Tag Archives: Karonga

BAPAK, kemana perginya uang itu? (MALAWI)

“Maaf kawan, tidak banyak yang bisa kulakukan”

Aku memelas, karena memang tidak banyak yang bisa kulakukan selain hanya bisa mendengarkan kisah Mbowe. Aku ikut merasakan tulang-tulang ku menggeram marah mendapati gaji sebahagian besar staff pemerintah di Karonga belum terbayar.

Hilang, bagaimana mungkin uang sebesar 30 juta kwacha (750 juta rupiah) untuk dana bulan juni hilang dari rekening pemerintah?. Tak seorang pun tahu kemana uang itu pergi, tidak district commissioner nya, tidak juga pihak bank nya. Anehnya, perdiem untuk pertemuan-pertemuan yang dilakukan pada bulan Juni sangat tidak masuk akal. Pernah sekali aku mendengar, mereka membayar perdiem 30.000 kwacha (750.000 rupiah) per orang. Oh My God, uang sebanyak itu sangat cukup untuk memberi makan satu keluarga dalam satu bulan. Aku sangat marah mendengarkannya. Terang saja mereka tidak suka menghadiri undangan workshop yang aku lakukan karena aku hanya diberi otoritas untuk membagikan uang makan siang sebesar 1000 Kwacha (25.000 rupiah). Frustasi…ya..aku benar benar frustasi.

Dan sekarang ketika hal itu mempengaruhi teman temanku, aku semakin geram. Cleaning lady yang tadinya manis, sekarang suka teriak teriak gak jelas dalam bahasa chitumbuka, ketika aku bertanya ada apa, dia akan berkata “ I am hungry my friend, I am poor my friend, I have nothing my friend” dan sewaktu waktu dia akan datang ke meja ku minta di belikan pisang atau singkong. Mbowe, sahabatku yang tadinya ceria, kudapati termagu sendiri, kebingungan harus melakukan apa untuk memberi makan keponakan-keponakan yang di tinggal  mati bapak ibunya dua minggu lalu. Aku menawarkan diri untuk  member dia pinjaman uang, tetapi dia sungguh mengerti situasiku sebagai volunteer, dia menolaknya. Pegawai-pegawai lain sekarang suka berkumpul di ruangan ku, berbagi kebingungan dengan yang lain. Ada yang butuh untuk membayar kontrakan rumah, biaya sekolah anak, bahkan buat membeli makanan. Gila, sungguh suasana yang gila.

Internet diputus, kendaraan tidak lagi berjalan karena tidak ada dana untuk membeli bahan bakar yang mahal. Pernah sekali, seseorang meminta bantuan kepadaku untuk membeli bahan bakar dan oli mobil. Tentu saja aku menolaknya. Lebih baik aku membantu pegawai lain yang kelaparan daripada membeli bahan bakar supaya mereka bisa berkendara kesana kemari. Toh, petinggi-petinggi di kantor sudah menerima gaji mereka dari pemerintah pusat. Mengapa tidak membeli bahan bakar dengan uang sendiri? ANEH.

Entahlah, entah sampai kapan teman-temanku harus menghadapi situasi ini. Tidak adil. Memang. Aku hanya berharap Tuhan menjaga mereka dan mencukupkan apa yang ada pada mereka saat ini.

Tagged , , , ,

Indonesia Vs Malawi, perbedaan yang membuatku jatuh cinta (MALAWI)

Tidak, tentu saja aku tidak bermaksud untuk membading-bandingkan Indonesia dan Malawi. Keduanya memiliki pesona sendiri sendiri yang aku suka dan aku beruntung bisa melihatnya. Meskipun, sejujurnya hidup selama beberapa waktu di Malawi menambah kecintaanku terhadap negeri ku Indonesia.  Bersyukur terlahir di tanah beribu pulau, merindukan ratusan bahasa dan budaya yang membentuk masyarakatnya, bangga akan banyaknya orang orang pintar yang berjuang keras memperbaiki tanah itu. Untuk pertama kali didalam hidupku aku tidak berpikir akan oknum oknum yang korup, aku tidak marah atas invasi orang kaya dari negeri-negeri seberang yang mengekploitasi pulau-pulau eksotik di tanah ku. aku memaafkan pemerintahku yang egois dan memikirkan diri mereka sendiri.  Saat ini aku hanya bisa berpikir satu hal ketika aku memikirkan negeri ku “ untuk pertama kali, aku jatuh cinta”

“Beri satu alasan…” mungkin teman teman ingin tahu.

“Bukan satu, aku akan beri beberapa…” aku cukup yakin bisa memberikan alasan setelah memasuki bulan ke-4 hidup di Malawi. Well, tentunya bukan alasan berdasarkan penelitian selama bertahun tahun oleh peneliti peneliti yang menggunakan pendekatan dan alat teliti tertetu, namun alasan ketika hatiku digetarkan oleh pengalaman dan penglihatan tertentu ketika aku berinteraksi dengan masyarakat disini. Dan getaran itu di Malawi, cukup membuatku jatuh cinta terhadap negeriku.

Alasan pertama, tadinya aku berpikir Indonesia adalah negara miskin. Setidaknya itu yang selalu terdengar ditelingaku selama bertahun-tahun aku melanglang buana di area development. Namun, ketika menginjakkan kaki ku disini, aku menyadari miskin itu apa. Ketika aku berinteraksi di masyarakat korban konflik, gempa dan tsunami di Aceh, aku tidak pernah mendapati satu keluarga pun yang membuat hati ku miris karena aku yakin mereka masih sanggup mencukupi kebutuhan sandang dan pangan mereka. Setidaknya tanah masih subur, tumbuhan masih tumbuh dengan sempurna, dan kita cukup kreatif untuk mengolah sesuatu menjadi bahan makanan. Disini, masyarakat pedesaan cukup makan dengan Nsima (jagung pengganti nasi yang ditumbuk menjadi tepung)  dengan satu jenis sayur yang sering mereka sebut sayur chiness yang dimasak hanya dengan hanya dibubuhi garam. Lupakan saja tentang herbs dan spices lainnya. Itu hanya milik orang orang kaya. Mereka tidak memakan daun singkong, daun papaya, sayur nangka dan tumbuhan lain yang sering kita makan di Indonesia, simply karena mereka tidak tahu kalau tumbuhan itu bisa dimakan, bergizi tinggi lagi. Dan lagi, tanah mereka tidak sesubur tanah kita. Sewaktu waktu mereka bisa mengalami kekeringan panjang, dan sewaktu waktu juga mereka bisa terkena bencana banjir. Sungguh suatu kombinasi yang tidak biasa.

Alasan kedua, aku bersyukur orang tua kita memasak ketela sebelum kita makan. Ya, KETELA atau dikampung ku kenal sebagai singkong, dan jujur saja aku sangat menyukainya. Disini, di Malawi, cukup di kupas seperti mengupas mangga dan, “hup” lalu dimakan layaknya afternoon snack yang lezat. Beberapa teman sekantorku mengejekku “bodoh” ketika aku menolak memakan mentah singkong itu dan memandang heran betapa mereka sangat menyukainya. Namun biarlah, itu perbedaan yang menarik.

Alasan ketiga, aku bisa dibilang jarang sekali berinteraksi dengan orang dengan virus HIV. Meskipun aku tahu ada banyak kasus HIV yang terjadi khususnya dikalangan orang orang muda di tanah beribu pulau itu.  Tetapi aku masih tetap yakin kalau keadaan kita masih jauh lebih baik dari keadaan orang orang disini. Dibulan ke empatku saja, aku sudah bertemu banyak orang yang menderita karena virus ini. Menariknya, mereka terbuka akan hal itu. Dengan gampangnya mereka berkata kalau mereka penderita HIV/AIDS.  Statistik sendiri berkata 11 dari 100 adalah pembawa HIV/AIDS.

Alasan keempat, karena aku suka menari, hal pertama yang ingin aku pelajari sejak aku tiba adalah tarian Malawi. Tetapi, setelah aku melihat bagaimana mereka menari, aku tidak yakin kalau aku akan mempelajarinya. Satu satunya bagian tubuh yang bergoyang adalah pinggul. Sungguh suatu tarian yang sensual.  Bisa bisa aku terkena undang-undang pornography dan pornoaksi kalau aku menari seperti itu di Indonesia. Aku tidak mengatakan kalau tarian itu jelek, tidak sama sekali. Tarian itu menarik, dan energy bahagia yang di transfer ketika mereka semua menari sangat besar. Aku beruntung bisa  melihat tarian indah serta sakral di Indonesia dan tarian penuh energy di Malawi.

Alasan kelima, Di Malawi, sejauh mata ku memandang, aku dimanjakan oleh dataran  yang luas, pengunungan dan bukit bukit yang menonjol disana sini, kalau beruntung aku bisa melihat sekelompok Heyna yang kesasar. Sangat indah. Sayangnya di Indonesia, seringnya pandanganku terhalang oleh gedung dan pemukiman. Mungkin di beberapa daerah eksotis lainnya masih banyak pemandangan seperti ini, yang membuatku ingin berjalan lebih jauh lagi di negeriku sepulang ku nanti. Aku berjanji.

Tidak peduli apakah alasan itu cukup atau tidak, tapi sekali lagi “untuk pertama kali, aku jatuh cinta”. Namun, bukankah tidak perlu ada alasan untuk mencintai?. Aku akan pulang, tidak lama. Mungkin besok, lusa, bulan depan, atau tahun depan. Dan aku akan melihat Indonesia ku kembali.

Tagged , , ,

Tidak ada alasan untuk tidak bahagia (MALAWI)

Seorang teman bertanya, “betah?”

Aku menjawab “iya”, tetapi hati ku bertanya lagi “ serius?”

11 minggu berada di placement ku aku masih bingung apa aku betah atau tidak, perjalanan masih jauh, memang… Suasana hatiku selalu up and down. Suatu hari aku bangun dengan energy yang luar biasa, mata berbinar binar, semangat 45 untuk berangkat ke kantor, rencana dan konsep yang jelas akan apa yang akan aku lakukan di proyek ku. Tetapi ada kalanya juga aku sama sekali tidak ingin bangun dari tempat tidur, bingung mau melakukan apa, kabur akan tujuanku ada disini, merasa waktu sangat lambat sekali. Akan tidak adil jika aku hanya menceritakan kesenangan yang aku rasakan disini dan betapa bersyukurnya aku dikirim ke tempat ini. Orang pintar pernah berkata Kejahatan yang paling besar adalah berbohong kepada diri sendiri. Karena itu, meskipun akan menuai penghakiman dari orang lain yang membaca blog ini, biarlah, aku tidak akan hanya bercerita betapa bersyukurnya aku, namun aku juga akan bernyayi betapa tidak senangnya aku.

Mungkin beberapa akan berkata; “ itu kan pilihan mu, jadi jangan mengeluh” dan aku akan menjawab “memang, dan aku akan menjalaninya dan berusaha memperbaikinya” atau aku pernah mendengar seseorang berkata “kalau tidak bahagia, pulang saja” tapi kemudian aku akan menjawab “aku tidak bahagia bukan berarti aku harus menyerah” Aku harus punya alasan yang lebih kuat untuk pulang sebelum waktunya. Lagi pula banyak hal yang membuat hidupku jauh lebih berarti disini.

Kemarin saja, aku diingatkan untuk kembali bersyukur setelah melihat mata yang berkaca kaca dari wanita tua tukang bersih bersih dikantorku ketika aku memberikan setengah bungkus keripik kentang lays yang kubeli dari toko dikota. Aku tertegun ketika wanita itu  menghapus airmatanya dan memasukkan setengah keripik itu kedalam tasnya seraya berkata “My children never eat this, they will be so happy” Hati ku menjerit. Tadinya aku memberikan keripik sisa itu karena aku tidak sanggup untuk menghabiskannya. dan ternyata sesuatu yang aku anggap tidak berarti bisa berarti banyak buatnya.

Diam diam setelah dia berlalu, aku menghapus airmataku dan meminta agar Tuhan mengembalikan perasaan sensitive yang hilang semenjak aku tiba disini, aku hanya berfokus pada diriku sendiri. Menuntut supaya didengarkan, mengeluh karena kurangnya support dari program office, merasa capek karena partner kerja susah untuk diandalkan. Entahlah…namun yang pasti, kejadian seperti kemarin membuat aku merasa perjalanan ku sejauh ini berarti. Setidaknya aku belajar banyak tentang diriku. Membuatku sadar tidak ada alasan buatku untuk tidak bahagia, menganggap kalau suasana hati yang tidak senang adalah proses pengenalan yang lebih dalam terhadap diriku sendiri.

Mungkin karena itu juga kemarin malam aku tidak mengomel sepanjang jalan kenangan ketika carpenter dan anak buahnya datang untuk mengantarkan perlengkapan rumah yang kupesan lebih dari sebulan yang lalu. Sofa (tanpa meja), meja kerja, meja makan, rak buku, lemari pakaian.  Semuanya datang dengan keadaan pincang. Maksudku, keempat kakinya tidak diukur tidak sempurna, alhasil semuanya goyang goyang bak kursi goyang. Aku harus membiasakan mataku untuk melihat sofa yang teleng 10 derajat, semua kaki meja dan lemari yang harus kuganjal dengan lapisan kartun supaya mereka seimbang.

Aku semakin menyadari rendahnya kualitas pekerjaan disini, tetapi anehnya mereka puas dengan apa yang mereka lakukan. Aku berkata kepada Jimmy, satpam yang membantuku tadi malam, kalau tidak akan ada orang yang membeli perlengkapan dengan kualitas seperti itu di Indonesia. Namun jawabannya mengagetkanku, “ For us it’s really a good job and people pay a lot of money for these”. Hal itu mengingatkanku akan workshop Monitoring dan Evaluation beberapa hari lalu, beberapa kepala sektor di daerah karonga sama sekali tidak bisa mengoperasikan komputer. Semua laporan di tulis dengan tangan dan dihitung manual yang membuat pekerjaan kami volunteer berlipat ganda.  Dan sepertinya mereka tidak terganggu dengan hal itu, mereka tetap bahagia.  Mereka puas dengan keadaan mereka.

Dalam hati aku berjanji tidak akan membiarkan hal kecil merusak moment syukur dihatiku, dan puas dengan keadaan ku saat ini. Dan sungguh, saat ini aku tidak menemukan satu alasan pun untuk tidak bahagia. Beberapa orang pintar berkata, semakin banyak kerikil dijalan yang terlewati menentukan betapa kuatnya kita berjalan.

Tagged , ,

Maling versi Karonga (MALAWI)

Banyak yang ingin diceritakan di sini, tapi sungguh aku tidak tahu harus mulai dari mana. Setiap kali aku mengalami sesuatu yang berbeda, pikiranku selalu berkata, “aku harus menulis ini” dan akhirnya, semua ide ide tulisan itu bersatu bak benang kusut yang sulit untuk di urai.

Tanggal 31 mei nanti, tepat dua bulan aku menginjakkan kaki di benua hitam ini. Banyak hal yang telah terjadi. Bahkan mungkin terlalu banyak dan dua bulan ini serasa lama sekali. Khabar baiknya adalah, kemarin aku  pindah ke rumah yang disediakan oleh organisasiku. Meski dengan perabotan yang seadanya, aku siap untuk pindah. Setelah dua bulan tinggal di kamar hotel dan hidup dengan suitcase, aku capek, aku bosan. Mungkin itu juga sebabnya mengapa aku merasa waktu berjalan lama sekali disini.  Rumah besar dengan 3 kamar tidur untuk saat ini hanya berisi satu tempat tidur dan kulkas. Aku merindukan fasilitas market yang sangat mudah di Indonesia. “Ada uang ada barang”. Di Malawi, tidak peduli sekaya apa, “Ada uang, belum tentu ada barang”. Untuk menyelesaikan tempat tidur misalnya, mereka butuh waktu satu minggu. Bayangkan kalau aku butuh  sofa, lemari, meja kerja, rak buku, dll, berapa lama mereka akan menyelesaikannya?. Mereka suka sekali berkata “ Little by little atau slowly atau bahasa tumbukanya PACHOKO PACHOKO”. Hidup disini memang harus punya stok sabar yang melimpah.

Aku memandangi rumah besar tetapi sederhana ini. Tidak banyak yang bisa dilakukan untuk terlihat menarik dan mewah.  Apalagi dengan allowance sebagai volunteer, aku harus melupakan hobby menata rumah dengan ornament ornament lucu, permainan warna dan lampu yang biasa kulakukan di Indonesia. Pun lagi membeli lukisan untuk mempercantik kamar tidur atau ruang tamu. Sudah, lupakan saja. Namun aku cukup puas dengan hasil buruanku di pasar loak beberapa waktu lalu. Setidaknya aku bisa menggantungkan kain kain cantik dengan berbagai warna warna lembut disemua jendelaku.

Khabar “sedikit buruknya”  tinggal sendiri di Malawi cukup beresiko. Tingkat kejahatan dan pencurian di sini tinggi sekali. Apalagi di Karonga,  hanya ada beberapa gelintir “mzungu” (bule ) yang tinggal disini. Jadi kami bisa dibilang target yang empuk. Seperti tiga minggu yang lalu, rumah seorang volunteer peace corps di bobol dengan kapak disiang bolong. Semua barang electronic miliknya di babat habis termasuk passport dan alat alat kosmetik yang dia bawa dari amerika. Meskipun tidak begitu banyak uang yang digondol, tetap saja kesalnya minta ampun. Seandainya pencuri itu tahu berapa banyak uang yang kami hasilkan perbulan, mungkin menoleh pun dia tidak akan sudi karena kami sama miskin nya dengan orang orang disekitar kami. Hanya warna kulit dan label ‘Mzungu” yang membuat kami berbeda.

Dulu  di tahun 2011, seorang pastor yang sedang melakukan misi social di Karonga terkena sial, beberapa orang membobol rumahnya pada malam hari dan menodongkan senjata dikepalanya. Tumpukan dollar yang dia simpan untuk misi sosialnya ludes sudah. Namun belakangan ini aku diberitahu kalau sedikit banyak perampokan itu juga kesalahannya karena setiap kali dia pulang ke Amerika, dia selalu membawa bergepok gepok dollar dan menukarkannya di Black Market dimana semua orang orang jahat berkumpul.

Namun ada juga beberapa cerita lucu. Pernah sekali seorang pencuri mencuri kulkas dari rumah seorang mzungu,dengan tertatih tatih menyeret kulkas sebesar bagong itu menuju semak semak. Sampai 500 meteran, sang pemilik rumah bersama beberapa orang kampung lainnya memergoki sang pencuri kulkas besar itu, dan menyuruhnya menyeret kulkas tersebut kembali kerumah. Tidak terbayang betapa letih nya dia J

Beberapa waktu lalu juga pernah ada kasus unik. Di Karonga, hanya ada satu toko dengan usaha digital photography. Tentu saja mereka juga menjual kamera yang harganya meroket. Sahabat baruku, sepasang missionary America-Australia yang pernah tinggal selama 27 tahun di Indonesia membeli kamera SLR second hand yang dibeli pemilik usaha tersebut dari mzungu lain yang meninggalkan Malawi. Mereka memerlukan kamera itu untuk project community development mereka. Oh mereka membina sebuah kelompok drama yang memberikan pesan pesan edukatif seperti HIV-AIDS, Alchohol abused, gender, malaria, pohon, dll di sekolah sekolah dan kelompok kelompok masyarakat. Anyways, Suatu hari kamera itu raib tak tentu rimbanya. Hilang di gondol pencuri saat mereka melakukan pertunjukan drama. Sampai beberapa minggu kemudian, seseorang muncul di toko tempat mereka membeli kamera itu. “ase (sebutan untuk abang), do you have battery for this camera?” Tentu saja pemilik toko itu mengenali barang yang pernah jadi miliknya. Dan pencuri pun tertangkap basah.

Aku yakin masih banyak kisah pencurian lainnya. Buatku, aku percaya Tuhan tidak akan pernah meninggalkanku. Seperti doa doa yang sering aku ucapkan, malaikat malaikat Tuhan berkemah disekitar ku, dan darah Tuhan menutup bungkus tubuh dan rumahku. Aku menyesal membiarkan diriku larut dalam ketakutan dan kehawatiran selama tiga malam berturut turut dan berakhir tidur hanya beberapa jam saja. Ajahn Bram memang benar, “hal terberat adalah memikirkannya”. Saat nya untuk kembali ke level of mind ku ketika aku masih di Indonesia. Menyadari tidak ada yang permanen, semua material dunia ini bukan milikku, dan aku harus siap jika sewaktu waktu aku harus mengembalikannya.

Hal yang terbaik yang bisa aku lakukan saat ini adalah mengikuti aturan organisasiku dengan memperkerjakan satpam, membina hubungan baik dengan tetangga tetangga baru ku, dan percaya Tuhan akan menjagaku.

Tagged , , ,

Karonga, oh kota kecilku (Malawi)

“Mwatandala uli?”
Lidah ku seakan pasih sekali mengucapkan prase bahasa tumbuka yang berarti “how is your day?”. Selama dua hari tiba di Karonga, secara teknis aku mengucapkan hampir kesemua orang yang aku temui dijalan. Bukan karena sok ramah, tapi begini lah tradisi di kota kecil yang berjarak 500an km dari Lilongwe, ibu kota Malawi. Secara jasmani dan rohani, aku memilih kota kecil ku ini dari pada Lilongwe. Meski pun katanya jauh dari peradapan, jauh dari teman teman baru yang sudah seperti keluarga, jauh dari Sunday jazz night, dan salsa party yang dijanjikan salah seorang teman volunteerku,  tetapi, “the warm heart of afrika” yang menjadi nasional symbol malawi yang sebenarnya ada disini. Perbedaan antara “you are most welcome”  yang sering aku dengar pada sepuluh hari pertama ku di Lilongwe jauh berbeda dengan “you are most welcome” selama dua hari aku disini. Disini, ketika mereka mengatakan “welcome and you are home now” mereka benar benar mengatakan itu bukan hanya basa basi semata. Aku merasa jauh lebih berharga disini. Mereka mengharapkan kehadiranku dan tidak memperlakukanku sebagai volunteer yang tidak independent dan yang tidak punya pekerjaan di Indonesia. Well, setidaknya itu kesan yang aku dapatkan di kantor vso Malawi. Serius, VSO Malawi benar benar perlu belajar lebih banyak lagi untuk menghargai dan memperlakukan volunteer mereka. Untungnya aku bekerja bukan untuk VSO Malawi, tetapi untuk komunitas di Karonga. Disini, aku punya banyak Adada dan Amama, karena practically, orang orang tua disini memanggil ku “Daughter”.  Memang sih, tetap saja ada beberapa yang iseng dengan memanggil ku “china china…” atau “Japan Japan”, lalu aku akan menjawab “No China, No Japan”. Aku cukup terganggu. Tapi ketika aku menyadari ketidak tahuan mereka akan negara asia yang lain selain china, kemarahan ku pun berlalu.

Kegerahan yang aku rasa selama 10 hari di kantor vso Malawi di Lilongwe perlahan lahan berganti menjadi rasa ingin tahu dan excitement terhadap kota kecil ini dan proyek iklim dan lingkungan yang akan aku jalankan. Kantor Perencanaan Daerah karonga, yang akan menjadi kantor ku selama setahun ini cukup sederhana. Gedung Sekolah Dasar Negri 1 di desa ku di Tigarunggu, lebih modern dari pada perkantoran ini. Tetapi, tetap saja orang orang nya datang dengan pakaian rapi serta memakai dasi. Aku berbagi ruangan dengan distrik internal auditor, seorang bapak tua yang membaca alkitab dengan jarak 5 cm dari wajahnya, dan cukup mengesankan meski setua itu, dia meminta untuk dicarikan informasi beasiswa buatnya. Dengan semangat seperti itu, selama setahun ini kami akan jadi office mate yang baik. Episode bau bauan di mini bus, usai sudah. Saat ini aku bertarung untuk mengalahkan bau bauan dari atap kantorku. Banyak sekali kelelawar yang bersarang di atap itu, mereka suka sekali melakukan berbagai aktifitas diatas sana, dan tentu saja, mengeluarkan kotoran adalah salah satunya.  Bos ku, yang menjabat sebagai Kepala Perencanaan Daerah berulang kali minta maaf atas ketidaknyamanku dan berjanji akan mengganti atap itu. didalam hati aku berharap supaya dia juga mengusir kelelawar kelelawar itu dengan memasang sign “PROHIBITED FOR BATS”, supaya mereka  tidak lagi  bertempat tinggal di atap ku.

Khawatir aku terkena astma karena belum terbiasa dengan bau itu, aku memutuskan melangkahkan kaki ku ke kota (karena itu episode bau bauan di minibus selesai, tidak perlu minibus di Karonga). Usia shampoo travel size yang aku bawa dari Indonesia sudah tiba. Aku harus membeli beberapa toiletries termasuk shampoo. Sejak tiba disini, aku harus berdamai dengan rambutku. Tidak ada lagi shampoo loreal dan conditionernya karena mahalnya aujubilahiminjalik, boro boro pakai hair tonic dan vitamin rambut. Mau tidak mau, rambut ku harus terbiasa dengan produk local. Aku menyusuri lorong demi lorong di super market sederhana (baca: WARUNG) mencari sesuatu dengan kata kunci “SHAMPOO”. Aku tidak menemukannya di market pertama. Dengan santai aku melangkah keluar menuju market kedua, tentu saja aku tidak menemukannya. Tanpa pupus harapan, aku melangkah kemarket ke tiga, kali ini dengan sangat hati-hati aku membaca satu persatu produk untuk rambut, tetap saja tidak terdapat kata kunci “Shampoo”. Jantungku mulai berdebar, aku sangat berharap aku akan menemukannya di market keempat (baca: Market terakhir), kalau tidak, rambutku akan berakhir dengan sabun batangan. Oh TIDAK. Karena aku tahu, dia akan kompain dengan wujudnya yang seperti ijuk menusuk nusuk kepalaku. Tetap saja, tidak ada shampoo. Aku mengutuki kebodohanku kenapa aku tidak membawa stock dari LILONGWE atau MZUZU. Aku benar benar lupa kalau sebagian besar wanita di africa mencukur habis rambut mereka. bagi yang punya banyak uang, mereka cukup meng-implant rambut dengan berbagai macam model, atau cukup memakai rambut palsu. mereka hanya perlu mencucinya sesekali. Tentu saja, shampoo bukanlah produk yang populer untuk diperjual belikan, khususnya di Karonga, dimana sebagian besar wanitanya hampir hampir tidak memiliki rambut.

Dengan muka memelas, aku bercerita kepada Shanon, Peace Corps Volunteer yang bekerja di kantor yang sama dengan ku. Dia tertawa sejadi jadinya, karena ternyata dia juga mengalami hal yang sama dua bulan yang lalu. Dia berjanji akan memberikan sebotol shampoo yang dikirimkan orang tuanya dari Amerika sebelum aku belanja kebutukanku di Mzuzu yang berjarak tempuh 4 jam dari Karonga, setidaknya, untuk sekarang aku selamat J Ini kisah pertama ku di kota ini. Aku yakin akan banyak kisah lain yang membuat ku tertawa, tersenyum, menggeram bahkan marah. Tapi aku siap. Ini rumahku, untuk setahun kedepan. Dan rumah adalah tempat tertawa, tersenyum, menggeramd dan marah J.

Tagged ,

Post Perdana, Akhirnya (Malawi)

Akhirnya, aku berhasil menuliskan post pertama di blog ini. Selama dua tahun ini aku selalu mengikuti cerita carita seru yang inspirative dari teman teman volunteer vso disini. Setiap kali ada post baru, dengan semangat 45 aku membacanya, berhayal seandainya aku ada disana, belajar tentang hidup dibagian dunia yang lain,  berharap suatu saat aku juga bisa seperti mereka yang berjalan mengikuti kata hati dan kaki yang melangkah jauh. Meninggalkan semua kenyamanan di rumah, keluarga, orang tercinta, teman-teman dan kemudahan kemudahan yang mungkin tidak akan ditemukan di tempat itu.

Selama dua tahun ini aku hanya berhayal bahwa aku juga akan menuliskan sesuatu diblog ini. Berbagi dan menginspirasi teman-teman seperti ku diluar sana. Namun kehidupan di Bali mengikatku. Aku hidup terlalu nyaman. Dengan posisi yang bagus, salary yang terbilang banyak untuk hidup enak, teman teman yang mencintaiku, akses yang mudah ke “living a teenage dream” dengan clubbing, salsa dan pool partying, akses ke kelas yoga bergengsi di yoga barn yang hampir hampir gratis setiap minggu, dan pantai pantai yang cantik itu, sungguh aku tidak ingin meninggalkannya.

Hingga suatu hari aku tersadar bahwa kenyamanan itu bisa menjadi boomerang yang menjatuhkanku. Budha sendiri berkata tidak ada yang permanen. Jadi sebelum aku kecewa dan bosan aku memutuskan untuk mengiyakan tawaran vso untuk placement sebagai district climate change coordinator di Karonga, Malawi. Meskipun itu berarti, aku harus memutuskan kontrak dengan Caritas Switzerland tempat aku belajar dan bertumbuh, harus puas dengan danau malawi dengan harapan akan melihat laut baliku yang berwarna biru tarquise dan pantai keemasan sepulangku nanti, harus mencari teman dan keluarga baru sambil berharap teman dan keluarga ku di Indonesia tetap berdoa buatku, harus rela kehilangan moment moment pertumbuhan keponakan ku Michelle, Ramos dan Syamarel, oh betapa aku merindukan mereka saat ini, meskipun hari ini hanya hari keempat aku ada di Malawi.

Malawi sendiri adalah sesuatu yang sangat berbeda dengan Indonesia, maksudku SANGAT BERBEDA. Kota Siantar di Sumatera Utara jauh jauh lebih modern dari Lilongwe, ibukota Malawi. Saat ini kalau aku berkata “I am going to the mall” berarti aku pergi kesuatu kompleks pertokoan dimana ada tiga atau lebih toko yang menjual berbagai macam perlengkapan.  Saat ini aku harus berjalan beberapa kilometer menuju halte dan menaiki minibus dimana berbagai macam bau badan bersatu menusuk nusuk hidung sensitive ku, hingga pada akhir perjalanan aku harus menelan satu pil aspirin karena migraine akibat bau bauan itu. Saat ini orang orang memanggilku mzungu girl karena warna kulitku yang berbeda dengan mereka, entah apa yang ada dalam pikiran mereka saat mereka menatapku tanpa expresi namun tajam. Semua ini adalah pilihanku. Berada di tempat ini saat ini adalah pilihan yang aku ambil dari sekian banyak pilihan yang ditawarkan kepadaku. Jadi aku tidak akan complain. Yang terbaik yang bisa aku lakukan adalah memakai waktu setahun di Malawi dengan sangat baik untuk belajar, bertumbuh, berterima kasih, dan menghargai hidup ku terlepas dari apa yang akan aku hadapi di Karonga nanti. Aku selalu percaya ketika aku datang dengan niat baik, hal-hal baik juga yang akan terjadi.

Tagged , , ,