Category Archives: Nina Silvia

Sekilas Rangamati Part 2 (Bangladesh)

System Administrasi Pemerintahan

Selain administrasi Govt of Bangladesh yang membagi wilayah menjadi district, upazila, mouza dll, di sini juga masih berlaku pemerintahan tradisional Chakma (suku mayoritas di Rangamati Hill District), Chakma Raja/ Chakma Chief adalah mitra Govt Bangladesh dalam urusan pengelolaan tanah adat, dan pengumpulan pajak. Selain itu, Chakma Raja adalah symbol pemersatu dan budaya IP. Hanya di Hill Tracts District saja, adanya pemerintahan tradisional, tidak ada hal serupa ini terjadi di plain district. Saya bekerja di kantor Chakma Raja untuk satu tahun ke depan (sekarang tinggal 8 bulan lagi). Kantor kami menjadi salah satu objek wisata yang menarik banyak pengunjung setiap harinya, selain itu pulau Raja (Rajdib) lokasi kantor dan kediaman raja juga berdekatan dengan Vihara terbesar di Rangamati yang juga terbesar di Bangladesh, dua objek wisata andalan Rangamati.

Transportasi

Karena kondisi geografisnya, perahu kayu  bermesin tempel (don-feng) menjadi salah satu moda transportasi utama yang menghubungkan kota Rangamati dengan Mouza (kecamatan) sekitarnya, sementara didalam kota, Taxi/Bajaj berbahan bakar Natural Gas mendominasi jalanannya. Tidak ada Rishaw di sini, keputusan yang cerdas karena pasti sangat berat bagi Rishawalla kalau harus menggoes di kota berbukit ini. Ada juga bus kota bagi pelajar dan mahasiswa, dan bus antar kota yang kondisinya sesuai dengan kemampuan kantong, mulai dari bus yang ga jauh beda kondisinya dengan P71, hingga bus ber AC yang bikin kita sakit saking dinginnya. Tapi bus AC hanya untuk perjalanan ke Dhaka (10-12 jam).  Harga tiket dan transportasi sehari-hari juga tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan Indonesia, Bajaj yang beroperasi seperti angkot, 10 taka (Rp 1250)dari rumah saya ke pasar Banarupa yang berjarak 10menit perjalanan , Bus malam Rangamati-Dhaka (10-12 jam ) 400taka, Bus AC Rangamati-Dhaka 700Taka

Untuk transportasi dari kota-kota kecamatan yang tidak dilewati oleh danau biasanya ada Jeep, modifikasi dari Jeep peninggalan penjajah Inggris, bodi di perpanjang, dan akhirya malah mirip Land Rover 😀 suatu hari nanti saya pengen mencoba naik Jeep dan duduk di atas kabnya bersama kaum lelaki IP.

Bank dan ATM

Lonely Planet yang saya punya menyatakan tidak ada ATM di Rangamati, ga tau mereka update terakhirnya kapan, tapi saat ini sudah ada dua mesin ATM besar disini, satu di pasar Banarupa, dan satu lagi di Reserve Bazar, tidak jauh dari rumah Paul, VSO Volunteer asal Kenya. Cuma saya belum pernah mencoba apa bisa menarik uang dari sana, Alhamdulillah sampai saat ini VLA (Volunteer Living Allowance) cukup-cukup saja dari bulan ke bulan.

Pusat Perbelanjaan:

Pasar Banarupa sebagai pasar utama, buka setiap hari dari pagi hingga malam hari, dalam budaya South Asia, yang belanja ke pasar itu adalah laki-laki, namun dalam kalangan IP, tidak jadi masalah siapa yang ke pasar sehingga di pasar ini akan kita lihat banyak sekali kaum laki-laki Bengali belanja sayuran dan wanita Chakma/IP berbelanja dan berdagang. Menjadi pemandangan yang langka bisa melihat wanita etnic Bengali berdagang di pasar. Ada dua hari pasar utama  Rabu dan Sabtu (sama dengan hari pasar di Bukittinggi) dimana orang dari kampung-kampung pedalaman dan perbukitan datang dengan bus, perahu, jeep, atau berjalan kaki membawa hasil ladang dan hutan. Di dua hari ini akan lebih banyak lagi kita lihat IP dengan fashionnya yang unik dan asyik.

Khusus tentang pasar, belanja atau sekedar jalan-jalan di pasar adalah kegiatan favorite saya. Melihat sayuran-sayuran unik, dari ladang dan hutan adalah kesenang tersendiri, banyak jenis tumbuhan yang tidak di makan oleh orang-orang di kampung saya, bisa di ubah menjadi makanan yang enak oleh tangan Indigenos People, seperti inti pohon pisang :D. Pasar juga memberikan kesempatan melihat keragaman budaya di Rangamati, pedagang wanita yang dengan santainya menghisap Dava (hookah), fashion style, ornamen dan aksesoris, semuanya bisa ditemui di hari pasar.

Fasilitas Publik

Rangamati memiliki beberapa taman kota, tidak terlalu besar tapi cukuplah buat duduk-duduk sore hari, satu stadium yang hanya sepelemparan batu dari rumah saya, museum tribal, Rangamati college, beberapa sekolah pemerintah dari dasar hingga lanjut atas. Beberapa Bank, dan dua terminal.

Rumah ibadah lengkap jenisnya disini,  karena mayoritas IP/Chakma adalah penganut Buddha yang taat, maka ada beberapa vihara yang menjadi rumah bagi ratusan bikshu. Ada beberapa mesjid bagi muslim Bengali, ada temple buat orang hindu, dan ada gereja juga bagi sedikit masyarakat IP yang Kristen.

Belum nemu kantor pos, mungkin sama nasibnya dengan Pos Indonesia, tidak ada yang tahu dimana lokasinya, budaya surat-menyurat sangat lemah dan tidak serius pengelolaannya, tapi akan segera saya cari karena udah janji mau kirim kartu pos buat para sahabat.

Sekilas Rangamati Part 1 (Bangladesh)

Saya sudah pernah mendengar nama Bangladesh jauh sebelum saya datang ke sini, bahkan saya pernah tergila-gila dan ingin datang ke sini karena sangat suka dan kagum dengan Prof. Muhammad Yunus, bapak micro-credit dunia. Dan saya pikir orang Bangladesh itu wajahnya sama/mirip dengan orang India, sungguh, karena kekuperan sayalah yang membuat saya sangat shock mengetahui kalau ada orang selain Islam dan Hindu yang wajahnya mirip dengan orang Indonesia, hidup dan diakui sebagai penduduk asli salah satu daerah di Bangladesh,  tetangga saya di sini mirip sekali dengan orang-orang Dayak yang saya temui di Kalimantan dulu, berkulit kuning langsat, mata agak sipit, dan berambut hitam legam. Mirip dengan wajah Thailand, mirip juga dengan orang Nias, Dayak, Myanmar.

Pertama kali kata Rangamati muncul dalam kosakataku sesaat setelah mengiyakan tawaran Glenn dari VSO Bahagianan-Manila awal January 2011 lalu, bahwa ada post Management Adviser di sebuah organisasi di Bangladesh. Segera setelah proses yes or no yang hanya berlangsung dalam hitungan jam, saya menerima satu paket informasi, Placement Document, itulah pertama kalinya tahu bahwa ada tempat bernama Rangamati di perbukitan Chittagong, Bangladesh, soon it will be my home for the next one year. Deg-degan, unsure, excited, semua bercampur jadi satu yang dibulatkan menjadi tekad.

After all, beside my mother’s home, there was no other place that can be called home for me at this moment, someone just pulled me out of his life, (cant blame him though), definitely this choice was not a runaway from that, but the whole scenario just strengthened my decision to go, to understand the world from distance place,  where things are new and strange.

Berikut adalah sepenggal gambaran umum kota Rangamati yang saya ambil dari berbagai sumber dan pengalaman langsung.

Rangamati adalah salah satu dari tiga district, Chittagong Hill Tract(Rangamati District, Bandarban, Kagrachari), dengan total luas area 6116.13 sq km, berbatasan lansung dengan Tripura State, India di sebelah utara, District Bandarban di sebelah selatan, Mizoram State-India dan Chin State-Myanmar di sebelah timurnya, dan Khagrachari District serta kota Chittagong disebelah barat.

Temperature rata-rata, max 34.6 C dan min 13.4 C curah hujan 3031mm, dilintasi oleh beberapa sungai besar dan kecil diantaranya Karnafuli, Thega, Horina, Kassalong, Sublang, Chingri, Rainkhiang dan Kaptai. Hanya Karnafuli yang sangat besar, tapi tentunya masih kalah dengan airnya sungai Segah di Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Yang lain hampir selalu kering di musim panas sekitar bulan April hingga Juni.

Kota ini adalah salah satu tourist spot-nya Bangladesh, yang di kenal orang sebagai “Lake City”  2 jam perjalanan dari Chittagong (kota nomor 2 terbesar di Bangladesh), atau 77 km distance. Sulit dibandingakan dengan kota-kota di plain areanya Bangladesh, kota Rangamati yang terhampar di sebelah barat Danau Kaptai, (danau buatan terbesar yang dibangun saat Bangladesh masih menjadi East Pakistan awal 60-an), dikaruniai dengan landscape yang sangat indah, alam yang permai, danau, pulau-pulau kecil, dan 11 macam suku Indigenous Peoples, IP( Chakma, Marma,  Tanchangya, Tripura, Khayang, Chak, Mru, Bam, Lusai, Pangkuya, Kumi). Tidak hanya itu, Rangamati juga dipenuhi oleh pohon-pohon besar, yang berbunga indah pada musimnya, ada pohon Champa, Krisnachura, Ashoka, dan lain-lainnya.

Orang-orang datang ke Rangamati untuk menikmati segala kemewahan yang tidak mereka dapatkan di tempat asalnya, seperti jalanan yang sepi, udara yang bersih, langit yang biru, karena secara umum kota-kota di Hill Tracts memang lebih sedikit penduduknya di bandingkan kota di Plain area yang didominasi oleh ethnic Bengali. Sebagai catatan, program family planning berhasil diterapkan dikalangan IP, rata-rata mereka hanya memiliki satu atau dua anak, berbeda dengan etnis Bengali yang berpendapat banyak anak banyak rezeki J  Daya tarik lainnya dari Rangamati adalah, museum tribal, jembatan gantung, textile lokal, perhiasan, melihat masyarakat tribal yang berjualan di pasar, memancing di danau Kaptai, atau sekedar raun-raun dengan perahu kayu di danau Kaptai.

Tidak ada angka yang jelas dari semua sumber saya, tapi penduduk kota Rangamati (small town) bukan kabupatennya, tidak lebih dari 100.000 jiwa. Mungkin saya yang menggenapkannya J yang dulunya rasio antara etnis Bengali dan IP adalah 20:80 sekarang sudah menjadi 50:50, tentu karena kekuatan produksi etnis Bengali.

Bermula dari Sebuah Panggilan (Bangladesh)

20110405-133446.jpg

Raiyan Kamal Bhai

Seperti halnya di Indonesia kita punya banyak sekali titel untuk memanggil seseorang seperti :

Gek Marina
Bli Jeff buat cowo di Bali
La Ode Leno biasa di pakai di daerah buton dan sekitarnya
Mas Hasto, doi dari Semarang
Bang Tony biasanya dari Medan atau Sumut dan kalau di ITB dia juga anggota UKSU
Uni Nina, Adiak Ollie makannya pedas dan berkuah santan, setiap ketemu perempatan pasti pengen buka warung padang dan fotokopian
Teh Anouk, Ceu Lea, Mang Iin, Bi Ntat, Kang Ibing Neng Syal: biasanya suka lalapan, suka juga lauk asin dan dulu pisan suka jajan cireng
Mba Yuma, Mba Ermi, suka apa yaaa tapi Mba Yu di depan rumahku di Bukittinggi suka banget tempe bacem dan tahu kecap!

Kata sandang bagi nama-nama di Indonesia seringnya menunjukkan dari mana asal seseorang. Gitu ga seeh ??

Lain dengan Bangladesh,
Untuk wanita yang lebih tua sedikit dari aku, seperti contoh Country Director VSO, semua orang memanggil ” Shahana-apa” atau Sister Shahana, beliau adalah Bengali Islam. Dan officer baru gabung dengan VSO “Sarah-didi” atau Sister Sarah, dia berasal dari kelompok minoritas kristen di bagian utara.

Mitra kerjaku di Chief Circle Office di Rangamati biasa aku panggil “Subrata-dada” keturunan suku Chakma, wajahnya mirip orang burma/thai penganut agama Buddha.

Dan teman couchsurfing dari Dhaka, Computer Scientist yang sangat jenius, yang mangajarkan aku naik Rikshaw pertama kalinya “Raiyan-Bhai” Brother Raiyan, keturunan Bengali Asli, bapak dan ibunya akan pergi naik haji.

Tak beda dengan Indonesia, di sini juga ada masalah laten dengan perbedaan agama, dan dominasi suku mayoritas. Beruntung sekali aku sekarang bisa merasakan menjadi bagian masyarakat minoritas. Berbeda dari tampilan fisik dari kebanyakan orang Bangladesh, aku adalah bagian dari “Adivashi” – non Bengali ethnic, and live within Indigenous People.

Hidup bersama masyarakat Chakma, punya muka yang juga mirip dengan mereka menumbuhkan rasa solidaritas dan pengertian tentang apa yang mereka rasakan.

Aku seperti melihat diriku Nina yang Muslim, dari Indonesia Bagian Barat, dalam posisi mayoritas bengali di sini.

Mudah-mudahan sedikit demi sedikit dengan placement ini, aku benar-benar bisa memahami apa yang sahabatku Jemmy, Diah, dari Biak rasakan selama ini.

Sungguh dunia ini di ciptakanTuhan untuk semua, tidak ada kepentingan sebuah kelompok sebesar apapun dia, yang lebih penting dari kelompok lainnya, tempat dan ruang di bumi ini pasti cukup bagi semua budaya.

Nina Silvia – Indonesian VSO Volunteer in Rangamati Hill District, Bangladesh

Tagged , , , ,

Misteri Murah & Mahal (Bangladesh)

Ini satu hal lagi yang menarik dari tinggal di negara baru, dan yang mata uangnya tidak familiar bagi kita. Bulan pertama aku sibuk mengkonversi semua harga dari take ke dollar, trus ke rupiah, belum punya sense tentang sesuatu harga, apakah ini murah atau mahal, karena otakku masih dalam rupiah.

Tapi di bulan kedua ini masalah tersebut udah aku selesaikan sebagai contoh : jika US$ 1 = 70 taka
1 pak kotex isi 8 panjang 26cm, wings = 107 taka Mahal!
1 kotak juice mangga 250 ml merk pran produk Bangladesh = 16 taka = normal , juice kotak d indonesia juga Rp 2500- 3rban
1 kotak juice jeruk brand US 250 ml = 88

Ok berikut harga-harga 9 bahan pokok
1 kg beras kualitas super, bulir kecil warna putih = 85
1 liter minyak goreng kedelai = 105
1 kg gula pasir = 68
1 tabung gas = 1300 ini mahal bgt !!

Apalagi ya 9 bahan pokok ? Lupa euuy..

1 ikat sayur bayam = 10
1 sloki teh susu = 5 taka (pinggir jalan)
1 roti tawar ukuran sedang = 30
susu dancow 400gr = 210
1 kg jeruk = 110
1 kg apel royal = 170
1 botol hand body lotion UK brand = 410
air mineral 500ml = 12
ongkos bajaj tp sharing 5 orang ke pasar one way = 10
TV 14 inchi merek tak terkenal = 7500 ( ga sanggup beli)
1lusin telur = 70
1 ekor ayam broiler ukuran sedang = 170
Tiket pp Dhaka – kathmandu = 17000

Volunteer allowance tentunya ga cukup untuk beli tiket ke kathmandu. Tapi herannya… Di akhir bulan masih bisa ada sisa.

Rahasia hidup hemat ternyata sangat sederhana “only buy what you need and consume local product” !

Dan lebih mudah lagi hal ini dilakukan karena aku tidak punya pilihan selain hidup sederhana.

Tagged , , , , ,

Our Language is very easy (Bangladesh)

Tadi malam, dari rumah menuju Pasar Banarupa, aku singgah sebentar di warung serbaneka yang tidak jauh dari rumah dan tempat menunggu bajaj.

Ibu-ibu Chakma ( ethnic minoritas di Bangladesh) menyapa, dan mematut-matut kameez salwar cantik untuk aku pakai di Perayaan Bizu pertengahan bulan ini. Kami berbicara dalam bahasa campur aduk, dia dengan Bangla, aku dengan inggris patah-patah.

Tiba-tiba seorang bapak-bapak yang juga sedang memilih-milih baju nimbrung d percakapan kami, dalam bahasa mereka, dia bertanya kepada ibu tersebut kenapa tidak berbahasa Chakma, si ibu menjelaskan bahwa, Muhila(wanita) ini, volunteer dari Indonesia yang sedang mengabdi di kantor Chief ( raja). Dia bahasa Inggris.

Tanpa ba bi bu, bapak yang ternyata Executive Engineer, di kantor setingkat Gubernurannya di Indonesia, bertanya dengan Inggris yang sangat sempurna” why dont you learn Chakma ? Our language is very easy, how long you have been here?”

dengan bodohnya aku menjawab bahwa training yang ku dapat dari VSO hanya Banla, dan bahasa Chakma sulit terdeteksi oleh telingaku. Bapak ini memandangku gusar, gemas sekali di sepertinya kepada ku, yang bilang bahasanya sulit bagi telingaku, ” no! Chakma is very easy, we have less words than Bengali, you live with our Royal family, they can teach you”.

Aku segera sadar bahwa perdebatan ini tidak panting, segara aku ubah nada bertahan tadi, menjadi nada meminta bantuan ” Sir, Chakma language indeed very unique, i wish to be able to speak it fastly, and i am trying my best to learn it everyday word by word, but i have bad memory, what do you suggest the best and fast way to speak Chakma?, and may be you can help me design a simple learning plan because you speak English perfectly”

Sebenarnya aku kesal juga dia maksa bilang bahwa bahasanya gampang, ya iyaalaaah.. Lo udah tinggal di sini seumur hidup lo. Tapi kemudian aku ingat bahwa dulu aku juga sering melakulan hal yang sama kepada teman-teman dari luar negri.

ah pada dasarnya aku dan beliau sama saja, kita sama- sama cinta bahasa ibu kami masing-masing dan orang asing bisa bahasa kami adalah suatu pengakuan bahwa bahasa kami juga sama berharganya dengan bahasa-bahasa lainnya di dunia ini.

Beliau menjadi sangat bersahabat dan percakapan tsb berakhir dengan undangan ke rumahnya di Bizu Festival.

Berapa lama sih normalnya/sopannya kita boleh tinggal di kampung orang dengan damai tanpa bisa bahasa setempat??

Tagged , ,