Tag Archives: Karonga Malawi

Drama di pagi hari…(MALAWI)

Baru kusadari kalau aku memulis post terakhir di blog tersayang ini lima bulan yang lalu. Kejadian pagi ini sungguh membuat tanganku gatal untuk menuliskan sesuatu dan berbagi dengan teman-teman di kampung halaman.
Pagi ini sama seperti pagi biasanya. Setelah melakukan yoga, aku bermalas-malasan dengan secangkir teh dan selembar roti tawar diteras rumah. Wini dan Oliver seperti biasa melambaikan tangan ketika mereka hendak pergi kesekolah. Induk semangku seperti biasa menyapu semua halaman dan berbincang-bindang dengan tetangga depan rumah. Aku hanya duduk disana, sampai saat aku harus berbenah dan siap-siap mengenjot sepeda menuju kantor.
Namun ternyata pagi ini tidak seperti pagi biasanya. Sesaat setelah aku memarkirkan sepedaku, seorang anak muda dengan umur berkisar 20-an entah datang dari mana menyalamiku dan 2 orang volunteer lainnya yang kebetulan bekerja di kantor yang sama denganku. Dengan gemetaran dan wajah penuh keringat dia berkata kalau dia perlu bantuan karena banyak orang yang ingin membunuhnya. “Ini hanya gurauan” Pikirku. Namun keadaannya yang memelas sungguh membuat kami tidak tega.
Kami membawanya kesatu ruangan, memberikan sebotol air dan selembar roti. Suatu kesalahan. Dia mulai berakting aneh. Dia berkata kalau dia seorang prophet dan Tuhan berbisik kalau dia akan mati ditangan orang-orang yang sangat kejam dan hanya kami bertiga yang bisa menolongnya. Saat itu kami sadar kalau dia perlu pertolongan dokter jiwa. Aku meminta seorang kolega ku untuk berbicara dengannya dan membawanya ketempat yang bisa menolongnya. Namun keadaan semakin kacau. Dia semakin berteriak dan menolak beranjak dari tempat kami mendudukannya. Beberapa kolega yang lain mulai berdatangan. Semakin kuat mereka menariknya, semakin kuat dia bertahan di pintu seraya berkata dan memandang kami “Help me” hati ku hancur. Aku berlalu dan percaya kalau kolega ku akan membawanya pergi.
Masih dengan suasana kacau di luar, aku mulai mengeluarkan laptop dan perlengkapan lainnya untuk mulai bekerja. Tetapi aku terkejut dan mulai panik ketika dia berhasil menerobos dan melepaskan diri dari kolega ku dan duduk di kursi persis didepan mejaku. Entah maunya apa. Dengan gemetaran dia menatapku tajam. Aku bergidik dan tanpa sadar aku mulai menjerit dan berlari menjauhinya. Kolega ku yang lain menariknya dan tentu saja dia bertahan di kursi itu menolak untuk pergi sambil berteriak-teriak. Keadaan semakin diluar kendali, untuk kedua kalinya dia berhasil melepaskan diri dan berlari menuju ruangan yang lain dimana aku dan seorang volunteer berada. Dengan sigap, kami menutup pintu dan mengunci. Dia tidak bisa masuk dan tetap berteriak-teriak mereka menangkapnya lagi, kali ini salah seorang memukulnya dan mengucapkan sesuatu dalam bahasa lokal dan akhirnya dia menyerah dan berlalu.
Tadinya kami pikir kalau dia sakit jiwa dan merasa prihatin karena tidak ada dokter jiwa di karonga. Namun kolega ku berkata kalau perbuatan itu biasa pada seorang perokok ganja belum lagi pengaruh alcohol yang membuat keadaan semakin buruk.
Di Malawi, kebiasaan merokok ganja dan minum minuman beralkohol cukup memprihatinkan. Dengan uang 50 Malawi Kwacha (setara Rp. 1700), mereka sudah bisa membeli satu sachet (25 ml) alcohol dengan persentase 40 %, entah berapa yang harus mereka bayar untuk membeli ganja. Tak heran kalau banyak anak-anak muda yang bertemperamen tinggi, aggressive, kasar dan liar. Salah satu alasan yang membuatku tidak mengiyakan perpanjangan kontrak untuk setahun mendatang. Lingkungan yang sangat tidak sehat, tidak buat ku.
Bayangkan saja, beberapa staff di kantor bekerja dengan pengaruh sachet itu. Sering aku bertemu anak-anak muda yang berjalan sempoyang ketika aku melakukan lari pagi ku yang membuat aku memutuskan untuk tidak melakukannya lagi mengingat keadaan masih sangat sepi. Di pasar, di jalan, di ruang meeting, selalu saja ada yang sedang berada dibawah pengaruh sachet atau pun ganja itu. memprihatinkan bukan.
Saat ini aku hanya berkata dalam hati;” I am glad that I am doing this only for one year”. Meskipun aku menyukai apa yang aku lakukan disini, namun sungguh aku tidak punya energy lagi untuk merasa takut. Pulang, adalah kata terindah saat ini. 83 hari lagi. Aku harus menyelesaikan tugas ini.

Advertisements
Tagged , , ,