Category Archives: Soraya W Ragyl Dien

10072012_Catatan Pertama (INDIA)

(Ini tulisan pertama saya setelah resmi ditempatkan oleh VSO di India. Tulisan yang sama juga ada di FB saya)

Tadi pagi jam 7.15 dah nyampe di Polonia airport sambil senyum-senyum jumawa karena yakin masih bisa ngurusin semuanya, having breakfast with someone dan ngobrol seru dengan keluarga. Tapi mimpi tinggal mimpi, senyum jumawa hilang pas petugas check in bilang bagasi saya kelebihan 14 kilo. Waks??!! Perasaan td malam ditimbang (dengan timbangan barang) beratnya masih memenuhi syarat. Kok sekarang jadi lebih… dan lebih bete ketika kelebihan bagasinya dihargai USD 17 per kilo, jadi kalo ditotal saya harus bayar sekitar 2,5 jutaan… Gubrakkk!!!Saya ngotot dikit kalau menurut staf Malaysian Airlines yang saya hubungi, kelebihan bagasi itu hanya USD 5 per kilo. Akhirnya daripada ribut, koper merah gedebage itu terpaksa urung ditimbang. Saya cuma check in dan terus keluar lagi dengan muka rada panik. untungnya teman sarapan saya bisa menenangkan (seperti biasa!). Setelah mengurangi persediaan toilettries dan makanan, serta memindahkan beberapa barang ke hand luggage saya, akhirnya petugas check in tersenyum dan bilang kalo si merah gedebage lulus uji kelayakan masuk pesawat.

Setelah berurai air mata dengan keluarga saya (okay, saya tau volunteer nggak boleh gampang nangis, tp kan saya mungkin gk pulang setahun, boleh dong bungsunya keluar!), masuk lg ke ruang tunggu, ngambil passport yang td dititipin ke petugas imigrasi, trus duduk. Baru mau minum, ehh udah dipanggil masuk pesawat. Yeee… cepet amat yahhh…. kan belum bernafas. Ternyata pesawatnya sepi…. sebelah saya malah kosong. Jadi bisa pindah duduk ke deket jendela dan ngeliat pemandangan kebun sawit di bawah (lah… saya ini sebenernya mau ke Meulaboh atau ke KL yaa???) Trus gak lama dikasi kacang bawang sama air putih. Cerita air putih ini lucu jg. Pramugarinya kan bawa nampan isi air putih, orange juice dan guava juice. Ehh pas tiba di barisan saya, minumnya abis, ke belakanglah dia buat ngambil lg. Nah pas balik, barisan saya dilewatin. Kita bingung dong…. keluarga yang duduk di seberang saya, ngomong ke pramugaranya pake bahasa Indonesia, tp udah lewat 5 menit gak dikasi. Akhirnya karena udah lumayan seret gara2 makan kacang, saya panggil lagi pramugaranya dan minta minum lg tp pake bahasa inggris, dan nggak lama datanglah 3 gelas orange jus buat keluarga itu dan 1 gelas air putih untuk saya. ckckckckcck….

Sampai di KLIA, petugasnya ramaaahhh banget. Muka bingung saya plus my kitty eyes bikin semua orang nanya, apakah saya nyasar dan membutuhkan pertolongan. Senengnya… Jadilah saya dapet briefing singkat dari petugas transit, dari satpam bandara dan dari petugas kebersihan di toilet. Dan yang paling membahagiakan, ketika saya bersin2 tiba2 ada aja petugas bandara yang nyodorin toilet tissue ke saya dan bilang kalo bisa minta air hangat di kantor malaysian airlines. Hwaahhhh…. kejadian gini nii yang belum ada di Indonesia. Entah kenapa dan entah apa hubungannya, tp mendadak saya jadi inget perjalanan saya ke Manila akhir tahun lalu. Ada bang Agustinus yang setiaaaa banget nungguin saya di terminal kedatangan Soeta, padahal pesawat saya delay hampir 4 jam. Waktu saya tanya, dia bilang, dia takut aja saya ilang dan nyasar. Bareng Glory, bang Agus ngejagain saya kayak adik kecilnya. Jadi kangen….

Dan sekarang saya lg terdampar di DOME resto. makan semangkuk besar mie kuah dan teh anget. Sekarang jam 14.32 waktu Kuala Lumpur. Saya punya waktu 4 jam lg sebelum berangkat ke Delhi jam 18.30. Bete ???? Nggak tuh…. Abis makan saya mau naik aerotrain lg… trus muter2, window shopping karena lagi pelit, terus mandi sore dan sholat, makan lagi, baru deh berangkat…. Kalo misalnya bosen, uhmmm samperin aja petugas2 yang tadi berbaik hati dan ajakkin ngobrol lg hehehehehehe….

Episode kedua perjalanan saya ke Delhi ternyata tidak semulus yang pertama. Setelah menunggu sampai jam 6 sore, akhirnya panggilan untuk boarding terdengar juga. Saya bertemu dengan beberapa orang Indonesia di ruang tunggu, tapi sayangnya mereka agak kurang bersahabat (mungkin tidak terbiasa melihat perempuan ramah seperti saya J ). Beberapa orang tua India malah lebih antusias, mereka bertanya kenapa saya mau kerja di Delhi, VSO itu lembaga seperti apa, sampai undangan untuk mampir ke rumah mereka.

Jam 6.30 tepat, pesawat take off. Saya duduk di seat nomor 19D. Bersin-bersin saya semakin menjadi karena AC di kabin pesawat emang lumayan dingin. Setelah merapatkan jaket, membuka selimut dan minum segelas air hangat bersinnya mulai reda, tp hidung saya masih mampet. Untung saja, ukuran tempat duduk saya cukup luas, jadi saya bisa duduk meringkuk (posisi favorit kalau sedang flu). Setengah jam kemudian, pramugari membagikan kacang bawang dan jus. Saya menolak jus karena tadi lupa ke kamar mandi sebelum boarding, sementara saya paling tidak suka pergi ke lavatory pesawat. Cuaca di luar makin buruk, pesawat bumping berkali-kali. Entah karena cuaca atau kondisi saya yang mulai drop, tiba-tiba saya merasa mual. Cukup mengherankan karena biasanya saya santai-santai saja ketika terbang di cuaca yang buruk. Ketika pramugari mengantarkan makan malam, mual saya bertambah parah.

Paket makanan saya berisi nasi dengan ayam kari yang kental, roti pratta, semangkuk yogurt, semangkuk sayur rebus, beberapa keping keripik (rasanya seperti opak), mentega dan jus jambu. Campuran bau yogurt yang asam dan kari ternyata berhasil membuat saya kehilangan selera makan. Salahnya lagi, saya mulai dengan memakan keripik yang ternyata berbau jintan. Saya menyudahi makan saya dan langsung minta segelas teh panas, yang untungnya belum dicampur susu. 5 menit sesudah itu, saya lari ke lavatory dan mengeluarkan isi perut saya yang pertama, disusul dengan kedua, ketiga dan entah sudah berapa kali saya berlari ke lavatory untuk mengeluarkan isi perut sampai akhirnya pramugari memindahkan saya ke kursi pas di depan lavatory yang kebetulan kosong. Seorang pramugara memaksa saya meminum sebuah tablet, mungkin sejenis antimo, dan tak lama setelah itu saya tertidur.

Saya tersentak ketika pilot mengumumkan kalau sebentar lagi akan mendarat. Pramugara yang melihat saya bangun langsung menyodorkan segelas air hangat dan sekantung wafer loacker. Ibu-ibu disebelah saya menawarkan apakah saya mau makan sandwich yang dibawanya. Ya Allah, saya hampir menangis waktu itu. Ternyata saya sudah menyusahkan banyak orang. Saya makan setengah sandwich isi selai strawberry dan keju itu. Tegukan terakhir air putih saya bertepatan dengan mendaratnya pesawat dengan mulus di Indira Gandhi International Airport.

Hal pertama yang saya lakukan ketika keluar pesawat adalah mencari kamar mandi. Saya harus mengganti jilbab saya yang basah dan mencuci muka supaya agak segar. Begitu sampai di kamar mandi, ternyata aktivitas saya bertambah satu. Saya kembali mengeluarkan sandwich yang baru saja saya makan. Petugas pembersih kamar mandi yang melihat saya muntah-muntah membantu memanggilkan petugas yang membawa mobil patroli (saya tidak tahu namanya, tapi bentuknya seperti mobil golf), jadilah saya diantar ke bagian imigrasi dengan mobil itu. Usut punya usut, ternyata Indira Gandhi International Airport menyediakan mobil itu untuk mengantarkan para penumpang yang sudah tua, hamil atau membutuhkan bantuan khusus. Saya langsung terkagum2 dengan layanan free charge ini.

Saya tiba di bagian imigrasi lebih cepat dari penumpang yang lain. Saya mendapat counter dengan petugas yang lucu dan ramah. Saya diomeli habis-habisan, dia bilang kenapa perempuan seperti saya mau pergi ke India untuk bekerja, mendingan menikah dan punya anak banyak. Saya hanya senyum-senyum saja. Surat referensi dan Kontrak kerja dengan VSO saya ditahan mereka. Lewat dari counter imigrasi, berarti tinggal mengurus bagasi. Petugas mobil patroli kembali berbaik hati mengantarkan saya mengambil si merah gedebage. Tidak sulit menemukannya, yang agak sulit menyeret dan menaikkannya ke atas trolly. Keluar dari bandara, saya langsung ingat pesan VSO Bahaginan dan VSO Indonesia, cari orang dengan plakat VSO. Ahh pasti tidak sulit, dengan warna ungu mentereng nya pasti logo VSO gampang ditemukan. Hehehehehe… saya salah besar, di luar mungkin ada ratusan orang yang berjejer dengan plakat aneka warna (pesawat saya tiba bersamaan dengan pesawat dari Brussel). Tradaaa… Ada bapak pakai baju merah yang ngeliatin saya dari tadi, pas dilihat ehhh ternyata bawa plakat VSO. Saya langsung senyum sumringah. Alhamdulillah, saya nggak harus pulang naik taksi. Dan yang lebih mengejutkan ternyata saya tidak hanya dijemput oleh driver VSO tetapi juga oleh Praveen, Program Manager VSO India. Saya bengong dan seneng banget, Praveen rela nungguin sampai jam 12 tengah malam cuma buat ngejemput seorang volunteer. Sakit perut saya langsung ilang. Saya jadi segan bercerita tentang kejadian di pesawat karena membayangkan bagaimana dia juga harus berkorban keluar dari rumah di tengah hujan deras, pergi ke airport dan mengurangi waktu istirahatnya.

Praveen cerita kalau satu jam lagi, ada volunteer dari Kenya yang juga akan tiba di India. Dia bertanya, apakah saya mau menunggu karena biasanya jalanan di India akan macet total kalau hujan seperti ini. Saya mengiyakan, lebih praktis dan tidak menyusahkan si penjemput. Tapi ternyata pesawat dari Nairobi di delay 1 jam, Praveen memutuskan untuk mengantarkan saya terlebih dahulu ke ISI (Indian Social Institute), tempat saya mondok selama in country training. Di mobil saya mendapat hadiah welcome kit dari VSO India, isinya 1 notebook, 1 peta Delhi, 1 panduan tentang ISI dan In Country Training plus duit saku Rs 4,000 untuk 2 minggu. Alhamdulillah.

Tiba di ISI sudah jam 1 malam. Setelah memastikan kamar dan saya baik-baik saja, Praveen langsung cabut untuk menjemput volunteer dari Kenya, yang belakangan saya ketahui namanya Zigi. Saya memaksakan diri untuk mandi, ganti baju dan makan sepotong cokelat sebelum minum satu sachet antangin dan dextamine. Entah jam berapa saya akhirnya tertidur dengan hati sedih karena tidak bisa menghubungi rumah dan mengabarkan kalau saya sudah tiba di Delhi. Mudah-mudahan besok bisa segera mencari simcard baru dan telepon ibu.