Category Archives: Glory Sunarto

Terdampar di Dubai – Bagian 2 (Ghana)

Setengah perjalanan saya menuju Indonesia, saya serasa sedang melalui proses aklimatisasi di Dubai. Betapa tidak…saya yang setahun belakangan menjadi obruni alias salah satu orang paling ‘terang’ kulitnya di Asamankese (dan juga terkenal di pasar! Hehehe) tiba-tiba menjadi tidak terlihat di Dubai. Warna kulit seperti saya buanyaaaak bertebaran. Saya yang sering dipanggil ‘small girl’ di Ghana (gara-gara terlalu kecil, dibandingkan rata-rata orang Ghana) menjadi terlihat bukan seperti gadis kecil lagi. Lalu, saat masuk ke dalam toilet, saya sempat tertegun memandang selang air yang dipakai untuk membersihkan diri setelah buang air, karena selama ini saya sudah ‘terbiasa’ hidup hanya dengan tisu tanpa air. Oh ya, saya juga norak setelah menemukan tisu yang sungguh halus dibanding tisu di Ghana yang rata-rata buatan Cina yang kasarnya seperti kertas buram. Ya ampun…selama ini hidup saya ternyata luar biasa berbeda dan sekarang saya tergagap-gagap, kembali ke ‘peradaban’ saya yang dulu saya jalani.

Setelah menunggu berjam-jam akhirnya, muncul juga gerbang untuk penerbangan saya ke Jakarta: A 23, dan itu berarti saya pindah terminal dan memakai acara naik kereta. Jauh juga, tapi tidak perlu jalan bermenit-menit, hanya sekitar 10 menit plus dua kali naik lift. Saya tiba di gerbang keberangkatan cukup awal dan memilih duduk menghadap landasan pacu. Setengah jalan…hampir tidak percaya bahwa saya sudah setengah jalan meninggalkan Afrika.

Tiba-tiba bangku di kiri kanan saya dipenuhi orang-orang Indonesia yang bisa dipastikan bahwa mereka adalah para pahlawan devisa 🙂 Lucu juga mendengar para perempuan dan laki-laki yang ngobrol dengan lepas dengan logat sunda dan aksen pantura yang cukup kental. Setelah hampir setahun bicara dengan bahasa Inggris, saya merasa gugup mendengar mulut saya sendiri berbicara bahasa Indonesia hahaha.

Ok. Kegugupan lainnya, tiba-tiba orang-orang di sekeliling saya sudah menyemut untuk segera naik pesawat padahal masih satu jam lagi. Ahahaha. Anyway, mungkin lebih baik saya mulai mengikuti arus, seperti orang Indonesia lainnya 🙂

Advertisements
Tagged , , , ,

Terdampar di Dubai (Ghana)

Saya sempat lupa hari ini hari apa. Rasanya lama sekali duduk di dalam pesawat padahal cuma 8 jam 20 menit. Eh?! 🙂

Saat draft ini ditulis, saya sedang duduk di salah satu restoran seafood di Dubai airport, dan masih jam 7.30 pagi waktu setempat. Saya lapar! Hahahaha. Anehnya, otak saya dan perut sangat kompak saat pesawat hampir landing tadi pagi. Mereka menjerit LAPAAAAR! Memalukan.

Menurut jadwal, pesawat EK 788 yang saya tumpangi dari Kotoka International Airport, Accra akan mendarat sekitar pukul 5.50 waktu UAE. Ternyata, pak pilotnya ngebut waktu bawa pesawat, jadilah pesawat ini sudah mendarat pukul 4.45 waktu UAE. Ya ampun, saya akan terdampar lama sekali. Menurut tiket pesawat yang saya pegang, penerbangan saya selanjutnya ke Jakarta dengan EK 358 akan berangkat pukul 11.10 waktu UAE. Tapi saat saya tiba di sini tadi pagi, jadwalnya saja belum muncul di papan informasi. Iseng, saya tanya petugas darat Emirates, dan dia bilang, “Aduh, masih terlalu pagi sekarang untuk koneksi ke Jakarta. Silakan ke lantai atas saja dulu, nanti lihat di sana jika sudah ada.” Hahaha sungguh kepagian! Bagusnya, masih sempat sholat subuh dengan posisi normal, bukan sambil duduk di pesawat 🙂

Tapi karena perut yang meronta-ronta tidak bisa diajak kompromi. Aneh sekali., padahal selama perjalanan dari Accra ke Dubai, saya makan dan minum segalanya. Jadilah saya menukarkan 150ribu rupiah untuk membeli sarapan… jam 6 pagi! Secangkir kopi hitam Americano dan sewajan fish and chips (iya, disajikan langsung dengan wajannya!) sudah berhasil menenangkan perut saya yang norak sejak subuh tadi. Dan asyiknya lagi, koneksi telepon langsung bagus, jadi sudah bisa sms-an dengan bapak sejak tadi.

Saya masih berpikir untuk beranjak dari tempat duduk nyaman restoran ini atau tidak. Takutnya jadwal pesawat dan gate-nya belum muncul, jadilah saya akan terlunta-lunta dengan gembolan ala tempurung kura-kura raksasa di punggung saya. Mungkin dengan sedikit senyum manis bisa merayu sang waiter untuk menumpang duduk barang sejenak. Hehehehe.

Yang agak menyebalkan, saya belum mendapat koneksi wifi gratis, padahal sinyalnya penuh tapi koneksinya entah hilang ke mana. Sudah coba-coba pindah posisi, tetap tidak nyangkut juga. Jadi saat tulisan ini berhasil tayang, waktunya sudah tidak real-time 🙂

Ok. Time check, sekarang sudah pukul 8 pagi, perut sudah kenyang, dan semoga nomor gerbang keberangkatan selanjutnya sudah muncul di papan informasi. Saatnya bergerak mengarungi Dubai Airport!

Tagged , , , , ,

(Segera) Pulang! (Ghana)

Ah, rasanya campur aduk perasaan di hati. Tetapi yang dominan adalah rasa senang dan bersemangat untuk segera bertemu keluarga di Bogor. *sial, baru menulis kalimat itu saja mata sudah berkaca-kaca*

Saya sedang duduk di meja kayu di taman luar Hotel Byblos di Accra. Hotel ini selalu menjadi persinggahan awal dan akhir para volunteer yang ditempatkan di seluruh Ghana. Saya sedang menunggu sarapan yang tak kunjung datang. Semuanya belum berubah dalam waktu hampir setahun; tetap segalanya serba lambaaaaat. Hahaha. Bisa perlu waktu sampai 60 menit untuk menyiapkan dua lembar toast, sepotong omelet dan secangkir teh. “That’s Ghana for you” kalimat yang akan selalu terngiang di benak, yang sering diucapkan oleh Owiredu, officemate-ku, setiap kali saya mengeluhkan tentang kelambatan segalanya di sini, lebih dari ‘jam karetnya’ orang Indonesia.

Asyiknya hotel ini adalah fasilitas wifi gratis yang super cepat dan letaknya yang sangat strategis di persimpangan daerah Osu, tempat gaulnya Accra, membuat tempat ini menjadi tempat tujuan nongkrong para expat di Accra. Dari tempat ini cukup mudah untuk mencapai supermarket besar yang super mahal dan berjalan kaki menuju program office. Saya sendiri sudah beberapa kali menginap di sini, setiap kali ada meeting di kantor VSO atau saat akan menuju Takoradi tahun lalu. Selain itu, beberapa kali juga sempat hangout di cafe yang menjadi bagian dari hotel ini, Venus, baik untuk lunch maupun dinner, kadang sendirian seringnya bersama teman-teman volunteer di Accra.

—Sarapan datang! 30 menit kali ini, lumayan 🙂 Ok. Saya makan dulu ya!—

Sarapan selesai dalam 20 menit, itu karena disambi membaca berita online tentang pesawat LionAir yang mendarat di laut bandara Ngurah Rai. Oh my God!

Sepanjang saya makan tadi, di meja seberang, sang pemilik tempat ini sibuk menyuruh ini itu ke para pegawainya dengan nada marah-marah. Dan itu pemandangan yang biasa, selalu terjadi seperti itu. Lelaki Lebanon berusia lebih dari separuh baya ini selalu dalam ‘business mode on’ yang keterlaluan, bahkan hampir kejam menurut saya. Tapi begitulah bisnis di Accra yang mayoritas dipegang oleh etnis Lebanon, China, dan India. Tapi yang paling banyak memang dikuasai pebisnis asal timur tengah, khususnya untuk tempat-tempat yang sifatnya ‘hiburan’. Entah kenapa.

—***—

Hari-hari terakhir saya di Ghana seminggu terakhir dilalui dengan cukup baik. Saya sangat bersemangat untuk pulang dan makan makanan Indonesia! Hahahaha. Karena itulah, hal menyebalkan apapun seminggu terakhir tidak bisa merusak mood saya. Anehnya, saya justru lebih banyak mondar-mandir berada di jalan, duduk di dalam trotro bepergian kesana kemari. Minggu pertama April, hari Senin saya baru kembali dari Easter Break di Accra. Lucunya, pada hari Rabunya saya pergi ke Accra lagi untuk mengambil hasil Police Clearance di markas besar polisi di Accra dan kembali ke Asamankese hari Kamis pagi untuk menulis laporan akhir di kantor. Lalu, Jumat, saya masih membuat training terakhir untuk para national volunteers di Cocoa Life partnership, tentang “Community Action Plans monitoring tool and tracking system”. Oalah, ternyata saya masih sibuk! 🙂

Hari Sabtu paginya, saya pergi ke Koforidua untuk mengunjungi sahabat lama, eks volunteer yang kembali ke Ghana dan akan menetap di sini. Saya menginap di rumahnya selama semalam dan sibuk berbagi cerita, nonton film, dan makan sepanjang hari, hahaha. Hari Selasa minggu lalu, kembali saya harus pergi ke Koforidua untuk menghadiri Eastern Region volunteers meeting yang terakhir (buat saya). Biasanya saya akan ngomel panjang pendek jika harus pulang pergi 4 jam di atas jalanan buruk yang mirip sungai kering, di dalam angkutan umum yang jauh dari nyaman. Tapi minggu lalu, saya tidak mengeluh karena saya tahu, saya tidak akan lagi melewati jalanan itu dalam jangka waktu yang sangat lama 🙂

Hari Kamis siang adalah meeting terakhir saya dengan VSO project officer and para partners. Seharusnya meeting dimulai jam 10 pagi, tapi yang terjadi adalah meeting baru dimulai jam 3 sore! Memalukan. Project officer VSO seringkali melakukan hal ini, dengan alasan ada sesuatu hal lain yang mendesak (melibatkan perwakilan donor) yang harus dihadirinya. Padahal meeting ini sudah diatur sejak seminggu sebelumnya. Saya sampai harus minta maaf dengan para partners. Bahkan sampai saat terakhir VSO Ghana sepertinya tidak pernah serius dengan para volunteer dan partnernya.

Anyway, saya bertekad tidak akan manyun saat itu. Jadi, jika ada yang mengharapkan saya kesal, itu tidak terjadi. Saya sih, asyik-asyik saja. Jalani apa yang ada di depan mata, di hari-hari terakhir saya ada di Ghana. EGP. Hahaha.

Sayangnya, karena Frank sakit, driver yang biasa membantu VSO dan volunteers untuk Cocoa Life partnership, saya tidak bisa dijemput dan dibawa ke Accra oleh Frank. Saya mencoba menelepon VSO Programme Support Officer untuk meminta bantuan dan kemungkinan untuk memakai taksi untuk pergi ke Accra dengan 2 koper bawaan saya. Responnya sungguh mengejutkan, saya malah disuruh memakai trotro! Saya bingung, bagaimana cara saya membawa 2 koper besar ke dalam trotro? Walalupun saya bisa membayar 3 tempat duduk, tetap saja, proses menaikkan dan menurunkan barangnya akan sangat rumit dan saya sendirian! Membayangkan saya dengan koper-koper di pinggir jalan stasiun di Accra saja sudah mual rasanya. Dia membandingkan situasi saya dengan volunteer lain yang menggunakan transportasi umum dari bagian utara Ghana dan menempuh jarak berjam-jam. Dia lupa bahwa mereka punya BUS BESAR dan umumnya selalu bepergian dalam kelompok. Saya tidak boleh pakai taksi (tidak akan diganti ongkosnya) kecuali keadaan darurat atau sakit. Saya geleng-geleng kepala mendengar dinginnya nada suara orang ini yang bertitel SUPPORT OFFICER! Sangat tidak supportif, tidak berempati sedikitpun, dan tidak peduli bahwa volunteer sudah berkontribusi untuk organisasi ini dan masyarakat di sini. Saya sempat kesal, bagaimana mungkin VSO Ghana merekrut orang-orang tanpa hati untuk mengurus volunteer? Mereka ada karena volunteer adalah ‘bisnis utama’ organisasi ini. Tanpa volunteer, mereka tidak akan ada! Huh.

Jadilah saya memohon kepada Project Officer untuk menumpang mobilnya hari Kamis sore ke Accra. Untungnya dia bersedia, walaupun saya harus membayar ‘harga’ dengan berputar-putar ke segala tempat selama 4.5 jam sebelum diantar ke flat Kathy dan tiba tepat pukul 8 malam. Tetapi karena lega sudah berhasil ‘pindah’ ke Accra, saya langsung bergabung dengan Kathy dan teman-teman lainnya untuk mengikuti acara ‘quiz night’ yang berlangsung di sebuah club dekat flat Kathy. Dan grup kami menang! Itu berarti makan dan minum gratis! Hahahaha.

Hari Jumat pagi saya mengirim semua laporan dan handover kepada VSO Programme Manager. Agak siang, saya muncul di VSO Programme Office untuk ngobrol terakhir dengan PM dan mendapat reimbursement beberapa pengeluaran dari finance. Saya tidak bernapsu untuk ‘say goodbye’ dengan semua orang di kantor itu, setelah apa yang mereka lakukan selama ini kepada saya di saat krisis. Saya hanya menemui orang-orang yang selalu supportif dan menghargai volunteer. Alasannya, saya malas berbasa-basi di hari terakhir saya. Saya ingin meninggalkan VSO Ghana dengan senang hati.

Setelah itu, Jumat siang rasanya benar-benar bebas! Saya makan siang di Venus dengan Amado, volunteer Filipina yang juga berada di project yang sama, lalu pulang ke flat Kathy untuk tidur siang hahaha, pindah ke Byblos untuk tinggal semalam di sini (Kathy memaksa menjadi porter yang sibuk mengangkut koper-koperku!), makan malam di Venus dengan Kathy, pindah ke Republic -sebuah bar & grill yang penuh dengan expat yang hangout di Jumat malam –tentunya saya cuma menyeruput jus semangka dan mengamati pemandangan yang tidak pernah ada di Asamankese– dan terakhir pindah ke sebuah kafe di dalam toko buku, yang menggelar acara karaoke! Hahahaha. Sibuk sekali acara hangout terakhir kemarin, sampai tidak sadar bahwa saya kembali ke hotel diantar teman-teman dengan berjalan kaki di sekitar Osu dan sudah jam 12 malam! Psst, mereka masih lanjut lagi ke club dekat Byblos sampai entah jam berapa.

Jadi, sekarang pukul 10.45 pagi, saya akan finishing (lagi) barang-barang saya di lantai atas, dan menuju airport setelah makan siang hari ini. Beberapa sms dan telepon dari teman-teman bermunculan sejak pagi, hampir membuat saya menangis. Untungnya tidak ada yang melambaikan tangan nanti di airport, jadi hampir pasti saya tidak punya alasan untuk menangis.

Terakhir, tentunya berdoa semoga saya selamat tiba di rumah hari Senin pagi -akan tiba hampir tengah malam di Jakarta, jadi harus menginap di hotel bandara. Perjalanan saya kali ini akan memakan waktu 16 jam 40 menit di udara dan transit selama 5 jam 20 menit di Dubai. Total 22 jam saja. Laa hawla wala quwwata illa billah…

Sampai jumpa di Indonesia! Insha Allah.

Tagged , , , ,

Cerita panjang (Ghana)

Saya sedang menghitung hari-hari terakhir saya di Ghana. Di Afrika. 

Ternyata berat. Bukan hanya karena saya akan meninggalkan orang-orang baik di sekitar saya. Tetapi, saya baru menyadari bahwa hidup di Afrika ternyata berat.

Saya tidak sok jago. Saya pernah menangis karena merasa capek dan marah. Tidak sering, tapi pernah beberapa kali. Tapi saya juga banyak tertawa dan tersenyum karena hal-hal baik yang terjadi pada saya selama saya ini, walaupun itu sepertinya hanya hal yang sederhana.

—*—

Minggu lalu saya mengalami puncak kelelahan secara fisik dan mental. Setelah 10 bulan 5 hari saya sangat capek, marah, dan sangat sedih. Tidak ada air mengalir selama dua minggu, mati listrik 12-18 jam setiap hari, teman serumah yang kurang mengerti arti ‘berbagi rumah’, tetangga yang selalu berisik, dan VSO Ghana yang kurang mendukung dan memberi solusi untuk masalah kesulitan air yang sudah kronis. Hingga di titik saya tidak tahan lagi karena lengan kanan strain parah (tertarik ototnya) karena harus mengangkut berember-ember air bolak-balik selama 2 bulan terakhir.

Teman serumah hampir selalu pulang ke rumah orang tuanya di Accra setiap akhir minggu. Saat itulah air biasanya mengalir selama 2 jam, dan hampir selalu sayalah yang harus mengisi semua stok penampungan air di rumah. Dua minggu lalu, hanya satu keran terendah di halaman belakang rumah yang bisa mengalirkan air. Tidak punya pilihan, saya harus mengangkut air selama 2 jam untuk mengisi beberapa barrel air yang ada di dalam rumah, bolak-balik. Setelah itu saya tidak sanggup lagi. Lengan saya menjerit. Saya berhenti dan menangis. Kesal, capek, marah, sedih. Malam itu listrik padam dan saya tidak bisa tidur karena seperti biasa, tetangga memasang generator sepanjang malam di ujung halaman depan. Dan seperti biasa pula, suaranya masuk ke jendela kamar saya. Saya stres berat. Tidak tahu berapa sering saya menangis karena kesal setelah itu.

Dua hari kemudian saya memutuskan untuk menelepon teman volunteer di Accra, Irene, dari UK, yang juga bekerja di project Cocoa Life. Kami kadang ribut dan berbeda pendapat saat bekerja tapi kami selalu saling mendukung sebagai teman. Saat saya meneleponnya, saat itu juga Irene mengerti bahwa ada sesuatu yang terjadi. Dia paham betul situasi rumah saya, betapa sulitnya saya hidup di sini tanpa air, tanpa listrik, dengan tetangga berisik dan generator tetangga yang berbunyi sepanjang malam. Irene beberapa kali menginap di rumah saya saat ada pekerjaan yang harus dilakukan di sini, dan dia mengalami sendiri ‘kegilaan’ yang harus saya hadapi setiap hari.

Irene tahu saya perlu bantuan. Saya bahkan hampir tidak bisa bicara apapun saking marah dan capeknya. Dia mengatur semuanya, bicara dengan VSO Ghana di Accra, membuat program manager kami dan program support officer mau memahami bahwa situasi saya sedang sangat sulit. Saat dua orang itu bicara dengan saya via telepon, saya hanya bisa bilang, saya ingin ke dokter, lengan saya terlalu sakit. Padahal entah apa lagi yang saya rasakan. Hari Selasa, saya dijemput oleh Frank, driver kami di Cocoa Life Project. Frank sangat baik. Dia sangat paham jika kami ada masalah. Kadang saya pikir, kenapa bukan dia yang bertanggung jawab dengan urusan supporting volunteers? 

Saat Frank melihat saya, dia bertanya apa yang terjadi. Saya bilang, lengan saya sakit, saya harus ke dokter. Dia menggeleng. Frank bilang, “I know it from your face. You never look like this before. You’re not fine at all. Tell me what happened. What’s going on in here?” Frank menepuk dadanya. Dia tahu saya memendam banyak hal. Tentu saja. Saya termasuk volunteer yang paling banyak bicara dan selalu tertawa tapi saat itu saya sendiri paham bahwa wajah saya seperti papan, tanpa ekspresi dan terlihat capek.

“Please, Frank. I don’t want to cry now. I’m fine now that you’re here to pick me up. I just need to see the doctor.” Dan seluruh perjalanan menuju Accra hari itu dipenuhi dengan omong kosong dan tawa untuk hal-hal konyol yang kami dengar dari radio. Frank memang pintar membuat volunteer merasa nyaman dan aman.

Saya mengungsi di apartemen yang ditinggali oleh Irene dan Kathy. Saya kenal Kathy, sudah beberapa kali bertemu sebelumnya. Kathy juga teman baik bekas housemate saya dulu, Vincent. Kathy selalu terdengar seperti melucu dan itu cukup untuk membuat saya sering tertawa. Saya tidak peduli bahwa saya tidur di kasur lipat di ruang tengah apartemen mereka setiap malam. Saya merasa jauh lebih baik dan lebih tenang. Tentunya, saya langsung pergi ke dokter keesokan harinya. Lucunya, saat saya sampai di sana, tiba-tiba Irene terserang infeksi dada yang cukup parah hingga terbatuk-batuk dan kehilangan suaranya. Jadi, kami berdua memang harus pergi ke dokter. Saya jadi ‘suara’ Irene dan dia menjadi ‘lengan’ saya. Dan dr. Jane yang baik hati dan suka iseng, memberi kami banyak sekali tablet dan vitamin untuk diminum. Saat di apotek klinik tersebut saya bahkan tidak percaya bahwa saya mendapat berkantong-kantong obat. Well, sesungguhnya berbagai jenis vitamin, minyak ikan, dan kalsium, serta gel pereda nyeri sendi dan otot. “Oh, wow, I don’t know that I’d get these much of tablets for just a strain arm”, komentar saya kepada petugas apotek. Gadis itu cuma nyengir dan menjelaskan aturan minum tablet-tablet itu. Saat tiba di apartemen, saya dan Irene mulai sibuk saling mengigatkan obat-obat yang harus kami telan sebelum makan dan sebagainya. Two crazy girls on drugs, begitu Kathy mengatai kami.

Tinggal di Accra selama seminggu seperti sebuah perjalanan meditasi yang mahal buat saya. Senang karena saya bertemu teman-teman lain, Val misalnya, volunteer asal Filipina, yang juga beberapa kali bekerja sama dalam Cocoa Life project, tapi Val bukan termasuk team kami, dia lead researcher untuk program Valuing Volunteering Global Research. Selama seminggu hidup saya seperti di alam lain. Selain sibuk mengingat kapan waktu minum obat, saya juga tidur siang lebih panjang, makan siang di cafe yang menjual smoothies, pergi ke toko cenderamata, membeli beberapa kain untuk dibawa pulang, makan malam dengan beberapa teman baru dari kantor VSO UK yang saat itu sedang berkunjung, nonton pertandingan rugby ‘All 6 Nations’ di TV besar di salah satu club di sekitar apartemen, memasak sarapan dan makan malam yang berbeda (Irene tidak punya beras dan dia vegetarian), dan terjebak pada pesta St. Patrick’s Day akhir minggu lalu. Irene orang Irlandia, jadi dia menggelar pesta perayaan St. Patrick’s. Dan syukurnya, suaranya sudah mulai kembali terdengar pada hari itu, jadi pesta berlangsung lancar.

Soal pestanya, saya agak tersiksa sebenarnya. Tapi karena saya statusnya ‘pengungsi’ saat itu, saya harus jadi team player yang baik. Saya harus menunggu semua orang pulang, sebelum saya bisa ambruk ke kasur lipat di ruang tengah. Tentu saja, karena pestanya di ruang tengah. Jadi, setelah semua orang pulang, Kathy dan saya masih harus menyapu dan mengepel darurat sebelum saya bisa tenggelam tertidur. Dan saat itu sudah pukul 1.30 pagi. Oh, my!

Yang ajaib, selama saya berada di Accra, hampir selalu saya bisa mandi di bawah pancuran. Ya, mereka mendapat air mengalir setidaknya selama dua jam di siang hari dan hampir sepanjang malam. Alasan yang dipakai VSO Ghana bahwa krisis air adalah masalah nasional (mereka tidak bisa memberi solusi untuk krisis air yang saya alami selama 4 bulan terakhir di Asamankese) tidak terlalu terasa di apartemen Irene dan Kathy. Saya bersyukur. Setidaknya saya tidak perlu stres dengan urusan air di sana.

Satu-satunya ancaman adalah ‘gaya hidup’. Tinggal di Accra sangatlah mahal. Satu kali makan malam, setara dengan 3 hari belanja stok makanan di Asamankese. Oh, my! Saya tidak mengerti, bagaimana para volunteer di Accra bisa bertahan hanya dengan uang tunjangan yang sangat kecil itu? Bahkan jika dibandingkan dengan di Jakarta, harga-harga di sini sangat luar biasa tidak masuk akal. Saya pikir, saya menghabiskan 1/4 tunjangan saya sebulan hanya selama seminggu berada di sini. Mengerikan! Saat berada di titik itu, saya pikir saya sudah mulai sehat lahir dan batin. Well, lengan kanan saya masih belum pulih dan tidak bisa dipakai mengangkat sesuatu yang berat, tapi secara batin, saya siap bertempur lagi dengan krisis air, bicara dengan housemate, dan mendengar tetangga yang berisik di Asamankese.

Saya bersyukur punya teman-teman yang sangat baik dan mendukung saya di saat sulit. Sesungguhnya, Irene dan Kathy bahkan memaksa saya untuk tinggal di Accra sampai saat keberangkatan saya ke Indonesia bulan depan. Tapi saya menolak. Saya belum pamitan dengan teman-teman kerja dan team saya di Asamankese. Saya tidak bisa pergi begitu saja. Tapi saya tahu, saya punya ‘tempat’ untuk didatangi kapan saja di Accra saat saya ingin melarikan diri. Alasan sesungguhnya, saya kangen tempat tidur saya, saya capek juga tidur di kasur lipat di ruang tengah apartemen orang lain, hahaha. Dan saya tidak sanggup bergaya hidup expat di Accra, bisa-bisa saya harus meminta transfer uang dari rumah nantinya.

—*—

Itu cerita saya minggu lalu. Saat saya bahkan tidak bisa bercerita pada siapapun. Saya hanya meneteskan air mata karena terlalu capek dan marah. Oh, ada satu orang yang tahu, Owiredu, partner kerja saya. Dia sangat kuatir dengan keadaan saya dan selalu mengecek bahwa saya baik-baik saja. Setiap kali saya bilang, “Don’t worry, I’m alive” dia akan menjawab, “Thank, God!”, karena itu berarti saya masih bisa bergurau.

“I’m sorry that you have to get through this hard time just right at the end of your placement”, itu yang Owiredu katakan sebelum saya bilang saya harus pergi ke Accra untuk menenangkan diri. Dia dan team kerja saya di distrik West Akim inilah yang sesungguhnya selalu mendukung saya dan siap membantu kapan saja. Mereka yang akan datang ke rumah saya saat saya minta pertolongan apapun. Karena merekalah saya bisa bertahan dan senang berada di sini.

Mereka tahu bahwa kadang saya mengalami situasi yang sulit di sini dan saya bertahan, dan mereka menghargai itu. Mereka menghargai saya sebagai manusia ‘obruni’ yang berusaha membantu mereka mempunyai pengetahuan dan posisi yang lebih baik dalam program partnership ini. Saya merasa mereka menyanyangi saya. Semoga saya akan terus berada di hati mereka.

Saat saya menangis kembali, itu karena saya mengingat teman-teman sekaligus team kerja saya di Asamankese. Orang-orang yang luar biasa yang saya percaya bisa membuat apapun yang kami kerjakan sekarang menjadi lebih baik.

—*—

Tulisan di atas tercetus saat saya selesai mencuci baju dengan air yang tidak jernih dan agak berminyak. Itu air yang harus saya beli menggunakan jerry can bekas minyak sayur yang sulit dibersihkan optimal (karena sulit air di seluruh kota). Sekarang saya bisa hidup dengan itu. Air yang agak berminyak untuk mandi dan mencuci.

Dulu saya tidak mengerti saat melihat mereka yang hidup di bantaran sungai di Indonesia, yang warna airnya tidak terdefinisi. Mereka memakai air sungai keruh itu untuk apapun.

Sekarang saya mengerti. Ada saatnya hanya itulah pilihan sumber daya yang mampu kita dapatkan. Mereka yang miskin dengan akses ke air sungai kotor. Atau saya di sini sekarang, yang bisa membeli air tapi itupun airnya berminyak dan mengandung pasir. Karena memang hanya itu sumber daya yang tersedia dan terjangkau.

Saya bukan pro proletar. Saya hanya sangat bersyukur bahwa saya pernah punya kehidupan lain dengan akses ke air bersih yang sesungguhnya. Semoga saya punya kesempatan kembali ke kehidupan itu lagi dan lebih bersyukur karenanya.

Afrika membuat saya sadar bahwa kehidupan memang memiliki tingkatan. Bukan secara material semata namun secara kekayaan batin untuk menerima dan berusaha menjadi lebih baik.

Tagged , , , , , , ,

Drama! (Ghana)

Awal tahun 2013 dipenuhi dengan drama. Eh, iya lho, kadang terlalu lama hidup sendiri, jauh dari habitat asli bisa membuat hidup jadi dramatis. *Ehm, ini sih mendramatisasi…*

Ceritanya dimulai dari yang serius ya…

Dilihat dari musimnya, Desember sampai Februari adalah musim Harmattan di Ghana. Apa sih, itu? Harmattan adalah musim angin debu yang sangat kering, yang biasa melanda daerah Afrika Barat. Di pagi hari, jarak pandang cukup pendek karena semua terlihat putih. Sepintas mirip kabut tapi lebih pekat, karena sesungguhnya itu adalah kumpulan debu. Mulai jam 8 pagi, matahari baru terlihat dan terasa, saat itu juga cuaca terasa ekstrim. Debu mulai bisa terhirup apalagi kalau angin bertiup. Sekitar tengah hari, panasnya mulai bertambah dan seringnya tidak ada angin sama sekali. Kering. Stagnan. Ini yang biasanya membuat susah bernapas. Mulai agak sore, sekitar jam 4, panas agak berkurang tapi angin mulai bertiup lagi biasanya. Artinya banyak debu berputar di udara. Jalan kaki menuju rumah yang letaknya di dataran tinggi menjadi sedikit masalah buat saya. Sering harus pasang saputangan di hidung, supaya bisa bernapas lebih ‘bersih’. Malam hari, debu ‘rasanya’ berkurang dan pada saat-saat tertentu menjadi cukup dingin sampai subuh. Ekstrimnya, bisa tiba-tiba harus tarik selimut tengah malam, deh! Selain itu, harus sering-sering bersihkan hidung. Soalnya, 5 menit saja jalan di luar, hidung dan seisinya bisa kotor banget!

Efek yang menyebalkan dari Harmattan ini buat saya? Pertengahan Januari lalu, asma saya ‘kesenggol’ dan kambuh. Walaupun minor, hanya 3 hari minum obat (yang memang dibawa dari Indonesia). Tapi secara sporadis, kadang harus menelan 2 mg Salbutamol karena bisa tiba-tiba suplai oksigen di udara rasanya berhenti (saking keringnya) lalu mendadak sesak napas :(( Menyebalkan!

Efek minor lainnya? Kulit jadi super kering. Walaupun sudah pakai body lotion sekilo setiap hari *iya, ini drama!* tetap saja kasarnya kulit sudah seperti tembok. Belum lagi telapak kaki, pecahnya sudah hampir menyaingi sawah kering. *hhhh…* Belum lagi debu-debu di rumah; di lantai, meja, kursi, di mana-mana. Sekarang disapu dan dipel, besok pagi debunya sudah numpuk seperti bedak artis yang terlalu tebal 😦 Geleng-geleng terus, deh…

Sepertinya belum cukup berjibaku dengan udara, muncul deh masalah dengan air. Tiba-tiba air berhenti mengalir. Selama ini memang tidak setiap hari mengalir, tetapi setidaknya cukup waktu untuk menampung. Dua minggu lalu, suplai air berhenti selama 1 minggu lebih. Panik campur kesal. Soalnya, tiap bulan bayar tagihan air cukup lumayan, tapi layanannya minus. *sigh* Saya mengirim email ke VSO Program Office, karena sebenarnya memang lokasi rumah ini tidak menguntungkan. Tidak ada sumur cadangan, tidak dekat dengan sumur umum, tidak ada meteran air (bayar air berdasarkan estimasi), dan tangki air yang dipasang oleh VSO harus dibagi dengan tetangga ‘serumah’ dengan sistem pipa yang tidak jelas. Saya bukan volunteer pertama yang tinggal di situ, dan ini sesungguhnya bukan pengaduan pertama ke VSO Ghana. Tapi ya, begitulah. Tanggapannya sering tidak memuaskan, bahkan ternyata mereka yang seharusnya mengurus ‘kesejahteraan’ volunteer bahkan belum pernah sekalipun melihat kondisi rumah saya. VSO menyarankan saya mencari tukang ledeng dulu untuk mengecek apa masalahnya. Tapi buat saya bukan itu yang penting. Prioritasnya berbeda, situasinya kritis. Saya perlu air! Di rumah tidak ada air!

Akhirnya, didukung oleh officemate, Owiredu, saya pergi ke Water Company untuk membuat pengaduan. Dan responnya? “Memang, kami sedang ada masalah. Ada yang harus diperbaiki pipa bawah tanahnya. Coba tunggu besok atau dua hari lagi.”

Apaaaaa? Sudah seminggu lebih iniiiii!

Tapi teriakan itu cuma di dalam kepala. Saya cuma bisa manyun sedikit dan menatap ibu petugas itu dalam diam. Kesal. Saya tanya kompensasinya apa; tidak ada. Saya tanya solusinya apa; tunggu saja. Uuuuh, rasanya pengen jitak!

Solusi satu-satunya: beli air. Kendalanya, sumber air yang bisa dibeli jauh sekali dari rumah. Akhirnya satu hari, dibantu Owiredu dan teman-teman dari kantor MoFA dan teman-teman National Volunteers, saya berhasil memperoleh stok air. Enam orang laki-laki bolak balik mengangkat semua koleksi ember dan gentong dari atas pick-up sewaan ke dalam rumah. Total 590 liter air. VSO setuju untuk mengganti biaya yang saya keluarkan untuk membeli air. Tapi yang paling luar biasa adalah teman-teman saya itu. Mereka yang berjuang dan membantu saya memperoleh air! Semoga Tuhan membalas kebaikan mereka.

Koleksi gentong aneka ukuran (50-100 liter) yang sekarang penuh air dan memenuhi lorong rumah. *Berat mau angkat ke kamar mandi & dapur*

Koleksi gentong aneka ukuran (50-100 liter) yang sekarang penuh air dan memenuhi lorong rumah. *Berat mau angkat ke kamar mandi & dapur*

Akhirnya, setelah memiliki stok air, saya bisa mencuci pakaian lagi –iya, saking sedikitnya air, lebih baik dipakai untuk mandi dan masak. Seminggu terakhir, sempat tidak masak karena susah mencuci perabotan dapurnya. Harus makan makanan lokal yang sangat kurang sayur 😦 Syukurlah hari Sabtu kemarin air mulai mengalir selama 3 jam. Cukuplah untuk membuat stok air di dalam gentong menjadi penuh kembali.

Sialnya…gara-gara sibuk mengangkut 20 ember air dengan penuh semangat hari Sabtu kemarin, sampai sekarang lengan kanan saya dari pergelangan tangan hingga siku, ngilu karena ototnya terlalu kencang tertarik (strain). Ah, drama…

Cerita selesai? Semoga.

Tapi mungkin belum. Masih ada rasa khawatir soal air ini. Mr. Joshua Osei, yang bertugas di tempat pemompaan air bilang, bahwa pasokan air ke kota sangat tergantung dari kekuatan pompa utama memompa air ke reservoir di wilayah Bungalow (wilayah tertinggi di Asamankese). Masalahnya, si pompa utama itu harus digerakkan oleh tenaga listrik. Sementara, pasokan listrik di sini sangat tidak stabil. Hampir setiap hari ada acara mati listrik selama 6 jam 😦 Kalau begitu terus, kapan air bisa sampai ke rumah saya?

Pasti banyak yang bilang, makanya hemat air!

Tentu saja… sudah berbulan-bulan, sejak saya tiba di tempat ini, gaya hidup saya terhadap air berubah drastis.

– Air yang dipakai untuk berwudhu, ditampung di satu ember khusus, tidak terbuang begitu saja. Air ini akan dipakai untuk siram toilet.

– Mandi hanya dengan setengah ember air (ukuran ember standar). Ini sekarang saya sudah ahli!

– Air bekas cucian baju dipakai untuk membersihkan lantai kamar mandi dan ngepel teras. Cara cuci bajunya juga ketat, tiga ember harus selesai. Jangan pikir ideal harus sampai air bilasannya bening. Duuuh, bisa habis stok air segentong!

– Kalau pas hujan (waktu di bulan Juni-Agustus) tampung air dari atap. Bisa dipakai untuk siram toilet dan ngepel lantai.

————–

Jadi, ya begitu deh. Sekali-sekali drama boleh dong ya… maklum sudah lama nggak ketemu cakue, soto betawi, dan pempek. *duh, jadi ngiler sendiri* Udara kering, debu banyak, pekerjaan jalan terus; workshop, community meeting, annual partnership review, M&E database development… dan sulit air!

Kalau nggak jadi volunteeer di sini, pasti hidup saya biasa aja, nggak seru kayak gini, kan? :))

Tagged , , , , , , ,

Maaf Pak Polisi, saya nggak jadi ketemu Shahrukh Khan…(Ghana)

Saat membaca pemberitaan di media online Indonesia minggu lalu, tentang Shahrukh Khan yang manggung di Sentul Bogor, tiba-tiba saya teringat pengalaman pertama saat mengurus SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) di Polsek Kota Bogor Barat. Ada apa gerangan?

Asal muasalnya adalah permintaan VSO Bahaginan (recruitment base) agar saya segera mengirimkan Police Clearance. Saya ingat betul waktu itu baru dua minggu setelah saya dinyatakan ‘Selected’ sebagai volunteer. Komunikasi via email dengan VSO Bahaginan baru mulai berjalan dan VPA (Volunteer & Program Adviser) saya mengatakan, “Glory, sepertinya saya punya penempatan yang mungkin sesuai, di India!” Itu baru ‘omongan’ saja, belum ada Placement Outline dan sebagainya. Tapi berhubung mereka sudah minta semua dokumen segera dilengkapi, ya saya manut saja. Mulai bergerak.

Untungnya kakak ipar adalah ketua RT, jadi urusan surat pengantar untuk pembuatan SKCK di level RT/RW lancar sekali, hehehehe. Dan kakakku dengan baik hatinya juga membawanya ke kelurahan untuk mendapat pengantar ke Kecamatan Kota Bogor Barat. Urusan dengan kecamatan sih, saya sudah cukup handal (halah!) jadi sudah tidak kaget dengan proses yang agak-agak ajaib. *uhuk* 

Karena berangkat pagi-pagi, surat pengantar dari kecamatan pun selesai sekitar tengah hari. Saya langsung melanjutkan perjalanan ke kantor Polsek Kota Bogor Barat. Syukurnya para polisi di sana menyambut ramah, bahkan sempat mengira saya anak kecil yang nyasar… aduuh. Saya sampaikan bahwa saya perlu membuat SKCK untuk berangkat menjadi volunteer internasional. Langsung dengan antusiasme tinggi, saya diantar ke bangunan kecil yang agak terpisah dari kantor utama. Sampai di sana saya menyerahkan dokumen-dokumen pengantar dan diminta menunggu, karena ada sekitar 3 orang yang sedang diproses di dalam ruangan. Karena ruangannya kecil, saya duduk di luar, di salah satu bangku yang mengelilingi sebuah meja panjang. Di situ duduk sekitar 4 orang polisi -termasuk seorang polwan.

Mulailah obrolan dengan para polisi yang duduk di situ. Mereka bertanya tentang tujuan saya membuat SKCK dan mulai sangat tertarik saat saya katakan saya akan menjadi volunteer internasional dengan VSO. Lalu, ‘kebingungan’ mulai muncul saat saya ditanya, ‘Jadi, mau berangkat ke mana?’ Saya jawab belum pasti, karena proses penempatannya baru dimulai. Masih dicari mana yang cocok dengan keahlian saya. Lalu mereka menimpali, ‘Wah tapi, kalau untuk SKCK luar negeri harus ada negaranya nanti. Kita cuma kasih pengantar dari sini, nggak masalah. Tapi nanti di Polresta harus sudah dicantumkan.’

Saya agak kaget, tapi juga berterima kasih atas informasinya. Saya katakan, memang negara tujuan penempatannya belum pasti, tapi saat ini ada kemungkinan pergi ke India. Mereka makin penasaran dan obrolan berkembang, sampai pada satu titik para polisi itu jadi lebih bersemangat daripada saya sendiri. Mereka mulai asyik dengan ide-ide gila bahwa nanti saya bisa bertemu bintang-bintang Bollywood, bahkan syukur-syukur diajak main film India, ketemu Sharukh Khan dan Kajol. Saya sampai terbahak-bahak. Lalu kelompok ‘diskusi’ kami jadi semakin besar karena beberapa polisi lain mulai bergabung, terakhir ada 6 orang di meja itu hanya gara-gara satu pak polisi bilang, ‘Hey, sini, adek ini mau pergi ke India lho, jadi volunteer!’ Hahahaha. Tiba-tiba entah dari mana, muncul juga sekantong gorengan menemani obrolan di atas meja. Saya jadi ‘diwawancara’ soal menjadi volunteer, pergi ke India, dan obrolan lain-lain. Jadi meriah begitu deh, suasananya.

Mungkin setelah 30 menit, nama saya dipanggil dari dalam ruangan. Pengantar SKCK saya sudah selesai dan saya harus membawanya ke Polres Bogor Kota untuk proses selanjutnya. Saya tanya pada Ibu yang bertugas di depan komputer itu, ‘Ada biaya administrasinya, bu?’ Ibu itu malu-malu tersenyum lalu menunjuk pada pak polisi yang duduk di depan saya di meja luar, ‘Tanya Pak Kepala, ya.‘ Saya berterima kasih dan menghampiri pak polisi itu. Dengan cuek dan tanpa basa-basi, saya bertanya, ‘Pak, ini sudah jadi. Ada biaya administrasinya?’ dan pak polisi kepala itu menjawab, ‘Ah, tidak ada biaya. Kita senang adek mau jadi volunteer ke India. Biayanya buat bekal saja. Semoga sukses di sana, bisa ke Bollywood juga. Oh iya, salam untuk Shahrukh Khan ya!’ Saya nyengir. ‘Insha Allah, disampaikan pak, kalau ketemu tapi ya. Nggak janji lho…’ dan semua polisi di meja itu tertawa.

Saya bersalaman dengan semua polisi yang duduk mengelilingi meja itu sambil mengucapkan terima kasih. Rasanya terharu, entah kenapa. Mereka semua mendoakan semoga saya berhasil. Saya beranjak pergi sambil tersenyum dan melambaikan tangan kepada mereka. Masih ada satu yang nyeletuk, ‘Jangan lupa, salam buat Shahrukh Khan, ya!’

Minggu lalu, justru Shahrukh Khan yang datang ke Bogor. Saya? Mungkin tidak akan pernah bertemu dengannya. Hahahaha. Tetapi doa-doa pak polisi didengar Tuhan, lho. Buktinya saya ada di Ghana menjadi volunteer. Iya, lebih jauh sih, dari India, karena placement offer di India ternyata tidak pernah datang. Malah dapat tawaran ke Nepal sebelum akhirnya memutuskan lebih cocok dengan Ghana.

Terima kasih doanya, ya, Pak Polisi. Maaf, salamnya nggak bisa disampaikan! 🙂

Tagged , , , , , ,

Selembar Kertas Butut (Ghana)

Minggu depan, 6 bulan sudah saya di penempatan ini.

Apa rasanya?

Campur aduk.

Terlepas dari sisi-sisi lucu, konyol, dan gila yang selalu saya coba lihat dari kehidupan saya sehari-hari di sini –yang lalu saya tulis juga di blog ini- pada kenyataannya, tidak selalu semuanya membuat saya tertawa.

Ada satu titik di mana saya homesick. Bangun tidur, keluar kamar, menemukan rumah sepi, lalu berpikir, “Ke mana sih, orang-orang ini?” Dua detik berikutnya saya sadar. Saya di Asamankese, bukan di Bogor. Dan memang tidak ada ‘orang-orang’ yang tinggal selain saya di rumah ini.

Ada satu titik lainnya di mana saya lelah. Paling ringan; saya hanya menghela napas dan berkata pada diri sendiri, “What am I doing here?” Paling parah; saya menangis. Menangis sungguhan yang membuat dada lega dan mata bengkak. Bukan karena homesick. Tapi karena merasa sangat tidak di-support oleh organisasi yang seharusnya mengelola dan mendukung kami (baca: International Volunteer) di negara ini. Bukan hanya soal pekerjaan tapi juga hal-hal kecil yang membuat kami merasa dimanusiakan.

Jujur, saya sampai sempat iri waktu melihat foto-foto yang diposting oleh VSO Indonesia di Twitter. Mereka bikin acara masak-masak dengan International Volunteers di Indonesia! Kalau di sini? Ah, sudahlah…

Yang membuat saya bisa menahan rasa ‘sesak’ adalah partner tempat saya menumpang bekerja selama ini, orang-orangnya (teman-teman ‘kantor’ saya) dan tentunya para petani coklat itu. Mereka sangat menghargai saya hanya karena saya mengingat nama desa mereka dan kadang nama mereka (karena banyak sekali, sulit hapal nama mereka semua), serta menyapa mereka dalam bahasa Twi yang patah-patah. Mereka menghargai saya sebagai manusia. Itu kebahagiaan terbesar saya di sini.

Satu hal lain yang juga selalu bisa membuat saya tersenyum dan mengingatkan saya akan alasan saya berada di sini adalah ini: 

Selembar kertas (yang sekarang sudah) butut (jelek, red.) yang berisi coretan-coretan positif dari semua orang yang ada saat Prepare for Change training di Bali, Desember tahun lalu. Saya tidak tahu, siapa menulis apa. Karena kertas itu ditempelkan di punggung kami dan semua orang saling menuliskan komentarnya di saat yang sama, dalam sebuah lingkaran.

Oh, saya ingat, yang satu ini adalah tulisan dari Spongebob 🙂

“Have a great time as a volunteer. I know you are going to be a STAR, Patrick!”

Yang lainnya, juga selalu bisa membuat saya tersenyum lagi dan lagi:

“Great insight. Such a positive person. Just keep your expectation low :p and wish you find the internet access. Good luck and enjoy your volunteering moment.”

“Friendly. Smile. Quick response.”

“Great to have you in the group! Good energy.”

“It’s always nice to have crazy people like me! :p”

“Good luck with your placement. Looking forward for your success story. I also found you’re naturally an actress.”

“You are so cheerful girl that the community will like you a lot. Keep it up. You will do it so well up there.”

Ya. Kertas yang sudah agak lecek itu saya bawa dari Indonesia ke tempat ini. Jika mereka percaya pada saya dan apa yang saya bisa lakukan di sini, kenapa saya tidak?

Memang, saya belum membuat perubahan berarti di sini, apalagi pantas menulis kisah sukses. Mungkin tidak akan terjadi.

Tapi setidaknya saya tahu bahwa yang mereka tulis di punggung saya adalah benar. Karena saya yang akan membuat itu benar adanya. Insha Allah.

Thank you Anne, Mbak Asih, Hesti, Lili, Ragyl, Patricia. You all made my day. 

Tagged , , , , ,