Tag Archives: Lilongwe

Sepatuku Hartaku (Malawi)

Setiap hari, pagi-pagi saat mengayuh sepeda menuju kantor, selalu aku berpapasan dengan orang-orang yang berjalan kaki,  mulai dari bapak-bapak penjaga malam yang pulang dari tugasnya sampai anak-anak yang mulai berangkat ke sekolah, atau Ibu-ibu dengan bayi di gendongan dan bawaan di kepala mereka. Kuperhatikan, sebagian besar berjalan tanpa alas kaki.

Sedih dan tak habis pikir, sebab di sepanjang jalan, sangat sering aku harus menghindar dari pecahan beling dari botol-botol (alkohol) yang dibuang orang-orang tak berotak. Beberapa kali aku harus turun dari sepeda dan menendang botol dan pecahan botol ke got. Aku yakin, botol-botol itu dibuang orang malam sebelumnya saat mereka pulang dari pusat klub malam yang tak jauh dari jalan utama menuju kantorku. Kecelakaan akibat pengemudi mabuk sangat biasa disini. Dan tampaknya orang-orang juga sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Tidak ada yang peduli.

Image

Pagi ini aku berpapasan dengan seorang pemuda, dari jauh kulihat dia berpakaian rapih dengan dasi dan setelan jas, tetapi ada yang aneh darinya. Ia berjalan tanpa alas kaki. Di tangan kanannya kulihat ia menenteng sepatu kulit yang warna putihnya mulai memudar, yang aku tebak mungkin baru dia beli dari pasar loak di kota tua Lilongwe, kemarin.

Dengan rasa ingin tahu kusapa ia dan bertanya kenapa sepatunya tidak dipakai? Dia menjawab dengan tersenyum “I don’t want it to get dirty.” Kubalas dengan anggukan kepala dan tertawa, lalu kulambaikan tangan dan kembali menganyuh sepedaku.

Dalam hati aku berpikir, dengan pakaiannya yang rapih, mungkin hari ini ia akan pergi memenuhi panggilan interview suatu pekerjaan. Imajinasiku mulai melayang-layang.. Ah semoga ia tidak menginjak pecahan beling di jalan, pikirku lagi dan semoga ketika ia sampai di depan gedung kantor tujuannya, lalu memakai sepatu putihnya, rasa percaya dirinya tumbuh. dan iapun mendapatkan pekerjaan.  Andai semua cerita hidup selalu diakhiri dengan happy ending.. oh betapa bahagianya aku. But anyway, whatever it is I wish you a Very good luck young man!

Tagged , , , ,

Hidup Baru di Benua Baru (Malawi)

Saatnya mampir dan berbagi lagi disini.

Setelah menyelesaikan placement VSO dengan Thailand/Myanmar project, saya memutuskan untuk Re-volunteer, dan kali ini VSO memberikan placement sebagai Technology for Development Adviser di Lilongwe, Ibu Kota negara Malawi. Saya adalah VSO volunteer untuk Country Office VSO Malawi. atau singkatnya seorang VSO Volunteer untuk VSO.

Sebelumnya saya ingin berbagi secara singkat tentang kehidupan saya pasca voluntarily service di Thailand/Myanmar. Saya sempat berkunjung dan jalan-jalan ke Kamboja dan lalu pulang ke Indonesia. Di Indonesia, saya sempat berjalan jalan ke Bali, Yogyakarta, Surabaya, Medan dan Aceh. Di Bali kami angkatan pertama VSO Indovols sempat bertemu dalam acara Volunteer Workshop dan VSO Indonesia Volunteer Conference serta Return Volunteer Weekend. Kami juga sempat melakukan kegiatan Pameran Foto ‘Indonesia For the World‘ di Mall Galeria Bali dan melakukan aksi penggalangan dana. Saya sampai musti 3 kali bolak-balik ke Bali untuk semua urusan tersebut.

VSO Indonesia volunteers Conference, Denpasar- Bali

VSO Indonesia volunteers Conference, Denpasar- Bali

Di tengah-tengah kesibukan jalan-jalan, reuni dan kerja part time, saya harus menyempatkan diri mengurus semua keperluan untuk pergi ke Malawi, mulai dari mengurus SKKC, vaksinasi, memperbaharui SIM, perbaharui Passport, mempersiapkan semua dokumen pendukung penempatan di Malawi (PAF dokumen, Asuransi dokumen), mengirim passport ke Malawi untuk keperluan Visa dan lain sebagainya. Terdengar sangat sibuk… tetapi sesungguhnya tidak, semuanya berjalan dengan lancar dan saya menikmati semua prosesnya, bahkan saya merasa persiapan re-volunteer jauh lebih sederhana daripada waktu awal pertama berangkat.

Sekarang saya sudah berada di Lilongwe, Malawi, sudah hampir satu bulan. Saya datang tanggal 3 Februari 2013 dan langsung mengikuti ICT training selama 1 minggu bersama 5 orang volunteer lainnya dari Uganda, Belanda, Filipina dan Jerman. Grup kecil yang kompak dan menyenangkan. Kami mendapatkan orientasi tentang Malawi mulai dari budaya, politik, kesehatan, keamanan dan juga bahasa lokal, Chichewa.

Setelah satu minggu ICT, saatnya kami harus mulai bertugas di pos kami masing-masing. Kebetulan saya dan Frank, volunteer dari Jerman akan bekerja di kantor VSO di Lilongwe, dan kamipun harus berbagi rumah. VSO mulai mengubah kebijakannya, awalnya seorang volunteer akan memiliki rumah atau akomodasi sendiri-sendiri, sekarang kami diminta untuk share akomodasi. Awalnya saya pikir ini akan menjadi sesuatu yang agak berat, berbagi rumah dengan seorang yang berbeda bahasa, budaya dan adat istiadat (teringat cerita Glory tentang rekan serumah-nya yang kurang bisa bertoleransi), tetapi agaknya saya beruntung, Frank adalah seorang yang sangat bersahabat, santai dan punya nilai-nilai hidup yang positif. Kami hidup “berumah-tangga” dengan baik. Kami saling belajar budaya Malawi, seiring dengan kamipun belajar budaya masing-masing dan bila kami saling berbenturan budaya (Malawi-Jerman-Indonesia) kami berdua hanya tertawa terbahak-bahak bersama-sama. Seperti misalnya saat saya makan pagi dengan sisa nasi semalam, dia akan tertawa terbahak bahak karena baginya nasi adalah makanan yang terlalu berat untuk makan pagi. Sebaliknya, saat ia membayar harga tomat berlebih, karena ia mengganggap harga tersebut terlalu murah untuk ukuran orang Eropa. Sayapun menertawakannya dan menyarankannya mengubah mata uang di otaknya dari Euro ke Kwatcha, karena bila ia terus melakukan hal itu, sama saja dengan memberi kontribusi pada tingkat inflasi Malawi, dan itu berbahaya! Sering kali, tertawa dan menertawakan diri sendiri adalah hal yang kita perlukan dalam memahami perbedaan-perbedaan. “Since we can’t change anything!” begitu kata Frank pada saya.

Berbelanja di Pasar Tradisional selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Berbelanja di Pasar Tradisional selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Mari sekarang kita berbicara tentang Malawi! Hmmm… banyak pertanyaan dari teman-teman tentang bagaimana kehidupan di Malawi? Satu kata : Berbeda! Banyak hal yang harus saya pelajari dan harus membiasakan diri dengan cepat. Seperti makan Nsima, makanan pokok disini, terbuat dari tepung maizena yang rasa dan teksturnya masih asing bagi lidah saya, alhasil karena harga beras lumayan mahal dan rekan serumah tidak terbiasa makan nasi, saya harus membiasakan diri mengkombinasikan nasi dengan makan roti dan kentang. Agaknya kalau kami ingin berhemat, kami harus membiasakan diri makan Nsima.

Keamanan selalu menjadi perhatian semua pendatang disini. Bayangkan saja, rumah kami dipagari tembok setinggi 2,5 meter dan dikelilingi dengan kabel beraliran listrik, kami memiliki 2 orang satpam yang berjaga siang dan malam dan 2 ekor anjing penjaga. Setiap volunteer disini diberi satu kotak panic button, yang bila dipencet atau ditarik talinya akan berbunyi sangat keras dengan lampu menyala-nyala menyilaukan, diberikan kepada kami untuk berjaga-jaga bila kami diserang. Sampai saat ini saya belum pernah menggunakannya, kecuali ketika pertama kali mencobanya. Teriakan panic button malah membuat saya panik sendiri. Malam hari kami hampir tidak boleh pergi keluar rumah apabila tidak ditemani oleh penjaga rumah dengan membawa satu anjing penjaga. Apabila kami ingin keluar rumah di malam hari, kami harus menumpang mobil rekan-rekan lainnya pulang dan pergi, karena mini van dan taksi disini beroperasi hanya sampai jam 6 malam. Alhasil kebanyakan, kami hanya berdiam di rumah pada malam hari, nonton film, bermain internet atau membaca buku. Akibat kemiskinan yang merajalela, tingkat kriminalitas disini juga meningkat, setidaknya di Lilongwe, yang adalah ibukota negara, seperti ibu kota – ibu kota negara lainnya, Lilongwe juga memiliki masalah sosial yang berbeda.

Disini transportasi umum tidak melayani semua jalan-jalan utama, dan karena lagi, kemiskinan yang merajalela, orang-orang lebih memilih berjalan kaki, bahkan hingga puluhan kilometer. Jadi hal biasa melihat orang-orang berbaris di pinggir jalan berjalan kaki dengan bawa’an mereka. Untuk sampai ke kantor, setiap harinya saya juga harus berjalan kaki selama 25-30 menit lalu naik mini van yang penuh sesak dengan berbagai macam jenis bau badan, minyak rambut dan minyak wangi. Perjalanan mini van membutuhkan waktu selama 10 menit. Awalnya saya protes dan berpikir bahwa hal ini memberatkan bagi saya, apa lagi bila membanding-bandingkannya dengan fasilitas yang saya dapatkan di Thailand, hampir semua volunteer mendapatkan sepeda motor, tetapi setelah bertemu dengan beberapa volunteer lain yang hidup di daerah pedalaman, saya dan Frank membatalkan semua protes dan mulai bersyukur dengan fasilitas yang tersedia disini. (Note : seorang rekan harus berjalan 1 jam untuk sampai ke kotanya, dan 3 kali mengalami perampokan/pemalakan di jalan, seorang lainnya berkata, di daerah penempatannya, makanan yang tersedia adalah tomat dan ikan teri, sekali-kali bila beruntung ia dapat menemukan bawang merah, karenanya setiap 2 minggu sekali ia harus pergi ke kota terdekat untuk berbelanja kebutuhan hidup). Apa yang saya alami belum seberapa. Pengalaman rekan Rini di Guyana juga selalu terngiang-ngiang ketika saya merasa bahwa hidup saya disini berat, dan saya kembali bersemangat. so Terima kasih Rini!

Karena kemiskinan yang merajarela, banyak orang memilih untuk berjalan berkilo-kilometer, karena tidak sanggup membayar ongkos bus, yang hanya MKW 150 atau Rp 4000 rupiah.

Karena kemiskinan yang merajarela, banyak orang memilih untuk berjalan kaki bahkan berkilo-kilometer, karena tidak sanggup membayar ongkos bus, yang hanya MKW 150 atau Rp 4000.

Sampai dengan saat saya menulis saya sudah kehilangan 4 kg dan membuat lubang baru pada ikat pinggang saya, saya jadi teringat kisah rekan Jeff yang harus turun 17kg saat menjalani penempatan di Tajikistan. Saya berharap, saya masih bisa menurunkan berat badan hingga 25kg! Semoga berhasil! 😉

Tagged , , , ,