Tag Archives: VSO Indonesia

3 Pacar Dalam 3 Bulan (Malawi)

“How old are you now? Are you married?”

“No. I am single”

“Why?”

“I don’t find the right person yet.”

“Do you want to get married?”

“Yes… hmm maybe… I don’t know..”

“Why not? why Maybe? OK I have a sister….” Dan percakapanpun dilanjutkan dengan rencana “perjodohan”.

Percakapan seperti ini sangat biasa terjadi, hampir dimana-mana, bahkan saat pertama kali berkenalan. Di dalam mini bus, di pasar,   di pom bensin, saat ngantri di depan kasir pasar swalayan dan lain lain.

Nggak di Indonesia, nggak di Africa  pernikahan ternyata masih dianggap suatu keharusan. Sebenarnya aku sudah kebal dengan pertanyaan beginian… jadi  moment yang begini lebih membuatku tersenyum dan tertawa daripada sebal atau tersinggung. I know there’s a “good” intention behind the questions.

“When are you going to get married, Freddy?”

“2007.”

Jawaban tenang dan seriusku membuat 3 orang teman Malawi-ku melongo dan dua detik kemudian tawapun meledak diantara kami.

Tetapi agaknya teman-teman lain yang juga masih single, tidak terlalu suka dengan jenis pertanyaan yang satu ini, terutama rekan-rekan wanita atau rekan dari negara Barat.  Aku bisa mengerti kenapa hal ini mengganggu mereka, terutama pada rekan wanita. Karena perhatian orang-orang disini terlalu berlebihan terhadap mereka. Di Malawi, dan aku pikir di hampir sebagian negara-negara di Afrika, wanita di”wajib”kan untuk menikah secepat mungkin setelah mereka mencapai masa pubernya. Aneh bagi mereka bila kita masih single di usia dewasa.

Alhasil,  saat baru pertama kali datang, aku sudah “dilamar” oleh beberapa teman. Untuk membuat orang tidak banyak bertanya, dan menghindari pelecehan seksual (terutama rekan-rekan wanita dari Asia- karena stigma pria Afrika yang menganggap wanita Asia lemah tetapi ramah), saat aku bepergian bersama rekan wanita, di pasar tradisional, pasar swalayan, di dalam mini bus atau saat pesta. Aku akan diperkenalkan sebagai pacar mereka.. dan aku setuju setuju saja, itung-itung membantu teman. Alhasil baru 3 bulan di Malawi aku sudah punya 3 “pacar”. Sedihnya tak satupun dari mereka menjadi pacar beneran!

Saat ini, sudah hampir sembilan bulan di Malawi, aku sudah punya 5 “pacar”  wanita, 2 “pacar” pria dan 1 orang “istri”!  Bagaimana bisa? Tunggu cerita lanjutannya saja.

banyak pacar

Tagged , , , ,

Sepatuku Hartaku (Malawi)

Setiap hari, pagi-pagi saat mengayuh sepeda menuju kantor, selalu aku berpapasan dengan orang-orang yang berjalan kaki,  mulai dari bapak-bapak penjaga malam yang pulang dari tugasnya sampai anak-anak yang mulai berangkat ke sekolah, atau Ibu-ibu dengan bayi di gendongan dan bawaan di kepala mereka. Kuperhatikan, sebagian besar berjalan tanpa alas kaki.

Sedih dan tak habis pikir, sebab di sepanjang jalan, sangat sering aku harus menghindar dari pecahan beling dari botol-botol (alkohol) yang dibuang orang-orang tak berotak. Beberapa kali aku harus turun dari sepeda dan menendang botol dan pecahan botol ke got. Aku yakin, botol-botol itu dibuang orang malam sebelumnya saat mereka pulang dari pusat klub malam yang tak jauh dari jalan utama menuju kantorku. Kecelakaan akibat pengemudi mabuk sangat biasa disini. Dan tampaknya orang-orang juga sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Tidak ada yang peduli.

Image

Pagi ini aku berpapasan dengan seorang pemuda, dari jauh kulihat dia berpakaian rapih dengan dasi dan setelan jas, tetapi ada yang aneh darinya. Ia berjalan tanpa alas kaki. Di tangan kanannya kulihat ia menenteng sepatu kulit yang warna putihnya mulai memudar, yang aku tebak mungkin baru dia beli dari pasar loak di kota tua Lilongwe, kemarin.

Dengan rasa ingin tahu kusapa ia dan bertanya kenapa sepatunya tidak dipakai? Dia menjawab dengan tersenyum “I don’t want it to get dirty.” Kubalas dengan anggukan kepala dan tertawa, lalu kulambaikan tangan dan kembali menganyuh sepedaku.

Dalam hati aku berpikir, dengan pakaiannya yang rapih, mungkin hari ini ia akan pergi memenuhi panggilan interview suatu pekerjaan. Imajinasiku mulai melayang-layang.. Ah semoga ia tidak menginjak pecahan beling di jalan, pikirku lagi dan semoga ketika ia sampai di depan gedung kantor tujuannya, lalu memakai sepatu putihnya, rasa percaya dirinya tumbuh. dan iapun mendapatkan pekerjaan.  Andai semua cerita hidup selalu diakhiri dengan happy ending.. oh betapa bahagianya aku. But anyway, whatever it is I wish you a Very good luck young man!

Tagged , , , ,

You can’t be Asian (Malawi)

“In my country, people will not consider you as Asian!”, Begitu kata rekan dari Eropa dan Kanada. Penampakanku “kurang” Asia bagi mereka, terlalu gelap dan matanya kurang sipit. Bagi mereka Asian itu adalah orang-orang China, Jepang, Korea, Thailand. “So, what will people consider me then?” tanyaku kepada mereka. “Hmm I don’t know, maybe Indian? Well, you don’t look Indian as well though. I guess they will just think that you are half black and half white”.

Susah punya penampakan dan warna kulit tanggung sepertiku. Thanks to my parent though, perpaduan Jawa dan Sangir Talaud dari mereka membuatku cukup “International face” lebih tepatnya mungkin “3rd world country face”.

Waktu di Thailand, sering disangka orang Thailand, sama orang Burma disangka orang Burma, di Cambodia disangka orang Cambodia, di Filipina disangka orang Filipina… waktu di Singapura disangka orang Brazil… pernah ada yang nebak aku orang Amerika!!  Nah Sekarang aku di Benua Africa.. Bagaimana?

Pas di Nairobi, petugas bandara ‘menuduh’-ku orang Madagascar, lalu disangka orang India oleh petugas bea cukai. Sesampainya di Malawi, beberapa orang yang kutemui secara random mengira aku orang Kenya. Aku bahkan harus bertanya kepada teman-teman dari Kenya, apakah memang aku kelihatan seperti orang Kenya? seorang berkata ” That’s impossible Freddy, you don’t look like Kenyan at all!” Tetapi ada 2 orang yang berkata “Well, you can be a Kenyan from Mombasa, my friend.”  satu rekan lagi berkata ” I think it’s from the way you talk and yes, you can be a Kenyan with some middle east background.” Menarik.

Yang lebih menarik lagi adalah saat aku sedang berjalan-jalan di tepi pantai Danau Malawi, seorang lelaki paruh baya datang dan menghampiriku, kami bersalaman (orang disini sangat suka berjabat tangan), setelah berbasa-basi (mereka juga suka sekali berbasa-basi), dengan tetap tanganku masih digenggamannya dia berkata “is your mother white?” Aku tertawa lepas dan berkata bahwa aku orang Asia, kedua orang tuaku orang Asia. “Oh, I thought you are half Malawian from your father and half white  from your mother. You have a very nice color, my friend.” katanya sambil mengelus ngelus lenganku. Aku hanya bisa tertawa panjang dan berkata terima kasih. WOW.. seumur-umur belum pernah ada yang memuji-muji warna kulitku.

Masih kurang menarik?

Ada 2 cerita lucu. Kenapa lucu karena kejadiannya justru malah waktu masih berada di Indonesia.

Kejadian pertama di Bandung. Couchsurfing (CS) gathering, acaranya buka puasa bersama. Tema kostum-nya middle east, jadi aku dan beberapa teman berpakaian ala middle east man, pake sorban dan baju panjang. Ada sekitar 50 orang hadir di acara tersebut, karena ini acara couchsurfing ya tentu saja banyak juga warga asing yang datang dan hadir di acara ini. Tentu saja kami harus menggunakan bahasa inggris ketika berbicara dengan mereka. Di tengah-tengah percakapan dengan beberapa rekan CS Indonesia dan rekan CS dari America, seorang Bapak anggota baru CS datang dan ikutan nimbrung, tiba-tiba sang bapak mendekat dan berkata ” Excuse me, sir. Are you from Ghana?”. Ia mengira dengan pakaian dan warna kulit gelap dan logat inggris jawa medhokku, aku pasti adalah orang Afrika dan Ghana adalah negara Afrika beragama Muslim yang paling mudah ia sebutkan. Rekan rekan yang mendengar pertanyaan ini tertawa terbahak-bahak, dan sejak saat itu aku selalu diejek sebagai orang Ghana. Thank to you, Sir!

Kejadian kedua adalah di Bali. Masih dengan kegiatan Couchsurfing (CS) kali ini adalah saat Hitchhike race (lomba sampai pada satu tujuan dengan cara menumpang di kendaraan orang lain). Aku dan  rekan CS dari Bali Nadia, Frieder dari German dan Rangie dari Thailand berkelompok bersama mencoba mendapatkan tumpangan untuk sampai ke Pura Ulandatu. Kami sudah berhasil menumpang di beberapa mobil secara estafet. Di suatu jalan raya yang panas di tengah terik matahari Bali yang mencekik.. kami mencoba mendapatkan tumpangan. Beberapa kali kami gagal, tetapi tiba tiba sebuah mobil berhenti… seorang bapak mempersilahkan kami semua masuk ke dalam mobilnya, dan aku langsung menggambil posisi bangku depan di samping sang Bapak. Pak Gede, begitu beliau memperkenalkan dirinya. Kamipun memperkenalkan diri kami masing-masing. Lalu iseng-iseng aku bertanya, kenapa Pak Gede bersedia berhenti dan mengangkut kami semua. Mengejutkan jawaban sang Bapak. Dia dengan jujur berkata bahwa ia sangat terkejut melihat reinkarnasi Idi Amin (ditaktor dari Uganda) berdiri di tengah jalan di Bali. Dan tentu saja yang ia maksud adalah AKU!

Black is a new white. :)

Black is a new white. 🙂

Tagged , , , , ,

Hidup Baru di Benua Baru (Malawi)

Saatnya mampir dan berbagi lagi disini.

Setelah menyelesaikan placement VSO dengan Thailand/Myanmar project, saya memutuskan untuk Re-volunteer, dan kali ini VSO memberikan placement sebagai Technology for Development Adviser di Lilongwe, Ibu Kota negara Malawi. Saya adalah VSO volunteer untuk Country Office VSO Malawi. atau singkatnya seorang VSO Volunteer untuk VSO.

Sebelumnya saya ingin berbagi secara singkat tentang kehidupan saya pasca voluntarily service di Thailand/Myanmar. Saya sempat berkunjung dan jalan-jalan ke Kamboja dan lalu pulang ke Indonesia. Di Indonesia, saya sempat berjalan jalan ke Bali, Yogyakarta, Surabaya, Medan dan Aceh. Di Bali kami angkatan pertama VSO Indovols sempat bertemu dalam acara Volunteer Workshop dan VSO Indonesia Volunteer Conference serta Return Volunteer Weekend. Kami juga sempat melakukan kegiatan Pameran Foto ‘Indonesia For the World‘ di Mall Galeria Bali dan melakukan aksi penggalangan dana. Saya sampai musti 3 kali bolak-balik ke Bali untuk semua urusan tersebut.

VSO Indonesia volunteers Conference, Denpasar- Bali

VSO Indonesia volunteers Conference, Denpasar- Bali

Di tengah-tengah kesibukan jalan-jalan, reuni dan kerja part time, saya harus menyempatkan diri mengurus semua keperluan untuk pergi ke Malawi, mulai dari mengurus SKKC, vaksinasi, memperbaharui SIM, perbaharui Passport, mempersiapkan semua dokumen pendukung penempatan di Malawi (PAF dokumen, Asuransi dokumen), mengirim passport ke Malawi untuk keperluan Visa dan lain sebagainya. Terdengar sangat sibuk… tetapi sesungguhnya tidak, semuanya berjalan dengan lancar dan saya menikmati semua prosesnya, bahkan saya merasa persiapan re-volunteer jauh lebih sederhana daripada waktu awal pertama berangkat.

Sekarang saya sudah berada di Lilongwe, Malawi, sudah hampir satu bulan. Saya datang tanggal 3 Februari 2013 dan langsung mengikuti ICT training selama 1 minggu bersama 5 orang volunteer lainnya dari Uganda, Belanda, Filipina dan Jerman. Grup kecil yang kompak dan menyenangkan. Kami mendapatkan orientasi tentang Malawi mulai dari budaya, politik, kesehatan, keamanan dan juga bahasa lokal, Chichewa.

Setelah satu minggu ICT, saatnya kami harus mulai bertugas di pos kami masing-masing. Kebetulan saya dan Frank, volunteer dari Jerman akan bekerja di kantor VSO di Lilongwe, dan kamipun harus berbagi rumah. VSO mulai mengubah kebijakannya, awalnya seorang volunteer akan memiliki rumah atau akomodasi sendiri-sendiri, sekarang kami diminta untuk share akomodasi. Awalnya saya pikir ini akan menjadi sesuatu yang agak berat, berbagi rumah dengan seorang yang berbeda bahasa, budaya dan adat istiadat (teringat cerita Glory tentang rekan serumah-nya yang kurang bisa bertoleransi), tetapi agaknya saya beruntung, Frank adalah seorang yang sangat bersahabat, santai dan punya nilai-nilai hidup yang positif. Kami hidup “berumah-tangga” dengan baik. Kami saling belajar budaya Malawi, seiring dengan kamipun belajar budaya masing-masing dan bila kami saling berbenturan budaya (Malawi-Jerman-Indonesia) kami berdua hanya tertawa terbahak-bahak bersama-sama. Seperti misalnya saat saya makan pagi dengan sisa nasi semalam, dia akan tertawa terbahak bahak karena baginya nasi adalah makanan yang terlalu berat untuk makan pagi. Sebaliknya, saat ia membayar harga tomat berlebih, karena ia mengganggap harga tersebut terlalu murah untuk ukuran orang Eropa. Sayapun menertawakannya dan menyarankannya mengubah mata uang di otaknya dari Euro ke Kwatcha, karena bila ia terus melakukan hal itu, sama saja dengan memberi kontribusi pada tingkat inflasi Malawi, dan itu berbahaya! Sering kali, tertawa dan menertawakan diri sendiri adalah hal yang kita perlukan dalam memahami perbedaan-perbedaan. “Since we can’t change anything!” begitu kata Frank pada saya.

Berbelanja di Pasar Tradisional selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Berbelanja di Pasar Tradisional selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Mari sekarang kita berbicara tentang Malawi! Hmmm… banyak pertanyaan dari teman-teman tentang bagaimana kehidupan di Malawi? Satu kata : Berbeda! Banyak hal yang harus saya pelajari dan harus membiasakan diri dengan cepat. Seperti makan Nsima, makanan pokok disini, terbuat dari tepung maizena yang rasa dan teksturnya masih asing bagi lidah saya, alhasil karena harga beras lumayan mahal dan rekan serumah tidak terbiasa makan nasi, saya harus membiasakan diri mengkombinasikan nasi dengan makan roti dan kentang. Agaknya kalau kami ingin berhemat, kami harus membiasakan diri makan Nsima.

Keamanan selalu menjadi perhatian semua pendatang disini. Bayangkan saja, rumah kami dipagari tembok setinggi 2,5 meter dan dikelilingi dengan kabel beraliran listrik, kami memiliki 2 orang satpam yang berjaga siang dan malam dan 2 ekor anjing penjaga. Setiap volunteer disini diberi satu kotak panic button, yang bila dipencet atau ditarik talinya akan berbunyi sangat keras dengan lampu menyala-nyala menyilaukan, diberikan kepada kami untuk berjaga-jaga bila kami diserang. Sampai saat ini saya belum pernah menggunakannya, kecuali ketika pertama kali mencobanya. Teriakan panic button malah membuat saya panik sendiri. Malam hari kami hampir tidak boleh pergi keluar rumah apabila tidak ditemani oleh penjaga rumah dengan membawa satu anjing penjaga. Apabila kami ingin keluar rumah di malam hari, kami harus menumpang mobil rekan-rekan lainnya pulang dan pergi, karena mini van dan taksi disini beroperasi hanya sampai jam 6 malam. Alhasil kebanyakan, kami hanya berdiam di rumah pada malam hari, nonton film, bermain internet atau membaca buku. Akibat kemiskinan yang merajalela, tingkat kriminalitas disini juga meningkat, setidaknya di Lilongwe, yang adalah ibukota negara, seperti ibu kota – ibu kota negara lainnya, Lilongwe juga memiliki masalah sosial yang berbeda.

Disini transportasi umum tidak melayani semua jalan-jalan utama, dan karena lagi, kemiskinan yang merajalela, orang-orang lebih memilih berjalan kaki, bahkan hingga puluhan kilometer. Jadi hal biasa melihat orang-orang berbaris di pinggir jalan berjalan kaki dengan bawa’an mereka. Untuk sampai ke kantor, setiap harinya saya juga harus berjalan kaki selama 25-30 menit lalu naik mini van yang penuh sesak dengan berbagai macam jenis bau badan, minyak rambut dan minyak wangi. Perjalanan mini van membutuhkan waktu selama 10 menit. Awalnya saya protes dan berpikir bahwa hal ini memberatkan bagi saya, apa lagi bila membanding-bandingkannya dengan fasilitas yang saya dapatkan di Thailand, hampir semua volunteer mendapatkan sepeda motor, tetapi setelah bertemu dengan beberapa volunteer lain yang hidup di daerah pedalaman, saya dan Frank membatalkan semua protes dan mulai bersyukur dengan fasilitas yang tersedia disini. (Note : seorang rekan harus berjalan 1 jam untuk sampai ke kotanya, dan 3 kali mengalami perampokan/pemalakan di jalan, seorang lainnya berkata, di daerah penempatannya, makanan yang tersedia adalah tomat dan ikan teri, sekali-kali bila beruntung ia dapat menemukan bawang merah, karenanya setiap 2 minggu sekali ia harus pergi ke kota terdekat untuk berbelanja kebutuhan hidup). Apa yang saya alami belum seberapa. Pengalaman rekan Rini di Guyana juga selalu terngiang-ngiang ketika saya merasa bahwa hidup saya disini berat, dan saya kembali bersemangat. so Terima kasih Rini!

Karena kemiskinan yang merajarela, banyak orang memilih untuk berjalan berkilo-kilometer, karena tidak sanggup membayar ongkos bus, yang hanya MKW 150 atau Rp 4000 rupiah.

Karena kemiskinan yang merajarela, banyak orang memilih untuk berjalan kaki bahkan berkilo-kilometer, karena tidak sanggup membayar ongkos bus, yang hanya MKW 150 atau Rp 4000.

Sampai dengan saat saya menulis saya sudah kehilangan 4 kg dan membuat lubang baru pada ikat pinggang saya, saya jadi teringat kisah rekan Jeff yang harus turun 17kg saat menjalani penempatan di Tajikistan. Saya berharap, saya masih bisa menurunkan berat badan hingga 25kg! Semoga berhasil! 😉

Tagged , , , ,

Selembar Kertas Butut (Ghana)

Minggu depan, 6 bulan sudah saya di penempatan ini.

Apa rasanya?

Campur aduk.

Terlepas dari sisi-sisi lucu, konyol, dan gila yang selalu saya coba lihat dari kehidupan saya sehari-hari di sini –yang lalu saya tulis juga di blog ini- pada kenyataannya, tidak selalu semuanya membuat saya tertawa.

Ada satu titik di mana saya homesick. Bangun tidur, keluar kamar, menemukan rumah sepi, lalu berpikir, “Ke mana sih, orang-orang ini?” Dua detik berikutnya saya sadar. Saya di Asamankese, bukan di Bogor. Dan memang tidak ada ‘orang-orang’ yang tinggal selain saya di rumah ini.

Ada satu titik lainnya di mana saya lelah. Paling ringan; saya hanya menghela napas dan berkata pada diri sendiri, “What am I doing here?” Paling parah; saya menangis. Menangis sungguhan yang membuat dada lega dan mata bengkak. Bukan karena homesick. Tapi karena merasa sangat tidak di-support oleh organisasi yang seharusnya mengelola dan mendukung kami (baca: International Volunteer) di negara ini. Bukan hanya soal pekerjaan tapi juga hal-hal kecil yang membuat kami merasa dimanusiakan.

Jujur, saya sampai sempat iri waktu melihat foto-foto yang diposting oleh VSO Indonesia di Twitter. Mereka bikin acara masak-masak dengan International Volunteers di Indonesia! Kalau di sini? Ah, sudahlah…

Yang membuat saya bisa menahan rasa ‘sesak’ adalah partner tempat saya menumpang bekerja selama ini, orang-orangnya (teman-teman ‘kantor’ saya) dan tentunya para petani coklat itu. Mereka sangat menghargai saya hanya karena saya mengingat nama desa mereka dan kadang nama mereka (karena banyak sekali, sulit hapal nama mereka semua), serta menyapa mereka dalam bahasa Twi yang patah-patah. Mereka menghargai saya sebagai manusia. Itu kebahagiaan terbesar saya di sini.

Satu hal lain yang juga selalu bisa membuat saya tersenyum dan mengingatkan saya akan alasan saya berada di sini adalah ini: 

Selembar kertas (yang sekarang sudah) butut (jelek, red.) yang berisi coretan-coretan positif dari semua orang yang ada saat Prepare for Change training di Bali, Desember tahun lalu. Saya tidak tahu, siapa menulis apa. Karena kertas itu ditempelkan di punggung kami dan semua orang saling menuliskan komentarnya di saat yang sama, dalam sebuah lingkaran.

Oh, saya ingat, yang satu ini adalah tulisan dari Spongebob 🙂

“Have a great time as a volunteer. I know you are going to be a STAR, Patrick!”

Yang lainnya, juga selalu bisa membuat saya tersenyum lagi dan lagi:

“Great insight. Such a positive person. Just keep your expectation low :p and wish you find the internet access. Good luck and enjoy your volunteering moment.”

“Friendly. Smile. Quick response.”

“Great to have you in the group! Good energy.”

“It’s always nice to have crazy people like me! :p”

“Good luck with your placement. Looking forward for your success story. I also found you’re naturally an actress.”

“You are so cheerful girl that the community will like you a lot. Keep it up. You will do it so well up there.”

Ya. Kertas yang sudah agak lecek itu saya bawa dari Indonesia ke tempat ini. Jika mereka percaya pada saya dan apa yang saya bisa lakukan di sini, kenapa saya tidak?

Memang, saya belum membuat perubahan berarti di sini, apalagi pantas menulis kisah sukses. Mungkin tidak akan terjadi.

Tapi setidaknya saya tahu bahwa yang mereka tulis di punggung saya adalah benar. Karena saya yang akan membuat itu benar adanya. Insha Allah.

Thank you Anne, Mbak Asih, Hesti, Lili, Ragyl, Patricia. You all made my day. 

Tagged , , , , ,

Makanan Baru (Thailand-Burma)

Hampir semua teman-teman dekat saya mungkin sudah tahu kalau saya gemar mencoba makanan-makanan aneh, untungnya saya tidak memiliki alergi terhadap jenis makanan tertentu dan tidak memiliki pantangan dalam agama, hal ini mungkin lebih karena saya butuh tantangan adrenalin saja atau hanya karena saya adalah pecinta makanan? Tidak tahu. But honestly it’s nothing to be proud of.

Mulai dari berbagai jenis serangga, hewan melata, hewan bersayap dan hewan nocturnal sampai minum darah ular kobra segar dan makan jantung ular kobra yang masih berdetup sudah saya coba. Tentu saja saya tidak sembarangan mencoba sembarang makanan/minuman. Saya akan mencoba makan suatu makanan ketika makanan tersebut sudah menjadi makanan “biasa” bagi sebagian atau sekelompok masyarakat tertentu.  Dari banyak jenis makanan “aneh” yang pernah saya coba, hampir seluruhnya tidak saya sukai. Beberapa diantaranya hanya sebatas mencoba dan ingin tahu, dan tidak mengulanginya lagi. Lidah saya berkata “Cukup, Freddy!”.

Selama berada di Thailand dan bekerja bersama orang-orang Burma, saya menambah daftar makanan “aneh” saya. Kalau awalnya saya selalu mencoba makanan yang berasal dari hewan, disini saya mulai mencoba makanan baru yang berasal dari tanaman, mulai dari dedaunan, umbi-umbian, batang dan bunga. Lain halnya dengan makanan “aneh” dari hewan, banyak makanan “aneh” dari tumbuh-tumbuhan yang saya suka dan menjadi makanan favorit baru saya,  malah makanan-makanan ini memberi inspirasi baru juga –seperti : menuliskannya di artikel ini, mengexplorasinya lebih lanjut dan inspirasi untuk mencobanya lagi saat nanti saya kembali ke Indonesia– .

Selama tinggal di Indonesia, saya beberapa kali makan makanan “aneh” yang berasal dari tumbuhan juga, seperti krokot (perdu yang banyak tumbuh di pinggiran sungai atau tanah lembab), semanggi (daun yang bentuknya segitiga dengan 4 pucuk daun;  jembatan semanggi di Jakarta terinspirasi dari tumbuhan air ini), beton-biji buah nangka rebus, daun jati, bunga pohon turi, lamtoro (mungkin tidak terlalu aneh) yang saya makan mentah dengan dicampur kelapa muda parut dan garam, buah pinang, daun sirih, daun pepaya/bunga pepaya dan beberapa jenis lainnya.

Lalu makanan tumbuhan baru apa lagi yang saya makan disini? Ada beberapa daun dan biji-bijian yang agaknya tidak saya temukan di Indonesia, tetapi mereka memiliki nama Thai atau Burmese yang cukup susah untuk saya hafal. Ada beberapa makanan tumbuhan yang sangat banyak dan mudah didapat di Indonesia, tetapi kita tidak mengkonsumsinya. Seperti daun asam jawa, daun teh dan daun mangga!

Daun asam jawa sangat lezat dimakan sebagai salad, ditambah minyak kelapa, bawang merah, cabe dan perasan jeruk nipis. Lain waktu saya mendapati rekan-rekan dari Burma memasaknya sebagai sayur sup dengan ditambah satu pucuk asam jawa mentah (rasanya seperti sayur asam).

Mereka juga mengkonsumsi asam jawa hijau dan membuatnya sebagai sambal. Sangat segar dan lezat! Saya sampai tak habis pikir kenapa kita tidak membuatnya juga di Indonesia, jelas-jelas kita doyan sekali makan berbagai jenis sambal (jangan-jangan kita juga punya sambal asam jawa muda ya? sayanya saja yang tidak tahu) .

Memetik daun asam jawa

Bagi kalangan penggemar makanan Burma, pasti semuanya akan berkata bahwa mereka sangat menyukai tea leaf salad! Ya, salad daun teh adalah makanan khas orang Burma yang sangat otentik dan terkenal. Lho? bukannya kita punya kebun teh yang cukup luas di Puncak, Bandung dan sekitarnya di Jawa Barat, Dieng – Jawa Tengah, Padang dan sekitarnya di Sumatera Barat. Kok nggak kepikiran untuk makan daun teh ya? Di Bandung, dimana mana ada perkebunan teh. Hamparan kebun teh laksana karpet hijau raksasa. Nah kumaha iue teh, urang Bandung teh heunteu  hoyong coba’an makan daun teh?

Hamparan hijau daun teh di Ciwidey dan para pemetik daun teh

Daun mangga? Yup!! seminggu ini saya mengkonsumsi daun mangga muda mentah! Rasanya? Seperti buah mangga muda dengan sedikit rasa pahit. Dan saya sangat menyukainya! Kombinasi kesegaran dipadu dengan nasi hangat dan telur dadar goreng membuat ritual makan siang saya menyenangkan.  Bandung terkenal dengan konsumsi lalapannya.. tetapi kenapa saya tidak pernah menemukan daun mangga muda diantara berbagai jenis lalapan ya?  So buat teman-teman orang Sunda, sok mangga atuh! Lalapan daun mangga na dicoba’an! Mangga atuh…

Tagged , , , ,

I Shouted ‘No Human Trafficking!’ and Here is The Dillema (Thailand-Burma)

Masih jelas di ingatan saya ketika saya bersama teman-teman menghadiri MTV EXIT konser Anti Human Trafficking (anti perdagangan manusia) di Chiang Mai, yang dihadiri  oleh mega group dari Korea Super Junior serta banyak artis2 Thailand lainnya. Di acara tersebut saya dan sekitar 1500 orang penonton lainnya meneriakkan ‘NO HUMAN TRAFFICKING!!” sambil mengepalkan tangan di udara berkali-kali… Saya paling semangat berteriak!! Hujan deras tidak menyurutkan semangat kami dalam ber”pesta”… tetapi saya cukup yakin sebagian besar pengunjung tidak peduli dengan topik dan isu human trafficking… yang mereka pedulikan adalah Super Junior!

Saya sendiri tidak tahu apa-apa tentang Super Junior dan artis2 Thailand lainnya sebelum terlibat dalam acara ini.  Saya terlibat karena MTV EXIT melalui VSO Thailand meminta bantuan tenaga volunteer untuk  membantu mereka mempersiapkan acara tersebut, dan saya menjadi liaison untuk organisasi saya  dan melibatkan organisasi saya di workshop dan acara-acara lainnya, puncak dari seluruh acara adalah konser Super Junior ini.  Tetapi over all acara ini adalah salah satu cara terbaik untuk mengkampanyekan anti human trafficking terutama untuk anak-anak muda, walaupun mungkin mereka tidak begitu peduli dengan isu human trafficking, tetapi setidaknya mereka tahu apa itu human trafficking dan kejadian-kejadian nyata tentang human trafficking di Thailand.

Konser MTV Exit di Chiang Mai menampilkan Super Junior

Isu  sama  cerita berbeda di Mae Sot.

Suatu Pagi, seperti biasa saya masuk ke halaman kantor,  dan memarkir motor saya di bawah pohon pepaya. Saya  melihat seorang wanita menggendong seorang anak lelaki kecil, sekitar 6-7 tahun, saya menyapa “Menglaba.. Good Morning”, Ibu dan anak tersenyum dan menjawab “Menglaba”.

Saat saya makan siang di ruang makan.. saya masih melihat si anak bermain main gembira bersama ibu dan beberapa rekan kerja wanita lainnya. Nothing special, people come and go from this office. Sayapun makan di meja makan, awalnya sendirian, tetapi lalu datang seorang lelaki dewasa menemani saya makan.

“Apa kabar, Bang? Abang dari Indonesia?” Saya kaget. Lelaki di seberang meja menyapa dalam bahasa Indonesia! Reaksi kaget saya adalah ” WOW, bisa bahasa Indonesia?” sayapun berhenti makan. Percakapan klise lanjutannya tentu saja adalah cerita bagaimana ia bisa berbahasa Indonesia. Ternyata ia dan keluarganya (wanita dan anak lelaki itu adalah istri dan anaknya) baru saja datang dari Malaysia. Mereka tinggal dan bekerja di Malaysia selama hampir 4 tahun dan memiliki banyak teman-teman kerja dari Indonesia, disitulah mereka belajar bahasa melayu dan bahasa indonesia. Cerita ini membuat saya bertanya-tanya lebih lanjut dan cerita selanjutnya semakin menarik dan dilematik.

Ia bercerita dengan bahasa Indonesia beraksen Malaysia yang masih terpatah-patah, bagaimana ia dan keluarganya sampai ke Malaysia dan lalu  berada di Mae Sot saat ini.

Tidak ada pilihan selain pergi keluar dari Burma(Myanmar). Mereka berasal dari Rakhine State.  Hidup di sana no future, no job and risky life begitu ia menjelaskan alasannya, sementara ia punya keluarga kecil yang berada dalam tanggung jawabnya dan harus dihidupi. Merekapun memutuskan hijrah secara ilegal ke Thailand. Disini ia bertemu seseorang yang menjanjikan kehidupan baru di Malaysia, bekerja di perkebunan. Ia berangkat bersama puluhan orang dari Burma, mengejar “mimpi” ke Malaysia.  Ia bercerita kalau semua orang yang berada di truk saat itu sadar bahwa orang yang menghubungkan mereka dengan Bos di malaysia mendapatkan uang dari tiap kepala yang mereka bisa bawa ke Malaysia. Mereka semua dengan sadar dan ikhlas diperdagangkan. Mereka dijanjikan mendapat pekerjaan dan tempat tinggal di Malaysia dan itu sudah cukup alasan bagi setiap orang dalam truk malam itu untuk pergi. Memang benar, disana mereka mendapat pekerjaan dan tempat tinggal seadanya dengan bayaran yang hanya cukup untuk membeli makan sehari-hari, tidak ada uang lebih untuk ditabung. Untuk itu ia kadang-kadang bekerja sambilan di malam hari dengan menjual makanan ringan saat ada acara keramaian, dari uang tersebut mereka bisa menabung secukupnya.  Menjelang tahun ke-empat mereka bekerja dan tinggal secara ilegal di Malaysia, polisi mengrebek camp mereka dan memenjarakan mereka semua  (termasuk istri dan anaknya) dengan alasan imigran gelap tanpa dokumen keimigrasian.

Ia lalu bercerita bagaimana ia berusaha menyogok polisi dengan cara menawarkan diri untuk bekerja sebagai cleaning service tanpa dibayar, selama hampir 3 minggu mereka bekerja di Penjara tanpa bayaran siang dan malam. Sampai suatu saat sang suami memohon untuk diizinkan keluar penjara dan kembali bekerja ilegal di Malaysia. Ya, mereka dikeluarkan dari penjara  dan dibawa ke perbatasan Malaysia-Thailand. Keluar penjara  tetapi juga harus keluar Negara Malaysia.

Di Thailand, sekali lagi sang suami tertangkap polisi dan harus mendekam di penjara selama 2 hari, ia dikeluarkan dari penjara setelah istri dan anaknya datang menjemput dan membayar uang sogok kepada polisi.  Mereka akhirnya memutuskan untuk pergi kembali sementara ke Burma (Myanmar), sekedar pulang kampung. Itulah mengapa ia sekarang berada di kantor saya. “Hanya untuk transit satu malam saja”, katanya.

Ia berharap untuk bisa kembali bekerja di Malaysia, ia tidak terlalu suka bekerja di Thailand, yang terlalu banyak polisi dan uang sogok menyogok dimana mana. ‘Saya mau cari lagi itu Tokeh Thailand yang bawa saya dan teman-teman ke Malaysia. Tidak apa-apa tak ade gaji bang, Asal saye dan keluarga bisa makan saja sudah cukuplah, di Burma kami tak punye ape-ape. Di sana kami sangat miskin. Di Malaysia kami juga miskin, tapi kami masih bisa makan dan happy!” Ia berkata sambil tersenyum miris.

Saya terdiam…

Mereka rela dan ikhlas diperjual-belikan.  Kalau sudah begini… bagaimana kita bisa menghentikan human trafficking?

Tagged , , , , ,