Tag Archives: volunteer

3 Pacar Dalam 3 Bulan (Malawi)

“How old are you now? Are you married?”

“No. I am single”

“Why?”

“I don’t find the right person yet.”

“Do you want to get married?”

“Yes… hmm maybe… I don’t know..”

“Why not? why Maybe? OK I have a sister….” Dan percakapanpun dilanjutkan dengan rencana “perjodohan”.

Percakapan seperti ini sangat biasa terjadi, hampir dimana-mana, bahkan saat pertama kali berkenalan. Di dalam mini bus, di pasar,   di pom bensin, saat ngantri di depan kasir pasar swalayan dan lain lain.

Nggak di Indonesia, nggak di Africa  pernikahan ternyata masih dianggap suatu keharusan. Sebenarnya aku sudah kebal dengan pertanyaan beginian… jadi  moment yang begini lebih membuatku tersenyum dan tertawa daripada sebal atau tersinggung. I know there’s a “good” intention behind the questions.

“When are you going to get married, Freddy?”

“2007.”

Jawaban tenang dan seriusku membuat 3 orang teman Malawi-ku melongo dan dua detik kemudian tawapun meledak diantara kami.

Tetapi agaknya teman-teman lain yang juga masih single, tidak terlalu suka dengan jenis pertanyaan yang satu ini, terutama rekan-rekan wanita atau rekan dari negara Barat.  Aku bisa mengerti kenapa hal ini mengganggu mereka, terutama pada rekan wanita. Karena perhatian orang-orang disini terlalu berlebihan terhadap mereka. Di Malawi, dan aku pikir di hampir sebagian negara-negara di Afrika, wanita di”wajib”kan untuk menikah secepat mungkin setelah mereka mencapai masa pubernya. Aneh bagi mereka bila kita masih single di usia dewasa.

Alhasil,  saat baru pertama kali datang, aku sudah “dilamar” oleh beberapa teman. Untuk membuat orang tidak banyak bertanya, dan menghindari pelecehan seksual (terutama rekan-rekan wanita dari Asia- karena stigma pria Afrika yang menganggap wanita Asia lemah tetapi ramah), saat aku bepergian bersama rekan wanita, di pasar tradisional, pasar swalayan, di dalam mini bus atau saat pesta. Aku akan diperkenalkan sebagai pacar mereka.. dan aku setuju setuju saja, itung-itung membantu teman. Alhasil baru 3 bulan di Malawi aku sudah punya 3 “pacar”. Sedihnya tak satupun dari mereka menjadi pacar beneran!

Saat ini, sudah hampir sembilan bulan di Malawi, aku sudah punya 5 “pacar”  wanita, 2 “pacar” pria dan 1 orang “istri”!  Bagaimana bisa? Tunggu cerita lanjutannya saja.

banyak pacar

Advertisements
Tagged , , , ,

Sepatuku Hartaku (Malawi)

Setiap hari, pagi-pagi saat mengayuh sepeda menuju kantor, selalu aku berpapasan dengan orang-orang yang berjalan kaki,  mulai dari bapak-bapak penjaga malam yang pulang dari tugasnya sampai anak-anak yang mulai berangkat ke sekolah, atau Ibu-ibu dengan bayi di gendongan dan bawaan di kepala mereka. Kuperhatikan, sebagian besar berjalan tanpa alas kaki.

Sedih dan tak habis pikir, sebab di sepanjang jalan, sangat sering aku harus menghindar dari pecahan beling dari botol-botol (alkohol) yang dibuang orang-orang tak berotak. Beberapa kali aku harus turun dari sepeda dan menendang botol dan pecahan botol ke got. Aku yakin, botol-botol itu dibuang orang malam sebelumnya saat mereka pulang dari pusat klub malam yang tak jauh dari jalan utama menuju kantorku. Kecelakaan akibat pengemudi mabuk sangat biasa disini. Dan tampaknya orang-orang juga sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Tidak ada yang peduli.

Image

Pagi ini aku berpapasan dengan seorang pemuda, dari jauh kulihat dia berpakaian rapih dengan dasi dan setelan jas, tetapi ada yang aneh darinya. Ia berjalan tanpa alas kaki. Di tangan kanannya kulihat ia menenteng sepatu kulit yang warna putihnya mulai memudar, yang aku tebak mungkin baru dia beli dari pasar loak di kota tua Lilongwe, kemarin.

Dengan rasa ingin tahu kusapa ia dan bertanya kenapa sepatunya tidak dipakai? Dia menjawab dengan tersenyum “I don’t want it to get dirty.” Kubalas dengan anggukan kepala dan tertawa, lalu kulambaikan tangan dan kembali menganyuh sepedaku.

Dalam hati aku berpikir, dengan pakaiannya yang rapih, mungkin hari ini ia akan pergi memenuhi panggilan interview suatu pekerjaan. Imajinasiku mulai melayang-layang.. Ah semoga ia tidak menginjak pecahan beling di jalan, pikirku lagi dan semoga ketika ia sampai di depan gedung kantor tujuannya, lalu memakai sepatu putihnya, rasa percaya dirinya tumbuh. dan iapun mendapatkan pekerjaan.  Andai semua cerita hidup selalu diakhiri dengan happy ending.. oh betapa bahagianya aku. But anyway, whatever it is I wish you a Very good luck young man!

Tagged , , , ,

BAPAK, kemana perginya uang itu? (MALAWI)

“Maaf kawan, tidak banyak yang bisa kulakukan”

Aku memelas, karena memang tidak banyak yang bisa kulakukan selain hanya bisa mendengarkan kisah Mbowe. Aku ikut merasakan tulang-tulang ku menggeram marah mendapati gaji sebahagian besar staff pemerintah di Karonga belum terbayar.

Hilang, bagaimana mungkin uang sebesar 30 juta kwacha (750 juta rupiah) untuk dana bulan juni hilang dari rekening pemerintah?. Tak seorang pun tahu kemana uang itu pergi, tidak district commissioner nya, tidak juga pihak bank nya. Anehnya, perdiem untuk pertemuan-pertemuan yang dilakukan pada bulan Juni sangat tidak masuk akal. Pernah sekali aku mendengar, mereka membayar perdiem 30.000 kwacha (750.000 rupiah) per orang. Oh My God, uang sebanyak itu sangat cukup untuk memberi makan satu keluarga dalam satu bulan. Aku sangat marah mendengarkannya. Terang saja mereka tidak suka menghadiri undangan workshop yang aku lakukan karena aku hanya diberi otoritas untuk membagikan uang makan siang sebesar 1000 Kwacha (25.000 rupiah). Frustasi…ya..aku benar benar frustasi.

Dan sekarang ketika hal itu mempengaruhi teman temanku, aku semakin geram. Cleaning lady yang tadinya manis, sekarang suka teriak teriak gak jelas dalam bahasa chitumbuka, ketika aku bertanya ada apa, dia akan berkata “ I am hungry my friend, I am poor my friend, I have nothing my friend” dan sewaktu waktu dia akan datang ke meja ku minta di belikan pisang atau singkong. Mbowe, sahabatku yang tadinya ceria, kudapati termagu sendiri, kebingungan harus melakukan apa untuk memberi makan keponakan-keponakan yang di tinggal  mati bapak ibunya dua minggu lalu. Aku menawarkan diri untuk  member dia pinjaman uang, tetapi dia sungguh mengerti situasiku sebagai volunteer, dia menolaknya. Pegawai-pegawai lain sekarang suka berkumpul di ruangan ku, berbagi kebingungan dengan yang lain. Ada yang butuh untuk membayar kontrakan rumah, biaya sekolah anak, bahkan buat membeli makanan. Gila, sungguh suasana yang gila.

Internet diputus, kendaraan tidak lagi berjalan karena tidak ada dana untuk membeli bahan bakar yang mahal. Pernah sekali, seseorang meminta bantuan kepadaku untuk membeli bahan bakar dan oli mobil. Tentu saja aku menolaknya. Lebih baik aku membantu pegawai lain yang kelaparan daripada membeli bahan bakar supaya mereka bisa berkendara kesana kemari. Toh, petinggi-petinggi di kantor sudah menerima gaji mereka dari pemerintah pusat. Mengapa tidak membeli bahan bakar dengan uang sendiri? ANEH.

Entahlah, entah sampai kapan teman-temanku harus menghadapi situasi ini. Tidak adil. Memang. Aku hanya berharap Tuhan menjaga mereka dan mencukupkan apa yang ada pada mereka saat ini.

Tagged , , , ,

Indonesia Vs Malawi, perbedaan yang membuatku jatuh cinta (MALAWI)

Tidak, tentu saja aku tidak bermaksud untuk membading-bandingkan Indonesia dan Malawi. Keduanya memiliki pesona sendiri sendiri yang aku suka dan aku beruntung bisa melihatnya. Meskipun, sejujurnya hidup selama beberapa waktu di Malawi menambah kecintaanku terhadap negeri ku Indonesia.  Bersyukur terlahir di tanah beribu pulau, merindukan ratusan bahasa dan budaya yang membentuk masyarakatnya, bangga akan banyaknya orang orang pintar yang berjuang keras memperbaiki tanah itu. Untuk pertama kali didalam hidupku aku tidak berpikir akan oknum oknum yang korup, aku tidak marah atas invasi orang kaya dari negeri-negeri seberang yang mengekploitasi pulau-pulau eksotik di tanah ku. aku memaafkan pemerintahku yang egois dan memikirkan diri mereka sendiri.  Saat ini aku hanya bisa berpikir satu hal ketika aku memikirkan negeri ku “ untuk pertama kali, aku jatuh cinta”

“Beri satu alasan…” mungkin teman teman ingin tahu.

“Bukan satu, aku akan beri beberapa…” aku cukup yakin bisa memberikan alasan setelah memasuki bulan ke-4 hidup di Malawi. Well, tentunya bukan alasan berdasarkan penelitian selama bertahun tahun oleh peneliti peneliti yang menggunakan pendekatan dan alat teliti tertetu, namun alasan ketika hatiku digetarkan oleh pengalaman dan penglihatan tertentu ketika aku berinteraksi dengan masyarakat disini. Dan getaran itu di Malawi, cukup membuatku jatuh cinta terhadap negeriku.

Alasan pertama, tadinya aku berpikir Indonesia adalah negara miskin. Setidaknya itu yang selalu terdengar ditelingaku selama bertahun-tahun aku melanglang buana di area development. Namun, ketika menginjakkan kaki ku disini, aku menyadari miskin itu apa. Ketika aku berinteraksi di masyarakat korban konflik, gempa dan tsunami di Aceh, aku tidak pernah mendapati satu keluarga pun yang membuat hati ku miris karena aku yakin mereka masih sanggup mencukupi kebutuhan sandang dan pangan mereka. Setidaknya tanah masih subur, tumbuhan masih tumbuh dengan sempurna, dan kita cukup kreatif untuk mengolah sesuatu menjadi bahan makanan. Disini, masyarakat pedesaan cukup makan dengan Nsima (jagung pengganti nasi yang ditumbuk menjadi tepung)  dengan satu jenis sayur yang sering mereka sebut sayur chiness yang dimasak hanya dengan hanya dibubuhi garam. Lupakan saja tentang herbs dan spices lainnya. Itu hanya milik orang orang kaya. Mereka tidak memakan daun singkong, daun papaya, sayur nangka dan tumbuhan lain yang sering kita makan di Indonesia, simply karena mereka tidak tahu kalau tumbuhan itu bisa dimakan, bergizi tinggi lagi. Dan lagi, tanah mereka tidak sesubur tanah kita. Sewaktu waktu mereka bisa mengalami kekeringan panjang, dan sewaktu waktu juga mereka bisa terkena bencana banjir. Sungguh suatu kombinasi yang tidak biasa.

Alasan kedua, aku bersyukur orang tua kita memasak ketela sebelum kita makan. Ya, KETELA atau dikampung ku kenal sebagai singkong, dan jujur saja aku sangat menyukainya. Disini, di Malawi, cukup di kupas seperti mengupas mangga dan, “hup” lalu dimakan layaknya afternoon snack yang lezat. Beberapa teman sekantorku mengejekku “bodoh” ketika aku menolak memakan mentah singkong itu dan memandang heran betapa mereka sangat menyukainya. Namun biarlah, itu perbedaan yang menarik.

Alasan ketiga, aku bisa dibilang jarang sekali berinteraksi dengan orang dengan virus HIV. Meskipun aku tahu ada banyak kasus HIV yang terjadi khususnya dikalangan orang orang muda di tanah beribu pulau itu.  Tetapi aku masih tetap yakin kalau keadaan kita masih jauh lebih baik dari keadaan orang orang disini. Dibulan ke empatku saja, aku sudah bertemu banyak orang yang menderita karena virus ini. Menariknya, mereka terbuka akan hal itu. Dengan gampangnya mereka berkata kalau mereka penderita HIV/AIDS.  Statistik sendiri berkata 11 dari 100 adalah pembawa HIV/AIDS.

Alasan keempat, karena aku suka menari, hal pertama yang ingin aku pelajari sejak aku tiba adalah tarian Malawi. Tetapi, setelah aku melihat bagaimana mereka menari, aku tidak yakin kalau aku akan mempelajarinya. Satu satunya bagian tubuh yang bergoyang adalah pinggul. Sungguh suatu tarian yang sensual.  Bisa bisa aku terkena undang-undang pornography dan pornoaksi kalau aku menari seperti itu di Indonesia. Aku tidak mengatakan kalau tarian itu jelek, tidak sama sekali. Tarian itu menarik, dan energy bahagia yang di transfer ketika mereka semua menari sangat besar. Aku beruntung bisa  melihat tarian indah serta sakral di Indonesia dan tarian penuh energy di Malawi.

Alasan kelima, Di Malawi, sejauh mata ku memandang, aku dimanjakan oleh dataran  yang luas, pengunungan dan bukit bukit yang menonjol disana sini, kalau beruntung aku bisa melihat sekelompok Heyna yang kesasar. Sangat indah. Sayangnya di Indonesia, seringnya pandanganku terhalang oleh gedung dan pemukiman. Mungkin di beberapa daerah eksotis lainnya masih banyak pemandangan seperti ini, yang membuatku ingin berjalan lebih jauh lagi di negeriku sepulang ku nanti. Aku berjanji.

Tidak peduli apakah alasan itu cukup atau tidak, tapi sekali lagi “untuk pertama kali, aku jatuh cinta”. Namun, bukankah tidak perlu ada alasan untuk mencintai?. Aku akan pulang, tidak lama. Mungkin besok, lusa, bulan depan, atau tahun depan. Dan aku akan melihat Indonesia ku kembali.

Tagged , , ,

Malam Jumat Itu (Kenya)

Twas a Thursday night like any other pre-Friday nights here in Nairobi
Finished my usual mundane (sigh…) duties and headed out to a local infamous Nairobian joint, The Tree House

Enough is enough said I, of the 2 grilling weeks I had trying to please my panicky superiors and being drowned in their awry energies

Enough is enough thought I, of being in the similar shoes as my other volunteer comrades of being heavily misunderstood by their surroundings

This Thursday night, I thought shall be a revelation of my being here in Kenya

3 cold beers and a three-quarter empty stomach was enough to let myself lose in the rhythms and the beats of Afro-Asian-Fusion-Reggae-Retro-Pop music of the night

Yes, I was that lost. So lost in the moment and music as I closed my eyes and allowed my entire body to be swayed by the tunes of the night, not caring about the next hour, the next day nor the next night

Allow me to be entranced and enchanted by the soulful singing of the stunning Sudanese who sung in Arabic
Allow me to analyze and bop along to the critical lyrics of the Filipino reggae crooner who sang about discrimination
And how I was so enticed by the fusion guitarist from Mombasa who played side by side with Reggae Man

The people around me dancing
The people behind me chatting and smoking

And I, part of it all…

Everyone looked beautiful as they grooved, Lord only knew what actually went on in their individual heads that very Thursday night

Groovin along to the Coastal sounds of Kenya

Groovin along to the Coastal sounds of Kenya

And this is why I love this Dark Continent. A continent that’s actually so colorful where music and dancing can lift someone away to another place where they will wish they don’t ever have to return home
And boy, I don’t ever want to come home

The Sudanese

The Sudanese and The Guitarist

Then I suddenly found myself sitting in what felt like a white hearse being driven home before the stroke of midnight.

Oh No! Where was my Sudanese woman? And that fusion guitarist from Mombasa? How about the Filipino Reggae Man?
Where did everybody go?

As I sat still in that white hearse I thought, am I going to my own funeral?

Friday, behold…

Tagged , , , ,

Cerita panjang (Ghana)

Saya sedang menghitung hari-hari terakhir saya di Ghana. Di Afrika. 

Ternyata berat. Bukan hanya karena saya akan meninggalkan orang-orang baik di sekitar saya. Tetapi, saya baru menyadari bahwa hidup di Afrika ternyata berat.

Saya tidak sok jago. Saya pernah menangis karena merasa capek dan marah. Tidak sering, tapi pernah beberapa kali. Tapi saya juga banyak tertawa dan tersenyum karena hal-hal baik yang terjadi pada saya selama saya ini, walaupun itu sepertinya hanya hal yang sederhana.

—*—

Minggu lalu saya mengalami puncak kelelahan secara fisik dan mental. Setelah 10 bulan 5 hari saya sangat capek, marah, dan sangat sedih. Tidak ada air mengalir selama dua minggu, mati listrik 12-18 jam setiap hari, teman serumah yang kurang mengerti arti ‘berbagi rumah’, tetangga yang selalu berisik, dan VSO Ghana yang kurang mendukung dan memberi solusi untuk masalah kesulitan air yang sudah kronis. Hingga di titik saya tidak tahan lagi karena lengan kanan strain parah (tertarik ototnya) karena harus mengangkut berember-ember air bolak-balik selama 2 bulan terakhir.

Teman serumah hampir selalu pulang ke rumah orang tuanya di Accra setiap akhir minggu. Saat itulah air biasanya mengalir selama 2 jam, dan hampir selalu sayalah yang harus mengisi semua stok penampungan air di rumah. Dua minggu lalu, hanya satu keran terendah di halaman belakang rumah yang bisa mengalirkan air. Tidak punya pilihan, saya harus mengangkut air selama 2 jam untuk mengisi beberapa barrel air yang ada di dalam rumah, bolak-balik. Setelah itu saya tidak sanggup lagi. Lengan saya menjerit. Saya berhenti dan menangis. Kesal, capek, marah, sedih. Malam itu listrik padam dan saya tidak bisa tidur karena seperti biasa, tetangga memasang generator sepanjang malam di ujung halaman depan. Dan seperti biasa pula, suaranya masuk ke jendela kamar saya. Saya stres berat. Tidak tahu berapa sering saya menangis karena kesal setelah itu.

Dua hari kemudian saya memutuskan untuk menelepon teman volunteer di Accra, Irene, dari UK, yang juga bekerja di project Cocoa Life. Kami kadang ribut dan berbeda pendapat saat bekerja tapi kami selalu saling mendukung sebagai teman. Saat saya meneleponnya, saat itu juga Irene mengerti bahwa ada sesuatu yang terjadi. Dia paham betul situasi rumah saya, betapa sulitnya saya hidup di sini tanpa air, tanpa listrik, dengan tetangga berisik dan generator tetangga yang berbunyi sepanjang malam. Irene beberapa kali menginap di rumah saya saat ada pekerjaan yang harus dilakukan di sini, dan dia mengalami sendiri ‘kegilaan’ yang harus saya hadapi setiap hari.

Irene tahu saya perlu bantuan. Saya bahkan hampir tidak bisa bicara apapun saking marah dan capeknya. Dia mengatur semuanya, bicara dengan VSO Ghana di Accra, membuat program manager kami dan program support officer mau memahami bahwa situasi saya sedang sangat sulit. Saat dua orang itu bicara dengan saya via telepon, saya hanya bisa bilang, saya ingin ke dokter, lengan saya terlalu sakit. Padahal entah apa lagi yang saya rasakan. Hari Selasa, saya dijemput oleh Frank, driver kami di Cocoa Life Project. Frank sangat baik. Dia sangat paham jika kami ada masalah. Kadang saya pikir, kenapa bukan dia yang bertanggung jawab dengan urusan supporting volunteers? 

Saat Frank melihat saya, dia bertanya apa yang terjadi. Saya bilang, lengan saya sakit, saya harus ke dokter. Dia menggeleng. Frank bilang, “I know it from your face. You never look like this before. You’re not fine at all. Tell me what happened. What’s going on in here?” Frank menepuk dadanya. Dia tahu saya memendam banyak hal. Tentu saja. Saya termasuk volunteer yang paling banyak bicara dan selalu tertawa tapi saat itu saya sendiri paham bahwa wajah saya seperti papan, tanpa ekspresi dan terlihat capek.

“Please, Frank. I don’t want to cry now. I’m fine now that you’re here to pick me up. I just need to see the doctor.” Dan seluruh perjalanan menuju Accra hari itu dipenuhi dengan omong kosong dan tawa untuk hal-hal konyol yang kami dengar dari radio. Frank memang pintar membuat volunteer merasa nyaman dan aman.

Saya mengungsi di apartemen yang ditinggali oleh Irene dan Kathy. Saya kenal Kathy, sudah beberapa kali bertemu sebelumnya. Kathy juga teman baik bekas housemate saya dulu, Vincent. Kathy selalu terdengar seperti melucu dan itu cukup untuk membuat saya sering tertawa. Saya tidak peduli bahwa saya tidur di kasur lipat di ruang tengah apartemen mereka setiap malam. Saya merasa jauh lebih baik dan lebih tenang. Tentunya, saya langsung pergi ke dokter keesokan harinya. Lucunya, saat saya sampai di sana, tiba-tiba Irene terserang infeksi dada yang cukup parah hingga terbatuk-batuk dan kehilangan suaranya. Jadi, kami berdua memang harus pergi ke dokter. Saya jadi ‘suara’ Irene dan dia menjadi ‘lengan’ saya. Dan dr. Jane yang baik hati dan suka iseng, memberi kami banyak sekali tablet dan vitamin untuk diminum. Saat di apotek klinik tersebut saya bahkan tidak percaya bahwa saya mendapat berkantong-kantong obat. Well, sesungguhnya berbagai jenis vitamin, minyak ikan, dan kalsium, serta gel pereda nyeri sendi dan otot. “Oh, wow, I don’t know that I’d get these much of tablets for just a strain arm”, komentar saya kepada petugas apotek. Gadis itu cuma nyengir dan menjelaskan aturan minum tablet-tablet itu. Saat tiba di apartemen, saya dan Irene mulai sibuk saling mengigatkan obat-obat yang harus kami telan sebelum makan dan sebagainya. Two crazy girls on drugs, begitu Kathy mengatai kami.

Tinggal di Accra selama seminggu seperti sebuah perjalanan meditasi yang mahal buat saya. Senang karena saya bertemu teman-teman lain, Val misalnya, volunteer asal Filipina, yang juga beberapa kali bekerja sama dalam Cocoa Life project, tapi Val bukan termasuk team kami, dia lead researcher untuk program Valuing Volunteering Global Research. Selama seminggu hidup saya seperti di alam lain. Selain sibuk mengingat kapan waktu minum obat, saya juga tidur siang lebih panjang, makan siang di cafe yang menjual smoothies, pergi ke toko cenderamata, membeli beberapa kain untuk dibawa pulang, makan malam dengan beberapa teman baru dari kantor VSO UK yang saat itu sedang berkunjung, nonton pertandingan rugby ‘All 6 Nations’ di TV besar di salah satu club di sekitar apartemen, memasak sarapan dan makan malam yang berbeda (Irene tidak punya beras dan dia vegetarian), dan terjebak pada pesta St. Patrick’s Day akhir minggu lalu. Irene orang Irlandia, jadi dia menggelar pesta perayaan St. Patrick’s. Dan syukurnya, suaranya sudah mulai kembali terdengar pada hari itu, jadi pesta berlangsung lancar.

Soal pestanya, saya agak tersiksa sebenarnya. Tapi karena saya statusnya ‘pengungsi’ saat itu, saya harus jadi team player yang baik. Saya harus menunggu semua orang pulang, sebelum saya bisa ambruk ke kasur lipat di ruang tengah. Tentu saja, karena pestanya di ruang tengah. Jadi, setelah semua orang pulang, Kathy dan saya masih harus menyapu dan mengepel darurat sebelum saya bisa tenggelam tertidur. Dan saat itu sudah pukul 1.30 pagi. Oh, my!

Yang ajaib, selama saya berada di Accra, hampir selalu saya bisa mandi di bawah pancuran. Ya, mereka mendapat air mengalir setidaknya selama dua jam di siang hari dan hampir sepanjang malam. Alasan yang dipakai VSO Ghana bahwa krisis air adalah masalah nasional (mereka tidak bisa memberi solusi untuk krisis air yang saya alami selama 4 bulan terakhir di Asamankese) tidak terlalu terasa di apartemen Irene dan Kathy. Saya bersyukur. Setidaknya saya tidak perlu stres dengan urusan air di sana.

Satu-satunya ancaman adalah ‘gaya hidup’. Tinggal di Accra sangatlah mahal. Satu kali makan malam, setara dengan 3 hari belanja stok makanan di Asamankese. Oh, my! Saya tidak mengerti, bagaimana para volunteer di Accra bisa bertahan hanya dengan uang tunjangan yang sangat kecil itu? Bahkan jika dibandingkan dengan di Jakarta, harga-harga di sini sangat luar biasa tidak masuk akal. Saya pikir, saya menghabiskan 1/4 tunjangan saya sebulan hanya selama seminggu berada di sini. Mengerikan! Saat berada di titik itu, saya pikir saya sudah mulai sehat lahir dan batin. Well, lengan kanan saya masih belum pulih dan tidak bisa dipakai mengangkat sesuatu yang berat, tapi secara batin, saya siap bertempur lagi dengan krisis air, bicara dengan housemate, dan mendengar tetangga yang berisik di Asamankese.

Saya bersyukur punya teman-teman yang sangat baik dan mendukung saya di saat sulit. Sesungguhnya, Irene dan Kathy bahkan memaksa saya untuk tinggal di Accra sampai saat keberangkatan saya ke Indonesia bulan depan. Tapi saya menolak. Saya belum pamitan dengan teman-teman kerja dan team saya di Asamankese. Saya tidak bisa pergi begitu saja. Tapi saya tahu, saya punya ‘tempat’ untuk didatangi kapan saja di Accra saat saya ingin melarikan diri. Alasan sesungguhnya, saya kangen tempat tidur saya, saya capek juga tidur di kasur lipat di ruang tengah apartemen orang lain, hahaha. Dan saya tidak sanggup bergaya hidup expat di Accra, bisa-bisa saya harus meminta transfer uang dari rumah nantinya.

—*—

Itu cerita saya minggu lalu. Saat saya bahkan tidak bisa bercerita pada siapapun. Saya hanya meneteskan air mata karena terlalu capek dan marah. Oh, ada satu orang yang tahu, Owiredu, partner kerja saya. Dia sangat kuatir dengan keadaan saya dan selalu mengecek bahwa saya baik-baik saja. Setiap kali saya bilang, “Don’t worry, I’m alive” dia akan menjawab, “Thank, God!”, karena itu berarti saya masih bisa bergurau.

“I’m sorry that you have to get through this hard time just right at the end of your placement”, itu yang Owiredu katakan sebelum saya bilang saya harus pergi ke Accra untuk menenangkan diri. Dia dan team kerja saya di distrik West Akim inilah yang sesungguhnya selalu mendukung saya dan siap membantu kapan saja. Mereka yang akan datang ke rumah saya saat saya minta pertolongan apapun. Karena merekalah saya bisa bertahan dan senang berada di sini.

Mereka tahu bahwa kadang saya mengalami situasi yang sulit di sini dan saya bertahan, dan mereka menghargai itu. Mereka menghargai saya sebagai manusia ‘obruni’ yang berusaha membantu mereka mempunyai pengetahuan dan posisi yang lebih baik dalam program partnership ini. Saya merasa mereka menyanyangi saya. Semoga saya akan terus berada di hati mereka.

Saat saya menangis kembali, itu karena saya mengingat teman-teman sekaligus team kerja saya di Asamankese. Orang-orang yang luar biasa yang saya percaya bisa membuat apapun yang kami kerjakan sekarang menjadi lebih baik.

—*—

Tulisan di atas tercetus saat saya selesai mencuci baju dengan air yang tidak jernih dan agak berminyak. Itu air yang harus saya beli menggunakan jerry can bekas minyak sayur yang sulit dibersihkan optimal (karena sulit air di seluruh kota). Sekarang saya bisa hidup dengan itu. Air yang agak berminyak untuk mandi dan mencuci.

Dulu saya tidak mengerti saat melihat mereka yang hidup di bantaran sungai di Indonesia, yang warna airnya tidak terdefinisi. Mereka memakai air sungai keruh itu untuk apapun.

Sekarang saya mengerti. Ada saatnya hanya itulah pilihan sumber daya yang mampu kita dapatkan. Mereka yang miskin dengan akses ke air sungai kotor. Atau saya di sini sekarang, yang bisa membeli air tapi itupun airnya berminyak dan mengandung pasir. Karena memang hanya itu sumber daya yang tersedia dan terjangkau.

Saya bukan pro proletar. Saya hanya sangat bersyukur bahwa saya pernah punya kehidupan lain dengan akses ke air bersih yang sesungguhnya. Semoga saya punya kesempatan kembali ke kehidupan itu lagi dan lebih bersyukur karenanya.

Afrika membuat saya sadar bahwa kehidupan memang memiliki tingkatan. Bukan secara material semata namun secara kekayaan batin untuk menerima dan berusaha menjadi lebih baik.

Tagged , , , , , , ,

Technology vs Development (Malawi)

Sudah hampir 2 bulan di Malawi,  saya mulai terbiasa dengan semua rutin disini; mulai dari berjalan kaki  2km setiap hari menuju halte mini van sampai dengan harus mengangkat tangan saat menyapa orang lain, karena menundukkan kepala dan tersenyum saja masih dianggap kurang sopan.

Di sisi pekerjaan juga mulai berjalan dengan lancar. Jujur pada awalnya saya nggak ‘ngeh’ dengan judul pekerjaannya “Technology for Development Adviser”, terdengar keren, mungkin karena ada kata” Technology” dan “Development” yang digabungkan jadi satu, tapi pada saat membaca dokumen penempatan kemarin, saya benar-benar nggak jelas.  Baru setelah sampai disini, saya baru mengerti maksud dan tujuannya. Singkatnya, pekerjaan saya adalah membawa teknologi menjadi program mainstreaming di program-program pembangunan, terutama di program-program kerja VSO Malawi… membawa sentuhan-sentuhan teknologi pada setiap program kerja VSO dan mengajak organisasi partner dan juga masyarakat Malawi untuk mengijinkan teknologi membantu kehidupan mereka. Ceilee..

Hampir 2 bulan ini juga saya melakukan riset tentang kemajuan teknologi di Malawi dan jenis teknologi tepat guna apa yang cocok untuk dunia development di Malawi. Pada saat riset, saya menemukan informasi tentang satu NGO dari Inggris yang membagi-bagikan komputer tablet dengan program-program edukasi layar sentuh ke sekolah-sekolah dasar di Malawi. Mereka sudah membagi-bagikan tablet di 50 sekolah (1 tablet digunakan untuk 6 anak) dan akan melanjutkan proyeknya ke 50 sekolah lainnya. Sayapun berhasil mendapatkan kontak NGO ini dan berkomunikasi dengan direktur operasinya. Mengagetkan! Mereka bahkan tidak punya kantor cabang atau bahkan contact person di Malawi, semuanya dilakukan dan dimonitor dari London, Inggris. Lalu saya bertanya-tanya.. Apa mereka tidak berpikir dan curiga bila komputer-komputer tablet itu akan berakhir di pasar gelap elektronik di Malawi? –Saya mendapat kabar dari seorang rekan bahwa di pasar gelap elektronik saat ini banyak beredar komputer-komputer tablet murah- Tetapi di luar itu, saya masih memiliki beberapa pertanyaan-pertanyaan lain, seperti : Apakah memang bijaksana mengajarkan siswa SD di Malawi cara menggunakan komputer tablet, sementara mereka ke sekolah saja tidak menggunakan sepatu dan hidup tanpa listrik di rumah mereka, belum lagi banyak di antara mereka yang belum bisa membaca dan menulis.  Apakah benar teknologi komputer tablet tepat guna dan tepat sasaran untuk diterapkan di Malawi? Bagaimana kalau nanti mereka memaksa orang tua mereka untuk membelikan komputer tablet? Bagaimana kalau anak-anak ini nantinya hanya tahu cara sentuh sana sentuh sini tanpa tahu bagaimana cara menulis dan menggunakan keyboard di komputer normal? Kadang-kadang teknologi bisa jadi bumerang. Entahlah. Mungkin ini hanya kekawatiran saya yang berlebihan.

Anak-anak di sekitar rumah saya, sedang bermain komputer tablet milik saya.

Anak-anak di sekitar rumah sedang mencoba komputer tablet.

Saya juga menemukan banyak organisasi international yang membagi-bagikan komputer bekas ke sekolah-sekolah atau organisasi-organisasi kemanusiaan disini, kabarnya komputer-komputer tua itu hanya jadi barang rongsokan. Ada satu institusi pendidikan di Lilongwe yang memiliki satu ruangan besar dengan puluhan komputer di dalamnya. Ruang itu berdebu tebal penuh dengan sarang laba-laba… tidak mampu membayar listrik, begitu informasi sang guru, ketika ditanya kenapa fasilitas kelas komputer ini tidak digunakan. Ironis.

Ada fenomena saat ini, negara-negara maju “membuang” teknologi lama (e-waste) mereka, terutama hardware  ke Afrika. Ini adalah cara mudah memperbaharui teknologi dengan tidak mengkotori lingkungan mereka dengan barang rongsokan. Jadi saat ini banyak komputer2 tua, TV, radio dll di”buang” ke Afrika. Karena memang umur-nya yang sudah tua, dan spare-part yang tidak tersedia, maka barang-barang inipun cepat rusak dan akhirnya benar-benar menjadi barang rongsokan dan menumpuk di Afrika. Development oh development…

Kata-kata Technology dan Development bagi saya saat ini  terasa seperti pernikahan paksa ala Siti Nurbaya….. dan malangnya, saya harus menjadi penghulunya.

Tagged , , , , , ,