Tag Archives: Malawi

3 Pacar Dalam 3 Bulan (Malawi)

“How old are you now? Are you married?”

“No. I am single”

“Why?”

“I don’t find the right person yet.”

“Do you want to get married?”

“Yes… hmm maybe… I don’t know..”

“Why not? why Maybe? OK I have a sister….” Dan percakapanpun dilanjutkan dengan rencana “perjodohan”.

Percakapan seperti ini sangat biasa terjadi, hampir dimana-mana, bahkan saat pertama kali berkenalan. Di dalam mini bus, di pasar,   di pom bensin, saat ngantri di depan kasir pasar swalayan dan lain lain.

Nggak di Indonesia, nggak di Africa  pernikahan ternyata masih dianggap suatu keharusan. Sebenarnya aku sudah kebal dengan pertanyaan beginian… jadi  moment yang begini lebih membuatku tersenyum dan tertawa daripada sebal atau tersinggung. I know there’s a “good” intention behind the questions.

“When are you going to get married, Freddy?”

“2007.”

Jawaban tenang dan seriusku membuat 3 orang teman Malawi-ku melongo dan dua detik kemudian tawapun meledak diantara kami.

Tetapi agaknya teman-teman lain yang juga masih single, tidak terlalu suka dengan jenis pertanyaan yang satu ini, terutama rekan-rekan wanita atau rekan dari negara Barat.  Aku bisa mengerti kenapa hal ini mengganggu mereka, terutama pada rekan wanita. Karena perhatian orang-orang disini terlalu berlebihan terhadap mereka. Di Malawi, dan aku pikir di hampir sebagian negara-negara di Afrika, wanita di”wajib”kan untuk menikah secepat mungkin setelah mereka mencapai masa pubernya. Aneh bagi mereka bila kita masih single di usia dewasa.

Alhasil,  saat baru pertama kali datang, aku sudah “dilamar” oleh beberapa teman. Untuk membuat orang tidak banyak bertanya, dan menghindari pelecehan seksual (terutama rekan-rekan wanita dari Asia- karena stigma pria Afrika yang menganggap wanita Asia lemah tetapi ramah), saat aku bepergian bersama rekan wanita, di pasar tradisional, pasar swalayan, di dalam mini bus atau saat pesta. Aku akan diperkenalkan sebagai pacar mereka.. dan aku setuju setuju saja, itung-itung membantu teman. Alhasil baru 3 bulan di Malawi aku sudah punya 3 “pacar”. Sedihnya tak satupun dari mereka menjadi pacar beneran!

Saat ini, sudah hampir sembilan bulan di Malawi, aku sudah punya 5 “pacar”  wanita, 2 “pacar” pria dan 1 orang “istri”!  Bagaimana bisa? Tunggu cerita lanjutannya saja.

banyak pacar

Tagged , , , ,

Sepatuku Hartaku (Malawi)

Setiap hari, pagi-pagi saat mengayuh sepeda menuju kantor, selalu aku berpapasan dengan orang-orang yang berjalan kaki,  mulai dari bapak-bapak penjaga malam yang pulang dari tugasnya sampai anak-anak yang mulai berangkat ke sekolah, atau Ibu-ibu dengan bayi di gendongan dan bawaan di kepala mereka. Kuperhatikan, sebagian besar berjalan tanpa alas kaki.

Sedih dan tak habis pikir, sebab di sepanjang jalan, sangat sering aku harus menghindar dari pecahan beling dari botol-botol (alkohol) yang dibuang orang-orang tak berotak. Beberapa kali aku harus turun dari sepeda dan menendang botol dan pecahan botol ke got. Aku yakin, botol-botol itu dibuang orang malam sebelumnya saat mereka pulang dari pusat klub malam yang tak jauh dari jalan utama menuju kantorku. Kecelakaan akibat pengemudi mabuk sangat biasa disini. Dan tampaknya orang-orang juga sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Tidak ada yang peduli.

Image

Pagi ini aku berpapasan dengan seorang pemuda, dari jauh kulihat dia berpakaian rapih dengan dasi dan setelan jas, tetapi ada yang aneh darinya. Ia berjalan tanpa alas kaki. Di tangan kanannya kulihat ia menenteng sepatu kulit yang warna putihnya mulai memudar, yang aku tebak mungkin baru dia beli dari pasar loak di kota tua Lilongwe, kemarin.

Dengan rasa ingin tahu kusapa ia dan bertanya kenapa sepatunya tidak dipakai? Dia menjawab dengan tersenyum “I don’t want it to get dirty.” Kubalas dengan anggukan kepala dan tertawa, lalu kulambaikan tangan dan kembali menganyuh sepedaku.

Dalam hati aku berpikir, dengan pakaiannya yang rapih, mungkin hari ini ia akan pergi memenuhi panggilan interview suatu pekerjaan. Imajinasiku mulai melayang-layang.. Ah semoga ia tidak menginjak pecahan beling di jalan, pikirku lagi dan semoga ketika ia sampai di depan gedung kantor tujuannya, lalu memakai sepatu putihnya, rasa percaya dirinya tumbuh. dan iapun mendapatkan pekerjaan.  Andai semua cerita hidup selalu diakhiri dengan happy ending.. oh betapa bahagianya aku. But anyway, whatever it is I wish you a Very good luck young man!

Tagged , , , ,

BAPAK, kemana perginya uang itu? (MALAWI)

“Maaf kawan, tidak banyak yang bisa kulakukan”

Aku memelas, karena memang tidak banyak yang bisa kulakukan selain hanya bisa mendengarkan kisah Mbowe. Aku ikut merasakan tulang-tulang ku menggeram marah mendapati gaji sebahagian besar staff pemerintah di Karonga belum terbayar.

Hilang, bagaimana mungkin uang sebesar 30 juta kwacha (750 juta rupiah) untuk dana bulan juni hilang dari rekening pemerintah?. Tak seorang pun tahu kemana uang itu pergi, tidak district commissioner nya, tidak juga pihak bank nya. Anehnya, perdiem untuk pertemuan-pertemuan yang dilakukan pada bulan Juni sangat tidak masuk akal. Pernah sekali aku mendengar, mereka membayar perdiem 30.000 kwacha (750.000 rupiah) per orang. Oh My God, uang sebanyak itu sangat cukup untuk memberi makan satu keluarga dalam satu bulan. Aku sangat marah mendengarkannya. Terang saja mereka tidak suka menghadiri undangan workshop yang aku lakukan karena aku hanya diberi otoritas untuk membagikan uang makan siang sebesar 1000 Kwacha (25.000 rupiah). Frustasi…ya..aku benar benar frustasi.

Dan sekarang ketika hal itu mempengaruhi teman temanku, aku semakin geram. Cleaning lady yang tadinya manis, sekarang suka teriak teriak gak jelas dalam bahasa chitumbuka, ketika aku bertanya ada apa, dia akan berkata “ I am hungry my friend, I am poor my friend, I have nothing my friend” dan sewaktu waktu dia akan datang ke meja ku minta di belikan pisang atau singkong. Mbowe, sahabatku yang tadinya ceria, kudapati termagu sendiri, kebingungan harus melakukan apa untuk memberi makan keponakan-keponakan yang di tinggal  mati bapak ibunya dua minggu lalu. Aku menawarkan diri untuk  member dia pinjaman uang, tetapi dia sungguh mengerti situasiku sebagai volunteer, dia menolaknya. Pegawai-pegawai lain sekarang suka berkumpul di ruangan ku, berbagi kebingungan dengan yang lain. Ada yang butuh untuk membayar kontrakan rumah, biaya sekolah anak, bahkan buat membeli makanan. Gila, sungguh suasana yang gila.

Internet diputus, kendaraan tidak lagi berjalan karena tidak ada dana untuk membeli bahan bakar yang mahal. Pernah sekali, seseorang meminta bantuan kepadaku untuk membeli bahan bakar dan oli mobil. Tentu saja aku menolaknya. Lebih baik aku membantu pegawai lain yang kelaparan daripada membeli bahan bakar supaya mereka bisa berkendara kesana kemari. Toh, petinggi-petinggi di kantor sudah menerima gaji mereka dari pemerintah pusat. Mengapa tidak membeli bahan bakar dengan uang sendiri? ANEH.

Entahlah, entah sampai kapan teman-temanku harus menghadapi situasi ini. Tidak adil. Memang. Aku hanya berharap Tuhan menjaga mereka dan mencukupkan apa yang ada pada mereka saat ini.

Tagged , , , ,

Drama Pepesan Kosong (Malawi)

Saatnya berbagi lagi.

Setelah bulan lalu sempat stress dengan kondisi rumah dan kerjaan yang tidak menentu, bulan ini semuanya berubah, ternyata sumber air itu mulai memancar dan hati kembali hijau.

Semuanya diawali dengan peristiwa drama pepesan kosong  oleh teman serumah, yang parno tak beralasan, berpikir bahwa tamu tetangga sebelah rumah akan membunuhnya. Drama berakhir dengan dipindahkannya aktor pemeran utama drama pepesan kosong ini ke rumah terpisah, jadi saat ini aku kembali menempati rumah sendirian. Yeaah!

Dan… Abrakadabra… situasi berangsur angsur kembali membaik. Benar kata petuah orang tua “tidak ada masalah yang tidak terselesaikan”.

Data Bootcamp

Hari-hari di bulan Juni dan Juli ini sungguh menyenangkan, dimulai dengan bootcamp training “Data Literacy ” oleh World Bank Institute, AMI dan Google selama satu minggu sampai kedatangan Chris, teman dari Jerman yang berkunjung ke Malawi. Kami bersama teman-teman VSO volunteer lainnya melakukan  road trip ke Zomba mengunjungi salah satu VSO volunteer yang bertugas disana. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Chikwawa, tinggal dan merasakan kehidupan pedesaan di Malawi dan berkunjung ke beberapa safari games.

photo2

Lesson learned : Segala sesuatu ada hikmahnya, bahkan semua drama pepesan kosong yang kita anggap kurang pentingpun  dapat membawa hikmah. So NEVER GIVE UP!

Tagged , , ,

A Footprint Can Come Not Only From A Foot (Kenya)

Permisi, sekedar numpang tempat untuk sharing info dari blog negeri penempatan saya, Kenya. Mari kita lupakan sejenak semua kejenuhan rutinitas hidup sehari-hari sebagai voluntir di negeri orang dimana kita jauh dari semua hal-hal yang familiar dan nyaman dari Tanah Air kita.

Yup, and so I’ve had my fair share of ups and downs these days. Tapi tipikal saya, ogah kesel terlalu lama. Daripada gedek sama hil-hil yang mustahal di tempat kerja, sayapun mencari hal lain yang lebih menarik untuk men-distract saya. Environmental issues it is!

Simaklah blog post dari link ini dan sapa tau it can knock some senses into us. Lama-lama saya jalan kaki juga nih dari Nairobi ke Malawi untuk ngunjungin 2 comrade saya, Bang Freddy and Lili 🙂 Guys, ntar numpang sofa lu semua yak! 😀

a footprint can come not only from a foot.

Tagged , , ,

Tidak ada alasan untuk tidak bahagia (MALAWI)

Seorang teman bertanya, “betah?”

Aku menjawab “iya”, tetapi hati ku bertanya lagi “ serius?”

11 minggu berada di placement ku aku masih bingung apa aku betah atau tidak, perjalanan masih jauh, memang… Suasana hatiku selalu up and down. Suatu hari aku bangun dengan energy yang luar biasa, mata berbinar binar, semangat 45 untuk berangkat ke kantor, rencana dan konsep yang jelas akan apa yang akan aku lakukan di proyek ku. Tetapi ada kalanya juga aku sama sekali tidak ingin bangun dari tempat tidur, bingung mau melakukan apa, kabur akan tujuanku ada disini, merasa waktu sangat lambat sekali. Akan tidak adil jika aku hanya menceritakan kesenangan yang aku rasakan disini dan betapa bersyukurnya aku dikirim ke tempat ini. Orang pintar pernah berkata Kejahatan yang paling besar adalah berbohong kepada diri sendiri. Karena itu, meskipun akan menuai penghakiman dari orang lain yang membaca blog ini, biarlah, aku tidak akan hanya bercerita betapa bersyukurnya aku, namun aku juga akan bernyayi betapa tidak senangnya aku.

Mungkin beberapa akan berkata; “ itu kan pilihan mu, jadi jangan mengeluh” dan aku akan menjawab “memang, dan aku akan menjalaninya dan berusaha memperbaikinya” atau aku pernah mendengar seseorang berkata “kalau tidak bahagia, pulang saja” tapi kemudian aku akan menjawab “aku tidak bahagia bukan berarti aku harus menyerah” Aku harus punya alasan yang lebih kuat untuk pulang sebelum waktunya. Lagi pula banyak hal yang membuat hidupku jauh lebih berarti disini.

Kemarin saja, aku diingatkan untuk kembali bersyukur setelah melihat mata yang berkaca kaca dari wanita tua tukang bersih bersih dikantorku ketika aku memberikan setengah bungkus keripik kentang lays yang kubeli dari toko dikota. Aku tertegun ketika wanita itu  menghapus airmatanya dan memasukkan setengah keripik itu kedalam tasnya seraya berkata “My children never eat this, they will be so happy” Hati ku menjerit. Tadinya aku memberikan keripik sisa itu karena aku tidak sanggup untuk menghabiskannya. dan ternyata sesuatu yang aku anggap tidak berarti bisa berarti banyak buatnya.

Diam diam setelah dia berlalu, aku menghapus airmataku dan meminta agar Tuhan mengembalikan perasaan sensitive yang hilang semenjak aku tiba disini, aku hanya berfokus pada diriku sendiri. Menuntut supaya didengarkan, mengeluh karena kurangnya support dari program office, merasa capek karena partner kerja susah untuk diandalkan. Entahlah…namun yang pasti, kejadian seperti kemarin membuat aku merasa perjalanan ku sejauh ini berarti. Setidaknya aku belajar banyak tentang diriku. Membuatku sadar tidak ada alasan buatku untuk tidak bahagia, menganggap kalau suasana hati yang tidak senang adalah proses pengenalan yang lebih dalam terhadap diriku sendiri.

Mungkin karena itu juga kemarin malam aku tidak mengomel sepanjang jalan kenangan ketika carpenter dan anak buahnya datang untuk mengantarkan perlengkapan rumah yang kupesan lebih dari sebulan yang lalu. Sofa (tanpa meja), meja kerja, meja makan, rak buku, lemari pakaian.  Semuanya datang dengan keadaan pincang. Maksudku, keempat kakinya tidak diukur tidak sempurna, alhasil semuanya goyang goyang bak kursi goyang. Aku harus membiasakan mataku untuk melihat sofa yang teleng 10 derajat, semua kaki meja dan lemari yang harus kuganjal dengan lapisan kartun supaya mereka seimbang.

Aku semakin menyadari rendahnya kualitas pekerjaan disini, tetapi anehnya mereka puas dengan apa yang mereka lakukan. Aku berkata kepada Jimmy, satpam yang membantuku tadi malam, kalau tidak akan ada orang yang membeli perlengkapan dengan kualitas seperti itu di Indonesia. Namun jawabannya mengagetkanku, “ For us it’s really a good job and people pay a lot of money for these”. Hal itu mengingatkanku akan workshop Monitoring dan Evaluation beberapa hari lalu, beberapa kepala sektor di daerah karonga sama sekali tidak bisa mengoperasikan komputer. Semua laporan di tulis dengan tangan dan dihitung manual yang membuat pekerjaan kami volunteer berlipat ganda.  Dan sepertinya mereka tidak terganggu dengan hal itu, mereka tetap bahagia.  Mereka puas dengan keadaan mereka.

Dalam hati aku berjanji tidak akan membiarkan hal kecil merusak moment syukur dihatiku, dan puas dengan keadaan ku saat ini. Dan sungguh, saat ini aku tidak menemukan satu alasan pun untuk tidak bahagia. Beberapa orang pintar berkata, semakin banyak kerikil dijalan yang terlewati menentukan betapa kuatnya kita berjalan.

Tagged , ,

Maling versi Karonga (MALAWI)

Banyak yang ingin diceritakan di sini, tapi sungguh aku tidak tahu harus mulai dari mana. Setiap kali aku mengalami sesuatu yang berbeda, pikiranku selalu berkata, “aku harus menulis ini” dan akhirnya, semua ide ide tulisan itu bersatu bak benang kusut yang sulit untuk di urai.

Tanggal 31 mei nanti, tepat dua bulan aku menginjakkan kaki di benua hitam ini. Banyak hal yang telah terjadi. Bahkan mungkin terlalu banyak dan dua bulan ini serasa lama sekali. Khabar baiknya adalah, kemarin aku  pindah ke rumah yang disediakan oleh organisasiku. Meski dengan perabotan yang seadanya, aku siap untuk pindah. Setelah dua bulan tinggal di kamar hotel dan hidup dengan suitcase, aku capek, aku bosan. Mungkin itu juga sebabnya mengapa aku merasa waktu berjalan lama sekali disini.  Rumah besar dengan 3 kamar tidur untuk saat ini hanya berisi satu tempat tidur dan kulkas. Aku merindukan fasilitas market yang sangat mudah di Indonesia. “Ada uang ada barang”. Di Malawi, tidak peduli sekaya apa, “Ada uang, belum tentu ada barang”. Untuk menyelesaikan tempat tidur misalnya, mereka butuh waktu satu minggu. Bayangkan kalau aku butuh  sofa, lemari, meja kerja, rak buku, dll, berapa lama mereka akan menyelesaikannya?. Mereka suka sekali berkata “ Little by little atau slowly atau bahasa tumbukanya PACHOKO PACHOKO”. Hidup disini memang harus punya stok sabar yang melimpah.

Aku memandangi rumah besar tetapi sederhana ini. Tidak banyak yang bisa dilakukan untuk terlihat menarik dan mewah.  Apalagi dengan allowance sebagai volunteer, aku harus melupakan hobby menata rumah dengan ornament ornament lucu, permainan warna dan lampu yang biasa kulakukan di Indonesia. Pun lagi membeli lukisan untuk mempercantik kamar tidur atau ruang tamu. Sudah, lupakan saja. Namun aku cukup puas dengan hasil buruanku di pasar loak beberapa waktu lalu. Setidaknya aku bisa menggantungkan kain kain cantik dengan berbagai warna warna lembut disemua jendelaku.

Khabar “sedikit buruknya”  tinggal sendiri di Malawi cukup beresiko. Tingkat kejahatan dan pencurian di sini tinggi sekali. Apalagi di Karonga,  hanya ada beberapa gelintir “mzungu” (bule ) yang tinggal disini. Jadi kami bisa dibilang target yang empuk. Seperti tiga minggu yang lalu, rumah seorang volunteer peace corps di bobol dengan kapak disiang bolong. Semua barang electronic miliknya di babat habis termasuk passport dan alat alat kosmetik yang dia bawa dari amerika. Meskipun tidak begitu banyak uang yang digondol, tetap saja kesalnya minta ampun. Seandainya pencuri itu tahu berapa banyak uang yang kami hasilkan perbulan, mungkin menoleh pun dia tidak akan sudi karena kami sama miskin nya dengan orang orang disekitar kami. Hanya warna kulit dan label ‘Mzungu” yang membuat kami berbeda.

Dulu  di tahun 2011, seorang pastor yang sedang melakukan misi social di Karonga terkena sial, beberapa orang membobol rumahnya pada malam hari dan menodongkan senjata dikepalanya. Tumpukan dollar yang dia simpan untuk misi sosialnya ludes sudah. Namun belakangan ini aku diberitahu kalau sedikit banyak perampokan itu juga kesalahannya karena setiap kali dia pulang ke Amerika, dia selalu membawa bergepok gepok dollar dan menukarkannya di Black Market dimana semua orang orang jahat berkumpul.

Namun ada juga beberapa cerita lucu. Pernah sekali seorang pencuri mencuri kulkas dari rumah seorang mzungu,dengan tertatih tatih menyeret kulkas sebesar bagong itu menuju semak semak. Sampai 500 meteran, sang pemilik rumah bersama beberapa orang kampung lainnya memergoki sang pencuri kulkas besar itu, dan menyuruhnya menyeret kulkas tersebut kembali kerumah. Tidak terbayang betapa letih nya dia J

Beberapa waktu lalu juga pernah ada kasus unik. Di Karonga, hanya ada satu toko dengan usaha digital photography. Tentu saja mereka juga menjual kamera yang harganya meroket. Sahabat baruku, sepasang missionary America-Australia yang pernah tinggal selama 27 tahun di Indonesia membeli kamera SLR second hand yang dibeli pemilik usaha tersebut dari mzungu lain yang meninggalkan Malawi. Mereka memerlukan kamera itu untuk project community development mereka. Oh mereka membina sebuah kelompok drama yang memberikan pesan pesan edukatif seperti HIV-AIDS, Alchohol abused, gender, malaria, pohon, dll di sekolah sekolah dan kelompok kelompok masyarakat. Anyways, Suatu hari kamera itu raib tak tentu rimbanya. Hilang di gondol pencuri saat mereka melakukan pertunjukan drama. Sampai beberapa minggu kemudian, seseorang muncul di toko tempat mereka membeli kamera itu. “ase (sebutan untuk abang), do you have battery for this camera?” Tentu saja pemilik toko itu mengenali barang yang pernah jadi miliknya. Dan pencuri pun tertangkap basah.

Aku yakin masih banyak kisah pencurian lainnya. Buatku, aku percaya Tuhan tidak akan pernah meninggalkanku. Seperti doa doa yang sering aku ucapkan, malaikat malaikat Tuhan berkemah disekitar ku, dan darah Tuhan menutup bungkus tubuh dan rumahku. Aku menyesal membiarkan diriku larut dalam ketakutan dan kehawatiran selama tiga malam berturut turut dan berakhir tidur hanya beberapa jam saja. Ajahn Bram memang benar, “hal terberat adalah memikirkannya”. Saat nya untuk kembali ke level of mind ku ketika aku masih di Indonesia. Menyadari tidak ada yang permanen, semua material dunia ini bukan milikku, dan aku harus siap jika sewaktu waktu aku harus mengembalikannya.

Hal yang terbaik yang bisa aku lakukan saat ini adalah mengikuti aturan organisasiku dengan memperkerjakan satpam, membina hubungan baik dengan tetangga tetangga baru ku, dan percaya Tuhan akan menjagaku.

Tagged , , ,