Indonesia Vs Malawi, perbedaan yang membuatku jatuh cinta (MALAWI)

Tidak, tentu saja aku tidak bermaksud untuk membading-bandingkan Indonesia dan Malawi. Keduanya memiliki pesona sendiri sendiri yang aku suka dan aku beruntung bisa melihatnya. Meskipun, sejujurnya hidup selama beberapa waktu di Malawi menambah kecintaanku terhadap negeri ku Indonesia.  Bersyukur terlahir di tanah beribu pulau, merindukan ratusan bahasa dan budaya yang membentuk masyarakatnya, bangga akan banyaknya orang orang pintar yang berjuang keras memperbaiki tanah itu. Untuk pertama kali didalam hidupku aku tidak berpikir akan oknum oknum yang korup, aku tidak marah atas invasi orang kaya dari negeri-negeri seberang yang mengekploitasi pulau-pulau eksotik di tanah ku. aku memaafkan pemerintahku yang egois dan memikirkan diri mereka sendiri.  Saat ini aku hanya bisa berpikir satu hal ketika aku memikirkan negeri ku “ untuk pertama kali, aku jatuh cinta”

“Beri satu alasan…” mungkin teman teman ingin tahu.

“Bukan satu, aku akan beri beberapa…” aku cukup yakin bisa memberikan alasan setelah memasuki bulan ke-4 hidup di Malawi. Well, tentunya bukan alasan berdasarkan penelitian selama bertahun tahun oleh peneliti peneliti yang menggunakan pendekatan dan alat teliti tertetu, namun alasan ketika hatiku digetarkan oleh pengalaman dan penglihatan tertentu ketika aku berinteraksi dengan masyarakat disini. Dan getaran itu di Malawi, cukup membuatku jatuh cinta terhadap negeriku.

Alasan pertama, tadinya aku berpikir Indonesia adalah negara miskin. Setidaknya itu yang selalu terdengar ditelingaku selama bertahun-tahun aku melanglang buana di area development. Namun, ketika menginjakkan kaki ku disini, aku menyadari miskin itu apa. Ketika aku berinteraksi di masyarakat korban konflik, gempa dan tsunami di Aceh, aku tidak pernah mendapati satu keluarga pun yang membuat hati ku miris karena aku yakin mereka masih sanggup mencukupi kebutuhan sandang dan pangan mereka. Setidaknya tanah masih subur, tumbuhan masih tumbuh dengan sempurna, dan kita cukup kreatif untuk mengolah sesuatu menjadi bahan makanan. Disini, masyarakat pedesaan cukup makan dengan Nsima (jagung pengganti nasi yang ditumbuk menjadi tepung)  dengan satu jenis sayur yang sering mereka sebut sayur chiness yang dimasak hanya dengan hanya dibubuhi garam. Lupakan saja tentang herbs dan spices lainnya. Itu hanya milik orang orang kaya. Mereka tidak memakan daun singkong, daun papaya, sayur nangka dan tumbuhan lain yang sering kita makan di Indonesia, simply karena mereka tidak tahu kalau tumbuhan itu bisa dimakan, bergizi tinggi lagi. Dan lagi, tanah mereka tidak sesubur tanah kita. Sewaktu waktu mereka bisa mengalami kekeringan panjang, dan sewaktu waktu juga mereka bisa terkena bencana banjir. Sungguh suatu kombinasi yang tidak biasa.

Alasan kedua, aku bersyukur orang tua kita memasak ketela sebelum kita makan. Ya, KETELA atau dikampung ku kenal sebagai singkong, dan jujur saja aku sangat menyukainya. Disini, di Malawi, cukup di kupas seperti mengupas mangga dan, “hup” lalu dimakan layaknya afternoon snack yang lezat. Beberapa teman sekantorku mengejekku “bodoh” ketika aku menolak memakan mentah singkong itu dan memandang heran betapa mereka sangat menyukainya. Namun biarlah, itu perbedaan yang menarik.

Alasan ketiga, aku bisa dibilang jarang sekali berinteraksi dengan orang dengan virus HIV. Meskipun aku tahu ada banyak kasus HIV yang terjadi khususnya dikalangan orang orang muda di tanah beribu pulau itu.  Tetapi aku masih tetap yakin kalau keadaan kita masih jauh lebih baik dari keadaan orang orang disini. Dibulan ke empatku saja, aku sudah bertemu banyak orang yang menderita karena virus ini. Menariknya, mereka terbuka akan hal itu. Dengan gampangnya mereka berkata kalau mereka penderita HIV/AIDS.  Statistik sendiri berkata 11 dari 100 adalah pembawa HIV/AIDS.

Alasan keempat, karena aku suka menari, hal pertama yang ingin aku pelajari sejak aku tiba adalah tarian Malawi. Tetapi, setelah aku melihat bagaimana mereka menari, aku tidak yakin kalau aku akan mempelajarinya. Satu satunya bagian tubuh yang bergoyang adalah pinggul. Sungguh suatu tarian yang sensual.  Bisa bisa aku terkena undang-undang pornography dan pornoaksi kalau aku menari seperti itu di Indonesia. Aku tidak mengatakan kalau tarian itu jelek, tidak sama sekali. Tarian itu menarik, dan energy bahagia yang di transfer ketika mereka semua menari sangat besar. Aku beruntung bisa  melihat tarian indah serta sakral di Indonesia dan tarian penuh energy di Malawi.

Alasan kelima, Di Malawi, sejauh mata ku memandang, aku dimanjakan oleh dataran  yang luas, pengunungan dan bukit bukit yang menonjol disana sini, kalau beruntung aku bisa melihat sekelompok Heyna yang kesasar. Sangat indah. Sayangnya di Indonesia, seringnya pandanganku terhalang oleh gedung dan pemukiman. Mungkin di beberapa daerah eksotis lainnya masih banyak pemandangan seperti ini, yang membuatku ingin berjalan lebih jauh lagi di negeriku sepulang ku nanti. Aku berjanji.

Tidak peduli apakah alasan itu cukup atau tidak, tapi sekali lagi “untuk pertama kali, aku jatuh cinta”. Namun, bukankah tidak perlu ada alasan untuk mencintai?. Aku akan pulang, tidak lama. Mungkin besok, lusa, bulan depan, atau tahun depan. Dan aku akan melihat Indonesia ku kembali.

Advertisements
Tagged , , ,

A Footprint Can Come Not Only From A Foot (Kenya)

Permisi, sekedar numpang tempat untuk sharing info dari blog negeri penempatan saya, Kenya. Mari kita lupakan sejenak semua kejenuhan rutinitas hidup sehari-hari sebagai voluntir di negeri orang dimana kita jauh dari semua hal-hal yang familiar dan nyaman dari Tanah Air kita.

Yup, and so I’ve had my fair share of ups and downs these days. Tapi tipikal saya, ogah kesel terlalu lama. Daripada gedek sama hil-hil yang mustahal di tempat kerja, sayapun mencari hal lain yang lebih menarik untuk men-distract saya. Environmental issues it is!

Simaklah blog post dari link ini dan sapa tau it can knock some senses into us. Lama-lama saya jalan kaki juga nih dari Nairobi ke Malawi untuk ngunjungin 2 comrade saya, Bang Freddy and Lili 🙂 Guys, ntar numpang sofa lu semua yak! 😀

a footprint can come not only from a foot.

Tagged , , ,

Tidak ada alasan untuk tidak bahagia (MALAWI)

Seorang teman bertanya, “betah?”

Aku menjawab “iya”, tetapi hati ku bertanya lagi “ serius?”

11 minggu berada di placement ku aku masih bingung apa aku betah atau tidak, perjalanan masih jauh, memang… Suasana hatiku selalu up and down. Suatu hari aku bangun dengan energy yang luar biasa, mata berbinar binar, semangat 45 untuk berangkat ke kantor, rencana dan konsep yang jelas akan apa yang akan aku lakukan di proyek ku. Tetapi ada kalanya juga aku sama sekali tidak ingin bangun dari tempat tidur, bingung mau melakukan apa, kabur akan tujuanku ada disini, merasa waktu sangat lambat sekali. Akan tidak adil jika aku hanya menceritakan kesenangan yang aku rasakan disini dan betapa bersyukurnya aku dikirim ke tempat ini. Orang pintar pernah berkata Kejahatan yang paling besar adalah berbohong kepada diri sendiri. Karena itu, meskipun akan menuai penghakiman dari orang lain yang membaca blog ini, biarlah, aku tidak akan hanya bercerita betapa bersyukurnya aku, namun aku juga akan bernyayi betapa tidak senangnya aku.

Mungkin beberapa akan berkata; “ itu kan pilihan mu, jadi jangan mengeluh” dan aku akan menjawab “memang, dan aku akan menjalaninya dan berusaha memperbaikinya” atau aku pernah mendengar seseorang berkata “kalau tidak bahagia, pulang saja” tapi kemudian aku akan menjawab “aku tidak bahagia bukan berarti aku harus menyerah” Aku harus punya alasan yang lebih kuat untuk pulang sebelum waktunya. Lagi pula banyak hal yang membuat hidupku jauh lebih berarti disini.

Kemarin saja, aku diingatkan untuk kembali bersyukur setelah melihat mata yang berkaca kaca dari wanita tua tukang bersih bersih dikantorku ketika aku memberikan setengah bungkus keripik kentang lays yang kubeli dari toko dikota. Aku tertegun ketika wanita itu  menghapus airmatanya dan memasukkan setengah keripik itu kedalam tasnya seraya berkata “My children never eat this, they will be so happy” Hati ku menjerit. Tadinya aku memberikan keripik sisa itu karena aku tidak sanggup untuk menghabiskannya. dan ternyata sesuatu yang aku anggap tidak berarti bisa berarti banyak buatnya.

Diam diam setelah dia berlalu, aku menghapus airmataku dan meminta agar Tuhan mengembalikan perasaan sensitive yang hilang semenjak aku tiba disini, aku hanya berfokus pada diriku sendiri. Menuntut supaya didengarkan, mengeluh karena kurangnya support dari program office, merasa capek karena partner kerja susah untuk diandalkan. Entahlah…namun yang pasti, kejadian seperti kemarin membuat aku merasa perjalanan ku sejauh ini berarti. Setidaknya aku belajar banyak tentang diriku. Membuatku sadar tidak ada alasan buatku untuk tidak bahagia, menganggap kalau suasana hati yang tidak senang adalah proses pengenalan yang lebih dalam terhadap diriku sendiri.

Mungkin karena itu juga kemarin malam aku tidak mengomel sepanjang jalan kenangan ketika carpenter dan anak buahnya datang untuk mengantarkan perlengkapan rumah yang kupesan lebih dari sebulan yang lalu. Sofa (tanpa meja), meja kerja, meja makan, rak buku, lemari pakaian.  Semuanya datang dengan keadaan pincang. Maksudku, keempat kakinya tidak diukur tidak sempurna, alhasil semuanya goyang goyang bak kursi goyang. Aku harus membiasakan mataku untuk melihat sofa yang teleng 10 derajat, semua kaki meja dan lemari yang harus kuganjal dengan lapisan kartun supaya mereka seimbang.

Aku semakin menyadari rendahnya kualitas pekerjaan disini, tetapi anehnya mereka puas dengan apa yang mereka lakukan. Aku berkata kepada Jimmy, satpam yang membantuku tadi malam, kalau tidak akan ada orang yang membeli perlengkapan dengan kualitas seperti itu di Indonesia. Namun jawabannya mengagetkanku, “ For us it’s really a good job and people pay a lot of money for these”. Hal itu mengingatkanku akan workshop Monitoring dan Evaluation beberapa hari lalu, beberapa kepala sektor di daerah karonga sama sekali tidak bisa mengoperasikan komputer. Semua laporan di tulis dengan tangan dan dihitung manual yang membuat pekerjaan kami volunteer berlipat ganda.  Dan sepertinya mereka tidak terganggu dengan hal itu, mereka tetap bahagia.  Mereka puas dengan keadaan mereka.

Dalam hati aku berjanji tidak akan membiarkan hal kecil merusak moment syukur dihatiku, dan puas dengan keadaan ku saat ini. Dan sungguh, saat ini aku tidak menemukan satu alasan pun untuk tidak bahagia. Beberapa orang pintar berkata, semakin banyak kerikil dijalan yang terlewati menentukan betapa kuatnya kita berjalan.

Tagged , ,

Malam Jumat Itu (Kenya)

Twas a Thursday night like any other pre-Friday nights here in Nairobi
Finished my usual mundane (sigh…) duties and headed out to a local infamous Nairobian joint, The Tree House

Enough is enough said I, of the 2 grilling weeks I had trying to please my panicky superiors and being drowned in their awry energies

Enough is enough thought I, of being in the similar shoes as my other volunteer comrades of being heavily misunderstood by their surroundings

This Thursday night, I thought shall be a revelation of my being here in Kenya

3 cold beers and a three-quarter empty stomach was enough to let myself lose in the rhythms and the beats of Afro-Asian-Fusion-Reggae-Retro-Pop music of the night

Yes, I was that lost. So lost in the moment and music as I closed my eyes and allowed my entire body to be swayed by the tunes of the night, not caring about the next hour, the next day nor the next night

Allow me to be entranced and enchanted by the soulful singing of the stunning Sudanese who sung in Arabic
Allow me to analyze and bop along to the critical lyrics of the Filipino reggae crooner who sang about discrimination
And how I was so enticed by the fusion guitarist from Mombasa who played side by side with Reggae Man

The people around me dancing
The people behind me chatting and smoking

And I, part of it all…

Everyone looked beautiful as they grooved, Lord only knew what actually went on in their individual heads that very Thursday night

Groovin along to the Coastal sounds of Kenya

Groovin along to the Coastal sounds of Kenya

And this is why I love this Dark Continent. A continent that’s actually so colorful where music and dancing can lift someone away to another place where they will wish they don’t ever have to return home
And boy, I don’t ever want to come home

The Sudanese

The Sudanese and The Guitarist

Then I suddenly found myself sitting in what felt like a white hearse being driven home before the stroke of midnight.

Oh No! Where was my Sudanese woman? And that fusion guitarist from Mombasa? How about the Filipino Reggae Man?
Where did everybody go?

As I sat still in that white hearse I thought, am I going to my own funeral?

Friday, behold…

Tagged , , , ,

It used to be green (Malawi)

Teringat saat pertama kali aku menginjakkan kaki di Malawi; kesan pertama adalah Hijau. Saat masih di atas pesawat sebelum mendarat di Lilongwe, yang aku lihat juga dominasi warna hijau dimana mana.  Saat akan berangkat menuju hotel, di tengah perjalanan menuju parkiran mobil di Bandar Udara Kamuzu, Lilongwe; aku masih ingat betapa derasnya hujan yang datang menyambut dan kami semuapun harus bergegas masuk ke dalam mobil menghindari basah. Hujan saat itu benar-benar deras dan di sepanjang perjalanan menuju hotel dimana kami akan menginap selama In Country Training (ICT), aku tak berhenti berdecak kagum akan warna hijau yang mendominasi suasana saat itu. Wah, tidak jauh berbeda dengan Bandung, pikirku.

Hijau adalah salah satu warna favoritku. Warna hijau adalah warna kehidupan, membuat mata terasa adem dan relaks. Kata pepatah.. dari mata turun ke hati, jadi teorinya kalau mata sudah adem dan relaks demikian halnya dengan hati. OK, let’s cut this crap thing about color.

Lalu setelah 4 bulan berada disini, di saat musim penghujan berhenti dan berganti musim dingin (yang kalau malam  bisa mencapai 5 derajat celcius) membuat suasana warna juga berubah… warna hijau mulai pudar dan berganti dengan warna kuning dan coklat.. hujan berhenti tercurah dan tanah menjadi kering.

Agaknya perubahan warna ini bisa dibilang mewakili suasana hati dan emosionalku… banyak hal terjadi akhir-akhir ini dan sampai saat aku menulis ini yang kulihat hanya kekeringan…Mulai dari konflik dengan rekan satu rumah yang selalu mengeluh dan mentransfer energi negatif hampir setiap hari sampai ketidakjelasan pekerjaan akibat restrukturisasi organisasi dan sangat kurangnya dukungan secara profesional. Berangkat dan pulang kerja tidak sama seperti dulu lagi. Dulu, berangkat dan pulang kerja bersama-sama Frank, teman serumah yang pertama, begitu menyenangkan.. sekarang berangkat kerja adalah kegiatan yang tidak bersemangat karena tahu bahwa tidak ada hal signifikan yang akan dikerjakan di kantor  dan saat pulang kantorpun tidak berbeda… karena tahu bakal bertemu penghuni rumah lainnya yang wajahnya selalu ditekuk 45 derajat sambil mengeluh tak berujung untuk semua hal. Huh…

Ketika Hijau Itu Hilang

Biasanya aku selalu berhasil dan mudah mengubah suasana hati, tapi kali ini, terus terang terasa berat…. entah mengapa.

Pergi dan bekerja sebagai volunteer ke Afrika adalah cita-citaku dari awal. Mendapati suasana “Hijau” di Afrika adalah kejutan awal yang sebenarnya tidak kuharapkan, aku justru berharap menemukan suasana coklat dan kekeringan. Lalu ketika hijau itu pergi, mengapa akusedih? Lelah berandai-andai tetapi entahlah…. mari kita lihat saja bagaimana waktu memutuskan segalanya.

Semoga aku menemukan “sumber air” baru yang sanggup menghijaukan hatiku… SEMOGA.

Maling versi Karonga (MALAWI)

Banyak yang ingin diceritakan di sini, tapi sungguh aku tidak tahu harus mulai dari mana. Setiap kali aku mengalami sesuatu yang berbeda, pikiranku selalu berkata, “aku harus menulis ini” dan akhirnya, semua ide ide tulisan itu bersatu bak benang kusut yang sulit untuk di urai.

Tanggal 31 mei nanti, tepat dua bulan aku menginjakkan kaki di benua hitam ini. Banyak hal yang telah terjadi. Bahkan mungkin terlalu banyak dan dua bulan ini serasa lama sekali. Khabar baiknya adalah, kemarin aku  pindah ke rumah yang disediakan oleh organisasiku. Meski dengan perabotan yang seadanya, aku siap untuk pindah. Setelah dua bulan tinggal di kamar hotel dan hidup dengan suitcase, aku capek, aku bosan. Mungkin itu juga sebabnya mengapa aku merasa waktu berjalan lama sekali disini.  Rumah besar dengan 3 kamar tidur untuk saat ini hanya berisi satu tempat tidur dan kulkas. Aku merindukan fasilitas market yang sangat mudah di Indonesia. “Ada uang ada barang”. Di Malawi, tidak peduli sekaya apa, “Ada uang, belum tentu ada barang”. Untuk menyelesaikan tempat tidur misalnya, mereka butuh waktu satu minggu. Bayangkan kalau aku butuh  sofa, lemari, meja kerja, rak buku, dll, berapa lama mereka akan menyelesaikannya?. Mereka suka sekali berkata “ Little by little atau slowly atau bahasa tumbukanya PACHOKO PACHOKO”. Hidup disini memang harus punya stok sabar yang melimpah.

Aku memandangi rumah besar tetapi sederhana ini. Tidak banyak yang bisa dilakukan untuk terlihat menarik dan mewah.  Apalagi dengan allowance sebagai volunteer, aku harus melupakan hobby menata rumah dengan ornament ornament lucu, permainan warna dan lampu yang biasa kulakukan di Indonesia. Pun lagi membeli lukisan untuk mempercantik kamar tidur atau ruang tamu. Sudah, lupakan saja. Namun aku cukup puas dengan hasil buruanku di pasar loak beberapa waktu lalu. Setidaknya aku bisa menggantungkan kain kain cantik dengan berbagai warna warna lembut disemua jendelaku.

Khabar “sedikit buruknya”  tinggal sendiri di Malawi cukup beresiko. Tingkat kejahatan dan pencurian di sini tinggi sekali. Apalagi di Karonga,  hanya ada beberapa gelintir “mzungu” (bule ) yang tinggal disini. Jadi kami bisa dibilang target yang empuk. Seperti tiga minggu yang lalu, rumah seorang volunteer peace corps di bobol dengan kapak disiang bolong. Semua barang electronic miliknya di babat habis termasuk passport dan alat alat kosmetik yang dia bawa dari amerika. Meskipun tidak begitu banyak uang yang digondol, tetap saja kesalnya minta ampun. Seandainya pencuri itu tahu berapa banyak uang yang kami hasilkan perbulan, mungkin menoleh pun dia tidak akan sudi karena kami sama miskin nya dengan orang orang disekitar kami. Hanya warna kulit dan label ‘Mzungu” yang membuat kami berbeda.

Dulu  di tahun 2011, seorang pastor yang sedang melakukan misi social di Karonga terkena sial, beberapa orang membobol rumahnya pada malam hari dan menodongkan senjata dikepalanya. Tumpukan dollar yang dia simpan untuk misi sosialnya ludes sudah. Namun belakangan ini aku diberitahu kalau sedikit banyak perampokan itu juga kesalahannya karena setiap kali dia pulang ke Amerika, dia selalu membawa bergepok gepok dollar dan menukarkannya di Black Market dimana semua orang orang jahat berkumpul.

Namun ada juga beberapa cerita lucu. Pernah sekali seorang pencuri mencuri kulkas dari rumah seorang mzungu,dengan tertatih tatih menyeret kulkas sebesar bagong itu menuju semak semak. Sampai 500 meteran, sang pemilik rumah bersama beberapa orang kampung lainnya memergoki sang pencuri kulkas besar itu, dan menyuruhnya menyeret kulkas tersebut kembali kerumah. Tidak terbayang betapa letih nya dia J

Beberapa waktu lalu juga pernah ada kasus unik. Di Karonga, hanya ada satu toko dengan usaha digital photography. Tentu saja mereka juga menjual kamera yang harganya meroket. Sahabat baruku, sepasang missionary America-Australia yang pernah tinggal selama 27 tahun di Indonesia membeli kamera SLR second hand yang dibeli pemilik usaha tersebut dari mzungu lain yang meninggalkan Malawi. Mereka memerlukan kamera itu untuk project community development mereka. Oh mereka membina sebuah kelompok drama yang memberikan pesan pesan edukatif seperti HIV-AIDS, Alchohol abused, gender, malaria, pohon, dll di sekolah sekolah dan kelompok kelompok masyarakat. Anyways, Suatu hari kamera itu raib tak tentu rimbanya. Hilang di gondol pencuri saat mereka melakukan pertunjukan drama. Sampai beberapa minggu kemudian, seseorang muncul di toko tempat mereka membeli kamera itu. “ase (sebutan untuk abang), do you have battery for this camera?” Tentu saja pemilik toko itu mengenali barang yang pernah jadi miliknya. Dan pencuri pun tertangkap basah.

Aku yakin masih banyak kisah pencurian lainnya. Buatku, aku percaya Tuhan tidak akan pernah meninggalkanku. Seperti doa doa yang sering aku ucapkan, malaikat malaikat Tuhan berkemah disekitar ku, dan darah Tuhan menutup bungkus tubuh dan rumahku. Aku menyesal membiarkan diriku larut dalam ketakutan dan kehawatiran selama tiga malam berturut turut dan berakhir tidur hanya beberapa jam saja. Ajahn Bram memang benar, “hal terberat adalah memikirkannya”. Saat nya untuk kembali ke level of mind ku ketika aku masih di Indonesia. Menyadari tidak ada yang permanen, semua material dunia ini bukan milikku, dan aku harus siap jika sewaktu waktu aku harus mengembalikannya.

Hal yang terbaik yang bisa aku lakukan saat ini adalah mengikuti aturan organisasiku dengan memperkerjakan satpam, membina hubungan baik dengan tetangga tetangga baru ku, dan percaya Tuhan akan menjagaku.

Tagged , , ,

You can’t be Asian (Malawi)

“In my country, people will not consider you as Asian!”, Begitu kata rekan dari Eropa dan Kanada. Penampakanku “kurang” Asia bagi mereka, terlalu gelap dan matanya kurang sipit. Bagi mereka Asian itu adalah orang-orang China, Jepang, Korea, Thailand. “So, what will people consider me then?” tanyaku kepada mereka. “Hmm I don’t know, maybe Indian? Well, you don’t look Indian as well though. I guess they will just think that you are half black and half white”.

Susah punya penampakan dan warna kulit tanggung sepertiku. Thanks to my parent though, perpaduan Jawa dan Sangir Talaud dari mereka membuatku cukup “International face” lebih tepatnya mungkin “3rd world country face”.

Waktu di Thailand, sering disangka orang Thailand, sama orang Burma disangka orang Burma, di Cambodia disangka orang Cambodia, di Filipina disangka orang Filipina… waktu di Singapura disangka orang Brazil… pernah ada yang nebak aku orang Amerika!!  Nah Sekarang aku di Benua Africa.. Bagaimana?

Pas di Nairobi, petugas bandara ‘menuduh’-ku orang Madagascar, lalu disangka orang India oleh petugas bea cukai. Sesampainya di Malawi, beberapa orang yang kutemui secara random mengira aku orang Kenya. Aku bahkan harus bertanya kepada teman-teman dari Kenya, apakah memang aku kelihatan seperti orang Kenya? seorang berkata ” That’s impossible Freddy, you don’t look like Kenyan at all!” Tetapi ada 2 orang yang berkata “Well, you can be a Kenyan from Mombasa, my friend.”  satu rekan lagi berkata ” I think it’s from the way you talk and yes, you can be a Kenyan with some middle east background.” Menarik.

Yang lebih menarik lagi adalah saat aku sedang berjalan-jalan di tepi pantai Danau Malawi, seorang lelaki paruh baya datang dan menghampiriku, kami bersalaman (orang disini sangat suka berjabat tangan), setelah berbasa-basi (mereka juga suka sekali berbasa-basi), dengan tetap tanganku masih digenggamannya dia berkata “is your mother white?” Aku tertawa lepas dan berkata bahwa aku orang Asia, kedua orang tuaku orang Asia. “Oh, I thought you are half Malawian from your father and half white  from your mother. You have a very nice color, my friend.” katanya sambil mengelus ngelus lenganku. Aku hanya bisa tertawa panjang dan berkata terima kasih. WOW.. seumur-umur belum pernah ada yang memuji-muji warna kulitku.

Masih kurang menarik?

Ada 2 cerita lucu. Kenapa lucu karena kejadiannya justru malah waktu masih berada di Indonesia.

Kejadian pertama di Bandung. Couchsurfing (CS) gathering, acaranya buka puasa bersama. Tema kostum-nya middle east, jadi aku dan beberapa teman berpakaian ala middle east man, pake sorban dan baju panjang. Ada sekitar 50 orang hadir di acara tersebut, karena ini acara couchsurfing ya tentu saja banyak juga warga asing yang datang dan hadir di acara ini. Tentu saja kami harus menggunakan bahasa inggris ketika berbicara dengan mereka. Di tengah-tengah percakapan dengan beberapa rekan CS Indonesia dan rekan CS dari America, seorang Bapak anggota baru CS datang dan ikutan nimbrung, tiba-tiba sang bapak mendekat dan berkata ” Excuse me, sir. Are you from Ghana?”. Ia mengira dengan pakaian dan warna kulit gelap dan logat inggris jawa medhokku, aku pasti adalah orang Afrika dan Ghana adalah negara Afrika beragama Muslim yang paling mudah ia sebutkan. Rekan rekan yang mendengar pertanyaan ini tertawa terbahak-bahak, dan sejak saat itu aku selalu diejek sebagai orang Ghana. Thank to you, Sir!

Kejadian kedua adalah di Bali. Masih dengan kegiatan Couchsurfing (CS) kali ini adalah saat Hitchhike race (lomba sampai pada satu tujuan dengan cara menumpang di kendaraan orang lain). Aku dan  rekan CS dari Bali Nadia, Frieder dari German dan Rangie dari Thailand berkelompok bersama mencoba mendapatkan tumpangan untuk sampai ke Pura Ulandatu. Kami sudah berhasil menumpang di beberapa mobil secara estafet. Di suatu jalan raya yang panas di tengah terik matahari Bali yang mencekik.. kami mencoba mendapatkan tumpangan. Beberapa kali kami gagal, tetapi tiba tiba sebuah mobil berhenti… seorang bapak mempersilahkan kami semua masuk ke dalam mobilnya, dan aku langsung menggambil posisi bangku depan di samping sang Bapak. Pak Gede, begitu beliau memperkenalkan dirinya. Kamipun memperkenalkan diri kami masing-masing. Lalu iseng-iseng aku bertanya, kenapa Pak Gede bersedia berhenti dan mengangkut kami semua. Mengejutkan jawaban sang Bapak. Dia dengan jujur berkata bahwa ia sangat terkejut melihat reinkarnasi Idi Amin (ditaktor dari Uganda) berdiri di tengah jalan di Bali. Dan tentu saja yang ia maksud adalah AKU!

Black is a new white. :)

Black is a new white. 🙂

Tagged , , , , ,