Category Archives: Radinka Basuki

A Footprint Can Come Not Only From A Foot (Kenya)

Permisi, sekedar numpang tempat untuk sharing info dari blog negeri penempatan saya, Kenya. Mari kita lupakan sejenak semua kejenuhan rutinitas hidup sehari-hari sebagai voluntir di negeri orang dimana kita jauh dari semua hal-hal yang familiar dan nyaman dari Tanah Air kita.

Yup, and so I’ve had my fair share of ups and downs these days. Tapi tipikal saya, ogah kesel terlalu lama. Daripada gedek sama hil-hil yang mustahal di tempat kerja, sayapun mencari hal lain yang lebih menarik untuk men-distract saya. Environmental issues it is!

Simaklah blog post dari link ini dan sapa tau it can knock some senses into us. Lama-lama saya jalan kaki juga nih dari Nairobi ke Malawi untuk ngunjungin 2 comrade saya, Bang Freddy and Lili 🙂 Guys, ntar numpang sofa lu semua yak! 😀

a footprint can come not only from a foot.

Advertisements
Tagged , , ,

Malam Jumat Itu (Kenya)

Twas a Thursday night like any other pre-Friday nights here in Nairobi
Finished my usual mundane (sigh…) duties and headed out to a local infamous Nairobian joint, The Tree House

Enough is enough said I, of the 2 grilling weeks I had trying to please my panicky superiors and being drowned in their awry energies

Enough is enough thought I, of being in the similar shoes as my other volunteer comrades of being heavily misunderstood by their surroundings

This Thursday night, I thought shall be a revelation of my being here in Kenya

3 cold beers and a three-quarter empty stomach was enough to let myself lose in the rhythms and the beats of Afro-Asian-Fusion-Reggae-Retro-Pop music of the night

Yes, I was that lost. So lost in the moment and music as I closed my eyes and allowed my entire body to be swayed by the tunes of the night, not caring about the next hour, the next day nor the next night

Allow me to be entranced and enchanted by the soulful singing of the stunning Sudanese who sung in Arabic
Allow me to analyze and bop along to the critical lyrics of the Filipino reggae crooner who sang about discrimination
And how I was so enticed by the fusion guitarist from Mombasa who played side by side with Reggae Man

The people around me dancing
The people behind me chatting and smoking

And I, part of it all…

Everyone looked beautiful as they grooved, Lord only knew what actually went on in their individual heads that very Thursday night

Groovin along to the Coastal sounds of Kenya

Groovin along to the Coastal sounds of Kenya

And this is why I love this Dark Continent. A continent that’s actually so colorful where music and dancing can lift someone away to another place where they will wish they don’t ever have to return home
And boy, I don’t ever want to come home

The Sudanese

The Sudanese and The Guitarist

Then I suddenly found myself sitting in what felt like a white hearse being driven home before the stroke of midnight.

Oh No! Where was my Sudanese woman? And that fusion guitarist from Mombasa? How about the Filipino Reggae Man?
Where did everybody go?

As I sat still in that white hearse I thought, am I going to my own funeral?

Friday, behold…

Tagged , , , ,

Kenyan Iseng-iseng pt.1: Yang Aus, Yang Ausss, Yang Auuuussssssss…(Kenya)

Sedikit intermezzo dari saya supaya para pembaca dan hadirin terhormat bisa merasakan angin segar dari Nairobi.

Perkenalkan merk air minum yang sering dikonsumsi masyarakat Kenya: Keringet!

Yup, ga bo’ong, sodara-sodara. Merk air minum ini namanya benar-benar Keringet!
Air keringet sapa ya saya ngga tau juga sih…

20130416_194551

Anyways, merk air minum inilah yang benar-benar caught my attention and turned on my randomness radar di hari-hari pertama saya di Kenya.

Mungkinkah merk Keringet ini adalah saingannya minuman Pocari Sweat yang menurut gosip anyar ketika saya SMP dulu, terbuat dari keringet orang-orang Jepang? Berarti Keringet di Kenya terbuat dari air keringet orang-orang sini donk? Huahhahahaha…Piss!

20130417_232648

Ya sodara-sodara hanya dengan harga 40 Kenyan shillings alias Rp. 4.600 saja, Anda bisa memuaskan dahaga dengan air Keringeeeet! (memang agak sedikit mahal yak cuma mau minum doank, airnya air keringet (orang) lagi…).

Dan ternyata, Keringet juga merupakan nama salah satu tempat di propinsi Rift Valley di Kenya. Waaah, boleh tuh saya jadikan next destination saya supaya bisa Keringet-an. Hehehe. Itung-itung keluar kota dengan tujuan, jek!

Sawa, Asante kuakusoma na lala salama (Okay, terima kasih telah membaca dan selamat malam) ☺

Tagged , ,

Dinka the Explorer (Kenya)

“Dul, jurusan loe HI khan? Terus loe mau jadi apa? Aktivis kah? Politikus kah?” Tanya sahabat saya pada suatu malam Sabtu ketika kami sedang duduk-duduk di taman di depan Monas. Mata saya lalu memandangi anak-anak ABG Ibu Kota yang sedang asyik berakrobat dengan sepeda Wim Cycle mereka. Mereka terlihat seru sekali dan terlarut dalam konsentrasi mereka melakukan trik-trik seperti berdiri diatas tempat duduk sepeda dan mengayuh mundur. I wonder if any of these kids know what they want to do in their lives. Because I clearly don’t. Yup, I don’t. Pertanyaan sahabat saya itu membuat saya melamun dan berpikir, dan settingnya lagi pas banget yaitu di Monas, simbol perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia. Tapi kenapa pikiran saya kok belum merdeka ya? Ditanya cita-cita mau jadi apa malahan bengong. Berasa mandek, tidak bebas…Hmmm…

Lalu setelah beberapa saat melamun dan juga berpikir, akhirnya saya menemukan momen Eureka dan perbincangan antara kami berdua berlangsung seperti ini:

Saya: “Loe tau Dora the Explorer khan? Yang rambutnya ponian?”

Sahabat: “Ya iya lha, yang rambutnya rada mirip loe. Knapa mangnya?”

Saya: “Ya itu lha gw. I wanna be her. I wanna be Dinka the Explorer!

Sahabat: “Hah, maksud loe??”

Hehehe, ya begitulah cerita singkat saya, sodara-sodara. A little more intro of me. Perkenalkan, nama saya Radinka Rubiyana Basuki alias Dinka. Jenis kelamin Perempuan, lahir di Ibu Kota DKI Jakarta namun tempat tinggal sementara di rumah orang tua di perbatasan Banten-Jakarta (nama kerennya Ciledug) jadi otomatis KTP saya adalah KTP Provinsi Banten and I am more proud to tell everyone especially when I was living in Bali that I am from Banten, not Jakarta (for all obvious reasons)! Anak sulung dari 2 bersaudara. Adik saya satu-satunya berumur 21 tahun. Jarak usia kami 8 tahun (you do the maths) namun banyak orang yang sering mengira bahwa saya adalah adiknya adik saya sendiri (Piss, Je!). Itu mungkin karena dia jauh lebih tinggi dan bawaannya jauh lebih serius dibandingkan saya yang hiperaktif seperti kera lepas. Oh, just a slight warning to all readers out there. Saya orangnya dikenal sangat random. Bukan dikenal lagi sih tapi I know and I fully admit I am random, saya bisa asal njeplak kalau berbicara (dan juga menulis). Terkadang apa yang saya ekpresikan bisa terkesan sangat ekstrim atau konyol tapi jarang ditengah-tengah. But please understand that I don’t mean any intentional harm from my words, they are as they are. Ya’ll have been warned so sit back, relax and ponder upon my observational lyrics, oh boys and girls of the great Universe 😉

Cita-cita saya sejak awal tahun 2008 adalah menjadi seorang musafir pengembara dunia sekaligus menjadi manusia yang berguna bagi seluruh mahkluk hidup di dunia ini. Dulu mungkin pas ketika saya masih menjadi mahasiswa jurusan HI (Hubungan Internasional ya, bukan Hubungan Intim) di negeri domba alias Selandia Baru, cita-cita saya lebih spesifik dan lebih terplanning dengan tabel timeline seperti lulus kuliah tahun 2006 pas umur masih 21 tahun langsung cari kerja, kerja dulu selama 2 tahun di NGO (abis lulusan HI pas jaman saya larinya ke NGO terus demi masa depan penjajakan karir yang cerah), umur 25 harus sudah naik jabatan menjadi coordinator apa gitu, sudah harus megang proyek sendiri, nikah di bawah umur 30 (untung ga jadi! Hehehe) dsb. Cape deyh…

But now… Seiringan dengan perjalanan hidup saya yang unik, kiblat sayapun juga perlahan-lahan berpindah. Jika dulu saya terkesan ambisius untuk hidup “normal” (atau flat, kalau kata sahabat saya) kini saya hanya mementingkan prinsip hidup living my life as a journey rather than going to the destination.

*************

Diterimanya saya sebagai relawan/ voluntir VSO adalah bagian dari perjalanan hidup saya sebagai Dinka the Explorer. Dan Afrika…Jujur aja, sampai sekarangpun saya masih suka tidak percaya bahwa saya telah berada di benua ini. Saya sedang berada di Ubud mengamati upacara ngaben yang sedang berlangsung ketika membaca email dari recruitment base saya yaitu VSO Bahaginan di Manila, the Philippines. Ketika saya mengetahui bahwa saya akan diberangkatkan ke Kenya pada tanggal 27 Januari 2013, I felt like screaming, “Annnjjrrriiitttt, Kenya jek! Afrikaaahh!! Arrrrgghhhh! Safari jek! Gajah-gajah berkeliaran!!! Waaaaa!” But of course, I was able to contain myself.

Nah dari situ sudah pada ngeh khan kalau Afrika adalah benua impian saya? 😉

*************

Kota Nairobi di hari Minggu yang sepi karena mayoritas penduduk pergi ke gereja. Nairobi yang selowww...

Kota Nairobi di hari Minggu yang sepi karena mayoritas penduduk pergi ke gereja. Nairobi yang selowww…

Tidak dirasa sudah hampir 2 bulan saya menetap di Nairobi alias ibu kota Kenya dimana saya akan mengabdi kepada Special Education Professionals alias SEP, partner organization-nya VSO Jitolee di Kenya selama 1 tahun kedepan. Organisasi kecil yang sebagian besar anggotanya adalah terapis-terapis sukarelawan ini bergerak di sektor Disability dan mereka memberi bantuan berupa terapi, konsultasi dan assessments kepada anak-anak berkebutuhan khusus (children with special needs) di daerah-daerah kumuh (slums) di seluruh Nairobi. Posisi saya disini adalah Resource Mobilization Advisor alias Fundraiser alias Penggalang Dana.  Biarpun saya memiliki pengalaman sebagai seorang Fundraiser di beberapa NGOs ketika saya masih tinggal di Selandia Baru, namun saya merasa bahwa pekerjaan saya sekarang di SEP tidaklah seperti pengalaman kerja saya yang dulu-dulu. Mungkinkah karena adanya title Advisor alias Penasehat? Maybe…Sebuah titel memang membebankan bagi saya karena saya merasa adanya ekspektasi tinggi dari employer, rekan kerja bahkan dari teman-teman voluntir lain. Abis kesannya serius banget untuk bocah yang suka bermain seperti saya. Jujur aja, saya terkadang suka iri kalau mendengarkan cerita-cerita dari teman-teman voluntir lain yang sepertinya sudah banyak pengalaman kerja serius di bidang mereka dan telah make a difference di penempatan mereka masing-masing. Kalau sudah kayak gitu, kadang “penyakit” lama saya suka kambuh yaitu membanding-bandingkan diri dengan yang lain. “Ih si itu keren banget ya, baru 2 bulan di Kenya tapi uda bisa nawar harga di Toi Market pake bahasa Sheng” atau “waah, si ono asik banget ngajarin kungfu buat murid-murid Youth Polytechnic-nya!”

Sijambo, Nairobi! Nairobi dilihat dari puncak gedung Kenyatta International Conference Centre

Sijambo, Nairobi! Nairobi dilihat dari puncak gedung Kenyatta International Conference Centre

Sementara saya ntar legacy-nya apa ya buat organisasi saya?…

Ya, memang begitulah terkadang dilema seorang voluntir VSO seperti saya. Belum apa-apa sudah parno duluan. Tapi saya paham betul bahwa ini semua adalah part of the journey of a wishful good Samaritan like me. Siapa bilang trying to save the world, one step at a time itu gampang? Yang saya ketahui selama berada disini adalah this is a never ending job. Apalagi untuk pekerjaan saya dimana saya harus secara aktif mengamati kesempatan nyari duit seperti panggilan Call for Proposals.

Kadang kalau saya lagi buntu ide ketika sedang menulis proposal (seperti minggu ini 😦 ), imaginasi random saya suka melayang dimana tiba-tiba saya ditelpon miliarder seperti Bill Gates atau gak Pak Jusuf Kalla dan mereka dengan baik hatinya menawarkan SEP sekian ribu US Dollar yang bisa digunakan untuk membangun sebuah training centre untuk anak-anak kami. Wow, kereeeen bener kali ya kalau kejadian beneran 🙂

Saya percaya bahwa apapun yang akan saya lakukan disini jika melakukannya dengan niat yang baik, pastilah akan membuahkan hasil yang signifikan. Semoga mantra man jadda wa jadda bakalan ampuh selama saya berada di Kenya. For now, everything seems so new and such a mystery for me.

Kembali lagi ke perbincangan malam di Monas tepat setahun yang lalu bersama sahabat saya membuat saya sadar bahwa yup, this is me, a temporary passerby of this Earth who just wants to make the most of this short life time by exploring and doing good things to others. Dan bagi saya berbuat baik disini bisa juga dengan hal sederhana seperti bersenyum. Saya memang bukan seorang aktivis kemanusiaan atau pejuang hak asasi wanita, tapi bisa dibilang saya adalah advokat senyum. Why? Cos it’s the best thing I can do when I can’t seem to do anything else. Just try it! Ijaribu!

Dan malam ini juga saya ingin mendedikasikan blog post pertama dalam seumur hidup ini kepada sahabat saya yang berada di Indonesia. Perbincangan malam itu bersama sahabat saya yang nyentrik dengan tato Monas di lehernya (coincidence? I don’t think so 🙂) adalah awal dari journey saya hingga akhirnya bisa berada disini. Thanking you with all my heart, dul. From Nairobi to Nusantara with love…

 

Awas kena onta! Suatu senja di Uhuru Park, taman umum di pusat kota Nairobi yang selalu ramai pas akhir pekan

Awas kena onta! Suatu senja di Uhuru Park, taman umum di pusat kota Nairobi yang selalu ramai pas akhir pekan