Tag Archives: VSO Malawi

BAPAK, kemana perginya uang itu? (MALAWI)

“Maaf kawan, tidak banyak yang bisa kulakukan”

Aku memelas, karena memang tidak banyak yang bisa kulakukan selain hanya bisa mendengarkan kisah Mbowe. Aku ikut merasakan tulang-tulang ku menggeram marah mendapati gaji sebahagian besar staff pemerintah di Karonga belum terbayar.

Hilang, bagaimana mungkin uang sebesar 30 juta kwacha (750 juta rupiah) untuk dana bulan juni hilang dari rekening pemerintah?. Tak seorang pun tahu kemana uang itu pergi, tidak district commissioner nya, tidak juga pihak bank nya. Anehnya, perdiem untuk pertemuan-pertemuan yang dilakukan pada bulan Juni sangat tidak masuk akal. Pernah sekali aku mendengar, mereka membayar perdiem 30.000 kwacha (750.000 rupiah) per orang. Oh My God, uang sebanyak itu sangat cukup untuk memberi makan satu keluarga dalam satu bulan. Aku sangat marah mendengarkannya. Terang saja mereka tidak suka menghadiri undangan workshop yang aku lakukan karena aku hanya diberi otoritas untuk membagikan uang makan siang sebesar 1000 Kwacha (25.000 rupiah). Frustasi…ya..aku benar benar frustasi.

Dan sekarang ketika hal itu mempengaruhi teman temanku, aku semakin geram. Cleaning lady yang tadinya manis, sekarang suka teriak teriak gak jelas dalam bahasa chitumbuka, ketika aku bertanya ada apa, dia akan berkata “ I am hungry my friend, I am poor my friend, I have nothing my friend” dan sewaktu waktu dia akan datang ke meja ku minta di belikan pisang atau singkong. Mbowe, sahabatku yang tadinya ceria, kudapati termagu sendiri, kebingungan harus melakukan apa untuk memberi makan keponakan-keponakan yang di tinggal  mati bapak ibunya dua minggu lalu. Aku menawarkan diri untuk  member dia pinjaman uang, tetapi dia sungguh mengerti situasiku sebagai volunteer, dia menolaknya. Pegawai-pegawai lain sekarang suka berkumpul di ruangan ku, berbagi kebingungan dengan yang lain. Ada yang butuh untuk membayar kontrakan rumah, biaya sekolah anak, bahkan buat membeli makanan. Gila, sungguh suasana yang gila.

Internet diputus, kendaraan tidak lagi berjalan karena tidak ada dana untuk membeli bahan bakar yang mahal. Pernah sekali, seseorang meminta bantuan kepadaku untuk membeli bahan bakar dan oli mobil. Tentu saja aku menolaknya. Lebih baik aku membantu pegawai lain yang kelaparan daripada membeli bahan bakar supaya mereka bisa berkendara kesana kemari. Toh, petinggi-petinggi di kantor sudah menerima gaji mereka dari pemerintah pusat. Mengapa tidak membeli bahan bakar dengan uang sendiri? ANEH.

Entahlah, entah sampai kapan teman-temanku harus menghadapi situasi ini. Tidak adil. Memang. Aku hanya berharap Tuhan menjaga mereka dan mencukupkan apa yang ada pada mereka saat ini.

Advertisements
Tagged , , , ,

Indonesia Vs Malawi, perbedaan yang membuatku jatuh cinta (MALAWI)

Tidak, tentu saja aku tidak bermaksud untuk membading-bandingkan Indonesia dan Malawi. Keduanya memiliki pesona sendiri sendiri yang aku suka dan aku beruntung bisa melihatnya. Meskipun, sejujurnya hidup selama beberapa waktu di Malawi menambah kecintaanku terhadap negeri ku Indonesia.  Bersyukur terlahir di tanah beribu pulau, merindukan ratusan bahasa dan budaya yang membentuk masyarakatnya, bangga akan banyaknya orang orang pintar yang berjuang keras memperbaiki tanah itu. Untuk pertama kali didalam hidupku aku tidak berpikir akan oknum oknum yang korup, aku tidak marah atas invasi orang kaya dari negeri-negeri seberang yang mengekploitasi pulau-pulau eksotik di tanah ku. aku memaafkan pemerintahku yang egois dan memikirkan diri mereka sendiri.  Saat ini aku hanya bisa berpikir satu hal ketika aku memikirkan negeri ku “ untuk pertama kali, aku jatuh cinta”

“Beri satu alasan…” mungkin teman teman ingin tahu.

“Bukan satu, aku akan beri beberapa…” aku cukup yakin bisa memberikan alasan setelah memasuki bulan ke-4 hidup di Malawi. Well, tentunya bukan alasan berdasarkan penelitian selama bertahun tahun oleh peneliti peneliti yang menggunakan pendekatan dan alat teliti tertetu, namun alasan ketika hatiku digetarkan oleh pengalaman dan penglihatan tertentu ketika aku berinteraksi dengan masyarakat disini. Dan getaran itu di Malawi, cukup membuatku jatuh cinta terhadap negeriku.

Alasan pertama, tadinya aku berpikir Indonesia adalah negara miskin. Setidaknya itu yang selalu terdengar ditelingaku selama bertahun-tahun aku melanglang buana di area development. Namun, ketika menginjakkan kaki ku disini, aku menyadari miskin itu apa. Ketika aku berinteraksi di masyarakat korban konflik, gempa dan tsunami di Aceh, aku tidak pernah mendapati satu keluarga pun yang membuat hati ku miris karena aku yakin mereka masih sanggup mencukupi kebutuhan sandang dan pangan mereka. Setidaknya tanah masih subur, tumbuhan masih tumbuh dengan sempurna, dan kita cukup kreatif untuk mengolah sesuatu menjadi bahan makanan. Disini, masyarakat pedesaan cukup makan dengan Nsima (jagung pengganti nasi yang ditumbuk menjadi tepung)  dengan satu jenis sayur yang sering mereka sebut sayur chiness yang dimasak hanya dengan hanya dibubuhi garam. Lupakan saja tentang herbs dan spices lainnya. Itu hanya milik orang orang kaya. Mereka tidak memakan daun singkong, daun papaya, sayur nangka dan tumbuhan lain yang sering kita makan di Indonesia, simply karena mereka tidak tahu kalau tumbuhan itu bisa dimakan, bergizi tinggi lagi. Dan lagi, tanah mereka tidak sesubur tanah kita. Sewaktu waktu mereka bisa mengalami kekeringan panjang, dan sewaktu waktu juga mereka bisa terkena bencana banjir. Sungguh suatu kombinasi yang tidak biasa.

Alasan kedua, aku bersyukur orang tua kita memasak ketela sebelum kita makan. Ya, KETELA atau dikampung ku kenal sebagai singkong, dan jujur saja aku sangat menyukainya. Disini, di Malawi, cukup di kupas seperti mengupas mangga dan, “hup” lalu dimakan layaknya afternoon snack yang lezat. Beberapa teman sekantorku mengejekku “bodoh” ketika aku menolak memakan mentah singkong itu dan memandang heran betapa mereka sangat menyukainya. Namun biarlah, itu perbedaan yang menarik.

Alasan ketiga, aku bisa dibilang jarang sekali berinteraksi dengan orang dengan virus HIV. Meskipun aku tahu ada banyak kasus HIV yang terjadi khususnya dikalangan orang orang muda di tanah beribu pulau itu.  Tetapi aku masih tetap yakin kalau keadaan kita masih jauh lebih baik dari keadaan orang orang disini. Dibulan ke empatku saja, aku sudah bertemu banyak orang yang menderita karena virus ini. Menariknya, mereka terbuka akan hal itu. Dengan gampangnya mereka berkata kalau mereka penderita HIV/AIDS.  Statistik sendiri berkata 11 dari 100 adalah pembawa HIV/AIDS.

Alasan keempat, karena aku suka menari, hal pertama yang ingin aku pelajari sejak aku tiba adalah tarian Malawi. Tetapi, setelah aku melihat bagaimana mereka menari, aku tidak yakin kalau aku akan mempelajarinya. Satu satunya bagian tubuh yang bergoyang adalah pinggul. Sungguh suatu tarian yang sensual.  Bisa bisa aku terkena undang-undang pornography dan pornoaksi kalau aku menari seperti itu di Indonesia. Aku tidak mengatakan kalau tarian itu jelek, tidak sama sekali. Tarian itu menarik, dan energy bahagia yang di transfer ketika mereka semua menari sangat besar. Aku beruntung bisa  melihat tarian indah serta sakral di Indonesia dan tarian penuh energy di Malawi.

Alasan kelima, Di Malawi, sejauh mata ku memandang, aku dimanjakan oleh dataran  yang luas, pengunungan dan bukit bukit yang menonjol disana sini, kalau beruntung aku bisa melihat sekelompok Heyna yang kesasar. Sangat indah. Sayangnya di Indonesia, seringnya pandanganku terhalang oleh gedung dan pemukiman. Mungkin di beberapa daerah eksotis lainnya masih banyak pemandangan seperti ini, yang membuatku ingin berjalan lebih jauh lagi di negeriku sepulang ku nanti. Aku berjanji.

Tidak peduli apakah alasan itu cukup atau tidak, tapi sekali lagi “untuk pertama kali, aku jatuh cinta”. Namun, bukankah tidak perlu ada alasan untuk mencintai?. Aku akan pulang, tidak lama. Mungkin besok, lusa, bulan depan, atau tahun depan. Dan aku akan melihat Indonesia ku kembali.

Tagged , , ,

Post Perdana, Akhirnya (Malawi)

Akhirnya, aku berhasil menuliskan post pertama di blog ini. Selama dua tahun ini aku selalu mengikuti cerita carita seru yang inspirative dari teman teman volunteer vso disini. Setiap kali ada post baru, dengan semangat 45 aku membacanya, berhayal seandainya aku ada disana, belajar tentang hidup dibagian dunia yang lain,  berharap suatu saat aku juga bisa seperti mereka yang berjalan mengikuti kata hati dan kaki yang melangkah jauh. Meninggalkan semua kenyamanan di rumah, keluarga, orang tercinta, teman-teman dan kemudahan kemudahan yang mungkin tidak akan ditemukan di tempat itu.

Selama dua tahun ini aku hanya berhayal bahwa aku juga akan menuliskan sesuatu diblog ini. Berbagi dan menginspirasi teman-teman seperti ku diluar sana. Namun kehidupan di Bali mengikatku. Aku hidup terlalu nyaman. Dengan posisi yang bagus, salary yang terbilang banyak untuk hidup enak, teman teman yang mencintaiku, akses yang mudah ke “living a teenage dream” dengan clubbing, salsa dan pool partying, akses ke kelas yoga bergengsi di yoga barn yang hampir hampir gratis setiap minggu, dan pantai pantai yang cantik itu, sungguh aku tidak ingin meninggalkannya.

Hingga suatu hari aku tersadar bahwa kenyamanan itu bisa menjadi boomerang yang menjatuhkanku. Budha sendiri berkata tidak ada yang permanen. Jadi sebelum aku kecewa dan bosan aku memutuskan untuk mengiyakan tawaran vso untuk placement sebagai district climate change coordinator di Karonga, Malawi. Meskipun itu berarti, aku harus memutuskan kontrak dengan Caritas Switzerland tempat aku belajar dan bertumbuh, harus puas dengan danau malawi dengan harapan akan melihat laut baliku yang berwarna biru tarquise dan pantai keemasan sepulangku nanti, harus mencari teman dan keluarga baru sambil berharap teman dan keluarga ku di Indonesia tetap berdoa buatku, harus rela kehilangan moment moment pertumbuhan keponakan ku Michelle, Ramos dan Syamarel, oh betapa aku merindukan mereka saat ini, meskipun hari ini hanya hari keempat aku ada di Malawi.

Malawi sendiri adalah sesuatu yang sangat berbeda dengan Indonesia, maksudku SANGAT BERBEDA. Kota Siantar di Sumatera Utara jauh jauh lebih modern dari Lilongwe, ibukota Malawi. Saat ini kalau aku berkata “I am going to the mall” berarti aku pergi kesuatu kompleks pertokoan dimana ada tiga atau lebih toko yang menjual berbagai macam perlengkapan.  Saat ini aku harus berjalan beberapa kilometer menuju halte dan menaiki minibus dimana berbagai macam bau badan bersatu menusuk nusuk hidung sensitive ku, hingga pada akhir perjalanan aku harus menelan satu pil aspirin karena migraine akibat bau bauan itu. Saat ini orang orang memanggilku mzungu girl karena warna kulitku yang berbeda dengan mereka, entah apa yang ada dalam pikiran mereka saat mereka menatapku tanpa expresi namun tajam. Semua ini adalah pilihanku. Berada di tempat ini saat ini adalah pilihan yang aku ambil dari sekian banyak pilihan yang ditawarkan kepadaku. Jadi aku tidak akan complain. Yang terbaik yang bisa aku lakukan adalah memakai waktu setahun di Malawi dengan sangat baik untuk belajar, bertumbuh, berterima kasih, dan menghargai hidup ku terlepas dari apa yang akan aku hadapi di Karonga nanti. Aku selalu percaya ketika aku datang dengan niat baik, hal-hal baik juga yang akan terjadi.

Tagged , , ,