Category Archives: Jeff Kristianto

Kesempatan kedua, Sekali lagi (Tajikistan)

Tulisan ini seharusnya menjadi tulisan terakhir saya tentang Tajikistan. Sudah lama rasanya ingin menulis dan menutup akhir cerita tentang kehidupan saya disana, tapi setiap kali hendak menulis, ide ide tulisan menghilang dan tulisan saya buntu di alinea ke 2.

Mungkin saya memang belum bisa mengakhiri cerita saya tentang Tajikistan. Terlalu banyak yang mesti diceritakan. Terlalu banyak yang mesti dikenang. Atau sebenarnya saya memang belum bisa melangkah ke depan? Seperti yang sudah sudah, saya mungkin masih terjebak dengan masa lalu. I still don’t live in the present, I still live in the past. Dan saat ini, the past itu sepotong hidup saya di Tajikistan.

Saya masih ingat pertama kali saya menerima e-mail dari VSO, bahwa saya akan ditempatkan di Tajikistan. Saya sama sekali belum pernah dengar nama negara itu. Saya langsung mencari di Google, dan mencari semua informasi tentang Tajikistan. Malamnya saya tidak bisa tidur, saya membayangkan apa yang akan terjadi disana.

Malam ini saya tidak bisa tidur juga, bukan lagi membayangkan apa yang akan terjadi di Tajikistan lagi, tapi membayangkan semua hal yang telah terjadi di negara bekas pecahan Soviet ini.

Saya teringat ketika saya tiba di Tajikistan, di musim dingin yang mengigil. Salju pertama yang saya lihat dan kuping saya yang membeku. Teman teman Tajik yang bersahabat dan selalu memanggil saya sebagai Akka, brother, saudaraku. Awalnya saya menganggap itu hanya basa basi saja, tapi sekarang saya tahu, mereka sungguh sungguh mengganggap saya sebagai saudara.

Saya tidak menyangka akan mendapat begitu banyak saudara di Tajikistan. Saya tidak pernah merasa sendiri disana.
Saya juga ingat masa masa terakhir saya di sana, kecelakaan di gunung yang membuat saya meninggalkan Tajikistan begitu saja. Saya tidak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada saudara saudara saya disana. Saya berfikir, saya akan menangis terharu apabila saya meninggalkan Tajikistan. Nyatanya, saya tidak menangis, karena saya belum sempat mengucap selamat tinggal. Saat saya meninggalkan Dushanbe airport, saya berfikir akan kembali ke sana dalam waktu 1 bulan. Kini sudah 3.5 bulan saya meninggalkan mereka, VSO sudah mengirim barang barang saya ke Indonesia. Saya tidak akan kembali lagi kesana. Buku saya sudah ditutup.

Saya belum mengucapkan selamat tinggal. Saya pasti kembali. Saya butuh kesempatan mengucapkan itu kepada saudara-saudara saya disana. Kesempatan kedua.

***1***

Dua bulan setelah saya meninggalkan Tajikistan, saya mendengar bahwa Khorog, kota tempat tinggal saya terjadi konflik. 3000 tentara datang menyerang kota kecil ini, dan terjadi adu senjata antara tentara Tajikistan dan penduduk sipil, puluhan orang terbunuh dan ratusan orang terluka. Kota Khorog begitu mencekam, telefon dan internet terputus. Saya tidak bisa menghubungi teman teman saya disana. Saya begitu khawatir.

Khorog adalah kota yang sangat kecil, saya bisa bayangkan suara ledakan dan senjata akan terdengar sangat keras dari rumah saya disana. Mary & Shaikh, volunteer VSO sempat terjebak di sana, mendengar semua itu dari jarak dekat, dan menjadi trauma yang buruk, sampai akhirnya mereka bisa dievakuasi dengan helicopter.

Pertikaian ini adalah pertikaian yang sudah ada sejak perang saudara 15 tahun yang lalu. Saat itu perang terjadi karena perbedaan politik. Penduduk Khorog adalah etnis Pamir, yang secara etnik dan kepercayaan berbeda dengan masyarakat Tajikistan pada umum nya. Perdamaian yang dicapai selama 15 tahun bagai selimut tipis, yang mudah robek oleh masalah dan kecurigaan.

Kepala KGB daerah itu terbunuh saat ini, dan pemerintah menuding jendral Tolib sebagai pembunuhnya, tanpa ada bukti apa apa. Jendral Tolib adalah salah satu pemimpin perang saudara 15 tahun yang lalu. Pertikaian semakin runyam, karena kelompok Taliban dari Afghanistan turut berperan. Khorog adalah kota kecil, semua orang saling berhubungan disana, ketika Khorog diserang oleh pemerintahnya sendiri, warga Khorog mengerucut dan menguat. Mereka hanya ingin satu. Perdamaian di Khorog.

Saat ini, koneksi internet sudah terhubung kembali. Tapi kondisi Khorog masih mencekam. Demontrasi besar besaran dilakukan di pusat kota, menentang kebijakan pemerintah. Terakhir saya membaca, wabah penyakit Typoid mulai menyerang kota ini, penderitaan saudara saudara saya disana semakin parah.

Saya berfikir, mungkin ini alasan saya keluar dari kota Khorog 3.5 bulan yang lalu, agar saya tidak perlu terjebak dalam konflik berkepanjangan ini. Mungkin bila saya tetap disana, saya bisa terkena peluru nyasar, atau mungkin saya tidak akan tahan mendengar suara suara ledakan itu. Mungkin Tuhan memang menyelamatkan saya, dan ini rencana terbaiknya untuk saya. Mungkin Tuhan beri saya kesempatan kedua untuk hidup, dan semoga Tuhan juga memberi kesempatan kedua kepada saudara saudara saya di Khorog untuk hidup damai.

***2***

Setiap pagi, ketika mata saya masih malas untuk dibuka tapi kesadaran sudah mulai datang , saya selalu melakukan hal yang sama. Menggerak-gerakan kaki saya, dan berharap kaki saya sudah sembuh sempurna dengan sendirinya. Saya mencoba mengangkat kaki saya, meluruskan dan menendang selimut. Selimut tipis ini masih terasa sangat berat karena otot kaki saya yang masih lemah. Setiap pagi, saya berharap, semua kejadian ini cuma mimpi buruk dan saya akan terbangun dan merasa lega. Ternyata ini bukan mimpi buruk. Ini kenyataan.

Saya bisa menerima itu. Saya tahu ini bukan mimpi buruk, tapi saya masih berharap akan ada keajaiban. Minggu lalu keajaiban tidak terjadi, kemarin juga begitu. Pagi ini, saya mencoba lagi, masih sama, kaki saya masih sulit digerakan. Keajaiban mungkin belum terjadi pada saya. Mungkin saya terlalu banyak mendengar cerita cerita keajaiban, dan terlalu mempercayainya. Saya tidak mendapatkan keajaiban, tapi saya merasakan kaki saya semakin menguat sedikit demi sedikit. Proses yang panjang dan lama. A small progress is still A progress.

Ada saatnya untuk menanam, ada saatnya untuk memanen. Ada saatnya tertawa, ada saatnya bersedih. Saya tidak ingin bersedih. Saya yakin, semua akan berlalu. Baik atau buruk, semua akan berlalu. Saya mesti hidup di hari ini.
Tuhan, saya cuma butuh kesempatan kedua, sekali lagi.

Jeff – Jakarta 2012

Tagged , , ,

Sahabat dari Tajikistan (Tajikistan)

“Where is Jeff?”, tanya Isfandior setengah jam sebelum ijab Kabul diucapkan di acara pernikahannya. Teman-temannya lupa memberi tahu saya kalau hari ini adalah hari istimewa Isfandior. Segera Islom dan Momojon menelefon dan menjemput saya dalam waktu 10 menit! Saya seperti diculik saat itu, saya masih di kantor, dan belum sempat pulang. Hari itu adalah hari istimewa Isfandior. Saya mengenal dia lewat Couch Surfing, situs backpacker dan traveler untuk saling berbagi akomodasi dengan orang asing.

Hari pernikahan adalah hari istimewa bagi setiap orang, di hari istimewa ini, setiap orang ingin menjadikannya special. Saya beruntung bisa menyaksikan hari istimewa teman saya dari dekat. Saya berharap akan melihat pengantin Tajikistan dengan pakaian traditional, sayangnya itu tidak bisa saya lihat. Ternyata, anak muda Tajik lebih senang memakai gaun pengantin ala Barat (atau Rusia!) seperti Cinderella. Pengantin wanita terlihat sedih dan menunduk. Saya berfikir apa yang sedang terjadi. Teryata wajah muram pengantin wanita tidak hanya ada di wajah istri Isfandior, tapi disemua pengantin wanita yang saya kunjungi pernikahannya. Teman saya berkata, itu adalah tradisi Tajik, saat pernikahan, pengantin wanita tidak boleh tersenyum, ia harus menunjukan wajah serius dan menunduk, tanda kepatuhan kepada suami dan keluarga baru suami. Wow.. itu pasti sangat membuat frustasi, menunduk selama seharian !

Sebelum acara resepsi dilanjutkan, mempelai pergi ke taman Bobojon Gafurov, dan menabur bunga disana. Ini juga satu tradisi, dimana, mereka berjalan jalan di taman untuk berfoto) dan memberi hormat dan menaruh bunga pada patung para pahlawan nasional ! Hal yang tidak akan dilakukan pengantin Indonesia. Uniknya, bunga yang sudah ditaruh, diambil lagi dan dibawa pulang. 🙂

Teman teman Isfandior memaksa saya untuk ikut berdansa di acara resepsi Isfandior, saya tidak bisa berdansa, apalagi gaya Tajikistan, yang banyak memakai gerakan pundak, tapi saya sangat menikmatinya. Seperti biasa, saya pasti menjadi partner dansa favorit anak anak kecil. Saat itu ada 10 anak yang mengerumuni saya, dan mengajak saya berdansa bersama. Sangat menyenangkan.

Tajikistan masuk ke dalam negara yang paling sedikit di kenal, dan jumlah kunjungan turis yang rendah. Memiliki teman ‘orang asing’ hadir di acara pernikahan adalah kebanggaan bagi keluarga mereka. Bukan hanya sekali, saya sering diminta hadir ke acara pernikahan, bukan karena saya kenal pengantinnya tapi karena keluarga atau teman pengantin ingin mempersembahkan saya sebagai ‘hadiah’ bagi mempelai. Saya akan didaulat untuk memberi ucapan selamat kepada mempelai dalam bahasa inggris, dan diterjemahkan oleh teman saya. Setiap saya memberi ucapan selamat, suasana begtu hening, semua memperhatikan saya, dan tepuk tangan menggema setelah kalimat terakhir selesai. Betul betul suasana yang menyenangkan.Saya merasa sangat special, di hari special orang lain. 🙂

Isfandior bekerja di Travel agen yang menyalurkan pemuda Tajik untuk bekerja di Amerika, dengan program Work & Travel. Bekerja 1 bulan di Amerika dan jalan jalan 3 bulan. Banyak anak muda Tajik yang bermimpi untuk bisa ke Amerika dengan cara ini. Cara yang mereka anggap paling mudah, tidak harus lewat beasiswa dengan seleksi ketat. Cukup membayar USD 2500, asalkan visa disetujui, mereka akan bisa pergi ke negri impian. Amerika.

Teman teman Isfandiyor yang ingin ikut program ini, akhirnya menjadi teman saya, karena mereka ingin mempraktekan bahasa inggrisnya. Lewat program ini, saya mengenal Momojon, Nekadam, Jahonsep, Manu, Islom & Bachtior. Mereka menjadi teman teman yang menyenangkan di Khujand. Sayangnya saat visa amerika mereka ditolak, mereka merasa marah dengan Isfandiyor, dan kita tidak sering berkumpul lagi.

***1***

Hampir sebagian besar teman teman saya di Tajikistan adalah anak berumur 18-23 tahun, sangat sulit bagi saya mendapat teman yang seumuran, mungkin karena factor bahasa. Saya tidak keberatan bergaul dengan anak muda, membuat saya semakin muda kembali! 🙂 Setiap teman yang saya punya memiliki cerita dan kisah nya tersendiri, dan membuat hidup saya lebih berwarna.

Backtior yang saya kenal lewat Isfandiyor bertubuh kecil tapi berisi, sekilas ia seperti anak berumur 15 tahun, juga gaya nya yang kekanak kanakan. Backtior sering menelepon saya untuk sekedar memberi tahu kalau ia sedang berada dengan pacar barunya. Ia sengaja menelepon saya untuk pamer ke pacar baru kalau ia bisa berbahasa inggris dan punya teman orang asing. Bagi saya, selama tidak mengganggu, saya cuma ikut tertawa dengan gayanya. Backtior adalah salah satu pemuda Tajik yang bermimpi bisa bekerja di Amerika, dan akhirnya gagal karena visanya ditolak.

Sore itu saya mendapat telefon dari Backtior, dari nomor yang tidak saya kenal. Backtior memang senang sekali berganti ganti nomor telefon, sampai saya sadar kalau ia memiliki 20 sim card ! Ia menelefon saya untuk mengabarkan bahwa ia berada di rumah sakit.
“I’m in hospital, already 1 week”
“What’s happen? Are you ok”
“Yes, I’m ok. I have problem with my head. Dizzy”
Saat itu saya sangat khawatir, dan berharap ia tidak mengalami cedera yang serius. Saya memutuskan untuk mengunjungi nya ke rumah sakit saat jam makan siang. Dengan bermodal petunjuk dari penerjemah , saya memberanikan diri ke rumah sakit sendiri dengan menumpang angkutan umum.

Saat saya tiba di rumah sakit, saya menelefon Backtior, dan ia menunjukan arah kamarnya, tapi ketika saya sedang berjalan di halaman rumah sakit , saya mendengar ada yang memanggil nama saya, “Jefff !!!”. Backtior berdiri disana dengan celana jeans, kaos ketat dan gayanya yang santai. Ia sedang merayu anak penjual jajan di warung depan rumah sakit.
“Saya kira kamu sakit keras, Kok bisa ada di luar?”
“Iya,bosen di kamar, tapi sehari hari saya memang jarang di kamar. Kamu tahu, saya punya 3 pacar disini!”, katanya sambil tertawa. Ia mengajak saya melewati kamar salah satu pacarnya.
Saya semakin bingung. “Seharusnya kamu di tempat tidur, kalau lihat kondisi kamu sekarang, I don’t think you need to stay in hospital, my friend!”. Backtior hanya tertawa,”It’s school holiday, daripada tinggal di rumah atau kerja di pasar, lebih baik saya disini.” Ah, kini saya tahu, ia sedang berpura pura sakit agar bisa menghindar bekerja di toko ayahnya di pasar Pashanbe !

Sebenarnya tidak heran kalau ia memiliki banyak pacar, wajah tampan dan tubuh atletiknya banyak membuat banyak gadis jatuh hati. Hari itu, saya bersenang senang dengan Backtior dan 2 ‘pasien’ lain di kamarnya.
“Teman mu yang lain sakit apa?” tanya saya
“Ah.. they just crazy. They are not sick. We just have fun here!”, lalu kami berempat tertawa terbahak bahak.

***2***

Shuhrat Sharipov, adalah satu dari sedikit pemuda Tajikistan beruntung bisa mendapat kesempatan ke Amerika selama 1 tahun lewat program FLEX. Ia beruntung terseleksi ketat dari 15.000 anak usia 15-18 tahun yang mendaftar di program ini, karena hanya 10-15 anak yang lolos dan berangkat ke Amerika.

Saya mengenal Shuhrat lewat VSO di Dushanbe, ia bekerja paruh waktu di VSO sebagai Program Manager assistant. Amerika membuat ia dapat berbicara bahasa inggris dengan sangat lancar. Saat pertama kali saya melihat dia, saya seperti melihat tokoh kartun Tintin. Saat itu musim salju, ia berdiri di depan kantor VSO dengan jas flannel tebal yang pajangnya sedengkul, pipi memerah karena kedinginan dan gaya rambut spike nya. Tanpa sengaja, saya langsung berkata “He looks like Tintin” kepada teman teman volunteer VSO lain. Semua memandang Shuhrat dan tertawa, “yes, he is”. Sejak itu, kami selalu mengingat ia sebagai Tintin ! Setelah saya mengenal Shuhrat lebih dekat, saya memberi tahu ia soal ini, dan uniknya, ia sama sekali belum pernah mendengar tokoh kartun bernama Tintin!. 🙂

Shuhrat mengenalkan saya kepada teman temannya, sesama alumi FLEX. Ia dan teman temannya aktif dalam organisasi bagi alumus FLEX, organisasi yang sangat aktif. Di sana, saya mengenal Kholmat, Ali, Bobojon, Nekrus, Firuza dan lainnya. Mereka mengundang saya dan teman teman relawan VSO untuk hadir di perayaan Navrus, tahun baru Persia. Saat itu saya diperkenalkan dengan makanan Sumalak, semacam dodol yang dibuat dari tunas gandum, dimasak semalaman sebelum hari Navrus datang. Semua orang diharap ikut berpartisipasi mengaduk adonan Sumalak ini, dan mengucapkan permohonan.
Pesta semalam suntuk yang diisi dengan memasak, menari, makan makan dan tawa. Tanpa alcohol sama sekali. Saat itu, saya dan teman teman volunteer lain berkata satu sama lain,”Masa depan Tajikistan ada di anak anak ini! Kalau pesta seperti ini ada di Inggris, sudah pasti alcohol berbicara dimana mana”.

Tajikistan memang masih banyak memproduksi alkohol, terutama Vodca dan Cognac. Tidak jarang, saya sering kali harus ikut melewatkan pesta bersama teman teman dengan seteguk vodka. Vodca memang sangat murah, mulai dari Rp 10.000 saja per botol. Rasanya? Seperti meminum alcohol ! 😦

Keesokan harinya, Shuhrat dan Nekrus mengajak saya ke Gissar untuk menonton Buzkasi. Buzkasi adalah polo berkuda traditional Asia Tengah. Salah satu acara yang paling saya sukai di Tajikistan. Disana saya melihat ratusan orang berkuda dengan gagahnya berlari kencang untuk mengejar seekor ….. kambing ! Yap.. kambing. Kadang kambing bisa berlari ke arah penonton dan bisa membuat kami kocar kacir ketakutan karena ratusan kuda berlari ke arah kami.

***3***

Aziz Sharipov, 19 tahun, cita citanya menjadi seorang model dan actor Hollywood. Saya yakin, kalau Aziz dibawa ke Indonesia dan di pertemukan dengan Raam Punjabi, ia akan menjadi artis sinetron favorit. Ia adalah salah satu remaja Tajik yang sangat aktif di organisasi. Ia rajin mengikuti lomba dan kursus, dan kesempatan terbuka besar baginya. Di usia nya yang sangat muda, ia sudah menjadi trainer untuk seminar seminar leadership, tidak hanya untuk remaja seusianya, tapi juga bagi usia dewasa.

Saya mengenalnya ketika Shuhrat mengajak saya ikut ke panti jompo yang diselenggarakan oleh FLEX alumni dan New Wave Organisation, organisasi yang dipimpin Aziz saat itu. New wave mengajak anak anak usia remaja untuk menjadi relawan. Mereka membuat program untuk mengunjungi panti asuhan, panti jompo, kampanye HIV/AIDS, dsb. Saya sungguh bangga mengenal Aziz dan menjadi sahabat nya. Ia bukan seperti anak seusianya yang sekedar bersenang senang,tapi mengejar apa yang ia mau. Ia mewakili Tajikistan untuk berbagai acara kepemudaan di Ukraina dan Dubai berulang kali.

Saya masih ingat ketika saya mengundang Aziz dan Bobojon untuk makan malam di rumah volunteer. Saat itu, saya dan Lynne memasak untuk mereka. Aziz dan Bobojon bersahabat sejak lama dan mereka tidak ragu untuk mengungkapakan apa yang mereka rasakan. Saat itu saya sempat terkejut dengan percakapan mereka mengenai masa depan.
“Saya akan sekolah lagi, saya mau jadi polisi”, kata Bobojon yang saat itu sedang kuliah pariwisata dan bekerja di Hyatt Dushanbe.
Kita semua bertanya kenapa, mempunyai kesempatan bekerja di Hyatt adalah kesempatan yang jarang, dan tidak semua orang bisa mendapatkannya.
“Orang kaya takut dengan polisi. Saya bisa buat uang banyak bila saya bekerja sebagai polisi”.
Saat itu, saya melihat raut wajah Aziz yang mengatakan bahwa ia tidak setuju dengan pendapat sahabatnya itu, “It’s not a good idea”.

Bobojon terlihat tidak suka dengan tanggapan, “Aziz, you don’t know what’s happen in my life. You just don’t know”, saya melihat aroma ketidak puasan dan rasa marah terpendam di diri Bobojon. Mungkin Bobojon adalah contoh satu dari beberapa penduduk Tajik yang lelah berjuang dan tidak lagi percaya proses yang baik bisa terjadi, atau ia sekedar anak 19 tahun yang mempunya amarah yang terpendam, ketidak puasan atas kapitalisme yang perlahan mengganti paham sosialis di Tajikistan.

Bagi saya, menyaksikan remaja 19 tahun berdiskusi tentang hal seperti ini adalah satu kesempatan yang jarang saya temui di Indonesia. Saya bangga dengan Aziz dengan prinsip anti korupsinya. Ia sering kali dipanggi guru disekolahnya, “Nilaimu sebenarnya 5 (nilai tertinggi), tapi kalau kamu mau saya menulis angka 5, kamu mesti kasih saya uang tinta”. Aziz lebih rela mendapat nilai 4 di kertas ujiannya, dibanding menyogok gurunya sendiri.

Malam itu saya bertemu Aziz di Mail Agent, semacam Yahoo Massanger yang terkenal di negara negara berbahasa Rusia, ia bertanya kapan saya akan kembali lagi ke Tajikistan. Saya masih belum tahu, karena saya harus sembuh dahulu dan bisa berjalan normal lagi. Lagipula, saya harus mencari pekerjaan lagi disana. Mungkin VSO bisa memberi saya kesempatan sekali lagi untuk menjadi relawan kembali di Tajikistan. Tanpa saya sangka, malam itu Aziz menjawab saya dengan lugas,”Jeff, you have to come back to Tajikistan. I will find you a job. I promise. “

Aziz, teman saya yang kini berusia 20 tahun, berjanji memberi saya pekerjaan di Tajikistan. Dan saya tahu, ia bersungguh sungguh.

Jeff – Jakarta 2012

Tagged , ,

Expectation (Tajikistan)

“Make your expectation low, but make your preparation high”, itu yang berulang kali disampaikan VSO sebelum volunteer menuju negara penempatannya masing masing. Sebagai orang yang berfikir positif dan ingin bergerak cepat, saya tidak sependapat dengan VSO. Sebagai pengusaha, saya terbiasa menentukan goal, target, mencari hasil yang maksimal dengan pengeluaran minimal, itu tidak bisa didapat bila espektasi kita rendah. Espektasi harus tinggi, sehingga kita punya semangat untuk meraihnya. Bukankan sering kali kita mendengar soal “The Secret”, soal “the power of mind”. Kata kata dari VSO tadi sangat bertentangan dengan prinsip ‘the power of mind’.

Tanpa terasa, saya sudah mengakhiri penempatan pertama saya di Khujand, dan sebelum melanjutkan ke penempatan ke dua di Khorog, saya dapat kesempatan untuk pulang ke Bali. Yes ! Saya pun membuat Tajikistan Food Festival di Warung saya, untuk memperkenalkan makanan Tajikistan ke teman teman. Dalam 1 jam semua makanan ludes terjual ! Saat inilah, banyak teman teman saya yang bertanya, “so, what is your achievements in Tajikistan” , apa yang sudah saya capai di sana. Tiba tiba keceriaan saya menjadi terganggu, saya butuh waktu lama untuk berfikir. Ternyata saya belum tahu apa keberhasilan saya di Khujand. Butuh waktu lima menit untuk menjawab pertanyaan tersebut, sampai akhirnya saya berkata, “well.. setidaknya I got my personal achievement, I lost 10 kg there !”. Dan teman saya tertawa. Ketika mereka tertawa, saya termenung, apa yang sudah saya buat untuk Tajikistan selama 10 bulan ini.

Saya teringat dengan kata kata VSO lagi “Make your expectation low, but make your preparation high”. Saat datang ke Sugd Center, tempat saya bekerja, saya memiliki segunung espektasi. Ya, saya yang memiiliki segunung espektasi, bukan partner kerja saya. Sugh Center adalah pusat kebudayaan untuk provinsi Sughd, namun bukan badan pemerintah, dipimpin oleh seorang direktur yang masih sangat traditional dan soviet cara berfikirnya. Karyawannya cuma dua, manager dan akunting yang lebih banyak chating di situs jodoh rusia daripada bekerja. Satu bulan setelah saya bekerja ada satu karyawan baru, penjaga perpustakaan. Tahmina namanya. Tahmina bertugas untuk membuka pintu, merapikan koran dan merawat buku buku tahun 80an, yang hampir semua berbahasa Rusia. Tidak ada buku baru disana, dan saya juga tidak mengerti mengapa pusat kebudayaan memiliki perpustakaan tanpa buku buku tentang budaya dan seni, tapi lebih banyak soal ekonomi dan politik.

Semua tidak ada yang bisa berbahasa inggris, Tahmina bisa berbicara bahasa inggris tapi tidak begitu lancar. Saya sendiri memiliki penerjemah sekaligus project officer untuk proyek yang akan saya kerjakan. Tugas saya sebetulnya sederhana, melatih pengrajin di Sugh region agar bisa lebih baik dari segi desain dan kwalitasnya, sehingga nanti mereka siap untuk pasar turis. Tujuan akhir proyek saya adalah membuat “Craft Tour”, agar turis bisa datang ke mereka , belajar membuat kerajinan Tajikistan dan bisa beli juga sebagai oleh oleh. Tugas yang mudah, pikir saya. Saya pun mempersiapkan working plan, strategi, training schedule, lesson plan, dan banyak hal lainnya. Projek ini adalah projek antara VSO Tajikistan dan Sugh Center, dibiayai oleh Swiss Cooperation Development Center. Ini pertama kalinya VSO terlibat langsung dalam projek volunteernya.

Ternyata betul apa kata VSO, saya harus menaruh espektasi saya rendah rendah. Tugas semudah ini, ternyata tidak bisa berjalan mulus. Direktur saya adalah orang yang berwatak sangat keras, seringkali ia berteriak marah marah di kantor dan membuat karyawan menangis. Sering sekali saya mendengar perempuan menangis di kantor ini. Ruangan saya bersebelahan dengan ruangan direktur saya, jadi tangisan bisa saya dengar dengan jelas. Saya paling tidak betah mendengar orang menangis, apalagi perempuan, itu membuat saya stress. Saya ingat mama saya, ketika setiap kali ada perempuan yang menangis.

Karena watak itu, saya harus berganti penerjemah sampai 3 kali, yup, 3 kali , karena mereka tidak rela dilecehkan dan dibuat menangis di kantor ini. Pergantian penerjemah dan project officer membuat pekerjaan saya terganggu, karena saya harus melatih dan menerangkan projek ini dari 0 lagi. Direktur saya juga tidak peduli dengan projek yang saya kerjakan, saya malah dianggap mata mata VSO untuk mencuri ide ide dia, volunteer VSO lain, Ashleigh, yang bekerja 1 bulan di awal projek, juga dianggap sebagai mata mata dari Inggris. Semua yang ada di kantor ini adalah mata mata baginya. Ini sebenarnya ketakutan yang didapat dari jaman Soviet. Saat itu, orang tidak percaya satu sama lain, bahkan anggota keluarga nya sendiri. Hampir semua orang Tajikistan yang berumur lebih dari 40 tahun, masih berfikir seperti ini.

Penempatan saya, diakui oleh VSO Tajikistan, adalah penempatan dengan partner terburuk yang pernah mereka alami. Dan mereka bersyukur, saya yang ada di penempatan itu, karena saya cukup sabar dalam menghadapi semua masalah disana, volunteer lain, apalagi yang dari negara barat, mungkin sudah keluar di bulan pertama. Tidak jarang, saya juga mendapat makian dari direktur saya, tapi karena ia tidak bisa berbahasa inggris, makian jatuh ke penerjemah saya. Kadang ia memaki di belakang saya, tanpa memberi saya kesempatan berargumen. Pernah juga saya dimaki maki langsung karena saya pergi ke luar kota saat akhir pekan. Ia tidak suka, karena saya pergi mengunjungi Asleigh, volunteer yang ia anggap mata mata dari Inggris !

Bagi saya, saya bekerja untuk pengrajin di Tajikistan, saya hanya ingin berbuat yang terbaik untuk mereka, saya lebih senang berada di lapangan daripada di kantor, dan mendengar orang berteriak dan menangis. Training saya buat untuk pengrajin pengrajin, one on one coaching juga saya lakukan, saya berkunjung ke pengrajin di empat kota kecil, dan seharian membimbing mereka, dari soal pemilihan warna, kwalitas, dan esperimen finishing. Semua pengrajin menyambut saya dengan suka cita, kadang saya dibuat terharu olehnya.

***1***

“Waktu kecil, saya sering melihat kakek saya didatangi turis turis, dan sudah lama hal itu tidak terjadi lagi. Saya sangat senang, sekarang ada turis yang mau belajar membuat gerabah dengan saya. Kakek saya pasti bangga”, kata Gafurov Esgarboy, ketika kami membawa turis ke tempatnya. Gafurov adalah pengrajin arjuba, peluit tanah liat, ketrampilan yang ia dapat dari kakeknya. Gafurov sangat menganggumi kakeknya, ia selalu menunjukan majalah majalah tua yang memperlihatkan karya kakeknya. Gafurov adalah salah satu pengrajin favorit saya, semangat belajar dan keinginan untuk berubah sangat tinggi. Namun sayang, ia tidak seberuntung pengrajin gerabah di Indonesia. Kerajinannya tidak bisa menjadi mata pencahariannya, ia harus bekerja di berbagai tempat untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Pagi ia bekerja sebagai guru seni di sekolah seni, sore ia mengajar di sekolah lain, kadang ia juga menjadi tukang cat atau pembuat mozaik di dinding kantor pemerintah. Kesibukannya membuat ia tidak bisa berkarya, ia juga hampir putus asa, dan tidak mau lagi meneruskan kerajinan ini,”Kalau bukan karena kakek saya, saya mungkin tidak akan buat ini”. Saya membimbing dia perlahan, pelajaran soal menghitung harga, membuat produk yang sell-able, finishing sebenarnya hal kecil, tapi membimbingnya untuk kembali bersemangat lagi, adalah hal yang besar. Setidaknya bagi saya.

Setelah projek ini selesai, saya mengajak Gafurov ke Dushanbe 2 x, yang pertama untuk berpameran. Karya karya nya habis terjual. Ia pun sangat bangga. Yang kedua, saat Round Table Meeting dengan Tour operator, VSO Tajikistan dan Sugh Center menawarkan paket ‘Craft Tour’ yang kita buat untuk dijual oleh para tour operator. Gafurov datang mewakili pengrajin yang kita bina, semua tour operator terkagum kagum dengan karyanya, dan berminat membeli langsung. Esok harinya, ia menawarkan karya karya terbarunya ke Galeri Seni, dan semua karya nya diborong. Wajahnya berseri seri ketika ia mendapat uang yang cukup banyak, dan ia berkata,”Jeff, ayo kita ke café, minum bir. Saya yang traktir!”. Saat itu masih jam 12 siang, terlalu siang untuk minum bir ! Tapi saya sangat bangga padanya. Dari seorang pengrajin yang hampir patah semangat dan kembali memiliki asa. Mungkin semangat tidak bisa dilihat nyata, itu bukan benda, dan susah diukur sebagai keberhasilan, atau achievement. Tapi bagi saya, itu adalah prestasi yang bisa saya banggakan, walau cuma saya dan Gafurov yang bisa merasakan. Hanya saya dan pengrajin-pengrajin yang saya bina yang tahu.

“Besok, saya akan paksa anak saya untuk belajar buat Arjuba, Jeff ! Someone have to continue this craft !”. Saya dibuat terharu olehnya.

***2***

Projek saya terhenti selama 2 bulan karena Swiss Cooperation Center, donor kami, menunda pembayaran termin ke 2, karena ada audit keuangan, saya pun dipindah ke Dushanbe, dan bekerja untuk Caritas Switzerland selama 2 minggu, membimbing NGO NEKI mengembangkan usaha kecil bagi keluarga penyandang keterbatasan. Penerjemah dan projek officer saya pun sudah berhenti 1 bulan sebelum projek ini terhenti. Saat itu saya sempat kebingungan, bagaimana saya bisa bekerja tanpa penerjemah? Dan tidak ada yang bisa berbahasa inggris di kantor ini, dulu ide saya untuk merekrut volunteer local pernah ditolak dan menjadi keributan. Kalau saja, saya diperbolehkan merekrut volunteer local untuk projek saya, tentu saya tidak punya masalah saat ini. Tapi saya ada Tahmina, walaupun inggrisnya terbatas, ia bisa membantu saya menjadi penyambung lidah ke pengrajin dan direktur saya.

Ketika projek kembali berjalan, VSO kembali merekrut penerjemah dan projek officer, saat itu saya meyakinkan Khuvaido untuk merekrut Tahmina. Bahasa inggrisnya memang tidak sempurna, tapi ia bisa belajar, tapi saya melihat sosoknya yang tangguh dan tegar, sosok yang diperlukan untuk menghadapi direktur saya yang suka marah marah. 🙂

Tahmina, adalah sosok perempuan kebanyakan di Tajikistan. Single mother. Suaminya migrant ke Rusia, dan menikah lagi disana. Anehnya, ia tetap harus tinggal bersama ibu mertuanya, keputusannya untuk keluar dari rumah ibu mertuanya, membuat geger seluruh kampung. Perempuan memang punya kedudukan yang lemah setelah perkawinan. Pihak lelaki dianggap sudah ‘membeli’ nya, dan ia harus tetap harus tinggal di rumah ibu mertua dan bekerja disana. Suaminya sudah tidak memberi kabar lagi, sampai ia tahu istri barunya sudah melahirkan bayi pertama. Tahmina banyak bercerita tentang kisah hidupnya yang pahit, dan membuat saya mengenal kehidupan nyata perempuan Tajikistan. Di daerah Sugh, setiap 2 hari ada 1 perempuan yang mencoba bunuh diri, karena korban perkawinan. Di sini, set up married alias perjodohan adalah hal yang lumrah. Teman teman saya yang lelaki juga mengganggap itu hal yang lumrah. Saya sempat bertanya kepada teman saya yang menikah dengan pilihan ibunya, ia bilang “Kalau saya ngak nurut, saya harus keluar dari rumah, dan cari uang sendiri”. Sedangkan teman saya yang belum menikah bilang,”Semua wanita Tajikistan cantik, jeff, jadi saya tidak khawatir”. Saya termenung, bukankan menikah bukan hanya soal cantik atau buruk. Menikah adalah soal hati, teman berbicara seumur hidup kita. Tapi kini saya mengerti mengapa banyak teman laki laki saya, yang sangat cuek dengan istri nya.

Tahmina memutuskan untuk harus bekerja lagi, untuk menafkahi anak satu satunya. Itulah yang membawa ia ke Sugh Centre sebagai penjaga perpustakaan yang gajinya sangat kecil. Ketika ia tahu, kalau ia terpilih menjadi penerjemah dan projek officer saya, matanya berbinar, apalagi gaji yang didapat jauh lebih besar dari sebelumnya.

Tahmina belum terbiasa dengan internet, saya mengajari nya membuat email, bekerja dengan Microsoft word, dan membuat facebook account ! Ia seorang fast learner, hanya dengan beberapa kali training, ia langsung bisa mengerjakan tugas tugasnya dengan lancar. Memang butuh kesabaran dan ektra kerja memiliki projek officer yang masih ‘baru’, tapi ia adalah penerjemah dan project officer terbaik yang saya punya !

Tahmina juga memiliki usaha sampingan menjahit dengan teman temannya, sesama single mother. Saya juga membantu ia mengembangkan usahanya, dan mendapatkan order buatnya. Order pertama adalah membuat tas untuk Konferensi Pariwisata Nasional Tajikistan ! 100 tas dengan nilai order USD 1000, nilai yang cukup besar untuk Tahmina. Ia pun semakin percaya diri, bahwa ia bisa mandiri tanpa suaminya.

Sekarang setelah projek saya selesai, ia lolos seleksi dan bekerja untuk projek craft di asosiasi besar di Tajikistan. National Association of Business Woman Tajikistan, yang didanai oleh Imon bank, bank besar di Tajikistan. Kantornya pun megah dan berkilau. Ketika ia mendapat pekerjaan ini, saya adalah orang pertama yang ia telefon, “Jeff, I have good news. I got a new job at Imon !”. Saya sangat bangga padanya. Mungkin saya tidak menghasilkan apa apa pada diri Tahmina, tapi membuat ia bersemangat dan menemukan jati dirinya, adalah achievement buat saya, walau mungkin hanya saya dan Tahmina yang bisa merasakannya.

***3***

“This is my heart and my heart is broken”, cuplikan film favorit saya, Great Expectation. Di film itu, Ethan Hawk menaruh harapan dan espektasi yang begitu tinggi pada cintanya pada cucu seorang nenek yang hampir gila karena kehilangan harta. Di balik cerita ini, banyak kisah-kisah penyesalan akan espektasi besar yang tidak tercapai.

Saya teringat jargon VSO yang lain “Manage the expectation”. Kini saya setuju dengan dengan jargon ini. Bukan saja memanage espektasi orang yang kita bantu, tapi juga espektasi diri kita sendiri. Jangan sampai espektasi kita menghancurkan harapan kita yang lebih besar.

Saat ini saya masih di rumah sakit Istanbul, sudah hampir 6 minggu saya disini. Sebelum operasi, dokter dengan santai berkata, saya akan sembuh dalam 5 hari dan bisa pulang. Saya menaruh espektasi yang besar saat itu, tapi ternyata ramalan dokter meleset, dari 5 hari menjadi 50 hari, itupun saya belum sembuh, saya masih harus melanjutkan terapi di Jakarta. Saya bertanya dengan teman dokter di Surabaya, ia bilang kemungkinan 8 bulan, tapi dokter disini bilang, hanya beberapa minggu. Dokter fisioterapi saya awalnya bilang 8 minggu sembuh, kemudian setelah saya sudah melalui 6 minggu, ia tidak bisa bilang apa apa, hanya bilang “Dalam 2 tahun proses recovery masih terus ada harapan, setelah itu sulit untuk sembuh”.

Ketika dokter mengatakan saya akan bisa berjalan lagi dalam beberapa minggu atau beberapa bulan, saya memilih menutup kuping saya rapat rapat. Saya tidak mau kecewa lagi.

Saya hanya butuh semangat, yang bila saya berhasil, mungkin hanya saya yang bisa merasakannya

Tagged , ,

Let me go home (Tajikistan)

 Saya menulis ke Trish, VSO Medical Unit di London, “Let me go home”. Saat ini saya merasa seperti tersandera di rumah sakit. Tidak ada kejelasan kapan saya akan dipindah ke rumah sakit di Jakarta. Beberapa kali diberi janji, tapi kemudian tidak ditepati. Kalau kata lagu jaman 80’an “Janji janji tinggal janji, bulan madu hanya mimpi”. Hehehe, Cuma yang lahir dibawah tahun 70’an yang tahu lagu ini. Lagu cengeng.

Saya tidak ingin terlihat cengeng. Salah satu pembaca note saya bilang ia selalu menangis ketika membaca tulisan saya, saya sungguh berharap saya tidak terkesan cengeng ketika menulis renungan dan kisah hidup. Tapi saya juga tidak mau berpura pura tegar, padahal saya sedang rapuh dan menangis. Tulisan adalah refleksi hati, apakah hati saya sedang senang, sendiri atau menangis.

Hari minggu kemarin, saya tiba tiba menangis tanpa sebab, mungkin saya merasa kesepian yang teramat dalam, mungkin saya sedang masuk masa depresi setelah berada di rumah sakit lebih dari satu bulan, sendirian. Saat saya ulang tahun, saya punya keinginan bodoh, saya cuma ingin makan ayam goreng KFC, tapi tidak ada yang bisa membelikan untuk saya. Firuz, adik Tajik saya, tidak bisa datang saat ulang tahun saya, dan datang keesokan harinya, membawa kue tart mini, tapi ia lupa membawa ayam KFC. Saya juga minta kepada beberapa orang di rumah sakit, tapi tidak ada yang bisa membelikan. Saya cuma ingin hal sederhana, sepotong junk food, ayam KFC yang berlemak dan nikmat.

Saya membayangkan betapa nikmatnya berada di rumah lagi, bersama teman teman dan keluarga, yang bisa diminta bantuannya. Betapa nikmatnya bisa berjalan dan tidak tergantung pada orang lain. Betapa nikmatnya bisa sehat lagi, lebih nikmat dari sepotong ayam KFC. Saya merindukan rumah. Tapi di mana rumah saya. Saya lahir di Bogor, tapi saya tidak merasa Bogor sebagai rumah saya lagi. Paling lama cuma 1 minggu saya bisa betah berada disana, setelah itu seperti cacing kepanasan. Saya sudah merasa kehilangan akar di Bogor, tidak ada lagi teman teman dekat, kalaupun ada temen dekat masa kecil, semua sudah sibuk dengan urusannya masing masing. Saya selalu berfikir, saya harus ke Bali !

Bali kah rumah saya? Kartu keluarga saya hanya berisi satu nama. Saya sebagain Kepala keluarga, tanpa keluarga. Saya tidak memiliki sanak saudara disana, tapi saya memiliki teman teman yang memperhatikan saya. Saya juga punya teman teman di Bogor tentunya, tapi setelah 20 tahun tidak bertemu, banyak hal yang berubah. Dan perubahan itu tidak selalu membawa kenyamanan. Banyak cerita yang terus berulang ulang karena kita memang banyak kehilangan cerita yang sama selama 20 tahun. Yang kita punya, adalah kenangan masa kecil, yang jumlahnya terbatas untuk dikisahkan kembali. Teman adalah tempat berbagi emosi, itu yang hilang, yang ada cuma rasa kosong dan sepi.

Saya juga sering merasa kesepian di Bali. Saya tinggal sendiri di rumah yang saya beli saat saya berulang tahun ke 35. Lima tahun lalu. Masih menyicil, masih panjang cicilannya, rasanya ngak habis habis hutang saya di bank. Saat ini rumah saya sedang dikontrakan, karena saya bertugas di Tajikistan selama 2 tahun. Saya tidak bisa lagi bilang Bali adalah rumah saya. Saya tidak memiliki rumah disana. Kalau saya sembuh nanti, banyak teman saya yang menawarkan untuk tinggal bersama mereka. Tapi bagaimanapun juga, itu bukan rumah saya.

Rumah adalah tempat saya bisa berlama lama di kamar mandi, tempat saya bisa bangun tidur jam berapa saja, tanpa takut ada yang berkomentar, tempat saya bisa memasak apa yang saya mau, dan bila masakan gagal, tidak merasa khawatir akan dicela. Rumah adalah tempat saya bersama Bimbo dan Nero, dua anjing saya. Walaupun rumah saya tidak sebagus rumah teman teman saya yang lain di Bali, saya masih tetap mencintai rumah saya. Rumah yang saya beli dengan keringat saya sendiri, dan keringat karyawan – karyawan yang sudah bekerja untuk saya. J

***1***

Keringat saya mengucur deras saat musim panas di Tajikistan. Tajikistan memang punya iklim yang ekstrim. Sangat dingin saat winter dan sangat panas saat summer. Rumah saya adalah sebuah flat tua, rumah bersusun 5, yang dihuni ratusan orang. Rumah susun tua peninggalan Uni Soviet. Hampir sebagian besar penduduk Tajikistan di kota tinggal di rumah susun. Bentuk rumah dan lingkungannya hampir seragam di seluruh penjuru kota. Sering saya merasa ‘dejavu’ ketika mengunjungi flat teman Tajik, tapi dia tertawa ketika saya bilang begitu, “Itu bukan dejavu, flat di sini memang sama semua”. Betul betul sama, letak ayunan bermain anak anak, bentuk pintu, bahkan warna pintu nya sekalipun. Sepertinya arsitek Soviet hanya copy paste saat bangun komplek perumahan baru.

Ketika saya baru sampai di kota Khujand, saya senang dengan kondisi rumah saya. Interior rumah tidak begitu jelek, semua perabotan sudah dicat ulang, dan saya mendapatkan pemanas untuk musim dingin. Pemanas yang hanya bisa saya nyalakan sebagian, karena bila saya nyalakan semua akan keluar percik api di colokan listrik ! Cuma memang tidak ada AC. Saya betul betul kepanasaan saat musim panas. Setiap jam 1 pagi saya selalu merasa sangat kepanasan dan tidak bisa tidur, biasanya saya akan ke dapur dan ‘tidur’ di depan kulkas yang saya buka, sambil makan buah buahan yang ada. Banyak teman volunteer dari barat yang mempertanyakan “Kamu dari Bali, sama panasnya kan”. Iya sih, tapi di Bali, semua ruangan di rumah memakai AC ! AC masih menjadi barang mewah di Tajikistan, dengan listrik yang terbatas rasanya tidak bijak memakai AC. Saat spring tahun lalu, saya hanya punya listrik 2 jam/hari, selama 2 bulan. Saat itu salju belum meleleh di danau Karaikum, sumber listrik mereka.

Karena listrik yang terbatas itu, lingkungan perumahan di kota Khujand sangatlah gelap. Tidak ada lampu penerangan di jalan. Saya sudah terbiasa membawa senter kemana mana. Selain gelap, banyak lubang dijalan, jadi kalau tidak hati hati, bisa kecemplung disana.

Hati saya sempat tercemplung di Khujand. Saya menyukai kota ini, dan sering merindukannya saat saya pindah tugas ke Khorog. Saya menyukai tetangga tetangga saya yang ramah, yang sering mengirim makanan, terutama Plov yang sangat berminyak. Plov itu seperti nasi goreng kambing, yang dimasak berjam jam, cara masaknya seperti membuat Paela Spanyol, dimasak langsung dari beras, bukan dari nasi bekas kemarin ! J

Kemarin saya menganggap Khujand adalah rumah saya, teman teman saya disana masih sering menanyakan kabar saya. Saya merindukan jalan kaki membawa senter ke supermarket 24 jam, kangen berjalan kaki ke pusat kota untuk makan malam bersama teman teman disana. Minum bir yang murah harganya, menikmati eskrim yang hanya seharga 3000 rupiah. Rindu dengan rutinitas saya di sana. Saya tidak mendapatkan semua yang saya inginkan disana, tapi saya merasakan Khujand adalah rumah saya, setidaknya selama 10 bulan.

Selama disana, saya banyak berkunjung ke rumah teman, dan saya merasa sangat beruntung, saya tinggal dengan flatmate saya, walaupun dapur dan ruang makan kita sangat kecil, kita masing masing punya kamar sendiri. Tidak jarang saya melihat ukuran flat yang sama seperti kami, dihuni oleh 6-7 orang. Kondisinya juga memprihatikan, wallpaper yg mungkin tidak pernah diganti sejak jaman soviet, sofa tua yang kotor dan toilet yang sudah tidak layak lagi dipakai. Tapi mereka tidak pernah mengeluh ataupun malu untuk mengundang saya ke rumahnya. Pernah saya ke rumah Nekadam, teman saya yang masih kuliah, dan ia memperlihatkan kamarnya yang berada di dalam bekas lemari besar. Saat saya menginap di rumahnya, saya memilih tidur di sofa, karena saya merasa claustrophobic berada dalam ruangan sekecil itu.

Enam bulan terakhir, saya bekerja di NGO kecil di Khorog. Rumah saya di Khorog tidaklah kecil, tapi juga tidak besar. Dibandingkan dengan flat saya di Khujand, rumah saya mungkin yang terbaik di daerah saya. Rumah saya adalah guess house yang sudah di-rate bagus oleh Lonely Planet. Tapi direktur saya, sekaligus tuan rumah saya, merelakan guess house nya menjadi rumah saya. Karena ia memang harus menyediakan tempat tinggal bila ingin memiliki volunteer bekerja di NGO nya. Mudah2an apa yang saya beri, melebihi apa yang ia korbankan dari pendapatan guess house ini.

Guess house alias rumah saya ini cukup hangat saat musim dingin, karena lantai, sebagian dinding dan atapnya terbuat dari kayu, dan saya memiliki 4 pemanas ! Khorog terkenal dengan cuaca yang sangat dingin. Siang bisa -5 sampai 5 derajat, dan malam bisa menembus -30 ! Tapi disana tidak selembab di Indonesia, rasa dinginnya berbeda. Ketika saya cerita kalau di Bedugul dingin banget, rekan kerja bertanya suhu berapa di Bedugul, saya jawab 16 derahat. Mereka tertawa terbahak bahak. 16 derajat memang tidak ada apa apanya dibanding minus 30 di Khorog. Tapi dengan kelembaban Indonesia yang tinggi, rasanya 16 derajat di Bedugul terasa lebih dingin.

Walau rumah saya lebih bagus dari Khujand, saya belum merasa Khorog adalah rumah saya, entah mengapa lebih sulit saya mendapat teman disana. Mungkin karena saya berada disana saat musim dingin, ketika semua orang kebanyakan masuk ruangan dan tidak bersosialisasi. Orang asing juga tidak banyak yang bekerja di musim dingin, kegiatan saya sangat rutin. Bangun, pergi ke kantor berjalan kaki, masuk kantor, pulang jam 5 sore langsung masuk rumah dan menyalakan pemanas. Hampir semua orang melakukan hal yang sama. Khorog juga kota kecil dimana tidak banyak teman yang bisa saya dapatkan lewat internet. Rumah saya saat musim dingin tidak ada air dan toilet, karena saluran air masih membeku. Saya harus mengambil air dari sumber air umum sekitar 50 meter dengan ember, berjalan kaki dibawah hujan salju. Karena toilet tidak berfungsi, silahkan bayangkan sendiri solusi yang saya lakukan saat sudah kebelet. Dibanding kota lain di Tajikistan, internet juga sangat lambat.

***1***

Selama berada di rumah sakit, internet adalah sahabat karib saya. Dr. Tunjar, dokter utama saya memanggil saya ‘Internet boy’. Well, umur saya sudah 40 tahun, tersanjung masih dipanggil boy J
Sendirian di rumah sakit selama lebih dari satu bulan bukanlah pilihan yang menyenangkan, dengan internet saya masih bisa berkomunikasi dengan teman dan keluarga saya.

Saya berharap saya bisa seperti teman teman saya, yang bisa menghubungi rumah. Saya tidak tahu di mana rumah saya, rumah siapa yang harus saya telefon. Setelah mama meninggal, rasanya rumah Bogor bukan rumah saya lagi. Keluarga saya juga sudah terpencar di berbagai kota dengan keluarga barunya. Saya sebenarnya tidak lagi punya rumah. Mungkin ini rasa yang dimiliki oleh orang yang tidak memiliki keluarga baru, setelah lepas dari orangtua. Rumah adalah fisik bangunan, bukan kehangatan keluarga. Saya rindu memiliki rumah lagi.

Saya menulis email ke Trish, medical unit di London untuk ke 2 kalinya.”I just want to go home, Trish”, tanpa saya tahu dimana rumah saya.

Jeff – Istanbul Juni 2012

Tagged , ,

For a Reason (Tajikistan)

“Saya cuma mau sembuh”, kata anak Tajik di Dushanbe yang berumur 10 tahun. Ia lahir di keluarga yang semuanya dilahirkan dengan kondisi fisik yang tidak sempurna. Saat itu saya mengunjungi keluarga itu sabagai bagian dari tugas saya mengembangkan usaha kecil bagi keluarga penyandang keterbatasan. Saya bertanya apa yang ia inginkan, saya berfikir ia akan menjawab mainan atau coklat, saya tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Saya tidak bisa berkata apa apa, karena saya tahu ia tidak mungkin sembuh, karena ia terlahir dengan kelainan tulang.
Seperti banyak keluarga di Tajikistan, mereka adalah korban pernikahan sedarah. Pernikahan antar sepupu yang sebenarnya tabu dilakukan, namun umumnya keluarga tidak mau mengakui bahwa ini adalah pernikahan sedarah. Ayah anak ini baru saja meninggal, sekarang ia tinggal dengan ibu dan 2 saudara yang juga penyandang keterbatasan.

Saya tidak bisa melakukan banyak hal, penempatan saya cuma dua minggu di NGO Neki. Tugas saya adalah membagi keahlian saya dalam pengembangan usaha kecil. Saya melatih 2 orang staff NEKI agar siap dan mempunyai pola pikir kreatif dalam membuat usaha kecil bagi klien mereka. Saya membuat training tentang “10 steps to start a small business” yang ringkasannya saya muat di facebook.
https://www.facebook.com/notes/jeff-kristianto-iskandarsyah/10-steps-to-start-a-small-business-an-income-generating-ideas-for-people-with-di/10150325283947586

Training ini saya lakukan 2 x dan melibatkan orang tua penyandang keterbatasan, termasuk ibu anak yang saya kunjungi tadi, dan juga dihadiri oleh NGO Kisti, NGO lain yang juga memperhatikan penyandang keterbatasan. Di akhir training, kita memutuskan untuk membuat 2 usaha kecil bagi NGO Neki yang bisa melibatkan semua kliennya. Ide yang brillian.

Pertama adalah membuka dapur dan toko kecil yang menjual Sambosa (seperti pastel) di NGO NEKI. Lokasi NGO yang berada di pusat kota, akan sangat menguntungkan untuk usaha ini. “Location ! Location ! Location !” kata pakar usaha tentang kunci sukses usaha. Sambosanya pun akan special dan berbeda. Sambosa ukuran kecil yang sekali makan habis, seperti roti Unyil di Bogor. Isinya pun akan beragam, dari ayam, sapi, labu kuning dan vegetarian. Kemasan akan dibuat menarik seperti J-Co donut. Saat itu semua semangat untuk memulainya. Direktur NGO setuju untuk mengorbankan ruang tidur menjadi dapur dan toko “Sambosa Mini NEKI” ! Modal ? Kita akan berusaha bersama sama, saat itu saya bersedia menyumbang sedikit dana, agar ini bisa terwujud. Dapur dan toko ini akan mempekerjakan banyak ibu dari anak anak penyandang keterbatasan dan remaja diffable.

Kedua adalah membuat kerajinan. Kerajinan nya tidak akan sama dengan kerajinan Tajik yang lain. Banyak klien NEKI yang mahir membuat sulaman yang begitu indah, sayangnya disainnya tidak menjual sehingga karya mereka cuma berakhir di gallery NEKI. Ide yang lahir adalah membuat satu karakter. NEKI BOY and friends. Neki boy adalah anak 7 tahun yang hanya punya 1 kaki. Karakter ini akan dikembangkan oleh anak anak penyandang keterbatasan yang gemar melukis. Mereka akan menggambar NEKI boy dan aktifitas sehari harinya. “Neki pergi ke sekolah” atau “Neki bersama ibu ke pasar”, “Neki bermain bola”. Gambar akan dibebaskan, tapi ukuran gambar akan ditetapkan. Ukuran yang dipakai adalah ukuran untuk tempat pensil/tas kosmetik. Gambar anak anak yang naïf ini akan dipindah ke tempat pensil/tas kosmetik ini dengan sulaman yang dibuat oleh remaja yang gemar menyulam, sesuai dengan warna yang digambar. Anak anak yang gemar menulis puisi akan membuat puisi sesuai dengan tema di atas, dan puisi akan diselipkan di dalam tempat pensil/tas kosmetik.
Ide ini sangat baik karena melibatkan semua klien, dari anak anak sampai remaja. Semua akan mendapat ‘point’ dari apa yang mereka buat, dan ketika produk ini terjual, semua akan mendapat bagian. Karakter NEKI juga bisa menjadi ‘pesan’ tentang NGO ini yang disampaikan dengan ramah dan gembira. Neki Boy akan menjadi karakter yang bisa mensosialisasikan hak hak penyandang keterbatasan dan mempromosikan NGO ini. Semua gembira dengan ide ini dan semangat untuk mewujudkannya. Ide ini datang dari pelatihan dan brain storming setelahnya.

Saya cuma berada 2 minggu di NGO ini, dan rencananya penempatan saya akan diperpanjang 2 minggu lagi. Semua semangat karena dengan tambahan 2 minggu ini, itu berarti saya bisa membimbing mereka dalam memulai usaha ini. Saya berada di Dushanbe ini, karena penempatan saya di Khujand sedang tersendat masalah dana dari donor, sehingga vakum selama 2 bulan, dan VSO mencarikan saya penempatan lain selama saya vakum.

Ternyata kenyatan berkata lain, Caritas Switzerland yang membiayai penempatan saya di NGO Neki menolak untuk memperpanjang penempatan saya karena masalah pendanaan, dan VSO juga melarang saya bekerja di NGO NeKI bila saya tidak ada kontrak dengan Caritas. Saat ini saya sangat marah dengan VSO, karena saya tidak butuh dana apa apa dari Caritas, dan selama saya menunggu penempatan saya di Khujand, saya bisa tetap bekerja di NGO Neki. VSO melarang saya bekerja di NEKI. VSO punya pemikiran lain, saya akan menjadi pekerja illegal bila saya tetap ada di NEKI tanpa kontrak, dan saya bisa dipenjara untuk itu, melanggar peraturan imigrasi. Saat itu saya sangat frustasi, peraturan dan birokrasi membatasi saya untuk bisa membantu orang lebih banyak. VSO yang sangat kaku dan ‘taat birokrasi’ membuat saya gila. Dua projek yang akan saya buat dengan NEKI terputus begitu saja, direktur dan staff NGO yang saya bina juga tidak berani melanjutkan projek tanpa saya. Kerja saya sia sia.

Tapi kemudian saya berfikir, tidak ada yang sia sia dalam membagi ilmu. Mungkin saat itu, ide ini belum bisa diwujudkan, tapi benih ide dan pola pikir telah saya tanamkan. Mungkin saya tidak bisa melihat ‘hasil nyata’ dalam waktu cepat, mungkin jangka waktu panjang. Banyak hal seperti ini terjadi selama penempatan, harapan kita yang begitu tinggi dihancurkan oleh birokrasi.

***1***

Hari ini Umed akan berangkat ke Cambodia. Umed adalah pengumpul madu di Pamirs. Ia memiliki peternakan lebah di atas gunung. Pengumpul madu di pegunungan Pamirs memang tidak begitu beruntung. Pamir yang terletak 4000 m di atas permukaan laut membuat iklim dingin yang lebih lama. Bila pengumpul madu lain bisa panen 4 x setahun, Umed hanya bisa panen 2 x. Hasilnya lebih sedikit, dan lebah nya juga rentan. Bila musim dingin, lebah ini harus dipindah ke atap rumah, dan kemungkinan mati kedinginan atau terkena penyakit lebih tinggi. Madunya pun bisa mengkristal saat musim dingin, sehingga banyak yang mengira madu Umed adalah madu palsu. Umed harus menghangatkan madu sebelum dikemas.

Hari ini Umed akan berangkat ke Cambodia. Umed banyak berkonsultasi dengan saya tentang usahanya. Umed memiliki keahlian yang tidak dimiliki pengumpul lebah lain. Ia bisa membuat wine dari madu dan krim wajah dari bahan dasar madu. Ia belajar keahlian ini dari turis Amerika yang mengunjungi Pamir tahun lalu. Umed mengolah madu nya yang terbatas menjadi produk produk yang nilai jualnya lebih tinggi. Umed juga membuat lilin dari beewax (lilin lebah) yang selama ini dijual mentah mentah. Dengan membuat menjadi lilin, Umed bisa menjual beewax nya jauh lebih mahal. Saat ini toko organic di London menjadi pelanggannya. Karya nya sudah tertata dengan gagah di pusat kota London. Hal yang ia tidak pernah bayangkan sebelumnya. Umed memulai ini setelah mengikuti pelatihan saya tentang “Kreatifitas sebagai modal usaha”, saat ini saya menggali keahlian peserta pelatihan yang bisa dijadikan modal usaha. Hasilnya, Umed, memulai usaha lilin ini, dan ini menambah pemasukan bagi keluarganya. Ia juga mulai memberi ‘kursus’ bagi turis dan anak anak untuk mengukir lilin, dan mendapat pemasukan lagi dari kursus singkat ini.

Hari ini Umed akan berangkat ke Cambodia. Saya mendapat email dari VSO, bahwa Accenture, salah satu donor besar VSO mengadakan kompetisi untuk pengusaha kecil menengah se Asia. Hadiahnya USD 5000 berupa pelatihan dan network. Hanya akan ada 4 orang yang diseleksi dari puluhan aplikan se Asia. Empat orang ini akan diundang ke Cambodia untuk mempresentasikan usahanya dan bersaing menjadi pemenang. Menjadi nominasi saja sebenarnya sudah menjadi pemenang, mendapat kesempatan pergi ke negara lain dan melihat dunia yang lebih besar dari pegunungan Pamirs yang dingin. Saya membantu Umed mengisi lembar kompetisi. Bila berhasil, Umed akan berusaha meyakinkan para juri bahwa madu dari Pamirs, walaupun hasilnya terbatas tapi mempunyai nilai lebih, madu yang dikumpulkan lebah hanya dari bunga di atas gunung yang jauh dari bahan kimia. Sangat organic, dan madu yang berasal dari ketinggian di atas 4000 m dari permukaan laut mempunyai manfaat yang lebih besar untuk kesehatan. Tidak itu saja, Umed membuktikan bahwa dengan kreatifitas, ia berhasil menambah penghasilan dari aneka ragam produk yang ia produksi.

Hari ini Umed akan berangkat ke Cambodia. Ia terpilih menjadi nominasi, VSO memberi kabar ini 1 jam sebelum saya di operasi lewat skype. Saya sangat senang, Umed apalagi. Kabar ini membuat saya merasa tenang saat di operasi. Setidaknya ada pekerjaan saya yang berhasil di Pamirs.

Hari ini Umed akan berangkat ke Cambodia, berkompetisi dengan 3 nominasi lain dari seluruh Asia. Umed berkata lewat telefon “I will win it for you, Jeff.”, tanpa terasa mata saya berkaca kaca.

Hari ini Umed akan berangkat ke Cambodia. Umed, we are the winner !

***1***

Ketika penempatan saya tersendat 2 bulan, saya sempat uring uringan, apalagi usaha saya membantu NGO Neki terhambat urusan birokrasi. Karena saya banyak waktu luang, saya minta ijin ke VSO untuk mengunjungi Deborah di Mominobod, Tajikistan selatan. Saat itu saya tidak begitu dekat dengan Deborah, tapi kunjungan saya ke sana membuat saya menjadi dekat. Saya merasa ia adalah kakak tertua saya, tempat bercerita tanpa takut dinilai. Deborah berumur 60 tahun dan tidak menikah. Ia sempat ditanya oleh penduduk local “Kok bisa tidak menikah dan masih hidup?”. Pertanyaan yang membuat ia terkejut, tapi ia maklumi. Bagi orang Tajik, perempuan harus menikah dan suami akan menafkahi dia. Konsep single women, masih menjadi hal yang aneh disini. Perempuan harus menikah. Titik.

Dalam perjalanan ke Mominobod, saya bertemu Firuz di taxi, ia yang ramah mengajak bicara dalam bahasa inggris. Ke esok harinya, Firuz mengajak saya ke atas gunung, dan mengunjungi pamannya Ramadan, temannya, yang tinggal di atas gunung dan hidup dari apa yang ia tanam. Kisah paman Ramadan ini banyak menjadi inspirasi saya dalam menulis.

Perjalanan ke Mominobod membuat saya dekat dengan Deborah dan Firuz. Firuz sudah seperti adik saya sendiri, ia sekarang belajar di Istanbul, Turki. Setiap saya ke Istanbul, kita pasti bertemu. Dan pada saat ini, saya sedang di rumah sakit, Firuz mengunjungi saya 3 kali, dan membawa barang barang yang saya butuhkan. Saya tidak sendiri di Istanbul. Saya memilki seorang adik, Firuz.

Bila projek saya di Khujand tidak terhenti, saya tidak akan pernah berada di NGO Neki, saya tidak akan pernah ke Mominobod, saya tidak akan pernah bertemu Firuz. Saya melihat ini dari sudut yang lain. Semua kejadian ada alasan nya. Saat hal itu terjadi, kita menolak dan meronta, tapi pada akhir cerita, kita mengerti arti dari semuanya ini. There is always a silver lining in every cloud.

Saat ini saya tidak tahu apa alasan nya saya ada di rumah sakit selama 1 bulan. Saya tidak tahu mengapa saya jatuh dari tebing di Pamirs. Saya tidak tahu mengapa saya harus memakai 8 sekrup titanium yang saya masih tidak merasa nyaman. Saya tidak tahu mengapa saya masih belum bisa berjalan tanpa brace. Saya tidak tahu mengapa hal buruk terjadi pada saya. Tapi saya tahu, every thing come for a reason. Akan ada cahaya terang diujung lorong gelap ini. Saya masih menunggu akhir cerita saya.

Jeff – Istanbul (June 2012)

Tagged , , , , , , , ,

I’m Lucky (Tajikistan)

Ok, sudah lama saya ngak nulis di blog ini, dan lebih banyak nulis di FaceBook Note saya, tapi ada bbrp tulisan yang saya rasa cukup layak masuk blog ini, karena masih menyangkut pengalaman saya di Tajikistan. To make long story short, saya kecelakaan di Tajikistan, salah saya sendiri juga, naik gunung ngak hati hati :). saya terpeleset dan tulang belakang saya mesti dioperasi. Saya dievakuasi di Istanbul dan dipasang 8 sekrup titanium, dan sekarang masih pemulihan dengan physiotherapy agar kaki saya kembali normal. Ok Ini cerita saya.. 🙂

Satu minggu sebelum saya jatuh di tebing, saya mendapat kabar bahwa Saokat, salah satu staff NGO kami jatuh dari atap rumah dan luka luka, kabarnya tangan dan kakinya patah. Saat itu kita semua hanya bisa bersimpati dan memberi sedikit bantuan dana. Saokat pergi ke rumah sakit local, dan akhirnya dirawat di rumah. Saya tidak tahu apakah karena ia baik baik saja atau ia tidak yakin dengan rumah sakit di Khorog. Banyak penduduk local yang tidak percaya dengan dokter disana . “Dokter dokter terbaik sudah ‘lari’ ke Afganistan, karena mereka dapat uang lebih banyak disana.” Kata Yorali, direktur NGO saya. Biaya rumah sakit tidak jadi masalah disini, karena rumah sakit Khorog memberi layanan gratis kepada penduduknya. Tapi apa artinya gratis, kalo pelayanannya buruk?

Saya juga pergi ke rumah sakit ini, satu hari setelah saya jatuh, saat it saya hanya membayar biaya rontsen sebesar 20 somoni, atau sekitar 40 ribu rupiah untuk 2 x rontsen. Murah meriah kan? Walau hasil rontsennya ditertawakan oleh dokter di rumah sakit Istanbul, karena kwalitas nya yang buruk.

Saya cukup beruntung, bisa ditangani lebih lanjut secara professional, Saokat hanya bisa istirahat di rumah, dan berharap Tuhan menyembuhkannya. Mungkin dia akan percaya dengan dokter di Khorog, bahwa ia tidak apa apa,dam tidak ada yang membahayakan. Ketika saya ke rumah sakit Khorog, dokter juga berkata saya tidak apa apa, tidak berbahaya, hanya perlu ke Dushanbe untuk memakai korset dari besi dan saya akan baik baik saja. Kenyataannya, saya tidak baik baik saja, dokter VSO di Dushanbe dan professor di Istanbul menyatakan kondisi saya tidak parah, tapi mengkhawatirkan, karena bila dibiarkan, tulang spine saya akan terus bergeser, dan bisa rubuh mengenai syaraf dan saya akan lumpuh. Analisa yang berbeda dengan dokter di Khorog.

Saya berharap Saokat sungguh baik baik saja, dan bisa sembuh total, dan tidak ada masalah di kemudian hari. Saya teringat dengan Wayan Edi, anak asuh saya di Denpasar, yang pernah patah tulang kaki karena main layangan, namun karena tidak ada biaya dan anggapan ‘nanti juga sembuh sendiri’ membuat ia menghadapai masalah lebih serius. Ia memang sembuh sendiri. Tuhan memang luar biasa menciptakan tubuh kita yang bisa menyembuhkan diri sendiri. Edi merasa kaki nya sudah sembuh, tapi kenyataannya tidak. Tulang Edi ‘menyembuhkan’ dengan cara yang salah, ia sembuh tapi juga itu menyebabkan kanker tulang. ‘Sembuh sendiri’ memang salah satu penyebab kanker karena tubuh membaca kode yang salah.

Edi akhirnya harus diamputasi. Hari yang berat baginya, tapi ia tetap semangat. Setelah diamputasi, ia bergabung dengan Yakkum Bali sebagai salah satu peserta program “Pelatihan singkat menuju dunia kerja bagi diffable” dimana saya menjadi salah satu relawannya. Saya masih ingat betul kata kata Edi ketika pertama kali bertemu, “Dulu saya normal,pak. Sekarang saya cacat”. Kata kata yang sering saya dengar dari teman teman penyandang keterbatasan. Selain terlahir dengan keterbatasan, banyak juga yang menjadi ‘special’ karena kecelakaan lalu lintas, korban radiologi dan bencana alam. Indonesia dengan kondisi alam yang rentan bencana, membuat banyak diffable baru setiap tahunnya. Sayangnya, perhatian pada hak hak diffable masih sangat minim di Indonesia.
Kisah Edi tidak berakhir disana, ternyata kankernya menyebar ke paru paru, dan sudah mencapai stadium akhir, ia tidak bisa berbuat apa apa, kecuali berserah. Edi akhirnya dipanggil Tuhan satu minggu setelah saya mempertemukan Edi dengan band favoritnya “Superman is Dead” di rumah sakit. Terima kasih Jerink dkk ! Satu hal yang membuat ia merasa ‘sembuh’ karena saking bahagianya.

***1***
“Untung ngak kenapa kenapa”
“Untung Cuma kena punggung aja, kalo kena kepala , udah gegar otak!”

Seperti layaknya orang Indonesia kebanyakan, saya masih merasa ‘beruntung’, walau mendapat kecelakaan ini. Untung saat saya jatuh dari tebing, saya sedang memakai contact lens, kalau saya memakai kaca mata, mungkin kacamata saya pecah dan melukai mata saya saat jatuh dan tanpa penglihatan yg jelas, akan lebih sulit saya mencari jalan pulang.

Untung saya membawa obat darah tinggi saya (saat itu entah kenapa saya membawa peralatan P3K) di tas saya, sehingga 1 jam setelah jatuh saya masih bisa minum obat darah tinggi dan aspririn dengan air sungai. Ketika saya menceritakan ini ke dokter VSO, ia berkata “Sekarang saya tambah khawatir dengan air sungai yang kamu minum itu !”. Tapi mungkin karena air sungai yang segar dan obat itu saya masih bisa berjalan kaki 3 jam setelah jatuh dengan kondisi punggung seperti itu.

Untung saya jatuh antara jam 11-12 siang, sehingga saya tidak kemalaman di jalan, dan saya punya semangat lebih untuk mencari jalan pulang. “Masih ada waktu 6 jam sampai matahari terbenam”, kata pikiran saya ketika mencari jalan pulang. Akan sangat mengerikan berada dalam kegelapan di gunung yang tidak saya kenal lokasinya.

Untung saya bekerja sebagai relawan VSO yang mendaftarkan saya pada asuransi yang baik. Saat ini semua biaya evakuasi dan rumah sakit discover pihak asuransi, sehingga pikiran saya tidak khawatir soal itu. Saya juga mendapat fasilitas nomor satu, rumah sakit terbaik, kamar terbaik, penerbangan terbaik, saya merasa dimanjakan. Bahkan seorang Medical Escort didatangkan dari Moscow hanya untuk mengantar saya ke Istanbul dari Dushanbe.

Sebagai relawan VSO, terkadang kita banyak menghadapi tantangan dan kondisi yang serba terbatas di penempatan kita, tempat tinggal yang sederhana, makanan yang terbatas, dsb, tapi saat kita sedang dalam kesulitan seperti yang alami saat ini, mereka ada di garda terdepan untuk menjaga saya dengan baik.

Saya beruntung menjadi relawan VSO !

***1***

Sudah 22 hari saya di rumah sakit, jauh lebih lama dari luar perkiraan saya dan dokter. Kondisi fisik saya sudah bugar, hanya saja saya memang masih belum bisa banyak mengerakan kaki saya. Jangankan belajar berjalan, belajar duduk saja masih sulit. Semua memang sebuah proses. Sekecil apapun ‘progress’ yang saya dapat, saya syukuri. A small progress is still A progress ! Walau sering kali kita tidak menghargai itu, dan mengharap semuanya serba cepat. Mungkin hidup saya sebelumnya bergerak terlalu cepat, kini saatnya saya ‘take it slow’ dan merasakan bagian bagian terpenting dalam hidup, yang mungkin tadinya tidak berarti, karena saya abaikan keberadaannya.

Tadi malam, saya hampir berteriak kegirangan ketika saya bisa mengerakan kaki saya dalam posisi yang baru. Saya sudah bisa menendang sekitar 30 cm dengan posisi badan tidur menyamping. Lutut saya menggerakkan tungkai bawah saya. Walaupun itu hanya ‘tendangan kecil’ , tapi saya bisa mensyukuri hal itu. Pagi ini dengan bangga saya memamerkan itu ke dokter dan fisio terapis saya, dan mereka juga merasa senang.

Terkadang memang begitu mudah kita melupakan hal hal kecil dalam hidup. Begitu mudah kita untuk lupa bersyukur untuk hal hal kecil. Kita terlalu bangga dengan pencapaian pencapaian terbesar dan terbaik kita, dan melupakan proses kecil yang membuat pencapaian itu begitu berarti.

Kini setelah lebih dari 2 minggu hanya berada di tempat tidur, saya merindukan banyak hal sederhana dalam hidup. Hal hal kecil yang dulu saya acuhkan. Saya merindukan untuk bisa ‘nongkrong’ berjam jam di toilet lagi, saya merindukan bisa membersihkan badan saya sendiri tanpa bantuan perawat, merindukan tidur nyenyak tanpa perlu obat penahan sakit dan saya merindukan bisa berjalan lagi.

Saya yakin, suatu hari saya bukan hanya bisa berjalan lagi, tapi juga berlari kencang. Dan saya berjanji akan menghargai setiap ‘tendangan’ yang saya langkahkan.

Jeff – Istanbul 12 June 2012

Tagged , , , ,

Comfort Food (Tajikistan)

Kalau ditanya apa yang mesti dibawa volunteer ke negara penempatannya? Jawaban saya adalah Comfort food ! Awalnya saya tidak begitu merasa membawa makanan Indonesia adalah hal yang penting, tapi setelah lama di Tajikistan, saya merasa ini SANGAT penting.
Kita tidak butuh makanan mewah, lobster atau udang galah (beberapa penempatan makanan ini malah mudah didapat), tapi makanan yang bisa ‘mengkoneksikan’ kita dengan akar rumput kita.

Ketika saya datang ke Tajikistan pertama kali, saya membawa selimut duvet tebal, dan jadi bahan tertawaan Anne, country director VSO Indonesia saat itu. “Don’t you think Tajikistan have duvet too?”. Saat itu saya mengganti duvet tebal itu dengan tambahan bahan makanan.

Bumbu pecel, terasi, cabe kering/botol, bumbu instan, rempah2 Indonesia (biji pala, kayumanis, lengkuas bubuk, sereh kering –yang ini saya special minta teman keringin!), dan santan bubuk. Makanan yang sepele bagi orang Indonesia, tapi bagi volunteer, itu menjadi makanan yang berharga.

Ada saat nya, kita ‘bosan’ makan makanan negara setempat, atau seringkali malah tidak cocok (kecuali yang dapat penempatan di negara2 Asia spt Thailand-surga makanan enak!), comfort food jadi juru penyelamat kita !

Hari ini, saya dikirimi ½ kg toge, daun bawang, peterseli dan jamur dari ibukota Dushanbe. Teman saya, ‘pejabat’ lembaga Jepang datang ke Khorog dengan helicopter, dan toge itu pun naik helicopter. Di Khorog, Cuma ada 4 jenis sayuran : wortel, kentang, lobak hijau dan kol. Hari ini kol sudah tidak ada di pasaran, jadi Cuma ada 3 jenis sayuran ! Kota Khorog beraada di atas gunung, perlu 2 hari untuk mencapai nya dari Ibukota Dushanbe, sehingga sayuran yang cepat layu, pasti tidak tersedia disini. Penduduk local juga tidak bisa menamam, karena suhu terlalu dingin untuk sayuran jenis tersebut. Oh ya.. toge itu pun cuma ada di Dushabe, dijual oleh 1 orang saja. Saat ini, bagi saya Toge adalah makanan paling berharga. 

Punya ’keahlian’ masak masakan Indonesia juga bisa menjadi jurus ampuh meluluhkan kebekuan dengan masyarakat setempat. Saya seringkali mengundang teman teman local, untuk menikmati makanan Indonesia. Setiap orang senang makan, dan senang mencoba makanan ‘baru’. Bumbu instant Indofood/Bamboo akan jadi penolong setia. 
Saat saya bertugas di Khujand tahun lalu, ada ke’tegangan’ antara staff local dan volunteer. Saat itu ada 2 volunteer, saya dan Ashleigh, yang bertugas 1 bulan saja disana. Saat itu saya berinisiatif mengundang mereka semua ‘makan siang’ bersama. Saya masak soto ayam di kantor. Thank you to Indofood.  Semua menikmati, dan saat makan, keakraban terjalin.

Hobi memasak saya, membuat saya dikenal sebagai chef di VSO Tajikistan, dan saya berinisiatif membuat FaceBook group “Cooking with Limitation, recipes from VSO volunteers”. Group ini sudah mencapat 240 anggota sekarang, sebagian besar adalan VSO volunteer dari segala penjuru dunia. Saling menukar resep di negara penempatannya menjadi hal yang seru dan mengasyikan, terutama berbagi tips memasak dengan keterbatasan. Bagaimana membuat roti tanpa oven, membuat pasta tanpa alat pembuat pasta, atau menbuat kecap manis sendiri !

VSO headquarter pun melirik group ini, dan menjadikannya sebuah buku ! Buku tersebut sekarang di jual 5 pondsterling untuk penggalangan dana “taste of the world”. Dua resep saya masuk dalam buku tersebut 
Memasak bagi saya adalah penghilang stress sekaligus mengusir kebosanan. Makanan juga bisa mengenalkan budaya setempat. Makanya, setiap bepergian saya paling senang masuk pasar tradisional dan supermarket, disana, kita bisa melihat budaya asli penduduk setempat, makanan yang mereka makan, bumbu yang mereka pakai, semua adalah budaya yang tersaji dalam masakan.

Memasak makanan Indonesia untuk teman teman Tajik, dan volunteer dari negara lain, secara tidak langsung saya memperkenalkan “Indonesia”, tanpa bermaksud menjadi ‘duta negara’ . Banyak teman teman volunteer yang merencanakan datang ke Indonesia tahun depan untuk menikmati masakan Indonesia lagi. Kalau saya ke Dushanbe, volunter2 sudah menanti saya memasak untuk mereka. They miss Indonesian food ! 

Ketika saya pulang ke Indonesia Desember lalu, saya juga memperkenalkan masakan Tajikistan ke teman teman di Indonesia. “Tajik Food Festival” saya adakan 1 malam di Warung Warung Restaurant, Mal Bali Galeria, saya dan tim dapur memasak sekitar 12 masakan Tajikistan. Tanpa disangka, makanan yang melimpah itu habis dalam waktu kurang dari 1 jam !
Sebelum saya ke Tajikistan, saya tidak tahu dimana itu Tajikistan, begitu juga teman teman saya di Indonesia, sekarang setidaknya mereka tahu, ada negara Tajikistan, ada 1200 teman facebook saya yang tahu negara ini. Sekarang teman teman Indonesia lebih mengenal Tajikistan lebih dekat lewat makanan yang saya buat.

Makanan memang menjadi hal penting dimanapun. Disini, sangat tidak sopan untuk menolak makanan yang disediakan tuan rumah, kadang saya merasa kekenyangan karena terus menerus di tawari makanan “Jeff, eat ! eat !” kata mereka setengah memaksa. Dan mereka tersenyum lebar ketika saya mencoba dan bilang “Hm.. Bomaza ! Bisior bomaza!” Enak! Enak banget !

Untuk volunteer baru, perlu juga membawa makanan siap santap, karena kadang di hari hari pertama sangat sulit untuk menyesuaikan diri. Saya ingat, saya tiba di Tajikistan jam 4 pagi, dan langsung di drop di volunteer’s house, dan saya sangat kelaparan. VSO Tajikistan saat itu tidak mempersiapkan makanan atau minuman untuk menyambut volunteer yang baru tiba (ini menjadi kritik saya ke VSO, dan sekarang mereka selalu memberi welcome drink & biscuit kepada volunteer yang baru tiba). Saat itu saya berfikir, coba saya bawa Indomie, saya bisa masak Indomie setidaknya untuk malam itu. 

Saya susun daftar barang yang perlu dibawa oleh volunteer
1. Makanan siap saji (Indomie, abon, dendeng, dsb)
2. Bumbu masakan instant (Indofood dan bamboo favorit merek saya, Munik utk ayam goreng)
3. Bumbu dapur (bumbu pecel, terasi, cabe kering/botol, kecap manis, lengkuas bubuk, gula merah, asam jawa, kayumanis, bji pala, kemiri, udang kering/ebi) – tergantung kebiasaan masak kalian. Cek resep masakan setempat di internet, mungkin bumbu yang kita pakai juga biasa dipakai disana.
4. Saos botolan. Ini penyelamat masakan saya. Saya bawa Saos Tiram dan Saos teriyaki. Dengan pake saos botolan, masak jadi gampang dan rasa pasti enak.
5. Pembuka kaleng (di beberapa Negara, spt tajikitan, tidak ada yang menjual pembuka kaleng, jadi harus buka dengan pisau!)
6. Bibit sayuran (bibit kangkung, bayam, cabe, tomat), bila mujur, bisa menanam dan memanen sendiri ! seperti yang Rini lakukan di Guyana !
7. Pakaian tidak perlu bawa terlalu banyak, kita datang bukan untuk fashion show.  Cukup 3 celana panjang, 3 kemeja, 3 kaos, kaos kaki dan pakaian dalam. Bila ke Negara dingin, jangan lupa bawa longjoan (baju dalam hangat) dan mantel
8. Sepatu boot yg durable, selain sepatu formal untuk kerja.
9. Senter (head torch lebih baik), beberapa negara masih punya masalah dengan listrik.
10. Obat2an, bawa yang standar saja (obat panas, sakit kepala, diare, minyak kayu putih, Antangin, obat merah, vicks/balsem, antibiotic, obat sakit gigi). Kalau sakit yang lebih parah, VSO akan merujuk ke rumah sakit setempat.
11. DVD ! Kalau bisa simpan saja di laptop/external hard disc !
12. 2-3 judul buku Indonesia, jangan bawa terlalu banyak, berat ! Cari informasi tentang Book Club di kota penempatan, seringkali orang orang asing suka berbagi buku2 mereka.
13. Alat mandi khusus, saya membawa Biore untuk cuci muka, karena harganya sangat mahal disini.. Cek dengan negara setempat. Protect & gamble sudah menyebar di seluruh dunia, hampir semua negara sudah ada sabun dan shampoo. Biasanya di Ibukota, ketika sampai di Ibukota, segera cari di supermarket setempat.
14. Bawa foto keluarga, foto tentang Indonesia (printed, jangan disimpan di laptop- belum tentu ada listrik), peta dunia kecil, bawa pecahan kecil rupiah. Masyarakat setempat akan senang mendengar dongeng anda tentang Indonesia. Bagi koin /pecahan uang kecil, bisa jadi souvenir yang berharga untuk mereka. Permen khas Indonesia bisa dibawa kemana mana, dan dibagikan.. gula asam atau tenteng jahe. 
15. Bring something from home. Sebelumnya saya merasa bodoh membawa bantal kecil dengan kain batik, tapi sekarang saya tidak menyesalinya.. Saya merasa ‘terhubung’ dengan Indonesia ketika tidur di bantal batik saya.  Kalau punya boneka masa kecil, kenapa tidak dibawa?

VSO hanya memperbolehkan kita membawa 20 kg +5 kg (kelebihan 5kg akan diganti oleh VSO), biasanya kita bisa negosiasi dengan armada penerbangan kita. 3-4 kg biasanya dimaklumi. Kalau mau, usahakan keringanan jauh hari sebelum berangkat. Kirim email ke armada penerbangan bahwa kita pergi untuk volunteering dan misi kemanusiaan, biasanya ada keringanan sampai 20 kg !

Happy volunteering !

Tagged , , , , , , ,