Category Archives: Rini Hanifa

Review buku: Ada apa di balik cakrawala?

Saat ini saya tengah duduk bersantai di hammock sambil membaca buku spesial berjudul “Cerita di Balik Cakrawala”, buku tersebut di tulis oleh tiga orang istimewa Freddy, Glory dan Lili.

Bagi Anda yang memiliki jiwa petualang yang tinggi atau bagi Anda yang tertarik dengan isu sosial dan kemanusian, buku ini adalah buku untuk Anda!

Tak lupa suasana dingin yang diakibatkan oleh hujan yang turun sejak siang tadi dihangatkan oleh secangkir kopi Ethiopia panas pemberian salah satu Indonesian RVs (returned volunteer), Titi.   Kopi ini adalah kopi Ethiopia terakhir saya.   Saya memiliki banyak stok kopi , sebut kopi Brazil, Kopi Papua, Kopi Aceh Gayo, Kopi Toraja, Kopi Pabrik Kopi Bandung, dan banyak lainnya.  Tetapi entah kenapa selama satu minggu ini, saya rutin meminum kopi Ethiopia dan saya tidak berhenti hingga kopi itu habis.   Dan sekarang kopi tersebut sudah habis, dan saya hanya bisa gigit bibir.

Dengan secangkir kopi panas membuat membaca menjadi lebih menyenangkan.

Jika Anda lebih tertarik dengan coklat, Anda harus membaca tulisan Glory.  Dia sangat beruntung karena ditugaskan bekerja dengan para petani Afrika penghasil coklat terbaik dunia.  Tetapi mirisnya, kata Glory, para petani coklat tersebut hanya bisa menanam yang tanpa pernah merasakan hasil akhir dari coklat (kakao) yang mereka tanam.

Buku cerita di balik cakrawala ini berlatar belakang di beberapa negara di Afrika, seperti Ghana dan Malawi.   Buku tersebut berisi pengalaman tiga penulis selama menjadi sukarelawan internasional VSO yang tinggal selama 365 hari di negara tersebut.

Saya baru menyadari kalau salah seorang teman saya, Edrida, ikut memberikan endorsement untuk buku ini,  dan saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Edrida “para pengarang buku ini, mereka menemukan dunia yang telah mereka bingkai sendiri dengan jejak kaki dan jejak hati sebagai panggilan tugas dalam misi kemanusian sejati”

Ah indah bukan, jika Anda juga bisa merangkai dunia Anda sendiri, bukan hanya pasrah dengan dunia yang sudah diberikan pada Anda? Tiga penulis buku ini telah menunjukkan hal tersebut bukan hal yang mustahil, Anda bisa membuka jalan untuk Anda sendiri, tidak ada keharusan untuk mengikuti jalan yang sudah ada, bagaimana caranya? Anda bisa belajar dari apa yang sudah dilakukan oleh para penulis buku ini.

Para penulis dengan “misi kemanusian sejati”, hal tersebut sungguh benar, bahkan meski sudah tidak menjadi sukarelawan lagi, misi kemanusian mereka tetap berlanjut, terbalut hangat dan terus hidup.   Saya tidak habis pikir ketika Freddy, membungkus sisa makanan yang ada di hotel, sisa makanan dari acara workshop yang kami hadiri.  Acara berakhir sekitar jam 21.30, bagi saya sudah malam, tetapi tidak bagi Freddy.  Setelah mengobrol sebentar di Lobby hotel, jam 22.00 malam ia keluar dengan misi membagikan makanan tersebut  ke supir ojek, petugas parkir, pengamen, dan banyak lainnya. “Mungkin mereka belum makan, atau mungkin sudah beberapa hari mereka tidak bisa merasakan makanan enak seperti yang kita rasakan” Freddy menjelaskan.  Freddy menambahkan bahwa kalau usaha dia lebih untuk menyelamatkan makanan dibandingkan makanan terbuang. Benar juga!  Saya jadi ikut berpikir bahwa menghasilkan cake, pastel berisi daging dan sayuran telah menghabiskan sekian jam kerja, sekian watt listrik, sekian gram gas, dan banyak lainnya, yang jika makanan tersebut dibuang berarti kita juga sudah membuang banyak energi yang sudah dihabiskan untuk menghasilkan makanan tersebut.  Semua yang sudah dihabiskan untuk sebuah kesia-siaan.  Pasti Anda seperti saya, kenapa harus repot? dan menjadi manusia modern mengajarkan kita untuk jangan mau repot.

Pengalaman Freddy di Afrika membuat ia lebih menghargai makanan dan minuman.  Di sana air dan makanan sulit.  Hal ini juga dibenarkan oleh Glory, bahwa orang sangat bahagia ketika dikasih sepotong atau sebungkus makanan.

Berbeda dengan di Indonesia, orang tidak lagi menghargai pemberian kecil, kerabat dekat saya saja, ketika dikasih makanan oleh tetangga, mereka bilang “tidak enak, dikasih ke pembantu saja”.  Realitas kita sehari-hari telah mematikan rasa kemanusian kita, tetapi membaca tulisan Freddy, Glory dan Lili menghidupkan kembali pintu hati yang sudah tertutup dan jiwa yang membeku.  Saya pernah memiliki hati, tetapi belakangan hati itu mulai menjadi tumpul, tetapi buku ini menampar saya, dan saya berterima kasih.

Banyak hal yang kita miliki dalam hidup ini, tetapi kita tidak menyadarinya, hingga kita memiliki pembanding bahwa banyak yang hidup dengan kondisi yang lebih kekurangan dibandingkan kita.   Membaca buku ini, mengingatkan kita untuk mensyukuri hidup ini, untuk berterima kasih telah lahir sebagai seorang Indonesia.   Setelah membaca buku ini, Anda akan setuju dengan saya, dan Anda akan bisa menuliskan 10 atau lebih daftar alasan untuk mencintai negeri ini.

 

Tetapi meski demikian, Afrika merupakan benua yang menawan.  Mengutip salah satu tulisan Lili

“Tebing-tebing batu berdiri sangat kokohnya memisahkan negara Zambia dan Zimbabwe. Meskipun tidak sedahsyat pada saat musim hujan, air terjun yang mengalir dari hulu lalu jatuh ke lembah setinggi 108 meter masih sanggup membuatku menahan nafas karena kagum.  Luar biasa adalah satu-satunya kata yang terucap ketika aku menelusuri setiap sudut taman nasional itu” (hal. 379)

Saya ikut merasakan rasa takjub dan kekaguman yang dirasakan oleh Lili meski hanya melalui tulisannya.  Afrika masih menjadi mimpi yang tertunda bagi saya. Membaca buku mengenai Afrika yang dibingkai dalam kacamata Indonesia sungguh menarik….

Iya, Lili, Freddy, dan Glory, saya tahu, kalau Afrika bukanlah nama negara, Afrika adalah benua yang terdiri dari beberapa Negara. Banyak yang sesat dengan menganggap Afrika sebagai satu negara, tetapi sebagai teman penulis, tentunya saya juga tidak ikut sesat.

Saya berkeinginan berkunjung ke Tanzania tahun 2018, semoga segala sesuatunya lancar.  Membaca buku cerita di balik cakrawala ini membuat tekad saya menjadi semakin kuat kalau saya harus ikut menjadi bagian, meski hanya bagian kecil dari “Dunia 365 harinya” Freddy, Glory dan Lili.

Bagi Anda yang belum memiliki bukunya, Anda bisa mendapatkannya di Gramedia, atau bisa membeli di beberapa toko buku online, atau bisa juga membeli dalam bentuk Electronic book di google play.   Saya sudah membeli buku tersebut, tetapi saya juga mendapat hadiah buku dengan tandatangan asli dari penulis, saya sungguh beruntung.

Referensi mendapatkan buku:

http://www.gramedia.com/categories/books/fiction-literature/cerita-dibalik-cakrawala.html

https://play.google.com/store/books/details?id=MUscCwAAQBAJ&rdid=book-MUscCwAAQBAJ&rdot=1&source=gbs_vpt_read&pcampaignid=books_booksearch_viewport

20161113_141728-3-19786027114036

 

 

Advertisements

THE END OF THE CHAPTER

Rupununi, Guyana… Sudah dua bulan lebih berlalu. Namun entah kenapa, kenangan terhadap tempat tersebut masih lekat di hati. Fikiran saya melayang. Saya jadi teringat akan salah satu kalimat yang dilontarkan oleh staf VSO ketika induction: di Guyana kami memiliki kepercayaan, jikalau anda meminum “black water” dan “labba” maka kalian tidak akan pernah meninggalkan Guyana.

“Black water” adalah air sungai di Guyana yang berwarna hitam. Sebenarnya airnya bening namun dikarenakan struktur tanah, airnya jadi terlihat hitam. Bahkan air sungai ini juga ikut mempengaruhi warna air samudra fasifik. Banyak orang mengetahui jikalau samudra Fasifik adalah hamparan laut biru nan Indah. Tetapi pernyataan tersebut tidak selalu benar, berkunjunglah ke Guyana, dan anda akan menemukan samudra fasifik disana berwarna coklat keruh. Hal ini membuat wisata pantai bukanlah menjadi pilihan di Guyana, berbeda dengan negara-negara Karibian-saudaranya Guyana.

Labba adalah binatang yang terlihat seperti kelinci, namun hidup liar di alam. Sama halnya dengan kelinci, labba juga suka hidup di lubang-lubang. Labba adalah salah satu makanan favorit masyarakat Indian- Amerika di Guyana. Labba juga diolah menjadi “hot pepper pot” makanan lokal masyarakat Indian yang populer dan bisa tahan berbulan-bulan hanya dengan pemanasan dengan tungku secara terus menerus, tidak ada kulkas. Labba juga bisa ditemukan di dalam menu masakan penduduk Guyana turunan India, yaitu “Labba Curry dan Roti”. Masakan karinya sama dengan masakan kari India hanya tidak sepedas kari di India, dan Roti disini sejenis chapatti atau parata.

Sudahkah saya meminum “black water”? jawabannya… tentu sudah. Sudahkah saya memakan labba? Tidak salah lagi, sudah dong. Terus, apakah benar saya tidak bisa meninggalkan Guyana? Hmm.. sekarang saya sudah balik ke Indonesia, so, salah. Tetapi tunggu dulu, mungkin iya secara fisik saya sudah tidak lagi di Guyana tetapi hati dan fikiran saya masih disana. Apakah ini yang dimaksud bahwa “anda tidak akan pernah meninggalkan Guyana?”

Teman Volunteer saya, Melvin, yang sekarang juga sudah balik ke Inggris pernah membuat hipotesa jikalau maksud dari pernyataan “anda tidak akan pernah meninggalkan Guyana” adalah anda akan mati di Guyana. Dengan mimik meyakinkan dia menjelaskan, coba bayangkan tingkat kejahatan disini, senjata api banyak beredar, setiap hari di koran pasti ada berita pembunuhan, bahkan polisipun tak jarang di “doorrrr” oleh para penjahat. So, anda tidak akan pernah meninggalkan Guyana maksudnya anda akan mati disini. Tentu saja Melvin bercanda. Dia memang sering bercanda, meski yang dia sampaikan juga benar adanya. Ada volunteer yang memutuskan pulang ke negara asalnya dikarenakan alasan keselamatan, dia merasa tidak aman.

Ada juga volunteer yang percaya, anda tidak akan meninggalkan Guyana maksudnya anda akan jatuh cinta dengan negri ini, dan memutuskan tinggal menetap disini. Apakah itu bisa terjadi kepada saya?

Well, pimpinan kepala suku/kampung dimana saya tinggal pernah bilang jikalau saya mau menetap disini, tanah mereka terbentang luas, saya boleh tinggal tunjuk dan …tanah tersebut boleh saya tempati. Saya juga pernah mendapatkan lamaran dari pemuda setempat yang mengajak saya untuk berkeluarga dan tinggal dikampung bersamanya, membuat pondok sederhana, bertani bersama. Dia bilang kalau selama ini dia berkerja di tambang, dia sudah memiliki cukup tabungan, tabungan tersebut bisa dijadikan modal untuk hidup bersama.

Sebulan menjelang kepulangan saya, kenalan saya, baik lewat network VSO dan ada juga yang bukan, meminta saya untuk tetap tinggal dan bekerja dengan mereka. Pertama, salah satu resort di Pameroon, si pemilik ingin mengembangkan program-program untuk memajukan masyarakat Amerindian disekitar resort-nya. Bahkan kemarin saya terima email, manajer program saya di VSO dulu, yang baru-baru ini menginap di resort itu bilang, kalau orang-orang disana masih berharap saya akan kembali dan bekerja bersama mereka. Salah satu anak pemilik peternakan, pernah menanyakan apakah ada hal yang bisa dia lakukan untuk membuat saya tinggal. Dia dan ayahnya ingin mengembangkan program community development untuk masyarakat Amerindian disana sebagai bentuk CSR perusahaan mereka. Anak pemilik Ranch yg hampir seusia dengan saya yang juga merupakan antropolog yang meski berkulit putih, namun secara hati dan jiwa lebih merasa Amerindian dibandingkan Amerindian sendiri.

Tetapi… penawaran yang saya terima malah membuat saya gamang. Benar, selama satu tahun saya telah melakukan pekerjaan yang memuaskan. Saya memperoleh cukup banyak pujian. Saya hidup di daerah terpencil dengan penduduk asli dengan segala keterbatasan. Orang mengagumi saya sebagai sosok yang kuat dan tahan banting. Apakah anggapan orang-orang tersebut benar?

Benar untuk satu tahun, tetapi untuk lebih dari satu tahun?…

Salahkah saya jikalau saya merindukan akses air langsung ke rumah melalui kran? Merindukan TV flat screen dengan channel National Geographic favorit saya? Merindukan listrik 24 jam, merindukan jalanan beraspal, merindukan kulkas, merindukan jaringan internet dan sinyal telfon yang tidak terputus? Merindukan makanan dengan pilihan tanpa batas?

Mama saya sambil bercanda bilang kalau saya pastilah gila ketika saya memperlihatkan foto-foto dan bercerita bahwasanya saya tinggal sendirian di rumah. Di desa yang hampir setiap malam banyak pesta, lengkap dengan minuman keras berember ember dan tak jarang juga menyajikan ganja yang dipetik fresh dari kebun di daerah hutan. Saya tidak kaget ketika membuka pintu rumah di pagi hari menuju ke toilet yang berjarak sekitar 30 meter dari rumah melihat orang orang berjalan pulang sempoyongan. Bahkan pernah juga ada laki-laki muda tidak sadarkan diri, terbaring tergeletak di depan pintu saya. Yang saya lakukan? memotretnya (sebagai bukti yg akan saya tunjukan ke kepala desa), terus melangkah meneruskan perjalanan ke toilet. Melangkahinya kembali, masuk ke rumah, menutup pintu dan membuat kopi. Ketika jam 9 saya kembali buka pintu, orang tersebut telah pergi.

Bagaimana jikalau orang membobol masuk rumah saya dan mencuri? Bagaimana jikalau saya diperkosa dan dibunuh? Kampung tersebut gelap gulita, sunyi sepi, sinyal telfon kadang ada kadang tidak, bagaimana cara saya minta tolong? Bagaimana jikalau orang tersebut punya senjata api, bagaimana jikalau jumlah mereka banyak?

Saya termenung, pertanyaan tersebut terdengar sedikit berlebihan. Iya, bagaimana? Well, VSO memberikan saya satu alarm yang pada malam hari saya taro di pintu masuk, yang jikalau pintu tersebut berbuka maka alarm tersebut akan berbunyi. Bunyi tersebut akan cukup untuk membangunkan saya. Tetapi above all, saya memiliki keyakinan yang kuat jikalau kita berniat baik maka kita juga akan mendapatkan hal yang baik. Tuhan akan melindungi. Hal lain, saya menghindar dari bahaya. Ada banyak jenis teman di desa. Saya tahu siapa yang mengkonsumsi ganja, siapa yang keluar masuk penjara, siapa yang pernah membunuh, siapa dan siapa. Saya berteman dengan semua, tetapi saya menjaga jarak terhadap beberapa orang. Saya juga yakin kalau kepala desa akan menjaga saya.

Di kamar saya, saya memiliki senter, HP dibawah bantal. Tongkat panjang dibawah dipan. Dan saya juga menggunakan feeling dan instinct. Saya pernah belajar bela diri selama lebih 4 tahun ketika saya masih SMA dan kuliah, tetapi itu dulu… sudah 5 tahun lebih berlalu. Saya tidak pernah lagi latihan. Saya tidak memiliki refleks. Tidak ada lagi fleksibilitas dan kekuatan. Apa yang tersisa? hanya kepercayaan diri, siaga, dan positive thinking.

Ketika pulang dari voluntering, beberapa teman dan keluarga meminta saya menceritakan pengalaman saya. Saya bingung untuk memulai dari mana. Segala sesuatunya terasa berbeda. Bayangkan apa yang tidak bisa anda bayangkan, itulah yang saya alami.

Satu pertanyaan, yang berat untuk saya jawab, tetapi selalu menjadi pertanyaan utama dilontarkan, apakah saya menemukan seseorang di Guyana?

Mungkin iya mungkin tidak. Tapi jujur, saya terus terkenang dengan dirinya. Cerita ini tidak ada awal dan tidak ada akhir. Jadi silahkan kecewa. Kisah ini bukan kisah Eat Pray and Love.

Semua berawal ketika dia berkunjung kedesa dimana saya tinggal 3 minggu sebelum kepulangan saya. Percakapan singkat beberapa jam. Pria ini kembali ke Ibu Kota di Georgetown. Percakapan terus berlanjut melalui email. Saya yakin kalau dia tertarik. Siapakah dia? Bukan volunteer. Bukan orang Guyana. Trus siapa? Hayooo….

Sebelum kepulangan, saya menghabiskan waktu sekitar 3 hari di Ibu Kota, Georgetown. Tetapi begitu banyak hal yang saya kerjakan, urusan banking, birokrasi ini dan itu. Dua hari sebelum kepulangan, Dia menghubungi saya, dan mengajak makan keluar. Saya tolak, saya sedang letih. Dia tidak menyerah. Dia meyakinkan saya agar mau keluar bersama. Saya memiliki beberapa teman di Georgetown yang ingin saya kunjungi sebelum pulang, dan juga ada undangan potluck, waktu saya sangat sempit. Tetapi sesuatu mengenai dirinya, membuat saya penasaran. Akhirnya saya setuju untuk bertemu, dan itu adalah sore hari, hari terakhir saya di Georgetown, hari terakhir saya di Guyana. Dia datang menjemput di rumah dimana saya menginap. Setelah ngobrol2, kita memutuskan keluar jalan-jalan ditepi pantai. Setelah matahari terbenam kita pergi ke sebuah restauran, tak lama kemudian kita kembali berjalan dan pergi ke salah satu café terbaik di kota. Setelah menghabiskan dua cangkir kopi, saya memutuskan pulang, waktu sudah menunjukan jam 9 malam, dia menahan meminta saya tinggal. Tetapi saya bilang kalau saya belum packing, dan saya harus ke bandara jam 4 pagi. Akhirnya dia setuju. Dia kembali mengantarkan saya ke rumah. Saya teringat dengan banyak makanan di kulkas masakan cina, masakan india, yang sengaja saya beli karena saya berharap dengan makan banyak akan membuat saya fit. Dia tidak segera pulang. Saya memanaskan makanan, dan makanan tadipun kita santap bersama. Waktu terus berjalan. Bagaimana mungkin anda baru bertemu dengan seseorang namun merasa begitu sangat mengenalnya? Saya tidak bisa mengingat waktu ketika dia akhirnya pamit pulang.

Saya melanjutkan packing, membersihkan rumah, mengisi kulkas yang kosong, membuang sampah, saya ingin memastikan kalau rumah saya tinggal dalam keadaan bersih. Volunteer yang menjadi host saya sangat baik hati dan benar-benar membuat saya sangat nyaman di rumahnya. Jam 3.30 pagi sayapun berangkat ke Bandara. Saya baru sadar kalau saya belum tidur, tidak masalah, saya akan meneruskan tidur di pesawat. Tetapi… saya tidak bisa tidur, wajahnya, senyumnya terus terbayang… ketika saya sampai di Indonesia, saya menerima email darinya “kenapa dia baru datang disaat saya sudah akan pergi?”.

Benarkah kita bisa membuat perubahan dengan volunteering? Benarkah skill dan waktu yang kita luangkan bermanfaat bagi masyarakat yang kita bantu?

Jawabannya adalah iya. iya, juga dengan catatan kalau kita atau organisasi yang menjadi employer kita memiliki dana untuk memobilisasi sumberdaya. Hanya saja pertanyaan-nya seberapa besar perubahan tersebut? Dengan kata lain, skill dan niat baik saja tidak cukup.

Berapa lama waktu yang tepat untuk volunteering? Menurut saya, terlalu pendek juga tidak cukup, terlalu panjang juga tidak mudah, idealnya adalah 6 hingga 1 tahun. Jikalaupun masih mau lanjut, bagusnya break terlebih dahulu, dan baru kemudian lanjut lagi.

Beberapa perusahaan besar dunia, menggalang kerjasama dengan VSO, mereka mengirimkan pegawainya selama 3 bulan ditempatkan di negara berkembang, dengan fasilitas yang sama dengan volunteer lainnya, setelah 3 bulan, karyawan tersebut kembali bekerja di perusahaan tersebut. Skema seperti ini terbukti efektif. Dikarenakan waktu volunteering yang singkat, volunteer dengan model ini biasanya cenderung untuk memberikan yang terbaik. Mereka juga tak segan untuk menyisihkan sedikit tabungan mereka untuk menjalankan kerja-kerja volunteer mereka.

Tulisan ini akan menjadi tulisan terakhir saya di blog ini. Kesimpulan dari semua pengalaman saya adalah, volunteering itu tidak mudah, namun menarik, penuh petualangan-persahabatan-pertemanan, skill anda akan bermanfaat bagi orang lain, anda bisa berkonstribusi terhadap perubahan positif, anda akan memiliki perspektif baru dalam melihat dunia, dan banyak lagi. Jikalau anda kebetulan sedang membaca tulisan ini dan sedang mempertimbangkan ikut volunteering atau tidak, saran saya, jangan ragu, silahkan dicoba, you will never regret it.

Orang tua saya bangga bahwa saya pernah menjadi volunteer. Tetapi tunggu, jikalau mereka tahu bahwa bepergian dari satu kampung ke kampung adalah seperti di video ini, maka mungkin izin tidak keluar, hahahaha…

THE END

 

 

Tagged , , , ,

Something that the Money Can’t Buy

Jeff, mengingatkan saya agar kembali aktif menulis.  Saya tidak menyadari kalau Jeff membaca tulisan saya.  Sebaliknya, saya selalu membaca tulisan Jeff.  Bagi saya, tulisan Jeff mampu membangkitkan semangat, menyentuh jiwa, yang tak kalah hebat atau bahkan lebih baik dari Mario Teguh.

Banyak hal yang ingin saya tuliskan. Sebagai volunteer batch 1, saya merasa memiliki kewajiban untuk menuliskan pengalaman sehingga bisa bermanfaat bagi teman-teman yang lain.  Meski tidak selalu mulus, namun pengalaman volunteering saya, adalah salah satu pengalaman terbaik di dalam hidup- pengalaman yang tidak akan saya gantikan dengan pengalaman lain.

Saya bukan tipikal outgoing yang memiliki banyak teman. Tetapi saya selalu berusaha untuk menjaga jalinan pertemanan yang sudah ada. Saya berbahagia dengan beberapa teman yang saya miliki. Teman yang bisa saya andalkan dan membuat hidup ini indah berwarna.  Memiliki teman baru tidak termasuk di dalam tujuan saya ketika mendaftarkan diri menjadi volunteer. Tetapi, benar adanya kata orang bijak, sering kita mendapatkan apa yang tidak kita bayangkan, dan kadang tidak mendapatkan apa yang kita harapkan.

Melalui volunteering dengan VSO saya mendapatkan teman-teman baru. Pertama, teman-teman satu Batch.  Teman-teman dengan keunggulan dan juga kualitas yang membuat saya kagum.  Pertemanan yang lebih tepatnya seperti sebuah ikatan. Iya, ikatan sebagai keluarga; keluarga volunteer VSO Indonesia. Seperti keluarga, meski kita kadang tidak saling menghubungi, tetapi saya yakin kalau kita saling peduli.

Kedua, teman-teman baru di lokasi placement; baik rekan-rekan sesama volunteer dari berbagai negara dan juga teman-teman lokal di lokasi penempatan.  Secara tidak langsung, orang-orang yang direkrut menjadi volunteer oleh VSO memiliki nilai-nilai dan pribadi yang sama.  Atau jikalaupun berbeda tetap ada benang merah yang bisa mempersatukan kita. Dengan bahasa lain, VSO telah membantu untuk mempertemukan kita dengan orang-orang yang memiliki visi misi hidup yang mirip. Artinya, ketika orang-orang memiliki banyak persamaan, maka kemungkinan untuk menjadi lebih dekat menjadi tinggi.

Selama satu tahun menjadi volunteer di Guyana saya bertemu dengan beberapa rekan sesama volunteer yang hingga sekarang menjadi sahabat.   Kita perempuan, berasal dari negara berbeda, budaya berbeda, tetapi entah kenapa kita semua merasakan kalau lebih banyak kemiripan dari pada perbedaan.  Kita bertemu dan kita langsung merasa klik. Saya merasa memahami teman-teman baru tersebut, demikian halnya mereka.  Kita makan bersama, mengeluh dan bersenda gurau bersama, kita berpetulangan, berbagi, membuat perubahan dan berusaha menjadi sumber inspirasi dan terinspirasi. Jarak dan waktu telah memisahkan. Namun kenangan akan terus mempersatukan. Saya teringat akan kado yang dikasih oleh seorang sahabat, Sonja. Kado yang diberikan adalah sebuah cerita. Di dalam cerita tersebut dikisahkan percakapan antara burung dengan kodok.  Mereka baru saja menghadiri sebuah seminar dimana disitu dikatakan kalau “segala sesuatu di dunia ini akan berlalu”. Sebut saja waktu. Waktu akan berlalu. Pohon? Pohon akan mati dan berlalu.

Burung dan Kodok duduk merenung. Salah seorang dari mereka, Kodok, berkata, akankah persahabatan kita berlalu? Tanyanya dengan nada sedih. Si burung cepat menjawab, “tidak”, persahabatan kita tidak akan berlalu, persahabatan kita akan terus abadi.

VSO telah mempersatukan saya dengan banyak sahabat baru. Saya yakin volunteer-volunteer lainnya juga mengalami hal yang sama. Volunteering it’s not only about giving, but we earn back too.  The return is sometimes higher, something that money can’t buy.

Saya memiliki keluarga di Guyana. Keluarga yang bukan berasal dari hubungan darah, namun memiliki ikatan dan cinta yang tidak kalah besar.  Bahkan, samudra dan waktu yang memisahkan tidak akan bisa mengikis hubungan tersebut.

Cinta, kasih, inspirasi, motivasi, dan kenangan, adalah reward yang diperoleh dari menjadi seorang volunteer.   Reward tersebut tidak bisa dihitung dengan satuan mata uang, namun berbeda dengan uang, reward tersebut tidak akan pernah habis.  It will always stay.

 

 

Tagged , ,

All Way Down

Saya baru kembali dari sebuah kunjungan di desa Maruranau, desa terpencil yang tidak ada listrik, tidak ada sinyal telfon, dan tidak ada Internet. Saya meninggalkan Maruranau pukul 5 pagi, menyebrang Sungai Rupununi dengan sampan kecil dengan sepeda motor Honda off-road milik Morton didalamnya. Morton adalah teman yang mengantarkan saya kembali ke Ibu Kota provinsi. Duduk di bonceng oleh Morton, merasakan hembusan angin pagi, padang rumput terhampar luas sejauh mata memandang, bukit, gunung, sunrise.

Sekarang sudah memasuki musim penghujan. Jalanan becek, berlumpur, licin, dan pasir yang tebal. Morton, pemuda yang lahir dan besar di Rupununi, sudah mengenal jalanan dengan baik dan dengan mudah bisa mengatasi kesulitan mengendarai motor di jalanan Savanna. Melelahkan memang, tetapi duduk 5 jam dengan hentakan dan guncangan, tidak akan membuat saya menyerah. Banyak orang bersedia membayar untuk bisa merasakan petualangan yang saya alami.

Mengendarai sepeda motor adalah pengalaman yang jauh lebih hebat dari pada duduk di belakang sepeda motor. Saya sudah sering mengendarai motor dari Desa saya tinggal, Moco Moco ke Ibu Kota provinsi, Lethem. Jatuh dari sepeda motor sudah tidak terhitung. Biru dan lebam sudah menjadi makanan sehari-hari. Namun rasa sakit akan terobati ketika bisa bangun kembali dan mengendarai sepeda motor di jalanan lengang negri tak bertuan, pemandangan spektakuler, dan ada sensasi tersendiri yang tidak bisa dilukiskan.

Bagi anda calon professional Indonesian Volunteer, jikalau penempatan anda nantinya di daerah terpencil dan mengharuskan anda mengendarai motor maka baiknya tanyakan kembali kepada diri anda apakah anda memiliki cukup jiwa petualang? Karena seringkali mengendarai sepeda motor menjadi sebuah keseharian dengan medan yang sulit. Tak jarang rasa ‘fun’ berganti dengan ‘tangisan’, dan ketika motor anda masuk lubang, tidak ada yang lewat membantu anda, anda akan mulai berteriak, “For god sake, apa yang saya lakukan disini?”

Beberapa bulan yang lalu teman saya, Sonja bilang kalau dia memiliki serial bagus untuk di tonton. Dengan baik hati dia mengkopi-kan serial tersebut ke komputer saya. Saya yakin banyak diantara anda juga sudah pernah menontonnya, All Way Down- Ewan McGregor. Setelah menonton serial tersebut, motor yang sempat juga saya kutuk jadi saya rindukan kembali. Jika penempatan anda nantinya akan menggunakan motor besar, maka ada baiknya anda menonton serial TV ini dulu sebelum pergi. Karena, diatas segalanya, semangat dan hasrat adalah modal utama yang harus anda miliki.

Hal lain yang juga penting dilakukan adalah untuk membentuk support group, khususnya bagi perempuan. Mengendarai sepeda motor besar di jalanan yang sulit tidak mudah. Tangan anda harus memegang setir dengan kuat. Tangan anda harus menggemgam setir dan tidak boleh kendor, karena satu kerikil atau pasir tebal bisa membuat anda terjatuh.

Saya memiliki teman Volunteer yang tinggal di Georgetown, Samantha. Dia mengendarai sepeda motor dari Georgetown ke Lethem bersama dengan Daniel. Perjalanan yang membutuhkan waktu lebih dari 10 jam. Menurut Samantha, dia sudah terbiasa mengendarai sepeda motor di Skotlandia. Seperti halnya saya, banyak orang yang sulit percaya. Jikalau anda melihat Samantha anda akan melihat gadis santun, manis, dan jauh dari kesan ‘tangguh’. Dia juga yang menginisiasi terbentunya WOW “witches on wheel”. Sam adalah ketua gang dan Sonja serta saya adalah anggotanya. WOW beranggotakan cewek dan ya, kita mengendarai sepeda motor besar.

Pentingnya memiliki support group adalah untuk memotivasi kita kembali ketika semangat kita kendor atau membuat kita kembali tersenyum ketika rasanya ingin menangis dan meringis menahan sakit. Support group akan memompa semangat dan akan mendorong kita untuk melakukan yang tidak mungkin kita lakukan. Sonja mencintai motornya. Dia terlihat sebagai seorang petualang sejati jika dibandingkan dengan Sam. Tetapi saya dikagetkan ketika saya mengetahui kalau hobi Sonja lainnya adalah menari Tango. Ketika saya melihat video ketika Sonja memperagakan satu tarian Tango di depan banyak penonton ketika dia di Belanda, saya baru percaya. Sulit ditebak, Tango dan Motor Besar, perpaduan karakter yang unik.

Jika anda tidak pernah mengendarai sepeda motor off road sebelumnya, sebaiknya anda meminta VSO Bali untuk membekali anda dengan pelatihan singkat. Pedoman resminya, VSO di negara penempatan anda yang akan memberikan pelatihan. Tetapi manajemen dan kesiapan VSO di negara penempatan berbeda-beda. Di dalam kasus saya, bisa di bilang VSO tidak pernah memberikan pelatihan mengendarai sepeda motor secara resmi. Staff VSO hanya meminta kepala desa dimana saya ditempatkan untuk mengajarkan saya mengendarai motor off-road. Dan kepala desa tersebut bukan guru yang baik. Alhasil, saya belajar sendiri seiring dengan berjalannya waktu. Baru setelah beberapa bulan, Eddie, VSO Volunteer datang ke desa saya dan mengajarkan saya beberapa tekhnik dan juga perawatan sepeda motor.

Hal lain yang tak kalah penting adalah jikalau Anda memiliki SIM C, baiknya SIM tersebut di konversi ke SIM Internasional. Saya memiliki SIM sepeda motor, tetapi SIM sepeda motor saya tidak diakui oleh Polres Guyana, karena bahasa yang mereka tidak mengerti. VSO meminta bantuan kedutaan Indonesia di Suriname untuk menterjemahkan, namun tetap SIM saya tidak diterima oleh Polres Guyana. Jikalau saya memiliki SIM berbahasa Inggris maka segala sesuatunya akan mudah, seperti halnya teman Filipina yang SIM-nya berbahasa Inggris. Mereka akan mengkonversi SIM tersebut dengan SIM Guyana. Di Dalam kasus saya, saya harus mengajukan aplikasi SIM. Untuk apply SIM saya harus menjalani tes tertulis dan juga praktek. Berada di daerah terisolir, prosesnya menjadi ribet. Karena untuk apply, harus melalui Polres di Georgetown. Akhirnya saya menggunakan SIM provisional, yaitu SIM percobaan. SIM yang membolehkan saya mengendarai sepeda motor secara resmi, hanya saja saya tidak boleh membawa penumpang. So, calon professional Indonesian Volunteer, ngga ada ruginya mencoba mengurus SIM Internasional, meski setiap negara memiliki peraturan tersendiri, namun anda akan tetap lebih diuntungkan jikalau memiliki SIM Internasional.

Lethem, 17 April 2012

Tagged , , , ,

All is Well

3 hari ini saya berada di Lethem. Saya menghadiri rapat 3 bulanan KMCRG. Kali ini suasana rapat terasa berbeda.  Persiapannya juga jauh lebih matang dari pada rapat sebelumnya.  Dalam kurun waktu satu tahun KMCRG sudah berkembang pesat.

Satu hari menjelang rapat Toshao Gosh, pimpinan KMCRG menelfon saya dan bilang kalau dia akan mengirimkan kendaraan untuk menjemput saya beserta dua community volunteer, Nicolas dan Verna.  Dia juga bilang kalau Sean, supir kendaraan tersebut akan membawa saya ke hotel.  Saya surprised dengan arrangement ini.  Setelah bekerja 10 bulan lebih dengan organisasi ini, saya tidak pernah mendapatkan layanan serta kemudahan fasilitas.  Beberapa meeting sebelumnya, saya harus cerdas mencari tumpangan gratis dan harus membooking kamar di rumah singgah VSO di Lethem.  Rumah yang hanya terdiri dari dua kamar yang jikalau saya telat maka saya harus bersedia menginap di hammock.  Sudah dua event dimana saya harus menginap dengan hammock, karena saya tidak kedapatan kamar di Lethem.

Ketika saya tiba di Lethem, Gosh sudah menunggu.  Dia mangantarkan kita ke hotel.  Awalnya saya berfikir kalau saya akan berbagi kamar dengan peserta lain. Anoek, volunteer dari Belanda sempat bilang ketika saya menginap di rumahnya tiga hari lalu, agar saya berbagi kamar dengannya.  Saya setuju.  Saya membayangkan kamar yang sempit, dua tempat tidur kecil, dengan fasilitas jauh dari standar.  Ternyata kali ini saya beruntung.  Saya mendapatkan kamar yang luas yang hanya saya tempati sendiri.  Kamar yang dilengkapi dengan AC, TV kabel, AC, dan shower.  Kamar hotel yang tidak akan pernah diberikan oleh VSO karena jauh dari standar-nya.  Hotel kita juga menyediakan sarapan.

Semenjak menjadi volunteer, saya jauh dari “kemudahan”.  Jauh dari fasilitas, dan segala sesuatunya adalah perjuangan.  Saya sangat bersyukur dengan kemudahan yang diberikan kali ini, saya berterimakasih kepada pimpinan KMCRG. Beberapa minggu sebelumnya, saya melakukan perjalanan ke desa-desa dengan traktor dan sepeda motor.  Saya harus duduk 6 jam pulang pergi di sepeda motor, jalanan berpasir, berlumpur, terjatuh beberapa kali, basah kuyup, dan lain sebagainya.  Semua saya jalani memenuhi komitmen, berbagi ilmu dan keahlian dengan masyarakat Indigenous, Amerindian.

I feel good.  Saya menikmati rapat. Saya juga memberikan presentasi mengenai hal yang sudah saya kerjakan selama ini. Seusai rapat, beberapa teman menyelemati dan bilang kalau mereka menyukai presentasi saya. I feel good again.

Kim, direktur VSO, yang turut hadir di rapat tersebut juga meluangkan waktu dengan saya dan volunteer lain. Kim, meminta masukan kita untuk rencana membuka sub office di Lethem.  Anoek (4 bulan), Andrea (2 bulan), Joey (4 bulan), dan saya? Tak terasa waktu cepat berjalan, saya sudah 10 bulan lebih disini.  Diantara 4 volunteer tersebut, saya adalah volunteer yang paling senior.  Hahaha… percaya atau tidak, ada rasa bangga, dan juga “arogansi” positif menjadi volunteer “tua”. Volunteer yang lebih “baru” akan datang ke saya berkonsultasi dan meminta masukan.  Lucunya, apa yang mereka alami sekarang, kurang lebih hal yang sama dengan apa yang saya alami dahulu.

Kim lebih mendengarkan masukan saya. Dia sempat memotong omongan Anoek dengan bilang kalau Anoek disini masih baru, dan dia juga bilang kalau Andrea juga masih brand new. Lagi-lagi lamanya pengalaman berbicara.  Perasaan yang sama yang saya alami dulu, ketika, Behi, volunteer yang lebih “lama” lebih di dengar.  Semuanya adalah pengulangan.

Anoek bilang kalau bulan ini dia akan mendapatkan Solar Panel, dan menurut Anoek, VSO bilang kalau solar panel yang akan dia dapatkan tersebut adalah masukan dari saya.  Masukan ketika saya tinggal selama dua minggu di Nappi. Saya tersenyum, saya senang hal yang buruk yang terjadi dengan saya tidak terjadi pada volunteer lainnya. Saya juga senang karena VSO juga menepati janjinya jikalau mereka akan memperbaiki placement di hinterland (daerah pedalaman) berdasarkan input yang diberikan.

Joey, volunteer dari Kenya juga mengundang saya dan Kim untuk makan malam.  Kim tidak sibuk seperti biasanya.  Dia lebih rileks.  Kita mengobrol banyak hal.  Dia menjelaskan bahwa situasi dia dengan aturan VSO internasional dan juga keterbatasan dana membuat VSO tidak bisa serta merta merespons masukan dari volunteer.  Semua butuh waktu.  Dia bilang kalau untuk tahun depan, dengan menjadi CUSO Canada, segala sesuatunya akan lebih baik.  CUSO bekerja di lebih sedikit negara, tidak seperti VSO Internasional, ruang perbaikan lebih memungkinkan.

Lethem, 30 March 2012

 

Indonesia di Guyana

“Apa Kebangsaan anda?”

“Indonesia”

“Untuk Indonesia, anda diharuskan untuk menyertakan letter of invitation dari kontak anda di Suriname. Apakah kamu memiliki kenalan di Suriname? Jikalau tidak ada letter of invitation dari teman atau kontak anda di Suriname, maka mohon maaf kami tidak bisa mengabulkan visa turis anda”. Persyaratan lainnya standar. Anda harus menyertakan tiket pulang pergi. Tetapi ingat, tanpa letter of invitation anda tidak bisa mendapatkan visa”.

Sayapun menutup telfon. Persyaratan yang gampang gampang susah. Sebelumnya saya sudah mau membeli tiket dan membooking hotel atau hostel di Paramaribo, Ibu Kota Suriname. Saya akan berangkat dari Georgetown ke Paramaribo dan akan kembali ke Georgetown, Ibu Kota Guyana. Harga estimasi tiket pesawat pulang pergi adalah sekitar 2,5 juta. Harga yang masih terjangkau. Harga tiket tersebut sama dengan harga tiket penerbangan lokal dari Georgetown ke Lethem pulang pergi. Misalkan saya harus membayar penginapan 500 ribu per malam, saya bisa tinggal selama 3 malam dengan total biaya sekitar 1,5 juta. Biaya makan selama 3 hari anggap saja sebesar 200 ribu, maka total estimasi biaya selama 3 hari di Suriname adalah 4,6 juta rupiah.

Tetapi meskipun saya memiliki cukup uang untuk tinggal 3 hari di Suriname, akses saya sudah tertutup. Saya tidak memiliki teman atau saudara di Suriname. Kenapa warga negara lain boleh berkunjung sebagai turis ke Suriname tanpa letter of invitation, kenapa untuk warga Indonesia diwajibkan. Teman-teman di Indonesia, termasuk saya, membayangkan kalau Suriname adalah little Indonesia di benua Amerika Selatan. Kita membayangkan kalau Suriname akan dengan senang hati menyambut teman setanah airnya.

Mungkin agak sedikit berlebihan kalau menyebut Suriname adalah little Indonesia. Warga jawa di Suriname hanya sekitar 20% dari total populasi. Warga Jawa tersebut banyak sudah tercampur dengan ras lain, identitas mereka bukan lagi jawa. Mereka adalah Surinamese. Mungkin turunan kedua dan ketiga masih bisa berbahasa jawa atau berbahasa Indonesia, tetapi generasi baru mungkin sudah lupa dengan hubungan masa lalu mereka dengan Indonesia.

Karena belum mendapatkan Visa Suriname, saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Skelton atau Corriverton setelah sebelumnya singgah sebentar di New Amsterdam. Corriverton berbatasan dengan Suriname, mereka dipisahkan oleh sungai yang bernama Correntyn. Dengan boat kecil, menyebrang hanya membutuhkan waktu selama 10-15 menit. Di Corriverton ini terdapat petugas imigrasi resmi yang bisa menstempel passpor untuk pergi ke Suriname. Namun petugas tersebut tidak bisa mengeluarkan Visa. Ferry akan membawa penumpang menyebrang ke Suriname, dan setibanya disana Bis menuju Paramaribo sudah menunggu. Lama waktu menyebrang dengan Ferry kurang lebih 30 menit, dan lama waktu setelah menyebrang menuju Paramaribo kurang lebih 6 jam.

Hampir semua teman volunteer Filipina sudah pernah menyebrang ke Suriname. Miles, teman dari Filipina bilang kalau dia tidak membutuhkan Visa ke Suriname. Seperti yang saya tulis di artikel sebelumnya, warga Filipina, hampir bisa masuk ke seluruh negara Amerika Selatan tanpa membutuhkan visa.

Saya berpuas diri berada di daerah perbatasan. Tidak terlalu buruk, saya menemukan satu warung jawa. Warung yang menjual pisang goreng yang mereka sebut baka bana, sate ayam, nasi goreng, lumpia, dan lain-lain. Pegawai yang bekerja disana adalah Guyanese turunan East Indian. Menurut cerita Anita, teman saya, konon pemiliknya memiliki orang tua yang berasal dari Suriname. Tetapi pemilik tersebut sudah tinggal lama di Guyana. Pemilik tersebut mungkin memiliki hubungan dengan jawa-Indonesia. Sayang saya tidak bertemu dengannya.

Anita adalah adek dari teman saya, Eleanor. Anita adalah pensiunan guru. Dia adalah Guyana turunan East India. Anita memiliki pribadi dominan. Dia mengatur segalanya. Saya mempercayai keahlian manajemen dia, dan membiarkan dia mengatur liburan saya di Corriverton.

Hari pertama, dia membawa saya ke sungai, yang lebih menyerupai pantai dengan pasir putih. Hari kedua, dia mendaftarkan saya kepada kelas memasak, mengunjungi teman-nya East Indian (East Indian adalah sebutan yang membedakan Indian-Amerika dengan Indian-India). Hari ketiga kita mengunjungi pelabuhan tua, bekas pelabuhan resmi untuk menyebrang ke Suriname. Daerah ini juga dikenal sebagai daerah “jalan belakang” untuk menyebrang ke Suriname. Anita bilang, hampir setiap jam ada boat kecil yang akan membawa penumpang menyebrang hanya dengan ongkos sekitar 95 ribu rupiah. Banyak warga lokal yang menggunakan jalan backtrack ini. Menurut Anita, petugas imigrasi mengetahuinya, mereka membiarkan.

Alasan kenapa warga lokal menggunakan jalur backtrack adalah karena lebih cepat, dan juga ngga ribet. Untuk warga Guyana, karena tergabung di dalam Caricom, dimana Suriname juga anggota Carricom, maka bepergian ke Suriname tidak membutuhkan Visa.

Bepergian ke Suriname dengan jalur darat sebenarnya mudah dan juga lebih murah. Anita juga mau menemani saya bepergian ke Suriname. Namun apa dikata, saya tidak memiliki visa, dan belum menemukan cara bagaimana untuk memperolehnya. Saya menuliskan surat ke kedutaan Indonesia di Suriname untuk memperoleh solusi, semoga saja saya mendapat balasan.

Bagaimanapun juga, saya cukup berpuas menyipi sate, lumpia, dan pisang goreng di daerah perbatasan ini. Rasanya? Mantap.

27 feb 2012

Tagged , ,

Volunteer Forum (Guyana)

Selama dua hari ini saya menghadiri volunteer forum. Di Guyana ada sekitar 48 orang volunteer. Jumlah yang jauh lebih banyak dari yang saya bayangkan. Tetapi mulai dari tahun depan VSO Guyana akan mengurangi jumlah volunteer-nya menjadi 25 orang dikarenakan keterbatasan funding.
Secara resmi, VSO Guyana juga akan berganti menjadi CUSO. Artinya, tidak ada lagi ada VSO di Guyana. Dan program VSO Guyana (beserta staff dan volunteer-nya) akan diambil alih oleh CUSO- Canada. Selain nama, negara asal volunteer juga akan berubah. Dengan bergabung menjadi CUSO artinya akan semakin banyak volunteer dari Canada, dan tidak akan ada lagi volunteer dari Inggris. Alasan, CUSO dibiayai oleh pemerintah Canada dan Canada tentunya membuka kesempatan kepada warganya. Sebelumnya VSO Guyana dibiayai oleh pemerintah Inggris, oleh karena itu banyak volunteer berasal dari Inggris dan juga negara EU.
Terus bagaimana dengan negara berkembang, akankah mereka masih menerima volunteer dari Afrika atau Asia, atau mereka akan menutup kesempatan tersebut? Menurut Direktur VSO Guyana, kesempatan tersebut ada, namun sangat terbatas. Dan jikalau ada yang tertarik mendaftar, mendaftar-nya harus ke CUSO bukan lagi ke VSO.
Di tahun ini, VSO Guyana seharusnya berganti nama menjadi CUSO, karena secara manajemen, kantor VSO Guyana sudah resmi diambil alih oleh CUSO. Namun karena kontrak terdahulu dengan beberapa funding, dan juga masalah perizinan dengan departemen Home Affairs Guyana, maka VSO Guyana akan menunda hingga tahun depan sebelum berganti nama.
Untuk saat ini, volunteer yang ada di Guyana cukup beragam, grup yang dominan saat ini adalah dari Inggris, Belanda, dan Canada. Selain itu, volunteer dari Filipina, Afrika (Uganda dan Kenya).
Di hari kedua saya duduk di dekat Sonja. Dan Sonja sempat berbisik kepada saya, “Rini, saya suka suasana VSO sekarang, sangat Internasional, beragam negara- beragam budaya”.
Menjadi organisasi Internasional bukan berarti VSO siap menjadi organisasi Multiculture. Standar yang dipakai seringnya masih standar barat. Hal ini dipertanyakan oleh Ren volunteer dari Filipina. Dan tentunya teori “dominan” juga berperan penting. Misal, di hari pertama volunteer forum, Carol yang menjadi facilitator melemparkan lelucon, namun hanya Volunteer dari UK yang “nyambung” dan tertawa dengan lelucon tersebut. Untungnya di hari kedua, Carol menjadi lebih peka, dan berusaha menghadirkan lelucon yang lebih bersifat internasional.
Hal yang menarik lagi selama forum, volunteer kulit putih akan bergabung dengan volunteer kulit putih. Volunteer Asia akan bergabung dengan volunteer Asia. Dan volunteer Afrika juga akan duduk satu meja dengan volunteer dari Afrika. Tentunya kecenderungan ini tidak absolut, tak jarang terjadi perbauran. Saya sendiri secara umum tergabung di dalam grup volunteer dari Lethem, yang terdiri dari dua Volunteer belanda dan 1 volunteer dari Afrika.
Penjelasan atas fenomena tersebut sangat mudah. “Lebih banyak persamaan”. Volunteer Belanda dan Inggris, mereka tergabung di dalam budaya Eropa, meski Inggris dan Belanda tidak sama. Demikian halnya Filipina dan Indonesia. Atau Uganda dan Kenya. Sesungguhnya jika diamati fenomena ini menarik. Saya teringat akan salah satu artikel yang saya baca. Jikalau seseorang bersekolah di Ibu kota provinsi dan dia berasal misal dari Lumajang, maka identitasnya adalah Lumajang. Ketika di Jakarta, Identitasnya Jawa Timur, ketika di luar Indonesia, Identitasnya Asia.
Kadang saya berandai-andai kalau pemerintah Indonesia semaju pemerintah Kanada. Saya bermimpi kalau pemerintah Indonesia akan mensponsori beberapa warga Indonesia untuk menjadi volunteer di negara lain seperti halnya pemerintah Kanada atau negara maju lainnya. Di Guyana, saya juga mendengar kalau pemerintah cina juga mengirimkan beberapa warganya untuk menjadi volunteer. Kalau tidak salah mereka memiliki program khusus yang dikelola sendiri oleh pemerintah- organisasi Cina.
Menjadi volunteer tidak mudah. Namun dengan menjadi volunteer, selain berbagi keahlian, kita juga belajar hal baru. Dengan tinggal dan berinteraksi kita bisa belajar lebih banyak dari pada sekedar membaca buku.
Di Volunteer forum ini saya dikejutkan oleh volunteer baru dari negara Belanda, Tjeerd, yang datang menyapa saya dalam bahasa Indonesia. Dia berbahasa indonesia lancar. Setelah mengobrol-ngobrol ternyata dia pernah menjadi volunteer di Indonesia.
“Rini, saya sudah jalan-jalan ke banyak tempat di Indonesia. Bahkan saya juga sudah ke Sumatra Utara. Pacar saya, berbahasa Indonesia lebih lancar daripada saya. Dia akan kesini sebentar lagi untuk liburan. Nanti kalau dia datang ke Guyana akan saya perkenalkan”
Di saat acara makan malam di restoran Brazil, saya duduk satu meja, berhadapan dengan Tjeerd, kita masih mengobrol dengan bahasa Indonesia. Disebelah kiri saya duduk Paul yang hanya mengerti bahasa Inggris. Di sebelah kanan saya duduk Anuk yang juga berasal dari belanda. Dan disebelah kanan Anuk, duduk Sergio yang berasal dari Spanyol. Tjeerd akan berganti ke bahasa Inggris ketika mengobrol dengan Paul, berganti ke bahasa Belanda ketika mengobrol dengan Anuk, dan Anuk akan berganti ke bahasa Spanyol ketika mengobrol dengan Sergio, dan kembali berganti kebahasa Inggris ketika berbicara dengan saya.
Bekerja sebagai volunteer dengan standar minimum tidak mudah. Tantangan di lokasi placement, tantangan pekerjaan, tantangan budaya, dan kadang masalah personal volunteer membuat volunteer menjadi sensitif dan emosional.
Kebijakan “homestay”, dimana volunteer yang bertugas keluar kota harus “mencari” volunteer lain untuk menumpang menginap. Kadang volunteer yang ditempatkan didaerah terisolir seperti saya datang ke kota dengan banyak permasalahan. Misal, komputer saya mati total, saya harus mencari tekhnisi dan memperbaiki komputer saya. Saya harus memperbaiki kamera. Dan banyak lainnya, dan waktu saya di kota sangat terbatas. Tak jarang saya terjebak menginap di rumah volunteer yang juga lagi stress dengan pekerjaannya. Dan merekapun bercerita, berbagi apa yang mereka rasakan. Sebagai tamu, kita tidak bisa mengacuhkan dan bersikap tidak peduli, meski sejujurnya, kita pengin sendiri tanpa harus ditambah dengan masalah baru. Kebijakan homestay membuat volunteer baik sebagai “tamu” dan juga sebagai “tuan rumah” merasa tidak nyaman. Tetapi sebagai organisasi volunteering dengan dana terbatas kebijakan ini adalah kebijakan terbaik, karena tidak memungkinkan untuk menginapkan volunteer di hostel atau guesthouse.
Di volunteer forum ini, meski waktu terbatas, volunteer berusaha mendiskusikan pengalaman kerja mereka. Volunteer juga diberikan bahan diskusi mengenai topik development. Saya kebagian presentasi dua kali karena peserta yang satu grup dengan saya menunjuk saya untuk mewakili mereka.
Georgetown, 23 February 2012.

Tagged , , ,