-layang.. Ah semoga ia tidak menginjak pecahan beling di jalan, pikirku lagi dan semoga ketika ia sampai di depan gedung kantor tujuannya, lalu memakai sepatu putihnya, rasa percaya dirinya tumbuh. dan iapun mendapatkan pekerjaan.  Andai semua cerita hidup selalu diakhiri dengan happy ending.. oh betapa bahagianya aku. But anyway, whatever it is I wish you a Very good luck young man!

Tagged , , , ,

Drama Pepesan Kosong (Malawi)

Saatnya berbagi lagi.

Setelah bulan lalu sempat stress dengan kondisi rumah dan kerjaan yang tidak menentu, bulan ini semuanya berubah, ternyata sumber air itu mulai memancar dan hati kembali hijau.

Semuanya diawali dengan peristiwa drama pepesan kosong  oleh teman serumah, yang parno tak beralasan, berpikir bahwa tamu tetangga sebelah rumah akan membunuhnya. Drama berakhir dengan dipindahkannya aktor pemeran utama drama pepesan kosong ini ke rumah terpisah, jadi saat ini aku kembali menempati rumah sendirian. Yeaah!

Dan… Abrakadabra… situasi berangsur angsur kembali membaik. Benar kata petuah orang tua “tidak ada masalah yang tidak terselesaikan”.

Data Bootcamp

Hari-hari di bulan Juni dan Juli ini sungguh menyenangkan, dimulai dengan bootcamp training “Data Literacy ” oleh World Bank Institute, AMI dan Google selama satu minggu sampai kedatangan Chris, teman dari Jerman yang berkunjung ke Malawi. Kami bersama teman-teman VSO volunteer lainnya melakukan  road trip ke Zomba mengunjungi salah satu VSO volunteer yang bertugas disana. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Chikwawa, tinggal dan merasakan kehidupan pedesaan di Malawi dan berkunjung ke beberapa safari games.

photo2

Lesson learned : Segala sesuatu ada hikmahnya, bahkan semua drama pepesan kosong yang kita anggap kurang pentingpun  dapat membawa hikmah. So NEVER GIVE UP!

Tagged , , ,

It used to be green (Malawi)

Teringat saat pertama kali aku menginjakkan kaki di Malawi; kesan pertama adalah Hijau. Saat masih di atas pesawat sebelum mendarat di Lilongwe, yang aku lihat juga dominasi warna hijau dimana mana.  Saat akan berangkat menuju hotel, di tengah perjalanan menuju parkiran mobil di Bandar Udara Kamuzu, Lilongwe; aku masih ingat betapa derasnya hujan yang datang menyambut dan kami semuapun harus bergegas masuk ke dalam mobil menghindari basah. Hujan saat itu benar-benar deras dan di sepanjang perjalanan menuju hotel dimana kami akan menginap selama In Country Training (ICT), aku tak berhenti berdecak kagum akan warna hijau yang mendominasi suasana saat itu. Wah, tidak jauh berbeda dengan Bandung, pikirku.

Hijau adalah salah satu warna favoritku. Warna hijau adalah warna kehidupan, membuat mata terasa adem dan relaks. Kata pepatah.. dari mata turun ke hati, jadi teorinya kalau mata sudah adem dan relaks demikian halnya dengan hati. OK, let’s cut this crap thing about color.

Lalu setelah 4 bulan berada disini, di saat musim penghujan berhenti dan berganti musim dingin (yang kalau malam  bisa mencapai 5 derajat celcius) membuat suasana warna juga berubah… warna hijau mulai pudar dan berganti dengan warna kuning dan coklat.. hujan berhenti tercurah dan tanah menjadi kering.

Agaknya perubahan warna ini bisa dibilang mewakili suasana hati dan emosionalku… banyak hal terjadi akhir-akhir ini dan sampai saat aku menulis ini yang kulihat hanya kekeringan…Mulai dari konflik dengan rekan satu rumah yang selalu mengeluh dan mentransfer energi negatif hampir setiap hari sampai ketidakjelasan pekerjaan akibat restrukturisasi organisasi dan sangat kurangnya dukungan secara profesional. Berangkat dan pulang kerja tidak sama seperti dulu lagi. Dulu, berangkat dan pulang kerja bersama-sama Frank, teman serumah yang pertama, begitu menyenangkan.. sekarang berangkat kerja adalah kegiatan yang tidak bersemangat karena tahu bahwa tidak ada hal signifikan yang akan dikerjakan di kantor  dan saat pulang kantorpun tidak berbeda… karena tahu bakal bertemu penghuni rumah lainnya yang wajahnya selalu ditekuk 45 derajat sambil mengeluh tak berujung untuk semua hal. Huh…

Ketika Hijau Itu Hilang

Biasanya aku selalu berhasil dan mudah mengubah suasana hati, tapi kali ini, terus terang terasa berat…. entah mengapa.

Pergi dan bekerja sebagai volunteer ke Afrika adalah cita-citaku dari awal. Mendapati suasana “Hijau” di Afrika adalah kejutan awal yang sebenarnya tidak kuharapkan, aku justru berharap menemukan suasana coklat dan kekeringan. Lalu ketika hijau itu pergi, mengapa akusedih? Lelah berandai-andai tetapi entahlah…. mari kita lihat saja bagaimana waktu memutuskan segalanya.

Semoga aku menemukan “sumber air” baru yang sanggup menghijaukan hatiku… SEMOGA.

You can’t be Asian (Malawi)

“In my country, people will not consider you as Asian!”, Begitu kata rekan dari Eropa dan Kanada. Penampakanku “kurang” Asia bagi mereka, terlalu gelap dan matanya kurang sipit. Bagi mereka Asian itu adalah orang-orang China, Jepang, Korea, Thailand. “So, what will people consider me then?” tanyaku kepada mereka. “Hmm I don’t know, maybe Indian? Well, you don’t look Indian as well though. I guess they will just think that you are half black and half white”.

Susah punya penampakan dan warna kulit tanggung sepertiku. Thanks to my parent though, perpaduan Jawa dan Sangir Talaud dari mereka membuatku cukup “International face” lebih tepatnya mungkin “3rd world country face”.

Waktu di Thailand, sering disangka orang Thailand, sama orang Burma disangka orang Burma, di Cambodia disangka orang Cambodia, di Filipina disangka orang Filipina… waktu di Singapura disangka orang Brazil… pernah ada yang nebak aku orang Amerika!!  Nah Sekarang aku di Benua Africa.. Bagaimana?

Pas di Nairobi, petugas bandara ‘menuduh’-ku orang Madagascar, lalu disangka orang India oleh petugas bea cukai. Sesampainya di Malawi, beberapa orang yang kutemui secara random mengira aku orang Kenya. Aku bahkan harus bertanya kepada teman-teman dari Kenya, apakah memang aku kelihatan seperti orang Kenya? seorang berkata ” That’s impossible Freddy, you don’t look like Kenyan at all!” Tetapi ada 2 orang yang berkata “Well, you can be a Kenyan from Mombasa, my friend.”  satu rekan lagi berkata ” I think it’s from the way you talk and yes, you can be a Kenyan with some middle east background.” Menarik.

Yang lebih menarik lagi adalah saat aku sedang berjalan-jalan di tepi pantai Danau Malawi, seorang lelaki paruh baya datang dan menghampiriku, kami bersalaman (orang disini sangat suka berjabat tangan), setelah berbasa-basi (mereka juga suka sekali berbasa-basi), dengan tetap tanganku masih digenggamannya dia berkata “is your mother white?” Aku tertawa lepas dan berkata bahwa aku orang Asia, kedua orang tuaku orang Asia. “Oh, I thought you are half Malawian from your father and half white  from your mother. You have a very nice color, my friend.” katanya sambil mengelus ngelus lenganku. Aku hanya bisa tertawa panjang dan berkata terima kasih. WOW.. seumur-umur belum pernah ada yang memuji-muji warna kulitku.

Masih kurang menarik?

Ada 2 cerita lucu. Kenapa lucu karena kejadiannya justru malah waktu masih berada di Indonesia.

Kejadian pertama di Bandung. Couchsurfing (CS) gathering, acaranya buka puasa bersama. Tema kostum-nya middle east, jadi aku dan beberapa teman berpakaian ala middle east man, pake sorban dan baju panjang. Ada sekitar 50 orang hadir di acara tersebut, karena ini acara couchsurfing ya tentu saja banyak juga warga asing yang datang dan hadir di acara ini. Tentu saja kami harus menggunakan bahasa inggris ketika berbicara dengan mereka. Di tengah-tengah percakapan dengan beberapa rekan CS Indonesia dan rekan CS dari America, seorang Bapak anggota baru CS datang dan ikutan nimbrung, tiba-tiba sang bapak mendekat dan berkata ” Excuse me, sir. Are you from Ghana?”. Ia mengira dengan pakaian dan warna kulit gelap dan logat inggris jawa medhokku, aku pasti adalah orang Afrika dan Ghana adalah negara Afrika beragama Muslim yang paling mudah ia sebutkan. Rekan rekan yang mendengar pertanyaan ini tertawa terbahak-bahak, dan sejak saat itu aku selalu diejek sebagai orang Ghana. Thank to you, Sir!

Kejadian kedua adalah di Bali. Masih dengan kegiatan Couchsurfing (CS) kali ini adalah saat Hitchhike race (lomba sampai pada satu tujuan dengan cara menumpang di kendaraan orang lain). Aku dan  rekan CS dari Bali Nadia, Frieder dari German dan Rangie dari Thailand berkelompok bersama mencoba mendapatkan tumpangan untuk sampai ke Pura Ulandatu. Kami sudah berhasil menumpang di beberapa mobil secara estafet. Di suatu jalan raya yang panas di tengah terik matahari Bali yang mencekik.. kami mencoba mendapatkan tumpangan. Beberapa kali kami gagal, tetapi tiba tiba sebuah mobil berhenti… seorang bapak mempersilahkan kami semua masuk ke dalam mobilnya, dan aku langsung menggambil posisi bangku depan di samping sang Bapak. Pak Gede, begitu beliau memperkenalkan dirinya. Kamipun memperkenalkan diri kami masing-masing. Lalu iseng-iseng aku bertanya, kenapa Pak Gede bersedia berhenti dan mengangkut kami semua. Mengejutkan jawaban sang Bapak. Dia dengan jujur berkata bahwa ia sangat terkejut melihat reinkarnasi Idi Amin (ditaktor dari Uganda) berdiri di tengah jalan di Bali. Dan tentu saja yang ia maksud adalah AKU!

Black is a new white. :)

Black is a new white. 🙂

Tagged , , , , ,

Technology vs Development (Malawi)

Sudah hampir 2 bulan di Malawi,  saya mulai terbiasa dengan semua rutin disini; mulai dari berjalan kaki  2km setiap hari menuju halte mini van sampai dengan harus mengangkat tangan saat menyapa orang lain, karena menundukkan kepala dan tersenyum saja masih dianggap kurang sopan.

Di sisi pekerjaan juga mulai berjalan dengan lancar. Jujur pada awalnya saya nggak ‘ngeh’ dengan judul pekerjaannya “Technology for Development Adviser”, terdengar keren, mungkin karena ada kata” Technology” dan “Development” yang digabungkan jadi satu, tapi pada saat membaca dokumen penempatan kemarin, saya benar-benar nggak jelas.  Baru setelah sampai disini, saya baru mengerti maksud dan tujuannya. Singkatnya, pekerjaan saya adalah membawa teknologi menjadi program mainstreaming di program-program pembangunan, terutama di program-program kerja VSO Malawi… membawa sentuhan-sentuhan teknologi pada setiap program kerja VSO dan mengajak organisasi partner dan juga masyarakat Malawi untuk mengijinkan teknologi membantu kehidupan mereka. Ceilee..

Hampir 2 bulan ini juga saya melakukan riset tentang kemajuan teknologi di Malawi dan jenis teknologi tepat guna apa yang cocok untuk dunia development di Malawi. Pada saat riset, saya menemukan informasi tentang satu NGO dari Inggris yang membagi-bagikan komputer tablet dengan program-program edukasi layar sentuh ke sekolah-sekolah dasar di Malawi. Mereka sudah membagi-bagikan tablet di 50 sekolah (1 tablet digunakan untuk 6 anak) dan akan melanjutkan proyeknya ke 50 sekolah lainnya. Sayapun berhasil mendapatkan kontak NGO ini dan berkomunikasi dengan direktur operasinya. Mengagetkan! Mereka bahkan tidak punya kantor cabang atau bahkan contact person di Malawi, semuanya dilakukan dan dimonitor dari London, Inggris. Lalu saya bertanya-tanya.. Apa mereka tidak berpikir dan curiga bila komputer-komputer tablet itu akan berakhir di pasar gelap elektronik di Malawi? –Saya mendapat kabar dari seorang rekan bahwa di pasar gelap elektronik saat ini banyak beredar komputer-komputer tablet murah- Tetapi di luar itu, saya masih memiliki beberapa pertanyaan-pertanyaan lain, seperti : Apakah memang bijaksana mengajarkan siswa SD di Malawi cara menggunakan komputer tablet, sementara mereka ke sekolah saja tidak menggunakan sepatu dan hidup tanpa listrik di rumah mereka, belum lagi banyak di antara mereka yang belum bisa membaca dan menulis.  Apakah benar teknologi komputer tablet tepat guna dan tepat sasaran untuk diterapkan di Malawi? Bagaimana kalau nanti mereka memaksa orang tua mereka untuk membelikan komputer tablet? Bagaimana kalau anak-anak ini nantinya hanya tahu cara sentuh sana sentuh sini tanpa tahu bagaimana cara menulis dan menggunakan keyboard di komputer normal? Kadang-kadang teknologi bisa jadi bumerang. Entahlah. Mungkin ini hanya kekawatiran saya yang berlebihan.

Anak-anak di sekitar rumah saya, sedang bermain komputer tablet milik saya.

Anak-anak di sekitar rumah sedang mencoba komputer tablet.

Saya juga menemukan banyak organisasi international yang membagi-bagikan komputer bekas ke sekolah-sekolah atau organisasi-organisasi kemanusiaan disini, kabarnya komputer-komputer tua itu hanya jadi barang rongsokan. Ada satu institusi pendidikan di Lilongwe yang memiliki satu ruangan besar dengan puluhan komputer di dalamnya. Ruang itu berdebu tebal penuh dengan sarang laba-laba… tidak mampu membayar listrik, begitu informasi sang guru, ketika ditanya kenapa fasilitas kelas komputer ini tidak digunakan. Ironis.

Ada fenomena saat ini, negara-negara maju “membuang” teknologi lama (e-waste) mereka, terutama hardware  ke Afrika. Ini adalah cara mudah memperbaharui teknologi dengan tidak mengkotori lingkungan mereka dengan barang rongsokan. Jadi saat ini banyak komputer2 tua, TV, radio dll di”buang” ke Afrika. Karena memang umur-nya yang sudah tua, dan spare-part yang tidak tersedia, maka barang-barang inipun cepat rusak dan akhirnya benar-benar menjadi barang rongsokan dan menumpuk di Afrika. Development oh development…

Kata-kata Technology dan Development bagi saya saat ini  terasa seperti pernikahan paksa ala Siti Nurbaya….. dan malangnya, saya harus menjadi penghulunya.

Tagged , , , , , ,

Hidup Baru di Benua Baru (Malawi)

Saatnya mampir dan berbagi lagi disini.

Setelah menyelesaikan placement VSO dengan Thailand/Myanmar project, saya memutuskan untuk Re-volunteer, dan kali ini VSO memberikan placement sebagai Technology for Development Adviser di Lilongwe, Ibu Kota negara Malawi. Saya adalah VSO volunteer untuk Country Office VSO Malawi. atau singkatnya seorang VSO Volunteer untuk VSO.

Sebelumnya saya ingin berbagi secara singkat tentang kehidupan saya pasca voluntarily service di Thailand/Myanmar. Saya sempat berkunjung dan jalan-jalan ke Kamboja dan lalu pulang ke Indonesia. Di Indonesia, saya sempat berjalan jalan ke Bali, Yogyakarta, Surabaya, Medan dan Aceh. Di Bali kami angkatan pertama VSO Indovols sempat bertemu dalam acara Volunteer Workshop dan VSO Indonesia Volunteer Conference serta Return Volunteer Weekend. Kami juga sempat melakukan kegiatan Pameran Foto ‘Indonesia For the World‘ di Mall Galeria Bali dan melakukan aksi penggalangan dana. Saya sampai musti 3 kali bolak-balik ke Bali untuk semua urusan tersebut.

VSO Indonesia volunteers Conference, Denpasar- Bali

VSO Indonesia volunteers Conference, Denpasar- Bali

Di tengah-tengah kesibukan jalan-jalan, reuni dan kerja part time, saya harus menyempatkan diri mengurus semua keperluan untuk pergi ke Malawi, mulai dari mengurus SKKC, vaksinasi, memperbaharui SIM, perbaharui Passport, mempersiapkan semua dokumen pendukung penempatan di Malawi (PAF dokumen, Asuransi dokumen), mengirim passport ke Malawi untuk keperluan Visa dan lain sebagainya. Terdengar sangat sibuk… tetapi sesungguhnya tidak, semuanya berjalan dengan lancar dan saya menikmati semua prosesnya, bahkan saya merasa persiapan re-volunteer jauh lebih sederhana daripada waktu awal pertama berangkat.

Sekarang saya sudah berada di Lilongwe, Malawi, sudah hampir satu bulan. Saya datang tanggal 3 Februari 2013 dan langsung mengikuti ICT training selama 1 minggu bersama 5 orang volunteer lainnya dari Uganda, Belanda, Filipina dan Jerman. Grup kecil yang kompak dan menyenangkan. Kami mendapatkan orientasi tentang Malawi mulai dari budaya, politik, kesehatan, keamanan dan juga bahasa lokal, Chichewa.

Setelah satu minggu ICT, saatnya kami harus mulai bertugas di pos kami masing-masing. Kebetulan saya dan Frank, volunteer dari Jerman akan bekerja di kantor VSO di Lilongwe, dan kamipun harus berbagi rumah. VSO mulai mengubah kebijakannya, awalnya seorang volunteer akan memiliki rumah atau akomodasi sendiri-sendiri, sekarang kami diminta untuk share akomodasi. Awalnya saya pikir ini akan menjadi sesuatu yang agak berat, berbagi rumah dengan seorang yang berbeda bahasa, budaya dan adat istiadat (teringat cerita Glory tentang rekan serumah-nya yang kurang bisa bertoleransi), tetapi agaknya saya beruntung, Frank adalah seorang yang sangat bersahabat, santai dan punya nilai-nilai hidup yang positif. Kami hidup “berumah-tangga” dengan baik. Kami saling belajar budaya Malawi, seiring dengan kamipun belajar budaya masing-masing dan bila kami saling berbenturan budaya (Malawi-Jerman-Indonesia) kami berdua hanya tertawa terbahak-bahak bersama-sama. Seperti misalnya saat saya makan pagi dengan sisa nasi semalam, dia akan tertawa terbahak bahak karena baginya nasi adalah makanan yang terlalu berat untuk makan pagi. Sebaliknya, saat ia membayar harga tomat berlebih, karena ia mengganggap harga tersebut terlalu murah untuk ukuran orang Eropa. Sayapun menertawakannya dan menyarankannya mengubah mata uang di otaknya dari Euro ke Kwatcha, karena bila ia terus melakukan hal itu, sama saja dengan memberi kontribusi pada tingkat inflasi Malawi, dan itu berbahaya! Sering kali, tertawa dan menertawakan diri sendiri adalah hal yang kita perlukan dalam memahami perbedaan-perbedaan. “Since we can’t change anything!” begitu kata Frank pada saya.

Berbelanja di Pasar Tradisional selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Berbelanja di Pasar Tradisional selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Mari sekarang kita berbicara tentang Malawi! Hmmm… banyak pertanyaan dari teman-teman tentang bagaimana kehidupan di Malawi? Satu kata : Berbeda! Banyak hal yang harus saya pelajari dan harus membiasakan diri dengan cepat. Seperti makan Nsima, makanan pokok disini, terbuat dari tepung maizena yang rasa dan teksturnya masih asing bagi lidah saya, alhasil karena harga beras lumayan mahal dan rekan serumah tidak terbiasa makan nasi, saya harus membiasakan diri mengkombinasikan nasi dengan makan roti dan kentang. Agaknya kalau kami ingin berhemat, kami harus membiasakan diri makan Nsima.

Keamanan selalu menjadi perhatian semua pendatang disini. Bayangkan saja, rumah kami dipagari tembok setinggi 2,5 meter dan dikelilingi dengan kabel beraliran listrik, kami memiliki 2 orang satpam yang berjaga siang dan malam dan 2 ekor anjing penjaga. Setiap volunteer disini diberi satu kotak panic button, yang bila dipencet atau ditarik talinya akan berbunyi sangat keras dengan lampu menyala-nyala menyilaukan, diberikan kepada kami untuk berjaga-jaga bila kami diserang. Sampai saat ini saya belum pernah menggunakannya, kecuali ketika pertama kali mencobanya. Teriakan panic button malah membuat saya panik sendiri. Malam hari kami hampir tidak boleh pergi keluar rumah apabila tidak ditemani oleh penjaga rumah dengan membawa satu anjing penjaga. Apabila kami ingin keluar rumah di malam hari, kami harus menumpang mobil rekan-rekan lainnya pulang dan pergi, karena mini van dan taksi disini beroperasi hanya sampai jam 6 malam. Alhasil kebanyakan, kami hanya berdiam di rumah pada malam hari, nonton film, bermain internet atau membaca buku. Akibat kemiskinan yang merajalela, tingkat kriminalitas disini juga meningkat, setidaknya di Lilongwe, yang adalah ibukota negara, seperti ibu kota – ibu kota negara lainnya, Lilongwe juga memiliki masalah sosial yang berbeda.

Disini transportasi umum tidak melayani semua jalan-jalan utama, dan karena lagi, kemiskinan yang merajalela, orang-orang lebih memilih berjalan kaki, bahkan hingga puluhan kilometer. Jadi hal biasa melihat orang-orang berbaris di pinggir jalan berjalan kaki dengan bawa’an mereka. Untuk sampai ke kantor, setiap harinya saya juga harus berjalan kaki selama 25-30 menit lalu naik mini van yang penuh sesak dengan berbagai macam jenis bau badan, minyak rambut dan minyak wangi. Perjalanan mini van membutuhkan waktu selama 10 menit. Awalnya saya protes dan berpikir bahwa hal ini memberatkan bagi saya, apa lagi bila membanding-bandingkannya dengan fasilitas yang saya dapatkan di Thailand, hampir semua volunteer mendapatkan sepeda motor, tetapi setelah bertemu dengan beberapa volunteer lain yang hidup di daerah pedalaman, saya dan Frank membatalkan semua protes dan mulai bersyukur dengan fasilitas yang tersedia disini. (Note : seorang rekan harus berjalan 1 jam untuk sampai ke kotanya, dan 3 kali mengalami perampokan/pemalakan di jalan, seorang lainnya berkata, di daerah penempatannya, makanan yang tersedia adalah tomat dan ikan teri, sekali-kali bila beruntung ia dapat menemukan bawang merah, karenanya setiap 2 minggu sekali ia harus pergi ke kota terdekat untuk berbelanja kebutuhan hidup). Apa yang saya alami belum seberapa. Pengalaman rekan Rini di Guyana juga selalu terngiang-ngiang ketika saya merasa bahwa hidup saya disini berat, dan saya kembali bersemangat. so Terima kasih Rini!

Karena kemiskinan yang merajarela, banyak orang memilih untuk berjalan berkilo-kilometer, karena tidak sanggup membayar ongkos bus, yang hanya MKW 150 atau Rp 4000 rupiah.

Karena kemiskinan yang merajarela, banyak orang memilih untuk berjalan kaki bahkan berkilo-kilometer, karena tidak sanggup membayar ongkos bus, yang hanya MKW 150 atau Rp 4000.

Sampai dengan saat saya menulis saya sudah kehilangan 4 kg dan membuat lubang baru pada ikat pinggang saya, saya jadi teringat kisah rekan Jeff yang harus turun 17kg saat menjalani penempatan di Tajikistan. Saya berharap, saya masih bisa menurunkan berat badan hingga 25kg! Semoga berhasil! 😉

Tagged , , , ,